
Shanaz memilih untuk mengikuti menu makanan Rayya, secangkir teh hijau beserta roti tawar. Bedanya, teh milik wanita muda itu menggunakan gula sedangkan milik Rayya sudah pasti... tanpa rasa, atau malah pahit, mengingat teh hijau itu rasanya sebelas dua belas dengan rebusan daun-daunan. Kemudian, roti tawar gandum milik atasannya di oles segumpal selai kacang almond dan milik Shanaz, menggunakan selai yang sama namun masih ditambah beberapa tetes susu kental manis cokelat.
"Bisa seret cuma pakai selai kacang kayak gitu," protesnya waktu melihat breakfast milik Rayya, beberapa bulan lalu."
Lembar roti yang kedua, mereka memilih menggunakan selai strawberry. Kali ini mereka kompak menyamakan porsi selai. Rayya tidak protes karena sebotol selai miliknya diproduksi sendiri. Maksudnya Bibi yang membuatnya, homemade... tidak banyak gula.
Shanaz langsung mencebik. "Ahseem!" ia lupa kalau itu selai buatan Bibi, minim gula, minim pemanis, minim bahan tambahan. Bergegas ia menambahkan susu kental manis.
Rayya menggeleng pelan melihat kelakuan asitennya. Ia mengabaikan wanita itu, kemudian memilih kembali ke kamar setelah memakan sarapannya.
"Jangan lama-lama, Naz!" protesnya ketika melihat asistennya masih sibuk mengunyah.
Rayya menepuk kening, kemudian kembali masuk, mengarah ke walk in closet. Ia mengambil blazer. Wanita itu kemudian mengenakannya, lalu menatap tampilannya di depan kaca. Shanaz benar, tinggal menambahkan topi ia mirip siswa sekolah yang mau mengikuti upacara.
Tidak apa-apa, ini berarti ia awet muda. Maka setidaknya... bercerai dari mantan suaminya, bukan berarti ia menjadi perempuan mengenaskan. Kalau Rayya butuh penampilan atau image baru, menjadi wanita muda merupakan pilihan baik daripada menjadi perempuan merana. Bukankah di luar, banyak wanita yang setelah pisah atau putus cinta malah semakin memesona?
Rayya berbelok ke kamar, mengambil tas tangan. Ia mengeluarkan beberapa benda seperti organizer beserta pouch, kemudian memasukkannya ke dalam hand bag yang ia ambil di walk in closet tadi. Rayya kemudian menuju keluar kamar.
Wanita itu mengernyit ketika menemukan Shanaz membuka pintu. Ia mendapati asistennya malah mematung, bengong, berdiri depan unit apartemennya.
"Kamu kenapa pagi-pagi ngelamun?"
Shanaz terkesiap. Wanita muda itu kemudian melangkah bergegas menghampiri atasannya. "Miss... tadi pas baru buka pintu, saya ngelihat cewek kayak lagi jalan ke arah lift."
Bosnya itu mengerjap.
"Saya nggak lagi lihat penampakan, kan Miss?"
Rayya mengernyit. Meski lantai tersebut properti milik Ibrahim dan perusahaannya, bahkan cuma ditempati kalau ada tamu perusahaan atau kolega keluarga lainnya, namun... sepengetahuannya belum pernah ia melihat setan atau penempakan, seperti ucapan dari mulut Shanaz barusan.
Rayya menghela napas. Ia teringat ucapan Bibi. Seseorang pasti telah menempati apartemen di seberang unitnya. Ia pikir mantan suaminya pindah ke situ.
"Paling kamu tadi lihat istri baru Mas Daus," cibirnya.
Shanaz mengernyit. "Miss Rinai baru operasi di kakinya?"
Rayya menelengkan kepala. "Emang dia diperban kakinya?"
Shanaz menggeleng.
"Luka?"
Asistennya kembali menggeleng.
"Jalannya sedikit pincang?"
Lagi-lagi wanita itu menggeleng.
Rayya mendelik kesal. "Terus kenapa berpikir dia itu dioperasi kakinya?"
Shanaz mengerjap. "Kalau itu memang Miss Rinai kayaknya, dia menjalani prosedur pemanjangan kaki. Perempuan tadi, tingginya itu hampir sama kayak Miss Rayya. Makanya kalau benar tadi Miss Rinai, berarti dia baru selesai melakukan operasi peninggian kaki."
Rayya mengernyit. "Mungkin itu cuma karena dia pakai sepatu tinggi."
Shanaz mencebik. "Kalau saya nggak salah lihat, tadi perempuan itu pakai kitten heels," tukasnya mencoba mengingat-ingat kejadian itu. "Apa mungkin emang Miss Rinai operasi kaki?"
Rayya menggeram gemas. "Itu berarti bukan dia, Naz. Masa kalau benar dia melakukan operasi atau prosedur apa pun untuk menambah tinggi, gimana dia bisa secepat ini jalan-jalan? Kan kemarin itu waktu hari Sabtu saya ketemu dia di apartemennya, masa beda dua hari dia udah bisa jalan lancar kayak gitu? Kamu mimpi," ucapnya kemudian menghela napas. "Lagian, kenapa tadi kamu nggak nyapa?"
Shanaz menggeleng. "Orangnya udah ke sana, udah mau nyampai belokan lift. Masa saya ngejar. Mau ngapain?"
"Mau kenalan. Kan kamu hobi sosialisasi," sahut Rayya malas.
"Miss nggak usah pura-pura nggak tertarik. Memangnya Miss nggak penasaran, kalau memang benar itu perempuan tetangga baru kita, emang Miss nggak mau kenalan?"
Rayya tertawa sinis. "Sejak kapan kamu lihat saya suka kenalan sama sembarang orang? Kamu lupa, i don't make... friends!" tegasnya.
Shanaz mencebik. "Nanti kalau saya kenalan, paling Miss tanya-tanya sama saya. Biasanya kan begitu," gerutunya.
Wanita muda itu kembali ke kamar, kemudian mengambil tas sambil menggumam dan menggerutu pelan. Rayya menggeleng gemas melihat kelakuan Shanaz. Ia memilih untuk menuju ke rak sepatu, menarik sepasang wedges. Ia kemudian terdiam ketika mengingat ucapan Shanaz. Siapa tetangga barunya?
Rayya menatap beberapa saat keadaan tepat di depan pintu unit apartemennya melalui interkom. Siapa tahu tiba-tiba ada penghuni lain yang keluar dari unit depannya. Sepi, tidak nampak wanita yang Shanaz lihat tadi. Mungkin wanita itu sudah pergi.
Ia menunggu beberapa menit. Siapa tahu ia menemukan orang lain keluar dari apartemen itu.
"Bukan penasaran, cuma berusaha waspada. Siapa tahu nanti ada orang lagi yang keluar dari apartemen depan," sahutnya kemudian menggeleng. "Saya kan nggak kepo kayak kelakuan kamu."
Shanaz mencebik, kemudian mengeluarkan loafer, memakainya cepat lalu membuka pintu. Rayya berdecak melihat kelaluan Shanaz.
"Kamu tumben nggak pakai hak tinggi? Biasanya kan minimal sepatu kamu sepuluh senti, sebagai bukti kalau kamu... denial sama tinggi badan kamu. Kenapa tiba-tiba kamu nerima kenyataan begini? It's so not... you." Rayya menggeleng keheranan.
"Biarin Miss, kan tema untuk kali ini kita back to school. Miss kan udah kayak anak SMA, makanya biar kelihatan sama, saya pakai loafer. Masih mending daripada saya pakai sneakers."
Rayya menghela napas kemudian dengan cepat memakai sepatunya.
"Sekali-kali kita ini kayak anak gaul, kayak bestie yang berangkat sekolah bareng, " pekik asistennya kelewat antusias.
Rayya mendengkus, kemudian memilih untuk melangkah ke arah elevator, terus ke tempat parkir. Ia masuk ke mobil, duduk di kursi samping Shanaz, membiarkan wanita itu mengambil alih kemudi. Rayya kemudian terkesiap ketika asistennya tiba-tiba menggebrak stir kemudian berteriak.
"Itu tetangga baru kita, Miss!" pekiknya ke arah mobil yang baru melintas di depan mereka. Rayya menatap sebuah SUV berwarna abu. Dari kaca, terlihat wanita berhijab mengemudikan kendaraan tersebut.
"Saya kayak pernah lihat, tapi saya kapan ngelihatnya?"
Rayya mengernyit. "Kamu tadi lihat, di lorong depan apartemen," cibir Rayya.
Shanaz mencebik. "Bukan itu maksud saya, Miss! Serius kayaknya mukanya nggak asing. Saya lihat di mana, sih?"
Rayya menghela napas. "Kalau kamu tanya sama saya, saya tanya sama siapa? Kalau nggak coba tanya Pak Han, biasanya dia tahu banyak hal. Rahasia punya negara aja, dia bisa tahu... apalagi rahasia kamu."
Shanaz mendengkus. "Saya nggak becanda, Miss."
Rayya menatap tajam. "Kalau kamu nggak secepatnya mulai mengemudi, nanti kita telat. Kalau kita telat rapat nanti kita kena marah Pak Han. Kalau kita kena marah, bonus tahunanmu bakal saya potong," ujarnya sambil menunjuk ke arah jam dalam layar, di lcd dashboard. "Saya nggak becanda!" imbuhnya.
Shanaz kemudian menyalakan mesin, sekitar beberapa menit memanaskan kendaraan. Rayya melakukan pengecekan lewat aplikasi ponsel. Beberapa divisi berkirim berkas melalui pesan email. Sebagian ia telah periksa malam tadi. Sebagian lagi masih perlu pengecekan sebelum rapat.
Shanaz mulai melajukan kendaraan. Wanita itu terus bergumam mengenai kemungkinan siapa dan bagaimana ia mengenal orang tadi. Siapa tetangga baru yang Shanaz lihat?
Rayya membiarkan wanita itu bergumam sendiri. Ia melihat ke arah jalan raya. Menatap lalu lintas sekitar kawasan perkantoran mereka.
Sebenarnya kantor mereka itu cukup dekat. Berada di kawasan sama, Central Business Distrik punya perusahaan Busro. Cuma butuh lima belas menit berjalan kaki, dan lima belas menit naik mobil. Mengingat proses naik mobil itu lebih ribet, perlu pergi ke parking area, memanaskan mesin, turun ke lobi, baru setelahnya menuju ke arah kantor. Belum lagi harus menuju ke parkir mobil, baru masuk ke gedungnya, maka proses naik mobil memiliki waktu yang sama dengan jalan kaki.
Kadang-kadang Rayya memilih jalan kaki ketika pergi ke kantor. Suasana pagi lebih kondusif, masih belum terlalu padat. Cuma dipenuhi para karyawan kantor. Sedangkan sore nanti, banyak pejalan kaki, entah masyarakat yang datang dari mana... mulai dari ibu-ibu yang mau belanja di shopping center, sampai para anak jalanan, berbaur dengan pekerja. Makanya Rayya kadang minta supir mengantarnya pulang, kalau ia tidak membawa kendaraan.
Shanaz berhenti tepat ketika Rayya menutup aplikasi pesan elektronik di ponselnya. Ia berniat untuk menurunkan Rayya, sebelum mengarah ke parkiran mobil. Wanita itu lalu terpekik sambil menatap ke arah lobi.
"Itu Miss... wanita tadi!" ucapnya sambil menunjuk ke arah perempuan berhijab yang sedang berdiri di depan gedung. Sepertinya ia menunggu seseorang.
"Serius, Miss... saya kayak pernah lihat, di mana ya?" gumamnya kemudian mengeluarkan ponsel. Ia membuka kamera ponsel, melakukan zoom beberapa kali.
Rayya mengerjap. "Zahra, dia Zahra."
"Nah! Iya, ini Zahra Kamila Bawazeer. Financial Influencer yang sering muncul di selebgram," pekiknya cepat.
Rayya menghela napas. "Saya belum tahu pasti status pekerjaan dia. Saya cuma tahu kalau dia itu satu-satunya puteri dari Ahmed Ibnu Bawazeer, pengusaha, pelopor biro travel wisata haji dan umroh beserta ekspor impor barang-barang dari negara Timur. Konon mereka bahkan memiliki garis kekerabatan dengan Emyr di sebuah negara sana."
"Miss kenal?"
Rayya mengangguk. "Saya pernah dikenalkan. Waktu pernikahan dengan Mas Daus, Zahra datang bersama orang tuanya. Kebetulan mereka teman ayah dan ibu Mas Daus."
"Pertanyaannya, kenapa dia ke kantor kita? Apa kita bikin proyek atau punya rencana kerja sama dengan perusahaan ayahnya?"
Rayya menggeleng pelan. "Seingat saya, kita nggak punya rencana sama mereka. Ntah kalau ibu atau ayah yang punya proyek. Saya belum tahu," jawabnya. Bergegas Rayya memilih turun. "Nggak usah ngelamun. Kamu cari parkir, terus masuk ke kantor. Sebentar lagi kita rapat."
Rayya menutup pintu mobil kemudian melangkah ke arah lobi. Ia sempat memelankan langkah, ragu untuk menyapa atau mengabaikan mengingat mereka pernah kenalan. Bagaimanapun orang tua wanita itu merupakan rekan dari keluarga Busro.
Ia baru berbelok akan menyapa ketika seorang laki-laki muncul dari dalam. Rayya mengerjap bingung.
Sebentar....
"Abang!" pekik Zahra, melambaikan tangan bersamaan dengan kedatangan pria tersebut.
Rayya mengerjap tidak percaya ketika melihat lelaki dengan wajah penuh binar, senyum merekah, melangkah cepat ke arah Zahra. Pria itu tercekat ketika melihat Rayya berdiri beberapa meter sambil mengamati mereka. Daripada menyapa Zahra, lelaki itu lebih memilih menyapa Rayya.
"Selamat pagi, Rayya." Senyumnya mengembang, tidak kalah cerah kalau dibandingkan senyum yang ia berikan kepada Zahra.
Rayya berdeham, kemudian memilih untuk melangkah mengabaikan kedua orang itu. Ia menghela napas. Kenapa bisa Iman datang sepagi ini ke kantor, dan kenapa Iman bisa kenal dengan seorang kerabat Emyr seperti itu? Maka Rayya harus berhati-hati, Iman nyatanya tidak bisa ia remehkan.