
Rayya mengetuk-ngetuk ujung kuku ke meja beberapa kali, lalu bergerak mundur, menyandarkan punggung ke kursi. Ia pun berulang kali mengulang kegiatannya. Matanya mengerjap, menatap langit-langit. Pikirannya terbagi, antara mencari cara agar keuangan perusahaan kembali stabil… akibat ulah Daus... Iman memaparkan keadaan keuangan, tadi di waktu rapat, serta memikirkan bagaimana cara menghadapi Arsa.
Benar, Arsa. Lelaki itu benar-benar melakukan serangan beruntun. Sejak tadi malam, ia memberi kode mengenai perasaanya, membuat Rayya bingung sendiri apakah ia cuma dianggap keisengan atau memang lelaki itu… memiliki perasaan kepada Rayya? Lalu tadi pagi, terkena angin dari manalah, membawa lelaki itu sebegitu shubuh muncul ke apartemen dan mengajak wanita itu sarapan bersama. Sepagi itu, sesubuh itu. Kalau ini benar cuma sekadar bercanda, maka Arsa sudah kelewat niat.
Lalu benar kalau Arsa mencintai… menyukai Rayya? Kenapa baru sekarang? Mereka punya waktu bertahun-tahun agar Arsa menyampaikan perasaannya sebelum Rayya menikah. Bukankah mereka mengenal sejak ia masuk ke keluarga Busro, lalu kenapa baru sekarang? Kenapa setelah bertahun-tahun Arsa malah mengatakannya sekarang? Kenapa tidak dari dulu? Oh iya… mungkin karena Daus. Mungkin Arsa tidak bisa mengatakannya sejak lama karena menghargai keinginan Ibrahim Busro, menjodohkan Rayya dengan cucunya.
Sekarang lebih masuk akal kalau mungkin Arsa… menyimpan perasaan kepada Rayya, sejak bertahun-tahun lalu. Maksudnya… lebih tidak mungkin kan, kalau tiba-tiba ia menyimpan perasaan kepada Rayya baru-baru ini. Padahal mereka beberapa tahun ini… sejak Rayya menikah… tepatnya mungkin sejak Rayya menngesahkan pertunangannya, sejak itu di antara mereka mulai saling menjauh, sempat tidak saling menghubungi. Paling Rayya cuma beberapa kali hang out bersama si Dhita.
Mungkin itu bentuk protes serta kekecewaan Arsa. Mengapa Rayya bisa-bisanya menerima pertunangan dengan Daus? Padahal Rayya tahu kalau Daus membencinya sampai setengah mati. Namun… demi membalas budi… Rayya menerima dan cuma mendapat kekecewaan. Ia diceraikan Daus. Mungkin benar… lelaki itu, Arsa Mangkumulyo mencintainya. Hanya… memikirkan Arsa, seorang lelaki yang masuk ke jajaran one of the most Eligible Bachelor, bujang paling diinginkan, paling diburu, paling diimpi-impikan oleh para keluarga kaya raya di negara ini… malah memiliki perasaan, menyukai diam-diam bertahun-tahun kepada Rayya, seorang wanita dari panti asuhan yang ketiban keberuntungan, diasuh Ibrahim Busro. Kalau mau dibandingkan, Cinderela pun masih kalah sih. Kisah cinta milik Rayya serta Arsa, lebih dramatis.
What a life!
“Mi… s?!”
Rayya mengerjap ketika mendapati Shanaz masuk, berdiri di depan mejanya. Ia memicingkan mata, menatap pintu yang terbuka.
“Saya tadi udah ngetuk pintu beberapa kali, tapi Miss diam nggak mau menyahut loh,” tukas Shanaz seakan membaca pikiran atasannya.
Bosnya cuma mengembuskan napas kasar, kemudian berdecak. Kalau Shanaz merangsek masuk, apalagi sambil membawa setumpuk kertas maka artinya Rayya memerlukan pikirannya. Maksudnya, ia musti bergegas mengembalikan konsentrasinya, megingat ia berani menjamin kalau semua kertas-kertas, yang dibawa Shanaz, berisi masalah pekerjaan.
“Tadi asisten dari Pak Iman menyerahkan berkas, katanya Pak Iman membutuhkan ini secepatnya,” ucapnya cepat. Sebelah tangannya bergerak memberikan setumpuk berkas yang dibawa. “Katanya tadi, kalau bisa sesegera mungkin Miss memberi jawaban,” imbuhnya sebelum permisi keluar.
Setelah Shanaz keluar, maka Rayya bergegas menyambar remot Ac kemudian menyetel ke suhu lebih rendah. Mungkin belakangan sudah refleks ketika mendengar nama… Iman disebut, maka Rayya mendadak merasa panas serta muak. Seakan-akan bahkan cuma mendengar nama lelaki tersebut, Rayya merasa mau marah karena… nama lelaki itu berkorelasi dengan masalah serta menyusahkan, menyebalkan, memuakkannya kelakuan Iman.
Mulai dari peraturan anehnya, baru bergabung di perusahaan mereka namun mewanti-wanti kalau menolak lembur serta bekerja di hari libur, bahkan terpaksa membuat Shanaz merombak jadwal rapat. Belum lagi ulah si adik tirinya yang merupakan istri baru Daus, setiap bertemu dengan Rayya seperti mengajak gelut sekadar adu mulut. Kalau misalnya… misalnya loh ini, memang reinkarnasi itu ada, maka mungkin Iman itu reinkarnasi ibu suri di zaman para raja dulu. Kerjaannya tukang ngatur. Nih… buktinya kan… dia seenaknya mengatur keuangan perusahaan. Padahal, dia ibaratnya baru masuk kemarin pagi. Pokoknya… misi Iman itu membuat kehidupan Rayya makin suram. Habis gelap terbitlah suram. Setelah lepas dari bayang-bayang mantan suaminya, Daus, kali ini ia perlu menghadapi musuh baru yang mengancam kesejahteraan departemennya.
Rayya membolak-balik berkas lalu mengernyit, menemukan deretan tulisan serta angka-angka yang tampak… jauh dari kata masuk akal. Tadi pagi dia sudah menjelaskan di rapat, kan… kalau departemen operasional keberatan semisalnya anggaran mereka mengalami perubahan mendadak. Apalagi mereka baru meluncurkan serentak produk-produk di berbagai bidang. Kalau tiba-tiba mengalami perubahan anggaran, apalagi mengganggu pemasaran, maka bagaimana mereka mau memasarkan produk?
Rayya mendelik ketika menemukan kalau… Iman bahkan berani menyunat keuangan pribadinya dan manajer lain. Bagaimana mungkin Iman berani nekat menyentuh petty cash milik para manajer bahkan milik… Rayya? Apa Iman belum tahu kalau uang tersebut digunakan untuk dana persiapan, menalangi kalau-kalau tamu perusahaan atau klien mendadak datang. Apalagi pemerintah sedang sibuk membuka proyek. Belum lagi tamu dari luar negeri kalau tiba-tiba datang. Lalu uang tambahan menjamu para tamu tersebut, dari mana? Apa Iman pikir… klien mereka diajak lunch di fried chicken pinggir jalan? Atau musti dinner bersama di warung tenda pecel lele?
Rayya menghirup napas, kemudian mengepalkan tangan, menjerit tertahan. Dalam satu gerakan, ia berdiri kemudian melangkah ke arah pintu. Tangannya mengambil tumpukan kertas, kemudian membuat gulungan lalu meremas-remasnya. Dengan cepat ia bergerak melangkah lebar ke departemen sebelah.
Beberapa orang terkesiap melihat seorang Rayya tiba-tiba merangsek ke departemen keuangan.
“Miss Rayya!” pekik beberapa orang sambil saling melirik.
Wanita itu berjalan lurus ke arah ruangan wakil manajer keuangan, alias ruangan Iman. Tanpa mengetuk, bahkan tanpa permisi kepada sekretaris, ia membuka… setengah mendobrak pintu.
“We need to talk!” pekiknya lalu setengah melempar kertas, yang sudah ia gulung-gulung dalam genggaman tangannya.
Iman terkesiap, ia sepertinya tidak menduga kalau ulahnya tadi memancing kemarahan dari Rayya… semarah ini.
“Silakan duduk dulu,” tukas Iman berusaha menenangkan Rayya. Sementara di luar, melalui sela tirai, beberapa anak buah mencoba mengintip kejadian di ruangan Iman.
“Nggak usah sok ramah! Saya ke sini mau komplain, bukannya mau ngajak ngegosip! Kamu coba ngomong, ini maksud berkas-berkas ini apa?” tanya Rayya sambil memcicingkan mata, berkacak pinggang.
Iman mendengkus. “Kan tadi waktu rapat pagi saya sudah izin mau merubah anggaran kalian.”
“Tapi kan saya nggak pernah ngerasa ngizinin kamu. Apalagi, kalau kamu sampai menyentuh ranah pribadi para manajemen. Ini petty cash kami pun kamu pingin ngikut campur?!”
“Rayya, dengarkan saya...,” tukas Iman cepat. “Coba kamu itu mikir….”
“No! Don’t! You… listen to me! Kalau kamu berdalih ini karena Daus dan proyek konyolnya di kota sebelah, kenapa kami di pusat musti ikut nanggung. Asal kamu tahu, dari awal udah saya larang kan, tapi dia ngeyel. Sekarang kalau kamu mau kami menanggung kerugian, kenapa nggak bagian perusahaan dia sih yang kamu serang? Kan kata kamu, Kakek mau lini perusahaan properti, mau dilepas, disuruh mandiri, kan?”
Iman menatap wanita yang sedang mengamuk di depannya. Memang benar Ibrahim Busro mengatakan kalau ia berniat melepas bisnis properti agar dikelola Daus. Memang tidak dilepas sepenuhnya, namun setidaknya untuk mengkamuflase posisi Daus dari pertanyaan kolega mereka, kemudian kelak, pelan-pelan mengusirnya dari perusahaan pusat serta menjauhi Rayya. Maka Ibrahim ingin menjadikannya sebagai kompensasi kepada Daus. Supaya ia menjauh, tidak mengganggu kehidupan Rayya lagi serta… tidak seenaknya membocorkan rahasia, kecuali ketika Ibrahim Busro memang mau membuka rahasianya kepada Rayya nanti, belum tahu kapan.
“Nggak segampang itu, Rayya. Kenyataannya gara-gara Daus, kita bakal kena audit. Kita nggak bisa seenaknya menghabiskan anggaran begitu aja. Belum lagi banyak kerugian kita tanggung karena bisnis properti masih gabung sama pusat, kan? Maka pembukuan pun masih sama, gabung sama kita. Apa kamu mau, semester ini kita mencatat kerugian kepada para pemegang saham?” tantang Iman.
Rayya mengepalkan tangan. Ia berniat untuk berbicara namun lelaki tersebut kembali menyerangnya.
“Kita kan udah pegang kartu kredit perusahaan, lalu kalau cuma masalah duit atau petty cash, kenapa musti marah? Kan cuma saya pangkas sedikit,” tukasnya sengit. Iman melangkah mendekati Rayya, kemudian berhenti beberapa senti, di depan wanita itu. Iman mencondongkan tubuh lalu mulai berbisik. Embusan napasnya beraroma kopi pekat, namun tubuh Iman… yang terasa menghangat, beraroma cengkih, kayu manis dan sedikit citrus.
Rayya mengerjap tepat ketika Iman berbicara lagi. “Atau kamu sebenarnya… takut ketahuan punya pengeluaran lain, yang mungkin dilarang perusahaan? Kamu… bermain-main dengan perusahaanmu sendiri?” tuduhnya sinis.
“Ah!” pekik Rayya tiba-tiba. Tubuhnya limbung, tidak memercayai penglihatannya. Iman berusaha untuk menahan pukulan Arsa. Lelaki itu datang tanpa permisi, kemudian melayangkan tinju ke arah wajah Iman.
“Mas!” pekik Rayya berusaha menghentikan Arsa. “Mas! Kamu kenapa?”
Arsa berhenti sejenak, kemudian menatap wanita itu. “Saya nggak suka, Rayya! Dia tadi berusaha macam-macam sama kamu? Kalian tadi bertengkar, kan? I try to help you, Rayya.”
“Macam-macam? Kalau saya berniat macam-macam sama Rayya, saya ngajak dia ke tempat lain, bukan di ruangan saya, bahkan kaca dan tirai saya buka, kan? What kind of ** that u try to tell me?!” umpat Iman.
Lelaki itu bergegas menangkis ketika Arsa kembali mencoba meninjunya.
“Mas! Stop! Stop it!”
Rayya memegang tangan Arsa, kemudian menggenggamnya. “Stop, please,” pintanya. Pelan ia berusaha menenangkan lelaki yang tengah marah tersebut, mengelus punggungnya lembut. “Kalau Mas terus mukulin dia, trust me, it didn’t look like you help me. It looks like… you… ambush… him.”
Lelaki itu menatap lurus, mendelik, nyalang ke arah lawannya. Tangannya bergerak cepat menarik kerah Iman, kemudian berbisik di sampingnya. “Next time I’ll not only ambush you… I even dare to… k*ll… you,” tukasnya menumpahkan kemarahan.