His Virgin Ex Wife

His Virgin Ex Wife
kesibukan luar biasa



Dengan kasar dan tiba-tiba, wanita itu mendorong bahu Iman. Untung pertahanan tubuhnya kuat. Kalau tidak, lelaki itu pasti langsung mendadak rubuh, terjungkal dan terjerembab, punggungnya mencium lantai.


Wanita tersebut medecih, memilih melangkah cepat keluar dari ruangan. Shanaz berusaha menyejajari langkah Rayya. Mereka mengarah mendekati lift. Berkali-kali menekan tombol lift, namun Rayya belum berhasil membukanya. Ia menggeram pelan kemudian mengepal jemari. Detik berikutnya ia menghirup napas kemudian berteriak tertahan, mengeluarkan kekesalannya.


Masalah ini benar-benar tidak ia perhitungkan. Bagaimana bisa Ibrahim memilih melengserkan Daus dan menggantinya dengan orang lain? Seseorang asing bahkan benar-benar asing. Ia ingin meragukan keputusan Ibrahim namun… lelaki tua itu bertahun-tahun menjalankan perusahaannya nyaris tanpa cela. Apa mungkin ini kesalahan pertamanya? Memercayai posisi penting kepada orang lain seperti… Iman, apa ini merupakan kecerobohan pertamanya?


Bagaimana bisa Ibrahim percaya kepada orang seperti Iman? Maksudnya, kenapa bisa Daus malah diusir begitu saja? Meski alasannya itu logis, karena saham, karena kekhawatiran investor, karena menurut Ibrahim, Daus perlu belajar memperbaiki kesalah, tapi… ini terasa tidak masuk akal.


Rayya melangkah cepat ke dalam lift. Shanaz masih mengikutinya.


“Kamu percaya?”


Shanaz mengernyit waktu mendengar pertanyaan tersebut.


Rayya menatap tepat ke arah Shanaz. “Kamu percaya yang barusan kita lihat?”


Shanaz mencubit pipinya sendiri. “Aduh!” Ia memekik kencang. “Saya ngerasa pedih, Miss. Ini berarti bukan mimpi, ini memang nyata.”


Rayya mendengkus. Ia menyandarkan punggung ke dinding lift kemudian menghadapkan tubuh ke arah wanita muda itu. “Ini makin nggak masuk akal. Mas Daus… diusir dari kantor. Di… u… sir!”


Shanaz menelan ludahnya perlahan. Sesak, ia merasa tenggorokannya tercekat. Rayya benar, ini terasa tidak masuk akal.


“Waktu kemarin itu posisi kami tertukar, orang-orang pada heboh. Mereka bergosip ini itu, begini begitu. Terus sekarang, Kakek malah benar-benar mengusir Mas Daud dari kantor. Walaupun katanya ini demi nama baik dan Kakek pingin Mas Daud mempertanggungjawabkan kesalahan, tapi ini… nggak make sense, Naz!”


Rayya menghela napas. “Kenapa Mas Daud malah dipindah. Maksudnya, dia bisa berusaha membereskan masalah meski tetap di kantor ini. Kenapa dia disuruh pindah ke kantor cabang di Jogja? Cuma gara-gara proyeknya megalami masalah? Lagian, apa masalahnya kelewat serius? Seserius itu? Sampai-sampai, Mas Daud… diminta pergi?”


Shanaz mengerjap. Ia sendiri tidak paham mengenai pola pikir Ibrahim. Namun… mengingat data yang ia miliki, Daus itu merupakan penerus paling potensial. Malah digadang-gadang, satu-satunya penerus yang dimiliki Ibrahim selain anaknya yang… memang sudah dibuang, cucunya merupakan harapan satu-satunya.


“Mestinya, saya paham…,” gumam Rayya kecewa. Wanita itu bahkan menyandarkan kepala ke dinding elevator. “Kalau Ibrahim bahkan membuang anak kandungnya ke luar negeri karena kesalahan yang… ntah apa, mengusir Daus dari perusahaan seperti tadi bukan perkara sulit kan?” tanyanya kemudian berdecih.


“Nyatanya bagi Kakek, ia tidak bisa menoleransi kesalahan. Kalau anak bahkan cucu satu-satunya ia buang, apalagi saya, Naz. Apalagi kita!” tukasnya kemudian mencondongkan tubuh.


“Kalau kita melakukan kesalahan... nanti kita… bisa diusir dari perusahaan. Semudah itu dan sesederhana itu!”


Wanita itu melangkah lemah, kembali mengikuti bosnya yang keluar dari lift. Ia mengernyit ketika Rayya memilih lurus, tidak berbelok ke ruangannya.


Bosnya berhenti di depan ruangan divisi keuangan. Kesibukan besar benar-benar terjadi dan karyawan berlarian ke sana-sini. Di sebelah ujung pojok ada satu ruang yang tadinya kosong. Saat ini beberapa orang mengangkut berbagai peralatan ke dalam ruangan tersebut. Rayya menuju ke ruangan mantan suaminya.


Ia menghela napas mendapati pintunya rapat. Ia berpikir beberapa waktu, memilih apakah ia akan masuk ke dalam sekadar melihat keadaan Daus, atau ia ingin kembali ke ruangannya.


Matanya kembali melihat ke arah ruangan pojok. Wanita itu mendekat ke arah meja sekretaris. “Itu mau buat apa?” tanyanya kepada seorang sekretaris Daus, menunjuk ke bagian ruangan yang tengah dibereskan.


Satu sekretaris lainnya nampak sibuk keluar masuk, ke sana-sini bersama OB merapikan ruangan yang Rayya tunjuk.


“Tadi pagi kami mendapat perintah, kata Pak Handoko akan ada wakit direktur keuangan yang baru. Ia meminta untuk membersihkan ruangan tersebut, Miss,” jawabnya.


Percakapan itu terpakas terjeda karena sebuah telepon masuk di meja sekretaris. Lelaki itu permisi, memilih mengangkat telepon. Ia kemudian sibuk mencatat pada satu lembar kertas.


Rayya mencermati tulisan dalam kertas. Isinya merupakan beberapa barang dan peralatan yang… mungkin… Rayya tebak, nanti digunakan untuk memenuhi ruangan tersebut. Ia menghela napas.


Ibrahim pintar. Ia tidak benar-benar melengserkan Daus. Begini, Daus memang diminta untuk sementara pindah ke kantor cabang. Memang benar kalau alasannya agar membereskan kekacauan sekaligus membuktikan kepada para kolega kalau… Daus masih baik-baik saja. Maksudnya, ia masih memiliki kemampuan menjalankan perusahaan, membereskan masalah bisnis. Meski untuk mengisi kekosongan, Ibrahim memilih Iman bekerja di kantor pusat.


Agar tidak terjadi kehebohan atau keributan besar dari para kerabat dalam keluarga besar Busro, maka Ibrahim cuma memberi posisi Iman sebagai wakil direktur keuangan, bukan direktur keuangan. Iman ini cuma akan dianggap membantu pekerjaan Daus, bukan benar-benar… menggantikan Daus. Meski praktiknya bagaimana nanti… sesuka Ibrahim, namun setidaknya ini tidak akan memancing perhatian secara over dose… kelewatan, berlebihan.


Rayya menyentuh kenop pintu nyaris membukanya. Tangannya berhenti ketika kembali mengingat perkataan mantan suaminya.


 “Kamu perlu tahu, kamu musti ingat… kedepannya nanti, apa pun yang terjadi, kamu ingat-ingat kalau saya… semua keputusan yang saya pilih, cuma untuk menyelamatkan kehidupan saya dan… harga diri saya, Rayya.”


Wanita itu mengerjap ketika pikirannya kembali membayangkan percakapan mereka. Rayya kemudian berbalik, memilih membiarkan Daus. Kalau ia mendatangi mantan suaminya, ia takut itu akan melukai perasaannya. Bagaimanapun lelaki itu tengah terluka baik ego maupun harga dirinya. Ini bukan waktu yang nyaman untuk melakukan kunjungan atau sekadar menyapa.


Rayya memilih pergi. Ia berbalik bersama Shanaz menuju ruangannya. Matanya menangkap beberapa karyawan masih sibuk membereskan kekacauan tersebut. Ini merupakan kejadian luar biasa, meski tidak bisa menganggap force majeure, namun ini bagai anomali-- ketidak normalan!


 Ia melangkah lurus ke ruang kerja miliknya. Dengan bergegas wanita itu mendorong pintu kemudian masuk dan menutup pintu, setengah membantingnya.


“Astaghfirullaah!” teriak Shanaz ketika keningnya nyaris menjadi korban, terantuk pintu. Ia tadinya berpikir untuk mengekori Rayya masuk ke ruangannya, berjaga kalau bosnya membutuhkan sesuatu. Namun sepertinya, atasannya sedang tidak mau diganggu. Shanaz memilih duduk di kursi kerja miliknya berada tepat di samping pintu ruangan milik Rayya.