His Virgin Ex Wife

His Virgin Ex Wife
kind of back up



Rayya menghempaskan tubuh ke kursi kerja, menyenderkan punggung lalu mulai memijit kening, berpindah mengelus alis, kemudian menekan pelipis. Ia merasa yang baru ia alami tidak masuk akal.


Begini, konon perusahaan ini awalnya merupakan usaha dagang milik orang tua Ibrahim Busro. Dulu karena beralasan kemanusiaan dan kekeluargaan, para orang tua membagi-bagi posisi. Kemudian muncul berbagai konflik, intrik politik perebutan kekuasaan. Bahkan saat Ibrahim masih muda ia hampir di lengserkan dari perusahaan. Maka ia mulai memangkas posisi puncak perusahaan.


Ia mempertaruhkan beberapa anak perusahaan yang sekiranya cuma benalu, memiliki pendapatan kurang dari target, mengorbankannya, membagi-bagikan kepada para sepupu dan tetua Busro. Seakan mengatakan kepada mereka, silakan kalian kuasai dan perebutkan anak perusahaan saya, tapi kalian tidak boleh mengacaukan perusahaan utama milik saya. Maka banyak unit usaha seperti pabrik-pabrik pembuatan barang konsumsi dan manufacturue serta beberapa saham milik Ibrahim ia relakan, ia bagi-bagi cuma untuk melindungi unit bisnis utama miliknya.


Struktur perusahaan ini pun mulai menjadi lebih ramping alias disederhanakan. Puncak kepemimpinan dikuasai Ibrahim sebagai Direktur Utama. Kemudian putranya beserta menantunya-- orang tua Daus mengisi posisi Direktur keuangan dan Direktur Operasional dan Strategi. Banyak lini posisi mengalami penggabungan. Tidak ada wakil direktur. Adanya cuma para manajer, untuk membantu dua direktur itu. Ibrahim pun dibantu Pak Handoko, satu-satunya orang kepercayaannya. Intinya, puncak kepemimpinan mengalami penyederhanaan. Lalu… bagaimana bisa Iman… tiba-tiba datang kemudian mengambil posisi sebagai… wakil direktur?


Astaga!


Iman merubah tatanan posisi perusahaan ini. Memang masuk di akal kalau Ibrahim ingin Daus membereskan kekacauan. Namun… mengusrnya dari perusahaan pusat, menjadikannya sebagai Direktur Keuangan cuma sebagai boneka-- mengingat pekerjaannya dilimpahkan kepada Iman, maka Daus cuma menjadi pajangan, mengisi posisi Direktur Keuangan. Namun ini tetap sulit diterima logika.


Rayya ingat dulu ketika Ibrahim menyingkirkan kedua orang tua Daus. Bukan tanpa tantangan mengingat para Tetua Busro meremehkan Rayya dan Daus yang mengisi posisi tersebut. Waktu itu Ibrahim memiliki alasan kalau putranya akan merintis bisnis, membuka perdagangan bersama seorang Emyr di negara timur demi kemajuan perusahaan. Tapi tetap banyak yang menebak itu sebuah pengusiran.


Daus pun beserta Rayya mengalami penolakan. Meski memang ini perusahaan dikuasai sepenuhnya oleh Ibrahim, meski para keluarga mendapatkan anak perusahaan lain, namun… mereka tetap merasa punya kekuasaan, sekadar ikut campur mengurus perusahaan pusat. Maka… bagaimana nanti ketika mereka mengetahui orang lain malah mendapat posisi penting? Mejadi wakil Direktur yang… tadinya posisi itu tidak ada malah terpaksa diada-adakan. Cuma karena Iman?


Rayya mengusap wajah. Sebenarnya, sehebat apa Iman? Kenapa bisa Ibrahim sebegitu percaya dengan lelaki ini?


Ia memilih berdiri kemudian berjalan ke sana ke sini, mencoba untuk meredakan kecemasan. Wanita itu kembali menghempaskan pungung, menyandarkan tubuhnya di sofa yang digunakan untuk menerima tamu. Kepalanya direbahkan lalu matanya memejam. Ini… bukan mimpi, kan?


Rayya mengerjap ketika mendengar seseorang mendorong pintu kemudian membukanya cepat.


“Halo sista! Long time no chat, no talk, no see… no ngerumpi!” pekik seorang wanita yang usianya agak beberapa tahun lebih muda dari Rayya.


Ia mendelik tidak percaya. Wanita muda itu melangkah ke sofa kemudian ikut duduk di samping, menyandarkan kepala di lengannya.


“Kata si kitty,” tukasnya sambil menunjuk ke arah pintu, mengasosiasikan tempat kerja Shanaz, “Mbak Rayya lagi bad mood?”


Rayya menghela napas, kemudian menatap wanita yang mencebik di sampingnya. Ia membelai kepalanya, mengusap satu persatu rambut, kemudian mendelik tidak memercayai kenyataan kalau rambut yang seharusnya hitam legam malah berubah menjadi warna-warni. Ada rambut berwarna merah muda-kuning lembut-hijau pastel-biru tosca-dan magenta di bagian dalam bersembunyi… di sela-sela rambut hitamnya.


“Kamu beneran high light? Kirain Mba ini cuma di- extension? sahutnya mengalihkan topik pembicaraan.


Rayya memerhatikan wanita muda di sampingnya. Ia memakai celana pipa sekitar tujuh per delapan. Bagian atasnya memakai kaos over sized. Rayya memastikan itu merupakan LacoST, mengingat koleksi terbaru merk mereka itu memang bekerja sama dengan rumah produksi, pemilik hak cipta tokoh kartun favorit wanita muda ini.


Wanita di samping Rayya memilih menyingkir kemudian menyandarkan punggung ke sandaran sofa, telentang mengikuti posisi Rayya. Ia menatap langit-langit ruangan. Tangannya menggenggam tali selempang dari tasnya. Snap shoot, Marcs and Jacobs! Sama, masih menampilkan tokoh kartun kesukannya yang di print nyaris sebesar tas, seakan memenuhi bagian muka, area depan tas. Rayya menggeleng. Dhita itu umur berapa sih? Apa dia tidak ingat umurnya yang sudah kepala dua? Masih menyukai benda unyu seperti begini?


“Halo, Rayya… always nice to see you,” sebuah suara berat sedikit serak mengembalikan kesadaran.


Rayya nyaris merinding, menemukan seorang laki-laki masuk. Ia kemudian berjalan ke arah sofa di depan Rayya lalu ikut duduk.


“Mas… Arsa?!” pekiknya tertahan, tidak percaya dengan matanya. “Kapan balik?”


Dhita kembali mencebik. “Mba Rayya gimana?! Kemarin kan udah aku kasih tahu, kita itu baru dari keliling-keliling bareng. Liburan! Makanya dia itu aku paksa buat sekalian balik ke sini,” ucapnya sambil ngedumel, mengomel kemudian mendengkus.


Rayya masih menatap lurus memandanginya. Lelaki itu tersenyum kemudian menyandarkan punggung pada sandaran sofa. Rambutnya seperti biasa, tersisir dengan begitu rapi, namun yang berbeda kali ini poninya mulai panjang, menutupi kening, dibiarkan menyentuh alis. Sebuah kaca mata kesayangannya, trade mark dari Arsa… kaca mata berbingkai hitam menghiasi wajahnya. Sebuah lesung pipi menghiasi raut muka ketika senyum.


“Kamu apa kabar, Rayya?”


“Ha?”


Arsa terkekeh. “Kamu apa kabar?”


“Hah? Oh… Ha?” tanya Rayya masih setengah gagal fokus.


“Mba! Ish! Kebiasaan udah lama nggak ketemu Mas Arsa… sekalinya ketemu berubah jadi groupies! Emang bener ya… Mba Rayya itu dicurigai sebagai fans fanatik Mas Arsa?!” selidik Dhita. “Mang tambah ganteng banget kan, Mba?” godanya.


Rayya mengerjap. Ia mengingat-ingat berapa lama mereka tidak bertemu? Kapan persisnya mereka ketemu sebelum ini?


“Iya, Mas Arsa itu nggak pernah nggak ganteng,” sahutnya sambil tersenyum. Rayya kemudian menghela napas. Kedua matanya mulai memindai penampilan Arsa.


Lelaki itu bercelana slim fit panjang. Ia memakai baju berkerah lengan pendek berplakat huruf L dan V kecil di bagian katung depan. Sebelah tangannya menggenggam ponsel, keluaran terbaru yang bisa dilipat-lipat. Di kakinya ia memakai sneakers rare edition dengan huruf V-- centang melintang sepanjang sepatu.


Rayya menghela napas. Ia tidak bisa menyalahkan kedua kakak beradik ini. Meski memang lingkungan mereka merupakan old money, mewajarkan keduanya bersikap snoobish, namun kenyataannya baik Arsa maupun Dhita memiliki pekerjaan dan bisnis masing-masing yang mendatangkan pundi-pundi rupiah… membuat mereka lalu menjadi seperti ini, merasa sah-sah saja, sekadar menghamburkan uang membeli koleksi barang bermerk terkenal.


“Mba Rayya masih pantas pakai roknya!” pekik Dhita ketika menyadar pakaian Rayya. “Padahal ini udah lama kita beli. Punyaku bahkan udah lama aku jual di thrift shop,” gumamnya.


Rayya tersenyum. Waktu membeli baju Arsa dulu selain mereka membelikan rok Rayya, Dhita sebenarnya ikut membeli sebuah sweater tanpa lengan dengan warna yang sama.


“Kenapa kamu malah jual? Kan kita kembaran,” tukas Rayya kemudian mengernyit.


Dhita mendengkus. “Aku ngerasa geli, Mba. Kita kaya trio kwik kwak kalau pakai barengan.”


Rayya terkekeh bersama Arsa. Lagi, Rayya kembali melihat lesung pipi, menggandakan level tampilan Arsa.


“Hm….”


Rayya mengerjap ketika mendengar Arsa mendeham. Lelaki itu menarik napas, kemudian menatap lurus ke arah rok kehijauan milik Rayya. “Tell me, Rayya… what kind of… back up?”


“Ha?” tanya Rayya lalu melongo mendengar pertanyaan Arsa. “Maksud saya gimana?”


Lelaki itu kemudian senyum, terkekeh sendiri. “Kamu ingat kan Mas pernah ngomong apa?” tanyanya sambil mengulangi, menunjuk ke arah rok milik Rayya.


Rayya ingat. Ia bahkan tadi pagi menggunakan alasan yang sama saat mengambil rok tersebut. Kedua matanya mengerjap ketika mendapati Arsa kembali menatapnya lekat.


“Tell me, what kind of… back up… that you… really need, Rayya?”