
Rinai menghela napas kemudian memandangi suaminya. Daus tengah tertidur di samping Rinai. Wanita itu terus membiarkan punggung tangannya mengelus pelan wajah Daus. Perlahan-lahan ia mendekat lalu memberi kecupan ringan. Ia mengulangi beberapa kali aksinya. Pria itu cuma melenguh, kemudian kembali tertidur, mengeratkan selimut dan menyembunyikan tubuh rapat-rapat di dalamnya.
Rinai terkikik kemudian mengalihkan pandangan ke penjuru ruangan. Di lantai, pakaian mereka berserakan. Udara dalam kamar menebarkan aroma sisa percintaan-- pergumulan mereka, nyaris semalam penuh. Setelah menghadapi beberapa waktu penuh air mata dan isakan, Daus kemudian berusaha mengembalikan kewarasan bersama istrinya. Dua gelas chamomile beserta madu dan diseduh air hangat kuku, membuatnya kembali tenang. Pikirannya mulai tenang bersamaan dengan keintiman mereka yang makin intens.
Mereka melakukannya tadi malam! Rinai bersorak, berteriak, ber-euforia! Setelah menanti beberapa lama, Daus memberanikan diri melakukannya dengan Rinai. Meskipun ia tahu kalau lelaki itu beberapa menit sebelumnya masih menangisi mantan istrinya, Rayya… namun itu cuma masa lalu. Masa kini, ia bersamanya… mereka bersama-sama berjanji agar saling… menyembuhkan.
Rinai kembali ingat pertemuan pertama mereka. Waktu itu, di atap gedung kantor. Rinai berdiri tepat menginjak ujung atap. Ia sedang mempertimbangkan rencananya. Apa ia harus mundur atau melompat saja. Lalu menit kemudian, seorang laki-laki menyeretnya jauh… pergi dari gerbang neraka di depan mereka.
Ia ingat bagaimana teriakan dan amukannya kepada Daud. Mengapa lelaki itu ikut mencampuri urusan hidup dan matinya? Kenapa lelaki yang kemudian ia ketahui merupakan bos besarnnya itu, membuatnya terpaksa untuk menyimpan kembali nyawanya?
Wanita itu meluruh, ia tidak bisa mengucapkan kata terima kasih ketika ia sendiri belum benar-benar memutuskan apakah ia ingin tetap hidup. Ia menangis, memaki, mengutuk banyak hal terutama… mantan pacarnya.
Daus beberapa kali meneriakinya, “Apa isi kepalamu… udah kamu tukar sama otak udang?!”
“Kamu itu tahu apa soal hidup saya?” tantang wanita itu.
Daus mendelik, kemudian melangkah mendekat, menghimpitnya ke tembok. “Saya tidak tahu apa-apa soal hidupmu tapi… kamu pun tidak tahu apa-apa soal hidup saya, kan. Bisa nggak kalau kita nggak saling menghakimi?” ucapnya lirih. “Ceritalah… kalau kamu mau, lalu kita lihat… masalah siapa yang lebih berat,” tantangnya.
Itu merupakan hari ketika mantan kekasih Rinai memutuskannya dan memberi undangan pernikahan. Itu merupakan hari ketika ia mendapati kenyataan bahwa orang tuanya benar… dunia ini tidak pernah seindah dongeng khayalannya. Itu… merupakan satu-satunya hari paling sial dalam kehidupannya dan kalau dulu ia ditanya, kalau boleh ia mengubah nasib, ia pasti tidak pernah menginginkan hari tersebut ada di dalam hidupnya.
Namun Daus mengubah segalanya-- nyaris segalanya. Rinai lalu meracau sambil memeluk lelaki itu, memukul-mukul, menangis tersedu-sedu. Lelaki itu terus membiarkannya, mendengarkan kisah picisannya, menemaninya memuntahkan kesakitan-kesakitannya .
Wanita itu bercerita tentang lelaki lain. Seseorang pemuda yang ia kenal sejak memasuki masa SMA. Lelaki itu tampan… kakak kelasnya yang ada di tahun ketiga SMA. Astaga! Demi Tuhan… lelaki tampan merupakan kelemahan Rinai.
Dalam dunia versi ibu peri miliknya, Rinai membayangakah bahwa ia adalah seorang putri. Mengingat ia besar menjadi dewasa di lingkungan penuh kasih sayang, dijadikan bak putri oleh ayahnya, diperlakukan kelewat baik pun manis oleh keluarga ayahnya, menerima takdir bahwa ia merupakan satu-satunya perempuan di antara sepupu-sepupunya, maka… hidupnya terasa bagai negeri dongeng yang… nyaris sempurna. Meskipun ibunya mendapat perlakuan kurang mengenakkan karena masa lalu, namun Rinai tetap diperlakukan bak puteri raja.
Dan… pasangan para puteri pasti pangeran, kan?! Layaknya Barbie yang berpacaran dengan Ken, dan syarat untuk terlihat seperti Ken atau Pangeran harus… tampan. Maka Rinai, si puteri yang penuh cinta itu… benar-benar merasakan jatuh cinta dengan lelaki tampan-- paling tampan yang pernah ia lihat setelah kakaknya!
Mereka bersama mulai menyusun rencana, membayangkan kira-kira beberapa tahun lagi mereka akan seperti apa, menikah di mana, memiliki anak berapa, dan lain sebagainya. Mereka lupa bahwa Tuhan selalu punya kehendak melampaui rencana mereka. Rinai lupa bahwa kadang Tuhan punya pilihan sendiri.
Wanita itu benar-benar setia. Meskipun banyak yang menggodanya namun, ia tidak pernah satu kali pun mengkhianati kekasihnya. Ia fokus membangun masa depannya. Rinai bahkan berhasil mendapat beasiswa di salah satu Perguruan Tinggi di ibukota provinsi.
Segalanya terasa sempurna, seharusnya sempurna. Ketika ia tengah menikmati rancangan masa depannya yang memang terasa tanpa rintangan, tiba-tiba, lelaki itu menelepon… memberi kabar kalau setelah kelulusan, ia ditempatkan untuk menjabat sebagai tim di markas besar. Padahal tadinya, pemerintah mengatakan tiap putra daerah, yang berasal dari daerah kecil akan kembali ke daerah masing-masing… membangun daerah tersebut. Tapi… nilai kelulusannya yang bagus, melebihi perkiraan… membuat pemerintah menginginkannya mengisi kekosongan jabatan pada kantor pusat.
Rinai tidak terima. Seharusnya… mereka membangun kehidupan mereka. Tahun depan rencana pernikahan mereka! Rinai bahkan belum meyelesaikan pendidikan sarjana. Ini tidak bisa! Lelaki tampan berpangkat perwira muda, pasti mendapat godaan banyak perempuan. Rinai tidak terima!
Ia meminta izin untuk mengikuti lelaki itu ke ibu kota. Siapa sih yang berani jamin kalau lelaki itu tidak tergoda oleh wnaita lain? Masa bodoh untuk ungkapan kalau jodoh tak ke mana, karena pada kenyataannya, jodoh akan tetap ke mana-mana kalau ia tak dikawal sampai halal! Bahkan kadang yang sudah halal pun tetep harus dikawal.
Ia memilih tetap nekat, melepaskan beasiswa yang semestinya kuliahnya selesai satu tahun lagi. Mengabaikan permohonan ibu dan ayahnya yang nyaris mengemis memintanya berpikir ulang. Tidak bisa!
“Ibu dan ayah masuk rumah sakit. Ibu kritis,” ucap abangnya hari itu.
Ia tahu ketika menerima kertas itu, undangan pernikahan mantan kekasihnya, ia menebak informasi ini pasti sudah menyebar di kampung. Ia membayangkan bagaimana orang mengolok-olok kebodohan Rinai. Wanita budak cinta, bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya, mengekori kekasihnya ke mana-mana, melepaskan pendidikannya, hanya untuk merasa kecewa… patah hati karena kelasihnya menikahi perempuan lain.
Ia lupa betapa kekecewaan dan kesedihan orang tuanya sangat besar. Ditambah cemoohan warga menganggap Rinai sudah gila, membuang beasiswa begitu saja, lalu… diputuskan karena kekasihnya menikahi anak perempuan komandannya.
“Aku pikir, menikahinya bisa membuat karirku semakin naik,” alasan lelaki itu ketika meminta putus.
“Ibu kritis,” bisik Iman, abangnya memalui telepon.
Ia lupa ibunya menahan cemoohan betahun-tahun dan semakin ditertawakan karena ulahnya. Maka kalau terjadi sesuatu kepada orang tuanya, ia tidak bisa memaafkan dirinya.
Lalu… abangnya menghubungi lagi, memberi kabar hanya agar Rinai tahu bahwa ibunya… memilih menyerah kepada kehidupan. Lalu… kalau Rinai berhasil selamat, diselamatkan Daus waktu itu, apa lelaki itu pikir… Rinai masih mampu menjalani kehidupannya?
Wanita itu belum tahu kalau Daus saat itu, merasa berterima kasih karena meski masalahnya rumit, nyatanya beban yang Rinai miliki lebih pelik. Daus berterima kasih, bersyukur dalam hati bahwa meski rahasianya kelam, namun ia tidak membunuh siapa pun. Dalam kasusnya, ia tidak benar-benar membunuh siapa pun. Karena itu, Daus berbisik sambil memeluk Rinai, “Aku di sini… nggak apa-apa nggak apa-apa, mulai sekarang kita saling menyembuhkan.”