
Rayya membuka pintu ruangan lebar, kemudian melangkah perlahan, sedikit ragu. Ia mengingat-ingat, berapa lama ia mengabaikan ruangan ini? Dalam cahaya remang-- mengingat gorden yang terletak di dinding seberang ruangan belum dibuka, bola mata wanita itu memandang lemari tinggi di tembok samping. Bagaimana bisa ia melupakan koleksinya hanya karena ia takut masuk ke sini?
Rayya meraba tembok, menekan saklar lampu. Ia kemudian masuk makin dalam, menyalakan pendingin ruangan, menyetel mode ionizer. Semoga pasukan ion nantinya bisa menghapus bakteri beserta memori kelam di ruangan ini.
Wanita itu menghela napas, kemudian memindai barang-barang di ruang tersebut. Matanya menangkap shredder-- pencacah kertas yang terletak di samping meja kerja. Ia ingat begitu jelas, malam itu Daus mendapat sebuah berkas. Sayangnya, Rayya tidak menemukannya. Ia mengira ketika mantan suaminya masuk ke sini, lelaki itu menghancurkan berkasnya. Namun ketika ia memeriks di pagi hari, mesin tersebut bersih. Tidak tampak berkas kertas atau sampah apa pun di dalamnya.
Ia menggeleng. Tujuannya membuka tempat ini bukan untuk bernostalgia. Ia perlu menemukan, setidaknya satu, dua, tiga, pokoknya banyak cara agar dirinya bisa mengenyahkan bayang-bayang mantan suaminya. Ini bukan cuma tentang rasa cinta, ini tentang besarnya kecewa karena lelaki itu… membuangnya.
Shanaz bersiap-siap mengamati atasannya melangkah ke sana-ke mari. Ia meningkatkan waspada, sekadar untuk berjaga kalau-kalau Rayya kembali histeris seperti tadi saat ia baru kembali dari acara jalan paginya.
Wanita muda itu mengernyit ketika Rayya menarik sebuah tangga berukuran sedang yang diletakkan di pojok. Shanaz bergerak cepat, membantu Rayya. Ia menawarkan untuk menggantikan Rayya mengambil apa pun di lemari tinggi tersebut.
Rayya mengernyit. “Kamu itu harusnya nyadar kalau badan kamu sebelas dua belas sama upin ipin.”
Asistennya refleks menyentuh kepala. “Saya nggak botak.”
Rayya mendengkus. “Bukan rambut! Tinggi kamu itu yang saya permasalahin!” pekiknya gemas. “Kamu itu badannya minimalis, bahkan saya curiga kalau kamu disuruh ngambilin raport ponakan kamu, orang-orang bahkan bisa ngira kamu ini murid baru yang mau daftar sekolah! Bisa-bisanya kamu berniat mau gantiin saya manjat ngambil buku.”
“Kan saya cuma niat nolong...,” protes asistennya.
Rayya mencibir, “kamu itu bukan niat nolong tapi niat nyusahin. Kalau kamu cuma basa-basi mending nggak usah. Kamu pegangin tangganya nanti saya yang manjat.”
Shanaz mengerucutkan bibir, mencebik. Ia mendongak memerhatikan atasanya, bergerak cepat ke atas. Tungkai kaki panjang milik Rayya, membuat Shanaz menghela napas. Bahkan Rayya yang katanya cuma cucu angkat keluarga Busro, memiliki tubuh tinggi-- bertungkai kaki panjang dan mulus seperti sebagian besar anggota keluarga asli bermarga Busro. Kalau Rayya terjun ke dunia modelling sepertinya ia bisa menguasai catwalk di tingkat internasional. Konyolnya, tadi ia bisa-bisanya membandingkan tubuh dengan Rayya. Ia membatin, bagaimana bisa tadi berpikir mau mengalahkan Rayya dalam hal manjat-memanjat?!
Rayya menatap tiap buku di depannya. Ini merupakan harta karunnya. Ketika ia masih sekolah, teman-teman perempuannya banyak yang sibuk membaca novel romantis atau komik. Namun, Rayya memilih untuk sibuk mengisi otak pun pikirannya dengan membaca berbagai buku self improvement-- self development, a.k.a buku pengembangan diri.
Beberapa kali ia mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari Daus dan teman-temannya, membuat Rayya berpikir untuk memperkuat mental. Lucu kalau ia mendadak minta diantar ke psikolog oleh Ibrahim Busro. Bagaimana kalau ia dituduh gila dan makin banyak orang yang ingin mengusirnya dari sisi Ibrahim? Ia tidak mau kembali ke panti asuhan! Tidak bisa! Maka, ia musti bertahan! Ia melakukan hal apa pun, apa saja cuma agar bisa bertahan di keluarga Busro. Ia memilih untuk menguatkan mentalnya dengan membaca berbagai literatur mengenai pengembangan diri.
Matanya memindai dari paling kanan. Di situ berjajar “Chicken soup” beserta buku motivasi lain. Wanita itu menggeleng. Ia saat ini kurang membutuhkan buku motivasi. Mengingat motivasinya untuk melupakan mantan suaminya cukup kuat, ia tidak butuh tambahan pengalaman menye-menye dari orang lain atau ceramah panjang sekadar untuk move on dan melupakan masalah karena… Rayya tahu pasti kalau memang… sudah waktunya perlu maju!
Rayya beralih ke deretan tengah. Di situ tersusun buku mengenai self help. Ia tersenyum. Ini buku yang ia cari. Buku-buku ini berisi tentang orang-orang bermasalah yang berhasil menghadapi masalah-masalah mereka. Benar-benar menghadapi masalah, bukan sekadar… melupakan namun masih menyimpan luka. Kalau Rayya ingin sembuh, ia musti benar-benar sembuh! Bukannya menutup luka, namun ia ingin menyembuhkan luka.
Ini saatnya untuk membaca lagi buku-buku pengembangan diri. Ia perlu bergerak secepat mungkin, menemukan cara untuk melalui masalah-masalah ini. Bagaimana pun, kesehatan pikirannya tengah ia pertaruhkan. Rayya perlu cepat mengubah poros kehidupannya agar tidak berputar-putar di tempat yang sama, tidak melulu Daus lagi, Daus lagi!
Rayya meraih buku itu, benda bersampul warna kulit pisang. Sampul berwana cerah memudahkannya menemukan benda tersebut. Wanita itu mengapitnya, kemudian berpegangan kepada lemari, berhati-hati turun.
Shanaz memerhatikan bosnya dan sebuah buku yang ia bawa. Ia mengintip tulisan di buku tersebut. Terbaca kata “Power” dan “Habit” di sampul depan. Shanaz menebak buku itu merupakan tulisan mengenai kekuasaan dan… atau sebuah kebiasaan. Mungkin buku tentang kekuatan dan kebiasaan.
“Kalau mau baca, kamu bisa pinjam koleksi saya. Cuma kamu ingat, saya nggak suka kalau… barang saya kotor!”
Shanaz meringis. Ia menggeleng cepat. Alasannya klise, pertama, ia tidak begitu suka membaca. Ia lebih suka menonton. Ketika sekolah, Shanaz bisa tertidur begitu ia dipaksa membaca satu halaman buku pelajaran.
Belakangan ketika beranjak makin dewasa, ia mulai tertarik membaca novel. Itu pun selera buku bacaannya berbeda dengan buku Rayya. Shanaz menyukai cerita romansa manis modern, urban, menye-menye, ringan, beserta komedi. Bagaimana mungkin ia tertarik membaca sastra berat praktisi psikologi semacam… bagaimana cara menguasai… sesuatu? Seperti buku yang Rayya pegang! Bagaimana Shanaz bisa menyerap pemikiran beserta karya literasi… sesulit itu?
Ia menghela napas. Bagaimanapun, Rayya merupakan wanita yang high maintenance-- a classy bussy lady dan seleranya tidak pernah becanda. Shanaz menebak-nebak, kalau pun bosnya menemukan laki-laki baru, kira-kira orang macam mana yang bisa menaklukan perasaan Rayya?
Oh iya, wanita itu tidak boleh sesukanya jatuh cinta. Ia musti izin kepada Kakeknya. Kalau kakeknya-- Ibrahim Busro tidak merestui, maka dipastikan hubungan tersebut harus dihentikan.
“Kalau kamu nggak ada kerjaan, mending kamu nonton sana. Kamu biasanya hibernasi nonton drama di kamar. Kecuali, kamu mau berakting seperti body guard, nemenin saya baca buku sambil berdiri kayak orang upacara.
Shanaz meringis. Ia memilih berbalik. “Saya mending mandi, Miss. Daripada nanti kena omel. Kan katanya tadi… saya ini cuma bikin sakit mata gara-gara nggak mandi.”
“Nanti… tunggu beberapa menit. Kita tadi baru aja makan. Kamu nggak boleh langsung mandi,” sergah Rayya.
“Siap!” jawab Shanaz, kemudian memberi gerakan hormat seperti orang upacara.
Rayya menghela napas melihat asistennya melangkah keluar. Ia kembali memindai jemari. Tangannya memegang sebuah buku mengenai konsep-konsep kebiasaan serta perilaku manusia. Seperti kehidupannya, ia perlu mengubah kebiasaan-kebiasaan lama, meng-update dan upgarade sikap beserta perilaku agar mampu kembali menyehatkan pikirannya.
Ia melangkah ke arah kursi. Pikirannya kembali teringat malam di mana Daus pulang dalam keadaan mabuk. Seharusnya malam itu merupakan puncak terbukanya kunci pernikahan mereka. Semestinya, itu merupakan malam pertamanya, melepas keperawanannya bersama Daus. Namun… nyatanya, itu merupakan malam petaka. Itu adalah hari ketika Daus… memilih untuk pergi lalu melepaskannya.
Rayya perlu untuk memperluas kehidupan dan dunianya yang sempit. Setelah sempat bertahun-tahun ia mendapat doktrin untuk mengabdi kepada Daus, menjadi istri baginya, ia sudah lelah. Daus pun telah menghancurkan dunia impian beserta fantasi milik Rayya. Maka kali ini ia bertekad membangun ulang impian dan tujuan hidupnya, mengubah gaya gravitasinya agar kehidupannya bisa kembali normal. Ini waktunya untuk rewrite, merumuskan kembali kehidupannya.