His Virgin Ex Wife

His Virgin Ex Wife
a lill bit secret



Bola mata wanita itu seketika membelalak. Refleks ia menggeplak lalu menatap nyalang, memelototi lelaki di hadapannya. Tangannya mendorong bahu Iman kasar kemudian menggeram marah. Rayya membuka pintu lalu membantingnya kasar kemudian masuk ke apartemennya.  Iman cuma menghela napas. Ini… benar-benar merupakan pekerjaan melelahkan. Lupakan soal tugasnya-- membuat Rayya mencintainya. Membuat Rayya berhenti curiga kepada Iman saja rasanya kelewat sulit apalagi kalau membuatnya menyukai Iman. It’s kind of mission almost possible.


Lelaki itu kemudian membetulkan pakaian sebelum melangkah mundur menuju apartemennya. Tubuhnya terkesiap tepat ketika menemukan Zahra ternyata memerhatikan di balik pintu. “Kamu masih nungguin Abang, Jah?” tanyanya canggung.


Wanita itu menatap lurus, tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. “Aku baru tahu loh kalau ternyata Abang deket sama Mba Rayya,” tukasnya dingin.


Iman berusaha tersenyum. “Kalau kamu pikir Rayya… deket sama saya, kayaknya penilaianmu mulai meragukan. kamu berpengalaman kerja jadi appraisal, menilai banyak aset miliaran. Kamu kenapa mikir kalau Rayya sama Abang.. dekat sih? Nyataya, Abang sama dia itu kalau ketemu bawaannya kayak mau ngajak ribut. Kayak Tom sama Jerry, pokoknya kami kalau ketemu….”


“Tapi Tom sama Jerry kan… nyatanya nggak bisa dipisahin, Bang. Sayangnya mereka cowok semua. Kalau salah satunya cewek, mungkin mereka….”


“Jah…! Apa sekarang kita mau ngebahas masalah Abang sama Rayya?” tanya Iman berusaha mengalihkan kemarahan wanita itu. “Kayaknya, Rinai udah nggak sabar mau ngamuk sama Abang,” tukasnya lagi.


Zahra kembali menatap lurus seakan masih mau membahas Rayya. Wanita itu menghela napas ketika menemukan senyuman merekah, secerah mentari sore ini.


“Kita bahas nanti. Sekarang kita urusin dulu masalah Rinai sebentar. Bisa ngamuk-ngamuk semalaman loh Rinai kalau kita nggak ngebahas masalah kerjaan suaminya. Nanti sambil ngobrol, kita bahas masalah Rayya kok. Oke, Jah?” tanya Iman bernada merdu menggunakan smilling voice, smilling face, serba smilling, senyam-senyum sekadar berusaha meredam kekesalan Zahra.


“Aku Zahra, Bang, Bukan Jahra! Stop panggil aku Jah… atau ijah. Okay?!”


Lelaki itu terkikik. “Oke, Jah….”


“Abang!” pekik Zahra kesal.


Iman itu tidak pernah merasa kapok atau bosan menggoda Zahra. Wanita itu menggemaskan. Belum lagi wajahnya punya segudang ekspresi lucu sekadar menunjukkan ketidaksukaan dengan sesuatu. Kadang Zahra memberengut, kadang mengerucutkan bibir, kadang ia menatap nyalang-- memelototi, dan kadang… ia bisa meledak, marah-marah kalau kekesalannya sudah memuncak. Biasanya, kalau dengan Iman, Zahra lebih sering memberengut. Karena kalau Zahra sedang mengerutkan bibirnya, Iman selalu menggodanya.


“Kamu pingin dicium sama si Juno? Ngapain kamu manyun-manyun kayak begitu ke Abang?” tukas Iman, saat menemukan Zahra memasang mode mengerutkan bibir. Sengaja Iman membawa nama kucing kesayangannya. Masa sih Iman mau mengakui kalau… memang bibir Zahra yang selalu berwarna cerah-- seperti cherri, nyatanya memang menggoda. cukup ia menjadikan si kucing sebagai alasan.


Astaga!


Iman melangkah, mengarah ke tengah ruangan. Ia menarik napas, menemukan Rinai bersedekap memasang posisi siap bergelut, berdebat, seperti ingin menginterogasinya. Iman kembali menarik napas seakan mempersiapkan mental. Sore ini mungkin menjadi sore… yang teramat panjang.


Zahra mengikuti dari belakang mengekori langkahnya. Wanita itu ikut memposisikan diri mendekati Riani, duduk di sebelahnya lalu meniru Rinai. Zahra bersedekap. Iman merasa… ia bagaikan seorang pencuri. Kali ini… ia dicurigai mencuri posisi milik suami adiknya, melengserkan Daus. Sedangkan Zahra, seakan sedang menuduhnya sebagai pencuri perhatian, lelaki penebar pesona, dan kali ini berniat memilih Rayya sebagai mangsanya.


Astaga! Iman cuma bisa menggaruk pelipis kemudian memijit tengkuknya. Tiba-tiba ia merasa pening. Mungkin tekanan darahnya tinggi.


Rinai makin mendelik. Ia mendadak gemas ketika Iman cuma terdiam dan tidak berniat menjelaskan apa pun. Bukankah seharusnya Iman menceritakan detail sejelas-jelasnya kepada Rinai? kenapa ia malah melongo, memasang wajah innocent seakan tidak merasa bersalah?!


“Explain!” pekik Rinai nyaring ketika menemukan Abangnya rapat, tidak terlihat tanda-tanda berbicara. “Tell me! Pokoknya… Tell me!”


Iman merasa di antara mau tertawa atau merana. Rinai terlihat lucu. Pipinya menggembung, mengingatkannya dengan seekor marmut… eh bukan marmut tapi hamster yang tengah mengunyah kuaci.


“Dih… kamu nggak usah pakai ngomong Inggris, Dek. Biasanya kamu itu kalo ngamuk ngomong pakai Melayu.”


“Oke… Coba dulu lah Abang kasi jelas ke adiak. Baa lah tu… kecek Mas Daus, Abang iko mangambiak posisi suami den di kantua?!”


Astaga!


Iman ingin terbahak. Zahra melongo mendengar perkataan Rinai. Meskipun ibu dari Zahra masih merupakan keturunan Bangsawan Melayu, adik sepupu dari ayahnya Rinai, namun Zahra itu nyaris tidak tahu sama sekali bahasa Melayu.


“Rinai lagi ngamuk, Jah. Dia minta dikasih tahu kenapa posisi Daus di kantor tadi Abang rebut,” tukas Iman mendadak seakan-akan menjadi penerjemah.


“Abang! Nggak lucu! Cepet deh buru… kasih tahu kenapa? Bisa-bisanya Mas Daus pulang dari kantor terus nyuruh beres-beres. Katanya posisi dia itu dikasih ke Abang, terus dia diminta pindah ke kantor lain.”


Iman mendengkus. Ia membuka kancing jas, kemudian menanggalkannya lalu menggantukannya di standing hanger dekat pintu. Lelaki itu menggulung tangan kemeja hingga lengan. Tangannya mengepal. Terihat urat-urat menjalar, mulai dari punggung tangan membentang ke pergelangan. Bicepsnya... otot lengannya tercetak jelas, membuat lipatan kemeja semakin mengetat.


Ia melangkah perlahan ke sofa, memilih duduk berhadapan dengan Rinai serta Zahra. Sekilas ia menatap ke balkon saking kepingin mencari alasan, memperpanjang waktu untuk membahas perkara suami adiknya.


Zahra mendelik kaget mendengar perkataan Rinai. “Jadi begitu? Abang pura-pura... berantem sama Mba Rayya, padahal ternyata di belakang kami Abang malahan… punya skandal, affair sama Mba Rayya?!” tuduhnya.


Iman melongo. Lelaki itu menyugar rambut kemudian menggeleng, tidak memercayai pendengarannya. “Becandanya nggak lucu,” tukasnya gemas.


“Kami nggak lagi becanda!” pekik Rinai kesal.


“Iya, Zahra nggak ngelucu! Kami serius, Bang! Se… ri… us!”


Ini bukan prank, kan? Karena kalau ini cuma adegan syuting sebuah podcast, Iman rasanya ingin melambaikan kedua tangan pada kamera. Kenapa dua wanita itu mendadak berpikir kelewat kreatif? “Gimana bisa sih Abang punya skandal sama Rayya? Coba Rinai! Kan berapa waktu lalu Rayya sama Abang hampir pukul-pukulan, kan?”


“Astaga! Abang! Astaghfirullaaah… Abang berani pukul perempuan? Abang mau mukul Mba Rayya? Kok bisa?!”


Iman menatap Zahra. “Bukan begitu maksudnya… duh! Ini bagaimana ya Allaah… kenapa semua bisa ruwet sih ini?!”


“To the point, deh Bang. Ini tuh ceritanya bagaimana kenapa malah Mas Daus disuruh keluar sama Kakek?”


Iman menghela napas. Lelaki itu berkali-kali menatap Rinai lalu berganti memandang Zahra. “Dek… ada… sesuatu masalah yang… kamu perlu tahu,” tukasnya kemudian berdiri. “Ikut sama Abang sebentar,” tukasnya mengarah ke sebuah ruangan.


“Nggak bisa! Saya perlu tahu juga, Bang!” tukas Zahra tiba-tiba.


Iman mengernyit.


“Nggak usah pakai alasan masalah keluarga! Zahra kan bagian keluarga meskipun cuma sepupu, kan?” tambahnya.


Iman mengusap kening. “Tapi kan… Jah….”


“Zahra kan bukan cuma keluarga tapi Zahra juga partner Abang lho! Kita kan bikin bisnis sama-sama, kalau misalnya memang Abang pindah ke perusahaan lain, Zahra kan wajihb tahu!” sahutnya memberi bermacam alasan supaya Iman memenuhi keinginannya.


Lelaki itu memejamkan mata kemudian menarik napas, sejenak menimbang-nimbang permintaannya.


“Zahra… janji, Bang… zahra Inshaa Allaah nggak akan membocorkan rahasia abang, dengan sengaja.”


Iman melengos. Kalau seorang Zahra bahkan sudah membawa nama Tuhan untuk berjanji, Iman mau bagaimana? Siapalah Iman yang berani mengalahkan perjanjian serta persaksian seorang hamba kepada Tuhan?


Lelaki itu kembali ke sofa, kemudian duduk lalu menatap Zahra dan Adiknya lurus, nyaris tanpa kedip. “Abang minta kalian memegang rahasia rapat-rapat, berjanji nggak membocorkannya. Apa pun yang kalian nanti dengar, kalian pokoknya tetap simpan rahasia baik-baik, ngerti?”


“Hih… Abang nggak usah muter-muter kayak begini lah. Mau ngomong masalah suami aku kenapa malah kayak mau ngebuka rahasia negara?” cibir Rinai.


Iman mendengkus. “Karena memang ini rahasia menyangkut kehidupan masa depan perekonomian negara kita!”


Astaga!


Zahra dan juga Rinai melongo.


“Asal kalian tahu, Daus bukan cucu kandung Ibrahim Busro! Cucu kandung sebenarnya, sekaligus pewaris perusahan, pemilik kekayaan triliyunan milik keluarga Ibrahim Busro ternyata Rayya!”


Astagfirullaah!


Rinai mendelik, kedua bola matanya membulat.“Abang tadi ngomong kenapa?”


“Abang… tadi bilang bagaimana?” kejar Zahra.


Iman mendecih gemas, kemudian menatap bergantian kedua perempuan tersebut. “Cucu kandung Ibrahim Busro ternyata adalah Rayya bukan Daus.”