His Virgin Ex Wife

His Virgin Ex Wife
willy nilly



Iman mengerjap. Ia bahkan cuma terdiam ketika menatap punggung Arsa yang melangkah berlalu dengan adiknya, Dhita. Lelaki itu kemudian mengernyit kembali mengingat perkataan Arsa.


“She is mine!”


Ya Tuhan!


Lelaki itu cuma mendengkus sebelum kemudian memilih berbalik, melangkah cepat ke ruangannya. Ia menuju kursi kerja kemudian menghempaskan punggung, bersandar sambil menghela napas. Permainan macam mana lagi sih ini?


Ia memilih menjulurkan lengan kemudian menyambar ponselnya. Cepat ia menekan sebuah nomor. Sebelah tangannya memijit pelipis.


“Halo,” tukas suara dalam telepon. “Kamu menelepon begitu cepat? Jangan bilang kalau kamu sudah menyerah, anak muda?!”


Iman tertawa masam. “Tuan Ibrahim, anda benar-benar ingin mencoba menjodohkan saya sama Rayya?” tanyanya tanpa basa-basi. “Maksud saya, masa dari banyaknya kolega, kerabat, partner, atau… teman-teman Rayya itu, tidak satu pun mampu memenuhi standar anda?”


Ibrahim terdiam beberapa lama sebelum merespon malas. “Kenapa? Kamu… meragukan penilaian saya?”


Lawan bicaranya ingin mengangguk dan teriak lantang, Ya! Seperti itu, namun… kata-katanya cuma tertahan sebatas di bibir. Iman menarik napas panjang. “Tadi… saya bertemu teman-teman Rayya.”


Ibrahim terdengar bergumam, kemudian ia diam beberapa waktu. “Saya tahu, rencana saya ini agak… tidak biasa,” ucapnya santai.


“Lalu, dari banyaknya kemungkinan serta rencana anda, kenapa memilih yang ini? Kenapa tidak yang biasa? Maksud saya, kenapa tiba-tiba ingin melakukan sesuatu yang diluar kebiasaan?”


Lelaki itu ingin mengumpat namun ia ingat kalau bagaimanapun, ia menghadapi Ibrahim, orang tua yang beberapa puluh tahun lebih tua darinya. Adab mengajarkan bahwa kita harus menghormati, menghargai orang yang lebih tua. Lalu, Iman pun cuma menggeram ketika mengingat pembicaraan Rayya dan teman-temannya tadi. Bagaimana mereka menilai, mengira-ira kemampuan Iman, sebagai laki-laki yang dipilih Ibrahim, nobody, namun ternyata menjadi pengganti Daus.


“Saya ini udah makin lama makin tua. Saya merasa perlu memilihkan Rayya… laki-laki baik-baik yang bisa mendampinginya, menjaganya dalam keadaan susah ataupun senang.  Saya… tidak mau ia kembali kecewa dengan lelaki yang salah.”


Iman menarik napas, kemudian memejamkan mata sejenak, menjernihkan pikiran demi mencerna perkataan Ibrahim. “Kenapa saya? Maksud saya, kenapa bisa begitu yakin kalau saya ini lelaki yang tepat?”


“Feeling.”


What the….


Iman ingin mendecih namun kembali mengingat kalau… itu tidak baik, tidak sopan. Maka, ia cuma mendengkus.


“Kamu sangat bertanggung jawab, anak muda. Meskipun kalian cuma sekadar saudara tiri, namun kamu begitu menyayangi adikmu. Benar, kan?”


Iman cuma terdiam, mengangguk dalam diam lalu kembali mendengarkan ucapan Ibrahim.


“Lelaki di luar sana mungkin… ada beberapa yang benar-benar memiliki rasa tanggung jawab. Namun… saya masih perlu membuktikan. Karena kita tahu, sama-sama tahu bahwa anak laki-laki yang saya jadikan cucu lalu saya besarkan sendiri, nyatanya lari dari kenyataan melupakan tanggung jawab cuma gara-gara dia merasa terbebani! Halah!” rutuknya menahan marah.


“Makanya ketika tahu kalau kamu, orang dengan pola pemikiran luas, punya rasa tanggung jawab-- setidaknya kamu tidak sembarangan ketika bersikap dan menjaga adikmu meski cuma adik tiri, tidak gila harta karena kamu bahkan menolak warisan ayahmu karena memegang prinsipmu, serta dengan bonus sifat menyenangkan, ramah, penyabar, maksud saya, kamu punya paket sangat komplit sebagai laki-laki,” jelas Ibrahim.


Iman… mendadak bingung karena pusing memilih… apa ia baiknya tertawa atau menangis karena… Ibrahim memujinya tapi… penilaian itu terasa memberi limpahan beban pada diri Iman.


“Kalau kamu ini semisalnya menjadi saya… memiliki cucu perempuan, atau anak perempuan lah misalnya… well… kamu terlalu muda kalau memikirkan memiliki… cucu,” tukasnya lalu tertawa santai.


“Semisalnya kamu memandang melalui posisi saya, coba kamu bilang… anak muda, keputusan saya itu sebenarnya masuk akal atau…?”


“Oke, saya mengerti maksud anda. Tapi masalahnya, Pak… dari begitu banyaknya kenalan anda, dari bayaknya pilihan-pilihan, laki-laki muda yang sederajat dengan anda dan keluarga Busro, kenapa malah ini yang anda rencanakan? Mencoba untuk menjodohkan Rayya sama saya?”


“Memang kenapa?” tanyanya tiba-tiba. “Apa kamu nggak suka sama Rayya?”


Iman menghela napas kemudian terdiam sesaat, menahan kesal. “Bukannya masalah saya suka atau nggak. Daripada menanyakan perasaan saya, kenapa nggak memikirkan perasaan Rayya? Apa anda pikir Rayya suka sama saya?”


Ibrahim tertawa keras. Iman mengernyit ketika mendapati respon lawannya melalui ponsel. “Kali ini pilihan saya nggak salah.”


Iman mengernyit.


“Dari banyaknya kemungkinan alasan kamu, kenapa kamu malah mikirin Rayya? Bukannya kamu bilang kamu nggak suka Rayya atau menolak karena kamu merasa nggak nyaman, kamu malah bilang kalau Rayya nggak suka sama kamu. Kalau seharusnya saya… memikirkan perasaan cucu saya.”


Iman mengerjap.


“Anak muda, bahkan kadang… saya lupa memikirkan perasaan Rayya. Bagaimana bisa kamu, laki-laki muda yang baru mengenal Rayya lebih memikirkan perasaannya daripada perasaanmu sendiri?”


Iman menghela napas. Ia bingung dengan pemikiran Ibrahim. Maksudnya, menjadi manusia yang tenggang rasa serta pengertian seharusnya merupakan sebua kewajaran. Maksudnya, itu sesuatu yang normal, kan? Ibunya selalu mendidik, menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, adab, kesopanan, etika kepada Iman. Setidaknya, meski dulu ibunya pernah dikecewakan oleh laki-laki, ia tidak ingin anak lelakinya kelak mengecewakan wanita lain. Ia belajar kalau rasa kecewa nyatanya… bisa membunuh, minimal menghancurkan kehidupan oran lain. Maka… mendiang ibunya tidak mau nanti Iman tumbuh menjadi laki-laki tanpa tanggung jawab, tanpa perasaan, tapa punya sopan santun atau adab, lalu menghancurkan kehidupan perempuan lain.


Mungkin… wanita itu merupakan anak kebanggaan ayahnya, kakak kesayangan dari adiknya, atau… di kasus ini, cucu kesayangan dari Ibrahim. Iman… tidak boleh, tidak bisa mengecewakannya. Apalagi ketika teringat masa lalu Rayya, dibuang orang tuanya sendiri ke panti asuhan. Bagaiamana bisa mengabaikan perasaan milik Rayya?


Mendadak Iman ingin protes namun mengurungkannya. Kalau dulu ibunya tidak mendidiknya sebagai lelaki penuh tanggung jawab, atau setidaknya tidak terlalu merasa iba, mungkin ia tidak terjebak dalam rencana Ibrahim. Cuma… kalau ia ditanya apa ia menyesal menjadi lelaki gentle man, Iman merasa bahwa misalnya malah ia tumbuh menjadi lelaki tanpa etika, itu bukan pilihan baik. Apa bagusnya dari tumbuh sebagai laki-laki tak beradab, ringan tangan, senang mengumpat, atau bahkan mungkin tidak  memiliki rasa bertanggung jawab?


“Kamu bukan laki-laki sembarangan kan, anak muda? Kalau kamu tidak menghargai keluargamu dan Zahra, kamu… pasti sudah menikahinya. Benar, kan?”


“Kamu… meragukan infromasi yang saya miliki kah?” tanyanya lalu terkekeh.


“Zahra….” Iman terdiam sejenak. “Zahra cuma sepupu saya. Kebetulan kami ini sedang membangun biro konsultan keuangan di kota….”


“Itu cuma sekadar alasan kamu, kan? Kalian itu cuma sepupu dan sepupu itu kan boleh menikah,” sahut Ibrahim cepat menyela perkataan lawannya.


Iman kembali menghela napas.


“Kamu nggak mau nikahin sepupu kamu, Zahra… bukan karena gara-gara kalian sepupu. Kamu… nggak bisa nikah karena… ayahnya nggak setuju, kan?!”


Iman kembali terdiam.


“Meski dia cuma merupakan anak dari istri kedua, tapi… Zahra itu sebenarnya anak perempuan satu-satunya Ahmed Bawazeer. Dia dilamar sama keturunan seorang Seikh kenalan ayahnya. Benar, kan?”


Iman memejamkan mata sesaat sekadar melepas penat.


“Kamu bukan laki-laki sembarangan, anak muda. Kamu penuh perhitungan, penuh pertimbangan. Meskipun itu bisa kurang menguntungkan, kamu… mengutamakan kebahagiaan orang lain. Kamu… cinta damai, saya tahu tipe pemikiranmu. Kamu nggak mau sepupumu ribut sama ayahnya. Makanya, kamu milih mundur.”


“Saya salah?” tanya Iman seketika, tiba-tiba tanpa ia pikirkan sebelumnya, pertanyaan itu keluar. “Apa… saya salah?”


“Nggak… menurut saya, ini bukan masalah salah atau… benar. Ini cuma masalah kamu… yang nyatanya tidak mencintai sepupumu sebesar itu.”


Iman ingin protes. Bagaimana bisa ia tidak mencintai wanita itu? Sepupunya itu, Zahra… merupakan wanita paket komplit. Kalau mau dibandingkan, Zahra dan cucunya Ibrahim, itu bisa dianggap apple to apple, sepangkat, sederajat. Bedanya, Zahra malah lebih paham masalah agama, dibandingkan Rayya.


Zahra pun memiliki masa kecil menyenangkan. Tidak pakai drama soal dibuang ke panti asuhan. Meskipun keluarganya menganut poligami namun… rumah tangga milik ayahnya mulus, nyatis tanpa drama. Ini bukan tentang tidak pantas, karena Zahra bahkan merupakan calon istri paling sempurna bagi Iman. Ini cuma tentang… Iman… yang merasa begitu kerdil dan tidak pantas bersaing dengan para anak Sheikh, yang berlomba-lomba ingin menikahi sepupunya, Zahra.


“Kamu nyatanya… nggak secinta itu sama sepupumu itu. Buktinya kamu mundur. Sama kayak Daus. Dia ternyata tidak mencintai cucu saya. Karena kalau dia cinta, dia pasti berjuang lebih dari yang ia lakukan kemarin. Nyatanya, ia menyerah dengan ketakutannya. Dia… pengecut!”


“Lalu… saya ini dianggap pengecut? Kan saya ini juga….”


“Dalam kasus dari Zahra memang kamu pengecut. Kamu… memilih mundur, kan?”


Iman refleks mengangguk, meski lawannya tidak melihat gerakannya tadi.


“Tapi… untuk kasus cucu saya kamu buktinya mau maju. Ya, kan?”


Iman mengerjap. Ibrahim benar. Kenapa dia mau-mau saja menerima penawarannya?


“Sikap pengecutmu ke sepupumu merupakan masalahmu sendiri. Saya menganggap itu keuntungan saya karena kamu jadi pria bebas. Saya bisa memasangkan kamu sama Rayya.”


Iman mendengkus. “Kalau nanti tiba-tiba malah saya mundur… lalu bagaimana? Apa anda mau… terus-terusan mengancam… soal Rinai? Anda mau menjadikan perikahan adik saya sebagai ancaman?”


Ibrahim menghela napas. “Saya tahunya sekarang, kamu belum mundur. Kalau nanti ya pikirkan nanti. Kamu kan belum tahu, kita ini belum tahu ke depannya bagaimana. Terus… kenapa dibahas dari sekarang?”


Iman cuma menggumam. “Anda seperti terlalu yakin. Apa anda benar-benar tidak memiliki rencana cadangan? Seperti… mencarikan Rayya laki-laki lain, sebagai persiapan kalau-kalau saya sama Rayya nggak jodoh, begitu?”


Ibrahim terdiam beberapa saat seperti memikirkan perkataan lawan debatnya melalui telepon.


“Bagaimana dengan… Arsa? Sepertinya dia cocok kalau menikah sama Rayya,” tukas Iman tiba-tiba.


“Kamu kenal sama Arsa?” tanya Ibrahim cepat.


“Tadi kami berkenalan.”


Keduanya kemudian terdiam sesaat lalu sibuk memikirkan macam-macam.


“Dia… memang pernah saya jadikan second plan, rencana cadangan untuk Rayya.”


Iman mengernyit. “Lalu kena….”


“Dia terlalu manipulatif,” sahut Ibrahim cepat. “Dia… terlalu manipulatif untuk Rayya. Saya tidak tahu, apakah bisa memercayakan Rayya… pada laki-laki seperti dia atau tidak karena dia terlalu manipulatif dan pemikirannya kadang kelewat kreatif,” cibirnya.


Iman masih diam. Ia mengingat-ingat pembicaraan mereka. Kalimat tadi kembali melintas.


“She is mine!”


Iman mengerjap, mengingat perkataan yang keluar dari mulut Arsa.


“Masa lalu cucu saya sudah penuh masalah. Kamu bisa bayangkan bagaimana kalau nanti Rayya harus menikahi lelaki manipulatif seperti… dia?”