
Rayya menatap tubuh dan pantulannya melalui kaca dalam kotak lift. Ia mengerjap kala menyadari... betapa penampilannya terlihat acak-acakan. Ia menepuk kening, berpikir apa ia perlu kembali sebentar ke apartemen, berdandan sedikit.
Ia menggenggam ponsel, meremasnya waktu teringat video dari Shanaz. Daus memekik, menyebut-nyebut namanya. Lelaki itu masih sedih? Apa dia tetap menangis semalaman? Perih rasa hati Rayya menebak apa yang mantan suaminya alami kemarin. Apa saat ini laki-laki itu sudah baikan? Apa dia malah tetap menangis sepanjang hari?
Ting!
Suara lift membuat Rayya melupakan lamunannya. Bergegas ia bergerak, keluar mengambil langkah lebar... setengah berlari memutari para petugas keamanan. Ia terus berjalan ketika beberapa petugas berbaris melakukan apel pagi, terkesiap menatap kedatangan Rayya. kemudian mereka tersenyum menyapa, sedikit menatap heran melihat kelakuan Rayya terburu-buru sepagi ini, masih mengenakan piyama. Wanita itu terus masa bodoh berjalan lurus menuju arah pelataran, kemudian berbelok ke selatan.
Rayya merasa bodoh. Ia tidak mengira mantan suaminya, tinggal tidak begitu jauh. Ia pikir untuk menghindari Rayya, lelaki itu memilih tinggal di kawasan apartemen lain. Minimal dua blok menjauh dari kawasan ini. Nyatanya, selama ini ia tinggal satu kawasan dengan Rayya, namun beda menara.
Itu merupakan Busro Sentausa, kawasan apartemen yang memiliki tiga tower. Menara pertama, gedung paling depan merupakan perkantoran dan ditempati oleh perusahaan milik Busro. Ada beberapa unit lantai di sana yang di sewakan untuk perusahaan lain. Di lantai bawah dan basement di sewakan untuk kantin dan food court sebagai fasilitas para karyawan.
Gedung tengah merupakan kawasan apartemen elite. Biasa ditempati kaum menengah ke atas. Mulai dari ekspatriat-- duta besar, karyawan perusahaan milik asing, pejabat perusahaan tingkat minimal manajer dan direksi... atau pun beberapa orang kaya raya gila-- crazy rich... tinggal di tempat itu.
Lalu di bagian paling ujung merupakan pusat perbelanjaan dengan unit apartemen di bagian atas. Rayya tidak bisa menduga kalau lelaki itu mau tinggal di unit apartemen sejuta umat itu. Bagaimana pun, unit apartemen gedung tersebut diperuntukkan untuk kaum menengah dan little bit low.
Fasilitas tiap unit juga setahu Rayya tidak sebaik fasilitas di apartemennya, meski memang Busro company itu tidak main-main dengan kualitas baungunan karena itu menyangkut keselamatan dan keamanan penghuni gedung, namun untuk fasilitas... seperti meubel beserta perabotan komponen dalam apartemen pasti tidak semewah apartemen elite milik Rayya.
Wanita itu terus menuju ke arah belakang gedung. Lihat, bahkan keamanannya begitu mudah Rayya tembus. Ia berpikir beberapa penjaga menjaga di tangga darurat belakang gedung, tapi sepi. Anggaplah Rayya mujur tidak membawa akses kartu atau pun tanda sebagai penghuni gedung, namun ternyata tidak seketat itu pengamanan di gedung ini. Mungkin karena gabung dengan pusat perbelanjaan maka lebih mudah akses keluar masuk
Security pun tidak nampak di area belakang tangga darurat. Mungkin para penjaga sedang apel pagi. Kalau di gedung apartemen Rayya, para penjaga akan tetap ada yang berjaga bergantian meski saat apel pergantian shift seperti ini.
Rayya kemudian ingat, bagaimana wanita itu-- istrinya Daud beberapa baru waktu lalu bisa sampai ke depan pintunya? Nah... Daus sepertinya masih menyimpan kartu akses mereka.
Jadi wanita itu berani memakai barang-barang milik Daus diam-diam? Atau Daus mengetahuinya? Memberi izin begitu saja istri barunya mendatangi Rayya? Apa atau bagaimana sebenarnya hubungan suami istri itu? Kalau melihat video yang dikirim Shanaz, rasanya mereka itu memiliki kedekatan cukup erat... mengingat ketika ia menangis, istri barunya memeluk erat dan mereka kan memang suami istri yang sah.
Namun... pertengkaran mereka beberapa waktu lalu dan teriakan Daus yang menyebut-nyebut nama Rayya dalam video membuat Rayya gamang. Ia menebak-nebak bagaimana posisinya di hati Daus. Berapa besar porsi Rayya memengaruhi perasaannya? Bagaimana Daus bisa melalui malam tadi menit demi menit? Apa lelaki itu menangis semalaman? Ia terus bertanya menebak-nebak sendiri, meratapi keadaan beserta kebod*han Daus yang menikah secepat ini namun masih... menyimpan rasa pada Rayya.
Wanita itu bergerak cepat, menapaki lantai demi lantai. Ia tidak tahu jumlah anak tangga yang telah ia pijak ketika melihat nomor lantai yang ia tuju. Bergegas ia membuka pintu, masuk ke koridor lalu mencari nomor apartemen mantan suaminya.
Jantungnya berdebar, bagai kekasih yang menanti-nanti pertemuan dengan pujaan hati. Sedang melakukan hal apa gerangan lelaki itu pagi ini? Kira-kira wajahnya bisa seberapa sembab atau bengkak karena nangis malam tadi. Atau dia bahkan masih meratap rindu di pagi begini?
Rayya menekan bell, menggedor pintu... berteriak memanggil-manggil nama lelaki itu. Ia berdoa untuk lelaki itu. Semoga ia baik-baik saja. Semoga ia tidak kelewat perih karena merindukan Rayya, dan semoga... lelaki itu bisa bertahan melalui malam tadi dengan menyimpan rasa sakit sesedih dalam video tadi.
"Mas... mas! Buka Mas... mas Daus buka!" teriaknya menggedor pintu sekeras mungkin.
Rayya mengerjap ketika seseorang muncul. Ia mengamati bekas-bekas kecupan di sekeliling leher. Wanita itu berantakan pun rambutnya diikat asal. Aroma percintaan tercium kuat. Seketika Rayya merosot-- meluruh ke lantai.
" Mba Rayya!" tukas Rinai histeris. "Mba! Mba Rayya!" pekiknya lagi, kemudian bergegas memeganginya.
Ia tidak pernah menduga kalau mantan suaminya memilih... melewati malam tadi melakukam percintaan panas dengan istti barunya. Bahkan dengan banyaknya sisa rasa yang Daus punya untuk Rayya, lelaki itu tetap memilih melakukam percintaan untuk mengobati kesedihannya?
Rayya menepis tangan wanita itu ketika bau sisa percintaan tercium kuat. Ia merasa begitu marah sekaligus terhina. Bisa-bisanya wanita itu menyentuhnya dengan tubuh kotor! Rayya melangkah cepat menerobos ke dalam, kemudian berteriak-teriak memanggil mantan suaminya.
Ia menemukan, melihat dengan kedua matanya... lelaki itu tengah tertidur nyaman. Buyar lah bayangannya tentang seberapa besar cinta lelaki itu yang masih ia simpan untuk Rayya. Mungkin... Daus memohon untuk bisa melupakam Rayya karena memang... ia benar-benar ingin melepaskan diri dari wanita itu. Ia bukannya masih mencintai Rayya... mungkin Daud itu benar-benar sungguh membenci Rayya.
Bertepatan dengan terbangunnya Daus, Rayya memilih untuk kembali meluruh... menyerah pada kenyataan.
Astaga!
"Rayya!" pekik Daus kencang. " Rayya! Bangun Rayya!" imbuhnya sambil berkali-kali menepuk lembut kedua pipi Rayya. Namun wanita itu memilih melepas kesadarannya di pangkuan Daus.