His Virgin Ex Wife

His Virgin Ex Wife
lemme ask you



Rayya merasa menang, bahkan ia bereuforia nyaris memekik, Yaas! ketika ia memastikan, dengan kedua matanya, lelaki itu berbelok di gedung apartemennya. Berarti benar, Iman berhubungan dengan Zahra.


Mengingat tadi ia cuma mendapati Iman menaiki mobil sendirian, apa mungkin wanita itu menunggu di apartemen? Apa memang benar keduanya akan tinggal bersama?


Astaga!


Ini bukan urusan Rayya memang, namun ia tidak percaya karena pria seperti Iman nyatanya sama dengan para pria di luar sana. Ia sempat berpikir kalau paling tidak, Iman itu bukan penganut konsep hidup bebas, mengingat Kakek Ibrahim memilihnya, itu berarti dia bukan lelaki sembarangan. Namun kalau nyatanya... ia sama dengan lelaki di luaran, yang tukang main perempuan, maka ini merupakan kemunduran Kakeknya. Kali ini Ibrahim memilih orang yang salah, lelaki itu cuma pencipta skandal. Kalau bapaknya Zahra tau anaknya menjalani hidup bebas bersama Iman, ini bisa mendatangkan masalah! Di luaran, orang bisa mempertanyakan kredibilitas perusahaan mereka, terutama Ibrahim Busro.


Rayya keluar lalu membanting pintu mobil ketika sukses memarkirkan mobilnya, nyaris tanpa masalah. Bagaimanapun, Rayya punya izin mengemudi meskipun ia jarang menyetir kendaraan. Untungnya kemampuannya belum berkurang. Wanita itu mengunci kendaraan sebelum memilih menjauh, tidak memedulikan Iman di area parkir seberangnya, masih berkutat di mobil.


Ia menghela napas, ingin masa bodoh. Namun masalah ini mengganggunya. Wanita itu beberapa kali menekan tombol lift, berusaha melampiaskan kemarahan. Ketika lift urung membuka, ia semakin kesal.


Rayya terkesiap ketika seseorang menyejajari, berdiri di depan lift. Wanita itu berusaha menguasai diri lalu berdeham, membersihkan udara di kerongkongan. Ia membuang pandangan. Melalui pantulan pintu lift di depannya, Rayya menemukan lawannya melonggarkan kerah kemeja.


Wanita itu menunggu-nunggu. Biasanya, lelaki itu berulah. Minimal ia mengucapkan salam seperti, "Halo" , "apa kabar", bahkan mengajak bicara berbagai macam. Dia itu biasanya sok kenal, tapi sekarang... Iman cuma terdiam. Melalui pantulan wajahnya, ia terlihat tidak bersemangat. Lelaki itu cuma menghela napas ketika melihat Rayya.


Ketika pintu terbuka, Rayya masuk diikuti Iman. Wanita itu mengeluarkan pass card, menscan ke layar kemudian menekan tombol lantai apartemennya. Ia menunggu kalau misalnya, Iman, mau menekan tombol. Lelaki itu terdiam. Ini berarti mereka menuju lantai apartemen Rayya, tujuan mereka ternyata sama. Maka Rayya menarik kesimpulan kalau memang... Iman penghuni unit di depan apartemennya. Perkara benar ia tinggal sendiri atau bersama Zahra, itu perkara nanti. Rayya perlu menyelidiki. Jangan sampai Ibrahim Busro serta perusahaan mereka memiliki skandal. Rayya tidak bisa memaafkannya!


Dentingan pintu lift membuyarkan lamunan Rayya. Ia melangkah cepat ketika pintu terbuka. Iman masih mengikutinya. Mereka berdua tetap terdiam. Layaknya orang lain, asing tidak saling mengenal.


Lelaki itu cuma mendengkus beberapa kali. Bisa dibilang ini merupakan kemunduran dalam hubungan Rayya dan Iman. Dari belum mengenal, kemudian berkenalan, Iman mulai berani sok kenal dan menyapa ini itu, sekarang ia kembali merasa asing. Mendadak canggung ingin membuka suara sekadar menyapa Rayya.


"...kalau kamu berniat bermain-main dengan Rayya, saya cuma mau bilang... back off! She is mine!"


Perkataan itu berulang kali mondar-mandir memenuhi kepalanya. Ia memikirkannya beberapa kali. Rencananya dengan Ibrahim termasuk dalam mempermainkan Rayya atau tidak? Sedari pertama, Iman itu berniat menolong Rayya, bukan mempermainkan. Ia pun tidak bisa menolak permintaan Ibrahim. Bukan cuma karena sekadar memang menyukai Rayya, Iman malah lebih ke arah merasa kasihan.


Mau nanti ia bersama Rayya kemudian saling suka, Iman tidak terlalu ambil pusing kelewat memikirkannya. Lelaki itu cuma mau mengamankan pernikahan adiknya, sekaligus menolong ikatan hubungan antara seorang Kakek dengan cucunya yang... kebablasan ruwetnya. Lalu ketika tiba-tiba bertemu lelaki lain yang menyukai Rayya secara terang-terangan, menyuruhnya mundur, mencurigainya macam-macam, Iman mempertanyakan ketulusan niatnya.


Apa ia perlu meneruskan rencananya menolong Rayya? Karena kenyataannya, ada lelaki lain, yang benar-benar menyatakan menyukai Rayya, memintanya mundur. Meski Ibrahim mengatakan kalau Arsa manipulatif, tapi rencana mereka sendiri... sama-sama memanipulasi pikiran Rayya, kan? Iman merasa serba salah.


Lelaki itu menatap punggung Rayya menjauh, berbelok ke unit mereka. Iman pun baru tahu kemarin kalau ia ternyata diminta tinggal di apartemen ini. Semestinya, ia tidak perlu kaget. Ibrahim memang dari awal menginginkan Iman mendapatkan cinta Rayya. Maka, membuat keduanya tinggal berdekatan merupakan bagian dari skenario mereka. Iman kemudian merasa... gemas. Ibrahim nyatanya lebih manipulatif.


Iman berhenti beberapa meter di belakang Rayya, menempelkan kening di tembok kemudian merutuk nasibnya sendiri.


"Abang! Bisa tolong ceritain kenapa Mas Daus bisa dikeluarin dari kantor? Ini semua gara-gara kelakuan Abang, kan?" suara seorang wanita membuat Iman terkesiap.


Rayya di kejauhan mendadak memelankan langkah, menatap ke belakang. Ia menemukan Iman tengah menatap adiknya yang kali ini datang bersama seseorang. Tidak salah lagi, itu Zahra! Rayya berani menebak, perempuan itu, yang digendeng adiknya Iman adalah Zahra! Pakaiannya sama dengan tadi pagi ketika Rayya bertemu mereka di lobi.


Astaga!


Rinai semakin dongkol mendapati Rayya menatapnya seakan meremehkan. Zahra menggenggam tangan Rinai sangat kuat, menahan tubuhnya untuk tidak melangkah mendekati Rayya apalagi membuat pertengkaran. Zahra sedikit tahu mengenai ketidak cocokan Rayya serta Rinai karena seharian tadi Rinai menceritakan macam-macam kepadanya.


"Rinai!" Iman berteriak gemas, mendapati dua wanita di belakangnya malah berhenti, adu tatap, hampir memicu pertengkaran memprovokasi Rayya.


Riani mendengkus kemudian menuruti kemauan Abangnya. Ia mendekati Iman kemudian melangkah masuk ketika pintu apartemennya dibuka.


Rayya memilih melangkah, kemudian berhenti beberapa lama menatap Iman. Lelaki itu belum masuk dan menunggu reaksi Rayya.


"Bangunan ini cukup baik dan konstruksinya menggunakan bahan kualitas baik," tukasnya ketika Iman memilih melangkah, berbalik karena tidak mendapat respon dari Rayya.


Ia terkesiap ketika Rayya mendadak membuka percakapan. Iman kembali menatap Rayya.


"Kalau kalian mau ribut, di ruang tengah, asal jangan dekat pintu, suaranya nggak bisa kedengaran."


"Apa menurutmu, saya tukang berantem? Tukang ribut?" tanyanya datar. "Kayaknya, saya ini di mata kamu selalu salah?!"


"Abang!" pekik seorang wanita dari dalam. Zahra mendekat ke pintu, memberi kode kalau mungkin... Rinai sudah tidak sabar dan siap mengamuk di dalam rumah. Wanita itu berusaha menarik Iman masuk.


Rayya mendecih. "Tenang, saya bukan manusia kepo. Saya sih nggak peduli, kamu tukang berantem atau suka cari keributan. Saya nggak peduli. Tapi karena kamu pilihan Kakek, saya merasa kecewa kalau kamu... menyalahgunakan kepercayaan Kakek."


Iman mengernyit mendengarkan perkataan Rayya.


"Kamu ingat baik-baik. Sejak Kakek memilihmu, kamu udah dianggap oleh para kolega kami sebagai bagian dari perusahaan kami. Kamu tidak boleh membuat skandal!" tukas Rayya sinis sambil menatap lurus, memelototi Zahra.


Wanita itu kemudian memilih masuk, melepaskan tangan Iman.


"Ingat, kalau mau berantem, di ruang tengah. Asal nggak dekat pintu, kamu mau berbuat mesum atau nggak punya moral, nggak akan terdengar ke luar," cibirnya.


Iman mendengkus. Ia bersiap berbalik namun menemukan Rayya masih mengawasinya, berdiri tegap bersedekap nyaris memelototi seperti security. "Apalagi, Rayya?" tanyanya terdengar lelah? "Nah!"


Rayya waspada ketika menyadari sesuatu. Iman memekik tiba-tiba... lalu mulai mendekat, kemudian ia tersenyum miring. Iman berhenti beberapa senti menatapnya lurus. Tubuhnya perlahan condong, mengambil posisi tepat mendekati muka Rayya.  Embusan napasnya mulai menggelitik permukaan kulit Rayya. "Lem'me ask you. Kalau kamu nggak percaya sama saya, gimana kalau kamu masuk? Siapa tahu, sebenarnya kamu yang kepingin melakukan kegiatan nggak bermoral bareng sama saya?" tanya pelan.