
Lelaki itu berdecak kemudian meremas keras bendelan kertas di genggamannya. Tadi Iman berniat mendatangi ruangan Rayya, ingin melakukan kroscek, sekadar mengkonfirmasi data keuangan. Ia memang bisa mengkonfirmasi dengan Daus namun lelaki itu mungkin sedang sibuk… bersiap untuk pergi mengingat di rapat tadi, Daus sudah dikode untuk pindah ke kantor cabang.
Selain itu, Iman sengaja mendatangi Rayya, sekadar ingin berbasa-basi. Mungkin… mungkin wanita itu ingin mengatakan sesuatu, membahas ini itu, meluapkan sisa kemarahan, apa pun bisa mereka lakukan untuk membangun interaksi. Bukankan keinginan Ibrahim salah satunya agar Iman mendekati Rayya?
Nggak perlulah bermimpi kelewat muluk menginginkan supaya Rayya mencintainya, sekadar menyukai sebagai sesama manusia pun nyatanya Rayya tidak mau. Buktinya, Iman mendengar sendiri, dengan kedua telinganya, betapa Rayya menganggapnya sebagai musuh.
“Bapak nggak masuk?” tanya Shanaz tepat ketika mendapati Iman berbalik.
Lelaki itu menghela napas. Ia tersenyum perlahan ke arah Shanaz. “Kayaknya Rayya lagi sibuk, ini saya titip. Nanti tolong kamu aja ngasih ke Rayya,” ucapnya sambil bergerak mengulurkan lengan, memberikan kertas-kertas yang ia genggam.
“Miss Rayya nggak sibuk, Pak. Tapi memang temannya lagi datang,” sahut Shanaz cepat kemudian mengambil kertas yang dititipkan Iman.
Iman mengangguk-angguk. Nyatanya Rayya bukan anti sosial. Ia memiliki teman. Meski memang temannya… ternyata suka merendahkan orang lain, menganggap pendatang baru sebagai ancaman, bukan rekanan.
Tidak salah memang-- mengingat Iman dengan Rayya ini memiliki hubungan unik, maka ketika Iman masuk ke perusahaan tentu Rayya menyambutnya dengan antipati, bukan senang hati.
“Saya balik dulu, nanti kamu tolong kasih data itu ke Rayya,” tukas Iman kemudian memilih pergi.
Shanaz mengangguk cepat. Tangannya membereskan berkas itu kemudian membawa masuk ke ruangan Rayya.
“Ada berkas yang harus dilihat sama Miss,” tukasnya setelah mengetuk pintu. Meski pintunya terbuka, namun memang lebih sopan kalau mengetuk sebelum masuk. Ini merupakan budaya kesopanan, aturan tata tertib tidak tertulis seorang bawahan sebelum memasuki ruangan atasannya.
Rayya mengernyit. Obrolan bersama Dhita pun Arsa terhenti sejenak. “Dari siapa?”
“Pak Iman,” jawab Shanaz cepat.
Rayya mengernyit lebih dalam lagi. “Barusan dia ke sini?”
Shanaz mengangguk kemudian nyaris memekik, bersamaan dengan Dhita tiba-tiba mengerjap, lalu berdiri, kemudian melangkah cepat hampir menubruk tubuh Shanaz.
Arsa berdecak melihat kelakuan adiknya kemudian mengikutinya. “Dhita!” geramnya.
Rayya mengerjap, mencerna kejadian itu.
“Dhita!” pekik Arsa sambil menyejajari langkah adiknya.
Wanita muda itu memilih mempercepat gerakan. Ia melihat targetnya… seorang laki-laki yang ia pikir merupakan targetnya… berjalan di depan sana.
Astaga!
“Halo!” tukasnya kemudian bergegas menepuk pundak lelaki itu.
“Kamu Iman?” tanyanya tanpa basa-basi.
Lelaki itu berhenti melangkah kemudian mendelik tidak percaya. Wanita mungil di depannya menatap nyalang, melakukan quick scan… memindai dirinya cepat mulai dari ujung rambut ke ujung kaki.
“Kamu… Iman?” tanya lagi kemudian menelengkan kepala.
Lelaki itu mengulurkan tangan, tersenyum ramah, merekah, cerah, meriah, seperti kerupuk yang baru masuk toples. Kriuk!
Iman menatap ke arah ruangan Rayya. Apa ini teman Rayya? Tapi wanita muda mungil-- mengingat ukuran tubuh Iman kelewat tinggi dan perempuan yang menatap kesal di depannya ini bertubuh mini, menggunakan kaus besar dengan gambar tokoh kartun, membuatnya seperti bocah nyasar. Dia ini mahasiswa? Atau bocah sekolahan?
“Adek ini siapa?”
Dhita mendengus. “Kamu… ini… ckckck….” wanita itu kembali memindai, menilai penampilan Iman. “Kok bisa-bisanya Kakek minta kamu masuk ke sini? Menggantikan Mas Daus? Daebak!” pekiknya sambil menggeleng-geleng.
Dengan bergegas, Dhita menarik tangan Iman, kemudian menyentuh pakaiannya. Tangannya mengusap bahan kain dan tiba-tiba menarik jas lelaki tersebut. “Udah pasti, ini The Armany kan?!” ucapnya kemudian memicingkan mata, mengamati simbol deretan abjad pada kancing jas.
“Kamu… siapa?” tanyanya sambil menarik kencang kerah jasnya, setengah kepayahan berjinjit. “Kamu… siapa?”
“Dhita!” pekik seorang laki-laki. “Stop! Don’t!” ulangnya, kemudian mempercepat langkah. Bukan cuma berlari, Arsa seperti… melesat.
“Turunin tangan kamu!” ucapnya tepat, saat Arsa berhenti beberapa senti berhadap-hadapan bersama Iman. “Stop!” pekiknya kemudian menarik lengan adiknya, membawanya mundur dan menjauhi lelaki itu.
Arsa mengatur napas, sama sekali tidak terengah-engah meski ia sempat berlari secepat itu. Mungkin, ia mempelajari beberapa jurus milik The Flash. Nyatanya, ia tidak kelelahan sama sekali.
“Saya… Arsa,” tukasnya, mengulurkan tangan kepada Iman.
Lelaki itu mengerjap. Ia merapikan pakaian yang nampak kusust di bagian lipatan kerah jas dan lengan karena tadi sempat ditarik. “Halo saya Iman.” Sambil tersenyum, ia menyabut tangan Arsa.
Lagi-lagi, Iman diperlakukan bagai pembeli saat memasuki sebuah butik ternama. Dipindai dari ujung kepala ke ujung sepatu. Dinilai, ditaksir, dikira-kira, ditebak, kalau-kalau ia tidak mampu-- tidak berani untuk membeli atau menyentuh benda apa pun setelah melihat price tag yang menggantung di baju-baju display. Apa memang Iman nampak sebegini menyedihkan?
“Mba Rayya benar, Mas. Itu dia beneran The Armany, bukan kw deh, tadi udah aku pegang, asli! Dia mampu beli jas mahal kayak begitu, Mas?!” bisik Dhita namun percuma mengingat… suaranya masih terdengar telinga lelaki itu mengingat jarak mereka cukup dekat.
“Iya, ini memang bukan kw, ini aseli dibeli waktu diskon,” sahut Iman mencibir kemudian tersenyum kecut.
“Sediskon-diskonnya gimanapun, setelan The Giorgio Armany nggak akan semurah HnM, kan?” tukasnya cepat, kemudian mendengkus. “Kamu siapa, kamu punya niat apa? Apa Kakek yang beliin pakaian kamu?”
Iman menarik napas. “Apa saya itu kelihatan mengenaskan banget sampai nggak mampu buat beli pakaian bagus?”
“Kamu….”
“Dhita!” Arsa kembali menggeram ketika memahami adiknya terlampau kelewatan. Ia menarik Dhita mundur ke belakang punggung. Lelaki itu memutar tubuh menghadap adiknya, lalu memelototinya.
“Kamu kenapa gangguin terus?”
“Aku kan cuma pingin nyari info, Mas. Dia itu pilihannya Kakek. Padahal dia itu setahu kita, si Iman Iman itu kan nobody, bukan siapa-siapa,” tukasnya setengah berbisik.
Arsa menghela napas. “Tapi kamu cuma bikin dia tersinggung loh. Kamu udah berlebihan,” tegurnya.
Iman berdeham. “Halo, saya masih di sini,” tukasnya, menyela percakapan dua orang di depannya. “Apa ada yang perlu dibicarakan lagi sama saya?”
Arsa memelototi Dhita, memberi kode kepada adiknya agar menghentikan keributan mereka.
“Kalau begitu, sebaiknya saya permi….”
Arsa membalik tubuh, kembali menatap Iman. Lelaki itu kemudian menarik napas, mengambil beberapa langkah maju. Bahu mereka berdua bersinggungan kasar, membuat Iman menyadari bahwa ia memang diintimidasi. Tepat di samping telinga Iman, Arsa berdesis, “Saya belum tahu pasti rencana yang Kakek punya. Saya pun belum benar-benar paham kalian berdua melakukan permainan macam apa. but dude… kalau kamu berniat bermain-main dengan Rayya, saya cuma mau bilang… back off! She is mine!”