His Virgin Ex Wife

His Virgin Ex Wife
Polar Bear



Rayya memilih berbalik, tepat ketika pintu lift menutup. Shanaz terkesiap ketika melihat atasannya, kembali memasuki tempat rapat. Asistennya itu yang sejak awal mengekori Rayya, ikut berbalik. Dengan langkah lebar, wanita itu mendorong kasar pintu ruangan.


“Saya minta semua orang keluar,” geramnya.


Anggota rapat mengernyit, menemui tampilan seorang Rayya. Matanya membeliak, napasnya memburu. “Saya minta kalian keluar! Keluar semua!” pekiknya sambil tetap melotot, menantang mereka satu persatu.


Handoko menghela napas. “Kalian semua keluar,” perintahnya kemudian, mengabulkan permintaan wanita yang mengamuk di depannya.


“Bapak ikut keluar,” koreksinya. Rayya beradu pandang menantang orang kepercayaan kakeknya. “Bapak ikut keluar. Semuanya keluar kecuali… kamu!” tegasnya, menunjuk Iman tanpa takut.


Rayya bersedekap. Para manajer berkasak-kusuk, meributkan sesuatu yang terjadi. Handoko memilih untuk berdiri, tidak memperpanjang masalah. Melihat lelaki itu keluar dari ruang rapat, peserta lain terburu-buru mengikutinya. Mereka masih waras. Kalau Pak Handoko yang asisten kepercayaan Ibrahim sudah diusir seperti itu, apalagi mereka? Siapalah mereka yang sanggup menantang kemarahan Rayya?


Lelaki tua itu menatap melalui pintu kaca. Para manager yang berdiri di belakang berbisik mengenai kejadian ini. Karyawan perusahaan tersebut sudah memahami kalau urutan nomor satu posisi di sini adalah Ibrahim Busro. Baru setelahnya Daus, Tsurayya, dan Pak Handoko. Di antara ketiganya, ntah mana yang lebih berpengaruh. Namun… melihat betapa Handoko memilih memenuhi pengusiran Rayya seperti ini, membuat mereka… paling tidak, meyakini kalau Tsurayya Busro, memang memegang kunci kepemimpinan setidaknya setingkat lebih atas. Paling tidak, wanita itu dirasa lebih penting dibandingkan Daus yang… baru disingkirkan beberapa menit lalu.


Rayya melangkah cepat, bergerak tepat, menghampiri lelaki itu. Iman menatap pergerakan Rayya kemudian memutar kursi, menghadapkan tubuh ke arahnya.


Ya Tuhan!


Iman nyaris terjungkal. Dalam gerakan beberapa detik, Rayya tiba-tiba menarik kerah jas. Dalam posisi duduk, Iman dipaksa mendangak. “Nice try!” Rayya berdecih, kemudian mengusap bahan setelan lelaki tersebut. “The Armany, pure wool, in navy,” desisnya kesal, mengomentari setelan itu.


Peserta rapat yang terusir mengamati adegan di ruang rapat sambil mendelik, tidak percaya menatap Rayya. Wanita itu mau apa? Apa dia berencana ingin menyiksa Iman terang-terangan? Mengajaknya adu pukul? Mengingat… tidak mungkin kan kalau Rayya… mau melakukan kegiatan… yang iya-iya, mengingat ia telah mengungkung lelaki itu? Di depan banyak orang seperti ini?


Astaghfirullah!


Iman menghentak tangan Rayya kemudian bergegas berdiri. Rayya nyaris kehilangan keseimbangan. Untungnya wedges yang ia pakai memiliki hak tidak begitu tinggi. Dengan cepat wanita itu kembali menegakkan punggung.


“Kamu bukan ber*ndalan, Rayya.  Kamu wanita baik-baik dan kamu nggak perlu berbicara pakai otot seperti itu.”


Rayya mendecih. “Katakan rencana kamu.”


Iman mengernyit. “Rencana apa?”


Rayya kembali melangkah mendekat. Namun… sayangnya pilihan tersebut membuat Rayya menyadari kalau lelaki di depannya ini memiliki tinggi lebih berbelas senti darinya. Rayya terpaksa mendongak.


Kalau dibandingkan mantan suaminya, lelaki di depannya jauh lebih tinggi. Rayya dengan tinggi seratus tujuh puluhan senti, masih perlu mendongak menatapnya. Sebenarnya, ia biasa bertemu kolega dari luar negeri dengan tinggi serupa Iman. Namun… berada dalam zona sedekat ini ya… baru pertama ini bersama Iman. Kolega lainnya mana pernah Rayya melakukan aksi… tarik menarik kerah begini.


Rayya sempat terdiam. Ia merasa tengah bersiap melawan Grizzy-- si beruang. Namun mengingat warna kulit lelaki itu lebih cerah… mungkin ia cocok menjadi polar bear-- beruang kutub, dibandingkan Grizzy yang kecokelatan. Ibaratnya, Rayya bagaikan tengah bersiap adu tinju dengan lawan bicaranya.


“Rencana apa? Kamu memang tahu rencana saya apa? Saya bahkan nggak punya rencana macam-macam.”


“God!” pekik Rayya mengamuk.


Orang di luar masih setia menonton. Seperti melihat telenovela bisu, mengingat ruangan itu kedap suara, mereka cuma bisa menatap kedua orang dalam ruangan beradegan layaknya pantomim-- tanpa suara.


“Kamu bahkan tega menyingkirkan Mas Daus, adik iparmu. Tunggu sebentar lagi kemudian… kamu bisa menyingkirkan saya!” tuduh Rayya sambil mencengkeram erat kerah lelaki itu. “Pakai pakaian ini, ngebuat kamu ngerasa keren? Kamu mau pamer kalau kamu… bisa menyingkirkan cucu Ibrahim? Kamu mau menaikkan status sosial kamu? Cuma pakai ginian?” ucapnya berdecih kemudian meremas bagian pinggiran pakaian Iman bahkan nyaris mengangkat tubuh lelaki itu seakan menantangnya untuk membanting tubuhnya.


Tidak sia-sia wanita itu dilatih ilmu bela diri. Setidaknya, ia bisa melampiaskan kemarahan kepada lawannya, musuh besarnya tersebut.


“Kamu melakukan devide et impera! Politik mengadu domba! Kamu bahkan berhasil menyingkirkan Daus! Kamu berusaha berpenampilan serba mahal, cuma untuk memberi kesan… kamu lebih layak, lebih pantas dari Mas Daus! Kamu pikir kamu siapa?”


“Saya… Iman, Sulaiman.” lelaki itu bergerak tanpa diduga, menyentak kedua tangan Rayya kemudian menggenggam pergelangannya, menariknya mendekat.


“Ada dua hal yang nggak tepat dari hipotesamu, Rayya. Pertama… saya bukan penjajah. Kenapa saya capek-capek pakai devide et impera? Buat apa mengaudu-adu kalian? Okelah kalau berhasil mengadu domba…,” tukasnya sambil bergerak mengangkat kedua jari, membuat tanda kutip, di awang-awang.


Kesempatan itu membuat Rayya mundur. Bergegas Rayya melepaskan pergelangannya lalu menjauh.


“Kalian mungkin bisa sih kalau saya adu. Cuma… gimana caranya buat memanipulasi pikiran Tuan Ibrahim? Coba… kasih tahu saya, gimana caranya ngerjain kakek kamu, sih?”


Rayya mengerjap. Teori Iman, kalau dipikir tidak sepenuhnya salah. Pengusiran Daus tadi pasti sudah mendapat persetujuan kakeknya. Tapi… kenapa?


“Kedua,” ucap Iman, membuat Rayya kembali memusatkan perhatian. “Kalian bukan domba. Kalian manusia yang punya akal pikiran. Kalau memang menurutmu saya salah… coba kasih tahu di mana salahnya?” tantangnya.


“Salahnya gimana? Saya salah pakai pakaian mahal… yang saya beli pakai duit saya sendiri, bukan dari hasil nyuri atau nipu orang? Kalau memang benar ini karena pakaian saya, oke… saya kecewa sih sama kamu. Saya kira kamu pikirannya luas. Apa ini zaman penjajahan dan strata sosial cuma dilihat dari pakaian? Cuma orang berduit banyak seperti kamu yang boleh beli pakaian mahal?” tanyanya sinis.


 Iman merutuk. Kalau sebenarnya ia berharap supaya tuduhan Rayya menjadi kenyataan, khususnya di bagian memengaruhi pikiran Ibrahim  Busro. Niatnya murni untuk membantu Rayya, cuma sayangnya wanita ini keburu mengibarkan tanda permusuhan sejak awal. Iman… mendadak menyesal dipaksa mengabulkan permintaan Ibrahim. Sekarang ia terjebak antara memenuhi kesepakatan dengan Ibrahim dan betarung dengan kemarahan Rayya, atau… berusaha membebaskan diri. Syukur kalau nanti adiknya, Rinai, bisa ikut ia selamatkan.


“Pernah nggak kamu mikir. Kenapa selama ini kamu selalu salahin saya. Padahal, kamu kesal sama mantan suamimu. Kemudian, kamu bermasalah dengan Rinai, adik saya… meskipun itu nggak sepenuhnya masuk akal mengingat… dia diajak nikah… bukan memaksa Daus menikahinya. Terus masalah ini kenapa kakek kamu menyuruh Daus pindah, kenapa malah ini jadi kesalahan saya? Kenapa kamu marahin saya, Rayya?” protesnya kesal.


“Kenapa kamu nggak pernah mempertimbangkan kalau sebenarnya, ini semua, awal masalahnya bukan salah kamu, Rinai, apalagi saya. Ini semua berawal cuma gara-gara ketidak capable-an seorang Daus Busro!”


Rayya mengerjap. Sebelah tangannya berkacak pinggang dan sebelah lagi memijit kening. Ponytail Rayya bergerak mengikuti langkahnya, ke kiri… ke kanan, kemudian tubuhnya mendekati kursi, memilih duduk.


“Kenapa Daus yang nggak capable, nggak berani bertanggung jawab sama kehidupannya, kok kamu malah nyalahin orang lain?!” tukasnya sengit.