
Rayya menutup mulut, tidak percaya waktu mendengar ucapan Dhita. Ia nyaris tersedak air di dalam bathtub ketika tidak sengaja terciprat air ketika menggerakkan tangan. Rayya tidak percaya, meski ia tahu kalau perkataan Dhita cuma becanda, namun ia tetap merasa... berdebar. Memikirkan kemungkinan model kangen macam apa sih, yang dirasa oleh lelaki itu?
Wanita itu tersenyum sendiri. Ia ingat betul bagaimana pertama kali bertemu dengan Arsa Mangkumulyo. Lelaki itu cucu pertama Yang Ti. Dia pula teman pertama, bahkan waktu itu satu-satunya teman yang Rayya punya di sekolah karena ketika Rayya dan Arsa sekolah di Junior School, Dhita masih berada di elementary.
Mereka bertemu ketika Rayya menghadiri pesta. Kakek Busro waktu itu mengadakan pesta perayaan perusahaannya sekaligus pertama kali memperkenalkan Rayya sebagai cucu. Di antara banyaknya undangan, cuma mereka, Yang Ti beserta Arsa dan Dhita yang menerima Rayya. Lainnya, cuma mencibir, menganggap Rayya benalu baru di keluarga Busro.
Rayya menepuk kening. Bisa-bisanya ia melupakan mereka, sekutu, para partner in revenge-- kalau tidak bisa dibilang in crime. Jelas, kenakalan mereka bertiga tidak sampai kategori kriminal, namun... Arsa terutama Dhita, begitu semangat bahu membahu membalas kekejaman Daus dan teman-temannya.
Beberapa kali ia berhasil melalui berbagai macam pembullyan karena ditolong Arsa. Ketika ia hampir tertabrak mobil teman-teman Daus, Arsa berhasil menolongnya. Ketika ia nyaris tidak selamat karena tercebur di kolam renang, Arsa menariknya kemudian memberi pertolongan pertama. Ketika ia hampir menyerah karena beratnya menjadi cucu angkat milik keluarga Busro, Arsa memeluknya, mengatakan kalau ia akan mampu menghadapi ini semua, Rayya pasti baik-baik saja.
Bagaikan mantra ia terhipnotis mengikuti ucapan Arsa. Lelaki itu... Seperti ibu peri-- bapak peri yang diutus oleh Tuhan untuk melindungi Rayya. Baginya Arsa terlalu berharga kalau sekadar dicintai secara picisan.
Belum lagi Yang Ti dan segala pendidikan dasar-dasar kehidupannya, memengaruhi perkembangan pola pikir Rayya. Ketika Daus merengek meminta liburan ke luar negeri, Rayya malah berterima kasih kalau diizinkan liburan bersama duo Mangkumulyo ke rumah Yang Ti. Pokoknya... dari banyaknya teman, relasi, kolega keluarga Busro, Sari Mulyati Mangkumulyo... tidak pernah bisa dianggap remeh.
Wanita itu menghela napas. Ia ternyata berhutang budi kepada keluarga Mangkumulyo. Kepada Yang Ti, kepada kedua cucunya. Bagaimana bisa ia lupa kalau masih ada yang mendukung kedudukannya? Sekalipun ia besok bisa dilengserkan oleh keluarga besar Busro, ia tetap yakin keluarga Mangkumulyo mendukungnya.
Kali ini, sepertinya persiapan untuk move on sudah matang. Ia punya berbagai skenario agar bisa membebaskan diri dari masa lalu. Kalau ia tidak bisa sembarangan mencari laki-laki, maka ia harus melupakan mantan suaminya dengan alasan lain sperti misalnya... membalas dendam kepada mantan suaminya.
Rayya menghela napas. Sebuah pesan masuk ke ponsel.
C u, Rayya
Astaga!
Rayya mengerjap tidak percaya. Arsa barusan mengirim pesan. Ia lebih tidak percaya ketika mendapati jantungnya kembali... berdebar. Ini tidak benar. Ia tidak pantas merasakan perasaan... sehina ini. Maksudnya, ia menanggapi berlebihan pesan ini.
Ia mengingat-ingat, mungkin ini bisa terjadi karena mereka sudah kelewat lama tidak bertemu. Ini mungkin cuma karena ia salah mengartikan perhatian Arsa. Memang, sudah lama ia tidak bertemu dengan lelaki itu. Seingatnya, update terbaru pertemuan mereka ketika pernikahan Rayya. Setelah itu, sepengetahuannya lelaki itu pindah ke negara tetangga. Ia memiliki berbagai proyek pengembangan obat-obatan untuk alasan kemanusiaan dengan beberapa perusahaan kimia di sana.
Dari leluhur dulu, trah Mangkumulyo itu telah lama mendalami ilmu pengobatan. Sekaran ini para keturunannya menyatakan mengabdikan kehidupan mereka, cuma untuk ilmu beserta keselamatan manusia. Katanya, berdasarkan kabar yang Rayya dapat, Arsa itu nantinya akan menjadi penerus kerajaan rumah sakit, mega bisnis milik keluarganya.
Arsa sendiri lebih memilih mendalami kimia, dibandingkan menjadi tenaga medis seperti dokter. Ia lebih tertarik berlama-lama di laboratorium, meneliti ini itu lalu mengembangkan obat-obatan. Tidak bisa cuma menganggap sepele karena nyatanya, ia sering bekerja sama dengan perusahaan luar negeri, menemukan bermacam banyak ramuan, untuk sekadar bersiap, mencegah banyaknya berbagai penyakit baru yang mungkin muncul. Belum lagi kerja kerasnya, penelitiannya untuk perkembangan kesehatan masyarakat, membuatnya menjadi one of the most eligible bachelor in town even in this country.
"Mba nggak kepikiran pacaran sama Mas Arsa?"
Rayya waktu itu rasanya ingin menjewer Dhita ketika pertanyaan itu meluncur dari mulutnya. Sejujurnya dulu ia pernah berada di fase mengagumi Arsa.
Catat... mengagumi, adoring not loving. Sekadar menganggap, mengakui, menyetujui kalau... lelaki ini baik, charming, pintar-- mereka selalu berlomba memperebutkan juara umum, dan manis. Iya, manis. Perilakunya, mannernya, ucapannya, pokoknya Rayya mengagumi... memuji segala hal yang ada pada Arsa. Tapi untuk mencintai, Rayya mana berani.
Begini, sudah cukup lah Rayya mendapat penolakan, cacian, perundungan, dan banyak hal menyebalkan lainnya ketika ia dijodohkan dengan Daus. Kenapa ia harus menyusahkan diri untuk jatuh cinta kepada Arsa? Bukan cuma tidak mau menambah masalah, tapi ini tentang penggemar Arsa, iya... di sekolah, lelaki itu bahkan punya klub penggemar, mereka bisa ikut membully Rayya. Sudahlah ia bersusah payah menghadapi Daus dan koloninya, masa Rayya harus menambah musuh dengan berani-beraninya menyukai Arsa?
Astaga!
Tidak, terima kasih. Rayya memilih, sebelum ia terjebak melankolis atau berani menyukai Arsa, sebaiknya ia buang jauh impian romantisme picisan apa pun kepada lelaki itu. Maka Rayya bertahun-tahun amat bahagia dan nyaman mengambil posisi sebagai adiknya, Rayya menyayanginya, menghormatinya seperti ia menghormati kakaknya sendiri. Layaknya Dhita, Rayya menganggap hubungan itu sebagai kakak dan adik.
Apalagi belakangan, Arsa sibuk bersama banyak peneliti berbagai negara, untuk melakukan terobosan baru di bidang kesehatan mengingat banyaknya ancaman pandemi di masa mendatang. Ia perlu mengingat-ingat, meskipun lelaki itu rela menolongnya, namun Rayya tidak bisa seenaknya mengganggu kesibukan Arsa cuma karena rencana balas dendamnya. Ia minta bantuan kalau kepepet saja. Rayya mana boleh bersaing dengan keselamatan umat, kan?
He is just too good to be true. Too sweet to be eat.
Astaga!
Rayya menghela napas. Mungkin ini yang mantan suaminya rasakan kepada Rayya. Mengagumi seseorang yang di luar jangkauan kemampuan. Karena nyatanya terasa sedikit menyesakkan. Padahal, Rayya bahkan tidak sebegitu ingin meromantisasi perasaan kepada Arsa namun... ketika mengetahui bahwa ada lelaki potensial di dekatnya tapi he's out of her league, Rayya tidak masuk kriteria alias kurang sepadan, rasanya... minder tidak tertahankan.
Mungkin benar kalau... ini beban yang mantan suaminya simpan bertahun-tahun?