
Iman bergerak perlahan. Sedikit ragu ia menapakkan kaki keluar dari mobil. Tatapannya memindai keadaan sekitar.
Ia tahu betul ini pemukiman apa. Ia pun tahu pasti siapa saja yang mampu membeli sepetak tanah di sini. Pekerjaannya dulu yang membawanya bercengkerama dengan para pejabat, membuatnya memahami kalau harga per kapling tanah di wilayah ini, bisa membuatnya miskin mendadak. He just can't afford it.
Ini pemukiman yang berada di tengah, tepat tengah kota. Ini ibu kota negara. Area sekitar tumbuh bermacam pepohonan. Lingkungan rindang, selayaknya ini bagai hutan tengah kota, menyumbang sebagian besar oksigen sebagai kebutuhan orang-orang di kota ini. Bukan cuma bisa menjangkau ke banyak tempat penting, mengingat perumahan ini mudah ke mana-mana, tapi penghuni tempat ini pun memiliki akses menghirup udara paling segar di tengah kota.
Perumahan di tempat ini sudah tentu aman banjir. Kalau di wilayah ini kena banjir, sudah tentu istana negara... yang letaknya cuma sekitar satu kilometer, akan pasti terkena juga, mengingat perumahan ini dengan tempat tinggal presiden begitu dekatnya. Meski ketika musim penghujan, hujan yang turun memiliki curah air tinggi, air di bendungan memiliki debit mendekati batas siaga, orang-orang di sini, masih bisa tidur tenang.
Daerah ini tentu bisa mendapat aliran listrik utama, nyaris tidak terkena pemadaman listrik. Perumahan ini konon, memiliki sambungan yang sama, aliran kabel yang sama milik sambungan listrik tempat tinggal presiden. Kecuali ada sesuatu, seperti kejadian yang luar biasa-- yang sepertinya-- bisa dianggap hampir tidak pernah terjadi, pemilik perumahan ini tidak akan terkena masalah. Warga perumahan ini mendapat akses listrik sepanjang tahun!
Tentu untuk banyaknya kemudahan serta privillage seperti itu memiliki konsekuensi tersendiri. Minimal perlu merogoh kocek... begitu dalam untuk membeli sepetak area ini. Sekali lagi, Iman ini cuma commoners and can't afford that. Misal pun ia tiba-tiba mendapat rejeki entah diberi Tuhan melalui cara apa, pokoknya Iman mendadak kaya luar biasa, ia pun tidak bisa langsung membeli area ini. Mengingat dekatnya wilayah ini dengan aset penting milik negara, maka tidak bisa semudah ini membeli perumahan di sini.
Iman melangkah tepat berada di samping seorang pengawal, mengikutinya masuk ke sebuah rumah, lurus ke sebuah ruangan. Lelaki itu tidak berani melirik, memandangi macam-macam karena di penjuru rumah, banyak pria berseragam serba gelap, menjaga keamanan. Ia memang belum pernah masuk penjara, namun mungkin ini rasanya seperti dalam penjara.
Astaga!
Amit-amit!
"Hm!"
Iman mengerjap waktu mendengar pria yang berada di sampingnya berdeham lalu membuka pintu sebuah ruangan, mempersilakan masuk. Iman berdo'a dalam hati, berharap untuk yang terbaik. Semoga ia bisa keluar dari sini dengan selamat.
Yaa Tuhaaan!
Astaghfirullaah!
Astaga!
"Duduk!" tukas seorang laki-laki.
Iman kembali memusatkan pikiran. Ini pertama kalinya mereka saling menyapa. Di depan telah duduk, menunggunya dengan tenang, the one... and only, Ibrahim Busro. Lelaki tua yang bahkan orang biasa kelewat sulit menemuinya, cuma bisa ditemui kalangan pejabat paling atas. Seseorang misterius yang namanya kelewat berhati-hati untuk disebut.
Lelaki itu berambut putih. Keningnya lebar, memiliki kerutan-kerutan cukup banyak. Meski kaya, sepertinya ia tidak melakukan perawatan kecantikan apa pun. Astaga!
Iman menghela napas. Pikirannya kadang terasa luar biasa tidak biasa kalau berhadapan dengan situasi kurang nyaman. Ia ingin bersikap sesantai dan senyaman mungkin namun... ia cukup tahu diri. Tidak mungkin kan kalau memberi salam seperti... what's up dude, kepada Ibrahim Busro?!
Iman mendekat pelan\, menarik kursi yang berhadapan dengan lelaki tua itu. Penampilannya tenang tapi kakek ini memiliki aura mencekam. Seperti memiliki black hole di belakang punggungnya. Bukan s*tan s*ndel sih\, maksudnya... lelaki ini terasa menyimpan rahasia kelam di berbagai penjuru semesta.
"Apa kamu sudah setuju?"
Iman mengernyit? Ia memandang kebingungan mencari kata kunci maksud pertanyaannya. Tidak ditemukan, kalo kata gugle, url not found.
"Kamu sudah bertemu dengan Handoko kemarin?"
Iman ber 'ah' pelan, mengerti maksud beserta arah percakapan ini. Iman kira, Ibrahim Busro mengundangnya sekadar menghargai. Mengingat kakek ini tidak sudi mendatangi pernikahan Daus, sskarang ia ingin mengundang Iman sebagai basa basi permintaan maaf, mengatakan kalau ia terlalu sibuk kemarin, setidaknya... menunjukkan keramahan klise, sekadar menghargai besan.
Mustahil... Ibrahim Busro to the point, mengajaknya ke inti masalah, berbisnis. Tanpa sebuah penyambutan ramah, tanpa pemanasan. Ibrahim seakan berusaha menariknya mengelilingi marathon bisnis.
Imam menghela napas kemudian memberi senyum ramah. "Saya tidak menyangka anda sangat memerhatikan pernikahan adik saya," tukasnya berusaha berpikir baik.
"Jadi kamu terima tawaran saya?"
"Saya... punya usaha lain, Pak. Bukannya saya tidak menerima atau lancang, namun... saya sendiri baru merintis usaha," sahutnya sesopan mungkin. "Kemarin saya mengecek langsung, Daus dan adik saya, pernikahan mereka baik. Anda bahkan tidak perlu mencemaskan hubungan mereka."
Ibrahim Busro tertawa sinis lalu menatap tajam. "Kamu pikir ini semua saya lakukan untuk pernikahan adik kamu?"
Iman seperti baru mendapat lemparan bola baseball, melesat dalam waktu kecepatan cahaya sekedipan mata. And... bam! Ia terasa tertampar, mungkin pikirannya babak belur. Benar... tebakannya sedari kemarin, benar. Ini bukan cuma tentang pernikahan adiknya.
"Saya mau menawarkan kerja sama, kamu lakukan tugas yang saya minta dan kamu... silakan tulis permintaanmu. Saya rasa, kamu pasti punya keinginan, kan?"
Iman mengerjap lalu menimbang-nimbang apa keinginannya sih? Ibrahim Busro tahu apa mengenai keinginannya sampai-sampai berani menekannya?! Apa sih yang Ibrahim ketahui?
"Kamu lakukan tugasmu maka setelah itu, kamu bisa meminta saya mengabulkan permintaanmu," tukasnya, sambil mencondongkan tubuh. "Seperti... memastikan keselamatan... adikmu."
Lelaki itu mendelik, tidak percaya mendengarnya. Ibrahim Busro... mengancamnya? "Apa anda tega mengancam adik saya, istri dari cucu anda?"
Ibrahim tertawa menyeringai. "Tanpa perlu melakukan apa-apa, adikmu itu tidak akan pernah aman. Bukannya salah satu alasan kamu membiarkannya menikah karena kamu menginginkan perlindungan kami, kan?" cibirnya.
Iman merasa terpojok. Ia bahkan tadi nyaris merosot, tubuhnya merasa lemah. Untung kursi yang ia duduki menopang tubuhnya begitu kuat.
"Iman... bukan, kamu bukan Iman sulaiman," ucap Ibrahim terkekeh, menatap lurus. "Kamu Sulaiman Wilhelm Chevalier, my lord."
Iman menegakkan punggung, mengaktifkan segenap inderanya, waspada. Ibrahim Busro bergerak mengambil berkas di depannya, tepat di atas meja. Lelaki itu membukanya.
Iman menatap berkali-kali bergantian ke arah berkas dan Ibrahim. Benar, bagaimana bisa ia bermimpi kalau lelaki semengerikan ini tidak mengetahui rahasianya?
"Tanpa saya ancam pun, adikmu memang tidak aman. Dia itu kelemahanmu. Ayah kandungmu bisa memanfaatkannya supaya kamu mau mewarisi estatenya beserta gelar kebangsawanannya di Eropa. Mengingat ia tidak memiliki anak kandung kecuali kamu, itu membuatnya takut kehilangan segala kenyamanan di masa tua, kalau-kalau seseorang mengambil paksa kedudukannya. Sedangkan sepupu-sepupumu, bisa memanfaatkan adikmu sekadar... menakut-nakutimu supaya tidak mau menerima gelar kebangsawanan ayahmu. Benar?"
Iman cuma mengangguk... lemah. Ia memang tadinya menolak pernikahan adiknya dengan keluarga seperti ini. Pengalamannya mengajarkan bahwa sometimes, crazy rich people... are literally crazy. Namun Iman menyadari, membiarkan Rinai untuk menikahi Daus bisa menolongnya melindungi adik tirinya.
Iman menatap tepat ke arah lelaki tua di depannya. "Anda menginginkan kerja sama? Anda ingin bagaimana?" tanyanya kemudian.
Ibrahim Busro tersenyum. "Saya mau kamu menjadi pegawai saya. Kamu bisa bekerja di kantor saya. Detailnya, nanti kita bicarakan."
Iman mengernyit. "Saya rasa terlalu mudah kalau sekelas perusahaan anda ingin mencari karyawan. Anda bahkan bisa mendapat orang lain yang lebih baik dari saya. Kenapa musti saya, Pak?"
"Ya, tapi tidak semua orang mampu mendekati... cucu saya."
Iman melongo. Cucu? "Tsurayya Busro?"
"Saya mau kamu mendekatinya membuatnya menyukaimu."
Iman mendelik. "Kenapa saya?"
Ibrahim menghela napas, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kamu memiliki bakat potensial seperti yang saya butuhkan," tukasnya santai. "Kamu bisa bekerja. Ini penting untuk menjamin kelangsungan perusahaan saya. Kamu pernah bekerja bertahun-tahun sebagai auditor. Urusan pembukuan yah semacam itu bukan hal sulit untukmu. Kamu pun membuka perusahaan konsultan keuangan, meski klienmu cuma perusahaan kecil atau para orang kaya... mendadak. Benar, kan?" cibirnya meremehkan kata-kata orang kaya mendadak.
Iman tidak menyukai kelakuan lelaki tua itu. Ia tahu bahwa orang-orang kaya memang berhak memerkan kekayaannya. Tapi merendahkan keberuntungan orang lain, mengelompokkan kasta orang kaya lama, orang kaya baru... apa urusannya? Bukankan manusia itu dianggap sama saja oleh Tuhan? Pembedanya cuma ketaatan, bukan kekayaan. This man is just too snoob to be a human.
Iman ingin misuh, mengomel, namun ia menahannya.
"Kamu laki-laki idealis, saya suka. Itu artinya, kamu lelaki yang punya prinsip. Kamu lebih memilih keluar, berhenti dari pekerjaan lama, cuma karena... kamu tidak pernah mau negosiasi, kan? Apa pun temuanmu, kamu tidak bakal mau kompromi, menuliskannya mentah-mentah begitu saja dalam laporan. Benar kan?"
Iman kembali waspada. Apa ada salah satu mantan kliennya... mengadu kepada Ibrahim?
"Kamu bisa tenang, saya menyukai integritasmu. Makanya saya menawarkanmu kerja sama," ujarnya sambil terkekeh. Ibrahim kemudian menatap lurus. "Gimana, kamu mau mendekati Rayya?"
"Anda mau menjodohkan saya sama Rayya? Cuma karena integritas kerja? Anda
memiliki pegawai seperti apa? Apa di perusahaan, tidak punya pegawai seperti saya? Apa karyawan yang anda miliki bukan orang baik?" cemoohnya.
"Kamu pikir, pegawai di kantor saya, cukup berani untuk mendekati Rayya?"
Iman menarik napas, kemudian berusaha menjernihkan kepalanya. "Apa... anda tidak berniat agar Rayya menikah bersama pengusaha lain? Biasanya kan para orang kaya menikahkan keluarga mereka. Kalian kan bisa melakukan kesepakatan, merger bisnis," ucapnya terdengar kesal, menandakan ia tidak tertarik pada tawaran tadi.
"Cucu saya bukan komoditas atau aset bisnis. Saya tidak mau menjualnya kepada perusahaan lain. Lagi pula perusahaan saya masih mampu memenuhi kebutuhan, meski tanpa mengemis ke perusahaan lain," jawabnya santai
"Menikahkannya dengan penerus perusahaan lain, bisa mengancam perusahaan saya. Siapa nanti yang menjamin suami cucu saya tidak mengacaukan perusahaan saya?" tanyanya lagi.
Iman mengernyit. "Terua kenapa saya? Anda tidak takut kalau saya... menghancurkan perusahaan?"
Ibrahim terkekeh. "Anak muda... kamu itu terlalu bermoral dan orang seperti kamu, jangankan berpikir licik... sekadar menyakiti hewan pun kamu nggak mau," ucapnya sambil menggeleng pelan. "Orang seperti kamu, yang begitu takut sama Tuhan, nggak akan berani mempertaruhkan keimanan cuma karena urusan dunia." tambahnya.
Ibrahim menarik napas, kemudian menatap tepat ke arah Iman. "Kamu itu ibdahnya nyaris nggak pernah telat."
Lawan bicaranya mengerjap. "Dari mana tahu kalau....."
"Kamu pikir saya nggak mengamati kalian? Kamu pikir, saya bisa begitu saja memberi izin seseorang masuk ke keluarga ini?" ocehnya. "Sebelum Daus menikah lagi, saya sudah melakukan pengamatan."
Iman mendengkus merasa seperti... tikus penelitian.
"Kamu sudah tepat untuk Rayya," tukas Ibrahim lagi.
"Kenapa saya?" tanya Iman, masih tidak percaya. Ide ini tidak masuk akal. Bukannya ia tidak menyukai perempuan seperti Rayya, tapi... menikah dan menyukai, memiliki tingkat yang berbeda.
"Kamu bisa bekerja, kelak kalian bisa menjalankan semua bisnis saya. Kamu punya integritas, setidaknya kamu tidak seenaknya merusak perusahaan atau menyakiti cucu saya," jawabnya tegas. "Sebagai tambahan bonus, kamu merupakan turunan bangsawan. Meski kamu menolak, meski kamu tidak mau meneruskan gelar keluargamu, tapi bagaimanapun, di dalam tubuhmu mengalir gelar itu," imbuhnya.
Iman berdecih. "Anda begitu baik sampai memikirkan masa depan seorang cucu angkat."
Ibrahim Busro terbahak. Tawanya terdengar mengerikan. Lelaki tua tersebut menatap tepat ke arah Iman nyaris tanpa mengedip. "Siapa bilang cuma cucu angkat saya? Rayya itu cucu kandung saya."
Wait... what?
Iman seakan hampir lupa cara bernapas. "Rayya...."
"Tsurayya Busro itu cucu kandung saya yang sebenarnya."