
Shanaz nyaris memekik ketika seseorang membungkam mulutnya. Setengah terseret ia melangkah ke arah lift. Dari samping, sebuah tangan bebas dari orang yang membungkam mulutnya menekan-nekan tombol lift, kembali menarik-- menyeretnya memasuki benda besi itu lalu mengulang adegan menekan-nekan tombol.
Wanita itu bernapas lega ketika mulutnya bebas. Kedua perempuan tersebut saling menatap, lekat nyaris melotot. Itu tadi… apa? Shanas mencoba dengan cepat mengingat kejadian yang ia alami. Tadi, ia di kantor dan Dhita mengajaknya pulang ke apartemen. Mereka berdua baru saja keluar dari lift dan kemudian, mendapati Iman berdebat dengan seorang perempuan.
Keduanya sibuk mencerna keadaan. Barusan mereka tidak sengaja menonton, menyaksikan langsung sebuah adegan mengerikan. Mengingat bagaimana Iman serta perempuan yang… mereka ketahui itu Zahra, nyaris berhimpitan di dinding luar apartemen, mereka melakukan… apa?! mengira-ira potongan dari cerita dan behind the scene ketika Iman mengancingkan kemeja, sebenarnya keduanya tadi sedang melakukan apa?
“Miss….”
Wanita di depannya cepat mengangkat tangan kemudian menunjuk kesal. “Diam bentar!”
Shanaz menarik napas. Udara di dalam sana mendadak makin berat. Wanita itu bergerak tidak senang lalu melonggarkan blouse. Dua kancing teratas terbuka. Ia lalu terpaksa diam, memilih mengamati pantulan keduanya melalui kaca lift.
Astaga!
“Saya lapar, Kitty. Kalo lapar begini saya mendadak wegah mikir. Ngeblank,” ucapnya kemudian melangkah maju, menyenderkan sebelah bahu ke dinding lift.
“Saya manusia, Miss Dhita, bukan kucing,” koreksinya dan dihadiahi cibiran.
Biasanya Dhita bakal mengulang-- mengatakan alasan panjang lebar kenapa ia nyaman memanggil Shanaz kitty. Mulai dari nama panggilannya “Naz”, mengingatkan Dhita dengan buah masam nanas, kemudian berevolusi menjadi “Niz” supaya manis. Lama kelamaan, panggilan itu berubah atau maksudnya berevolusi menjadi kitty, karena biasanya banyak yang mengidentikkan panggilan manis itu denngan kelucuan kucing. Maka… demikian kisah perubahan nama panggilan Shanaz.
Shanaz masih berhati-hati mewaspadai perilaku Dhita. Si Princess Mangkumulyo mengeluarkan ponsel. Detik berikutnya ia mulai mengomel panjang kepada lawan bicara melalui panggilan itu. Sepertinya, dari tiga bahasa-- Jawa, Indonesia, dan Inggris… ia bisa menyimpulkan: si Princess mengalami shock, mengingat kejadian yang mereka lihat barusan, dan… mengalami serangan panik. Tanpa sadar, memang biasanya Dhita melakukannya, menggunakan tiga bahasa ketika mengomel atau berbicara waktu merasa tidak nyaman.
Tidak selalu memang, biasanya kebiasaannya keluar karena ada masalah lain, trigger tambahan. Maka tanpa disadari, otaknya membuat Tuan Putri itu mengumpat-- mengomel menggunakan beberapa bahasa sesuai kemampuannya. Kali ini mungkin perasaan lapar memicu kebiasaannya. Itu merupakan hasil pengamatan Shanaz yang bisa didapati setelah memerhatikan perilaku Dhita beberapa tahun ini, terhitung mulai dari Shanaz menempati posisi sebagai asisten Rayya.
Ketika lift telah sampai di lobi, keduanya bergegas turun. Dhita menggeret tangan Shanaz. Perempuan itu terpaksa mengikuti langkah lebarnya berlari melintasi lobi.
“Pak Selamet terlanjur balik ke rumah sakit. Kalo aku suruh muter ndak iso, dia kejebak traffic jam. Mumet-- pusing mikirinnya, Kitty,” gumam Dhita yang sekadar dianggap dengungan bagi Shanaz. Mengingat napasnya ngos-ngosan serta perpaduan kosa kata macam-macam, Shanaz merasa ingin menyerah menanggapi kalimat tersebut.
“Kita nyegat taksi wae, Kitty… piye? Gimana?”
Shanaz melongo. Ia berpikir cepat. Pertama, kenapa mereka musti lari? Oke… mereka tidak mau ketahuan karena menguping pembicaraan, tapi… mereka sudah di lobi. Mereka bebas dari kecurigaan Zahra dan Iman yang ada di depan lorong. Itu berarti, mereka sebenarnya bisa pura-pura naik kembali, berharap Zahra dan Iman sudah selesai melakukan kegiatan apa pun di lorong apartemen. Lalu… mereka masuk ke apartemen dan menemui Rayya, bersikap seakan-akan tidak terjadi masalah apa pun. Kenapa Dhita memaksanya pergi?
Ketika tiba di depan gedung, mereka mencegat taksi. Kebetulan taksi tersebut baru menurunkan penumpang. Ternyata sore ini semesta mendukung keinginan Dhita untuk lari dari gedung ini.
Meski belum tahu tujuan mereka, namun Shanaz terpaksa mengikuti Dhita masuk ke dalam taksi. Dia baru ingin menanyakan ke mana tujuan mereka, sampai ia mendengar… supir taksi mewakilinya.
“Mau ke mana, Bu?” tanyanya sopan.
Shanaz mengintip identitas si pengemudi yang tertempel pada dashboard. Dari potonya beserta suara pun perawakannya, lelaki itu terlihat berumur paruh baya.
Sebentar….!
“Ke Sky Palace resto, Pak,” sahut Dhita cepat.
Shanaz melongo lebar. Tempat tujuan mereka sebenarnya… cuma selemparan ketapel. Maksudnya… restoran itu berada di gedung sebelah, di apartemen Daus, di tingkat teratas. Kenapa Dhita terburu-buru naik taksi?
“Miss?”
“Kitty tenang deh… saya lapar. Nanti kita ngomongin masalah kita setelaha makan,” tukasnya.
Shanaz menghela napas. Dhita menyela perkataan Shanaz. Padahal ia cuma mau mengingatkan kalau tempat tujuannya cuma di seberang gedung. Kalau naik taksi, mereka malah terpaksa memutar. Ini… ibarat mau menyeberang dari GI ke PI… naik taksi! Duh… accidentally, they look like dumb and dumber reincarnate! Semesta pun ikut mendukung… kedunguan mereka.
Supir taksi mereka menghela napas, sepertinya ia merasakan keanehan. “Ibu mau ke mana?” tanyanya kemudian.
“Sky Palace,” sahut Dhita cepat.
“Yang di Busro Sejahtera?”
“Iya, Pak. Kecuali kalau dia buka lagi di tempat lain.”
Pria itu tersenyum kemudian menggeleng kepala. “Ibu mau… naik taksi?” tanyanya ragu.
Dhita menepuk kepala. “Kitty! Kenapa kamu nggak ngomong? Astaga! Saya makin lapar,”tukasnya.
Si supir taksi berdeham. Ia mungkin merasa sedikit kecewa mengingat penumpangnya mau membatalkan pesanan, namun kalau diikuti pun arah restoran tersebut cuma sekian menit dan ibaratnya, buang-buang waktu sih. Kalau mereka cancel, si supir bisa mendapatkan cuan juga kok. Mengingat berdasarkan dari regulasi di sini, terdapat biaya dari pembatalan pesanan taksi dan pria itu bisa mencari penumpang lain dengan tujuan lebih jauh.
Dhita kemudian memberi satu lembar uang seratus ribuan. “Pak, maaf. Ini sekalian tips,” tukasnya santai. Padahal biaya pembatalan cuma sepertiga dari uang itu. Namun bagi Princess, seratus ribu itu bukan sesuatu yang besar.
Dhita kemudian kembali menarik Shanaz melangkah melintas taman Apartemen, lurus menuju gedung di sebelah. Setengah berlari dengan ngos-ngosan, Dhita ngedumel, menarik-narik tangan milik asisten Rayya. Bergegas mereka menuju lift kemudian naik ke lantai paling atas.
Shanaz kemudian menghela napas ketika melihat pakaian si Princess. Ia lupa betapa santainya pakaian Dhita. Bukannya malu, cuma… pakaian perempuan itu kelewat santai. Cuma kaos kedombrangan, celana sebatas lutut dan… selop sederhana. Meski memang wanita itu memakai kaos dari Brand luar negeri, namun… memasuki restoran tipe fine dinning memakai pakaian sebegitu santai membuat Shanaz mengelus dada. Kalau begini namanya… Dhita ini yang membuat masalah, namun Shanaz yang malu.
Perempuan itu bertanya-tanya apa para waitress akan mencibir mereka? Namun ternyata, seorang pelayan yang berdiri dekat pintu masuk malah menyambut ramah. Sepertinya ia telah menghapal muka Dhita. Astaga! Shanaz lupa, Dhita ini Mangkumulyo… seperti Rayya, makan di tempat ini mungkin sudah sering mereka lakukan. Mengigat Dhita ini memiliki hobi keliling mall dan pekerjaannya pun membuatnya mengelilingi area perbelanjaan, maka kira-kira berapa banyak pegawai restoran dan mall yang menghapalnya? Mungkin Dhita ini punya akses VVVIP di semua mall ibu kota?!
Oke… Shanaz kembali melengos, mendapati momen commoners can’t relate seperti ini!
“Ini… kita makan di private room, ya. Kan kita mau rapat. Nggak nyaman di tempat kayak gitu,” tukasnya menunjuk ke area pengunjung.
Shanaz mau bilang apa? Baginya, sofa-sofa itu terlihat nyaman pun penerangannya tidak mengganggu mata. Belum lagi, menciumi aroma dari makanan pada piring-piring yang dibawa pelayan, merupakan bonus tambahan. Pangunjung pun tidak ramai, malah terlihat beberapa bangku masih belum terisi, berjarak lumayan berjauhan. Kalau pun mereka mengobrol, Shanaz pun yakin pengunjung lain tidak begitu tertarik apalagi mau repot menguping . Tapi… Sekarepmu lah!
Wanita itu mengekori, masuk ke sebuah private room. Dia tahu bahwa ruangan ini akan diberi biaya tambahan. Shanaz pernah berpengalaman beberapa kali memesankan restoran dan tempat-tempat pertemuan lain untuk rapat atau janji temu dengan klien. Meski memang biasanya Rayya lebih memilih rapat di kantor.
Di dalam sana, diletakkan sebuah tab. Benda canggih itu memuat daftar menu. Pengunjung bisa melihat menu mereka kemudian melakukan pemesanan. Dari pertama masuk, Dhita menguasai benda pipih canggih tersebut.
Shanaz mencoba mengingat-ingat menu restoran ini. Dia membuka gugle ketika ia menyadari kalau ingatanya… payah, niatya cuma demi menghemat waktu. Nanti kalau Dhita selesai memilih, Shanaz bisa tahu mau memesan apa. Takutnya kalau terlalu lama melihat menu tersebut, bisa-bisa si Princess ngomel karena kelewat lapar.
Wanita itu mengerjap. Ia tahu betapa banyak duit yang perlu ia keluarkan demi makan di tempat seperti ini. Namun… ia baru menyadari kalau… mineral water di sini setara dengan jatah makan siang di kantin kantor. Lalu…sepiring nasi goreng di sini bisa membuatnya membeli segerobak cireng, menyejahterakan penjualnya.
Shanaz menghela napas. Dia di traktir, kan? Kalau biasanya untuk kantor, dia cuma tinggal bayar-bayar tanpa memikirkan daftar menu. Biasanya Rayya yang pesan. Dia tidak pusing memikirkan makanannya. Kalau sekarang… gimana? Tidak ada perjanjian kalau si Princess mau mentraktir.
Shanaz cuma terbatuk ketika membayangkan, berapa banyak tabungannya terpakai. Dia membawa corporate card sih, alias kartu kredit milik perusahaan. Tapi itu cuma ia pakai untuk urusan kantor. Untuk keperluan atasannya. Masa… untuk masalah makan pribadi, ia mau memakainya? Bagaimanapun, credit card itu kan kartu utang, riba! Bisa-bisa nanti dia di sleding ayahnya kalau makan pun… mengutang dan ditambah riba!
Dhita meletakkan tab kemudian menatap Shanaz. “Kamu nggak keberatan kan kalo saya pesanin? Kalau kamu pesan sendiri nanti kelamaan… kesuwen. Aku wis lapar, Kitty. Starving!”
Shanaz tersenyum… “Nggak apa-apa, nggak apa-apa banget!” jawabnya sambil bersyukur karena keuangannya aman terkendali.
Dhita menanggung-angguk. “Kamu kan gajinya pas-pasan masa mau saya paksa kamu yang bayarin saya?!” cibirnya.
Shanaz mencebik namun malah mengangguk menyetujuinya. Ia mengerjap waktu mendapati Dhita mengamatinya tenang.
“Tadi… itu… kenapa?” tanyanya pelan.
Shanaz mengernyit. “Apanya, Miss?”
Dhita menepis kening. “Tadi… itu Iman, kan? Dia… ngapain? Kenapa dia berbuat mesum di tempat umum?”
“Ha?” tanya Shanaz bingung.
“Kittyhhh! Kamu kenapa cuma hah hoh hah hoh? Mbok pikir, kamu dagang umang-umang apa? Think!”
Perempuan itu menghela napas kemudian menatap lurus. “Mungkin Pak Iman tadi cuma….”
“Cuma? Apanya sih yang cuma… cuma?! Udah fix! Si Iman itu lagi mesum sama Zahra!” pekiknya sambil memukul meja. “Tadi dia bilang… Kakek mau ngejodohin Mba Rayya? Sama dia?!”
Astaga!
Shanaz nyaris berteriak ketika Dhita menggebrak meja makin keras. “Ndak boleh! Pokoknya, aku nggak terima kalo Mba Rayya dijodohin sama curut kayak Iman! She deserves better! Kita perlu menyusun rencana!” tukasnya kemudian menggenggam jemari Shanaz.
Shanaz cuma melongo mendengarnya.
“Kita sekarang partner! Pokoknya, kita wajib menggagalkan rencana Kakek! Kamu… setuju kan, ya?!” tukasnya cepat. Dhita ini bukan bertanya namun sedang memaksa. Lalu Shanaz mau ngapain? Apa Dhita pikir, melawan Ibrahim Busro itu semudah mengeluarkan umang-umang dari dalam cangkang? Mendadak Shanaz merasa kalau mereka, dia dan Dhita bukan lagi dumb and dumber reincarnate. Mereka mungkin titisan umang-umang dan dipaksa melawan Ibrahim!