
Daus masih melamun ketika Rayya melangkah pergi. Demi Tuhan, ia bahkan belum memahami apa kunjungan ini nyata atau mimpi. Mengingat ia baru terbangun dan kesadarannya masih berserak. Beberapa waktu tadi ia hanya mengerjap, mengucek mata, kemudian berusaha untuk tetap fokus, tidak kembali tidur ketika Rayya mengoceh panjang lebar. Ia duduk menahan kantuk. Ia menanamkan keyakinan kalau Rayya-- wanita itu yang berbicara dengan nada merengek, merajuk itu benar-benar Rayya, mantan istrinya yang mungkin sedang khilaf.
Ketika membuka mata, hal penting yang membuatnya-- memaksa untuk tetap tersadar adalah keberadaan Rayya. Seingatnya, sebelumnya ia tertidur setelah makan. Tadi ia begitu mengantuk mengingat matanya penat karena sepagian mengecek laporan proyeksi rugi/ laba dari produk yang akan diluncurkan tahun depan. Ia sibuk berpikir sedari pagi, menderita kelelahan, kemudian matanya terlelap sejenak dan ketika bangun, Rayya duduk mengamatinya… seakan ia kelinci percobaan, dan mengoceh, merengek tentang… karma.
What the….
Karma bagaimana lagi maksudnya? Demi Tuhan… seingatnya ia hari ini melakukan banyak kebaikan. Ia tidak memarahi atau memaki siapa pun. Ia bahkan tersenyum kepada karyawannya. Ia pun tidak berbuat curang dalam bentuk apa pun kepada siapa pun. Ia bahkan tidak pernah berpikir, sedikit pun untuk mengkhianati perusahaan ini. Lalu… karma mana yang akan ia dapat? Kalau karma yang dimaksud itu berbentuk nyeri pinggang, well… Daus sudah merasakannya sesiangan ini. Mengingat ia terus berada di kursi sepajang hari ini, maka ia telah mendapatkannya.
Daus menghela napas kemudian memijit kening, pening. Ia menarik beberapa anak rambut, memberi sensasi tertarik kepada kumpulan syaraf yang ada di kepala. Mungkin dengan cara seperti ini, kesadarannya bisa terkumpul sempurna.
Ia menatap ke arah bungkusan plastik di atas meja. Itu merupakan pemberian Rayya. Lelaki itu terdiam beberapa detik kemudian membukanya. Beberapa kali ia membolak-balik isi palstik itu kemudian bergumam. Ia bahkan belum menghabiskan makan siang yang dibawakan istrinya, sekarang Rayya memberinya salad.
Dua porsi? Apa tadi wanita itu ingin mengajaknya makan bersama? Tapi kenapa tidak jadi? Pria itu mendengkus, ia ingat tadi menanggapinya sinis. Daus mengusap wajah, apa ia terlalu kasar, ya? Apa sebaiknya ia memperlakukan Rayya lebih ramah? Tapi nanti bagaimana kalau perempuan itu malah kembali menginginkannya. Bukankah Daus itu memang seharusnya membuat Rayya membencinya-- berhenti menginginkannya?! Namun… apa perlu berbuat kasar dan ketus setiap kali bertemu dengannya?
Ia menatap bungkusan plastik milik Rayya kemudian berganti mengamati kotak makan siang dari istri barunya. Ada perbedaan besar antara Rayya dengan Rinai. Rayya itu wanita yang pokoknya tidak mau repot. Mungkin karena ia menggunakan banyak waktu beserta tenaga untuk mengurusi perusahaan, maka mengenai hal lainnya ia cenderung memilih kepraktisan. Ia tahu bahwa lelaki itu membenci sayuran. Ya sudah biar, Rayya memberinya buah-buahan sebagai pengganti, memastikan asupan vitamin beserta serat tetap terjaga.
Rinai malah berbeda. Ketika ia tahu betapa lelaki itu membenci sayuran, ia melakukan banyak riset kenapa, apa, bagaimana bisa ia membencinya? Memberi pertanyan macam-macam, sekadar mencari tahu hal apa yang bisa ia lakukan untuk menolong Daus lalu berdamai dengan makanan tersebut. Maka kemudian wanita itu melakukan percobaan macam-macam.
Ia memakai teknik rupa-rupa mulai dengan memblender, mencincang, melumatkan, menyaring dan memasak dengan dikukus, dipanaskan, digoreng, di oven… lalu berikutnya ia menghidangkan berbagai macam olahan sayur yang Daus bahkan tidak membayangkan sebelumnya. Ia pernah terkejut ketika memakan nugget yang lezat dengan komposisi banyak sayuran. Ada pula batagor, risoles ragout, bakwan dan omelet menggunakan macam sayuran namun dihaluskan sebegitu lembut hingga ia tidak melihatnya, bahkan ia baru-baru ini mau mencicipi mi yang terbuat dari sayur.
Padahal ia tahu kalau di luar sana, ada banyak bentuk olahan sayur namun, Rinai dengan begitu semangat membuatnya mau memakan makanan yang selama ini ia hindari. Ia mulai terbiasa makan sayur. Kalau Rayya mengetahuinya, ia pasti terkesima bila mengetahui berapa porsi sayuran dalam piring Daus.
Membahagiakan Rinai bisa semudah itu. Melihatnya bangga waktu lelaki itu menghabiskan banyak makanan hasil percobaan Rinai. Wanita itu tersenyum lebar, sangat lebar lalu memberi pelukan bahagia. Ternyata, membuatnya merasa begitu senang itu mudah. Apa sih hebatnya menghabiskan sepiring nugget?
Bagi Daus, ‘trofi kebahagiaan’ versi Rinai cukup mudah. Semudah ia berani memakan masakan yang terdiri dari berbagai macam sayuran, semudah ia berani menaiki kendaraan umum karena, menurut Rinai, itu merupakan bekal dasar kehidupan mengingat, akan ada waktunya kita membutuhkan kendaraan umum ketika terdesak. Lalu kemudian yang berikutnya… semudah ia berani mengatakan maaf, tolong, dan terima kasih. Apa susahnya itu semua? Rinai benar kan?
Hanya… kenapa beberapa waktu makin ke sini… level tantangan wanita itu makin rumit? Sekarang ia berani mencampuri masalah perusahaan. Maksud wanita itu bagaimana? Kehidupan mereka bukan permainan Mario Bross yang makin naik levelnya, maka akan makin sulit.
Daus menarik ponsel kemudian menekan sebuah nomor. “Ha….”
“Halo, Mas!” pekik wanita itu tepat ketika dering kedua terdengar. Bahkan ia begitu cepat menjawab telepon Daud.
Lelaki itu menghela napas. “Kamu ta….”
“Aku lagi masak, Mas! Lagi bikin cake dari bayam…!”
Daus mengernyit mendadak kembali pusing. Ia tidak bisa berbicara kalau perempuan itu selalu menyelanya. Lagi pula tadi dia ngomong soal apa? Cake bagaimana? Bayam? Ia baru tahu kalau sayuran serba hijau bisa dibikin kue.
Ia menghirup napas panjang. “Ada sesuatu yang mau saya….”
“Bentar… bentar dulu, kueku udah matang, Mas. Aku angkat ben….”
“Rinai!” pekik Daus kesal. “Saya perlu bicara sama kamu!” marahnya kemudian.
“Ma… s?” jawab wanita itu lirih. “Kamu… kenapa Ma….”
“Stop!” teriaknya kesal. “Bisa kamu tunggu sebentar dulu, kasih saya kesempatan ngomong. Kamu dari tadi menyela omongan saya!”
Wanita itu mendengkus. Kemudian ia terdiam memenuhi permintaan suaminya.
“Saya mau tanya ke kamu, apa kamu tadi langsung pulang?”
Rinai menghela napas. “Iya, tadi… dari kantor… aku langsung… pulang,” jawabnya lirih.
Daus terdiam, mencoba untuk menunggunya mengatakan atau mengakui kesalahannya. Lama, mereka cuma hening, diam dan tetap memendam pikiran masing-masing.
“Kamu tadi itu langsung ke rumah atau… ada sesuatu yang mau kamu ceritakan?” selidiknya.
Wanita itu terdiam, tetap bertahan meski suaminya memberi pertanyaan.
“Rayya tadi bilang kalau kamu….”
“Tadi saya cuma mampir ke ruangan Mba Rayya,” ujarnya pelan.
Daus mendengkus. “Kamu mau ngapain?”
“Kan… saya mau main, silaturahmi, Mas. Apa nggak boleh?”
What the….
Ya Tuhaaan! Astaga! Apa sih yang ada dalam pikiran perempuan itu?
“Buat apa? Ngapain kamu berantem sama Rayya?”
“Mas! Aku nggak berantem! Aku datang baik-baik, dianya itu yang ngatain aku begini begitu. Aku loh yang dikata-katain, Mas! Kamu nggak tahu kenyataan sebenarnya si…”
“Mas… tapi aku….”
“Mengerti?!” tegasnya tanpa mau mendengar apa pun alasan.
Rinai menghela napas. “Niatku kan baik, Mas. Aku cuma….”
“Cuma apa? Cuma apa? Kamu ini cuma mau ikut campur!”
“Mas!” pekik wanita itu tidak mau terima. “Aku istrimu, Mas. Apa aku ini nggak diizinin nolong kamu?”
Daus memijit kepala. “Nolong apa? Coba kamu bilang, nolong apa maksudmu?”
Rinai mendengkus. “Aku itu cuma mau nolong kamu. Aku nggak mau Kakek pilih kasih, Mas. Kenapa tiba-tiba Kakek menukar posisi kalian? Apa karena Mba Rayya ngomong macam-macam ke Kakek?”
“Rinai!” Daus memekik kasar. “Kamu kalau nggak ngerti masalahnya, mending berhenti ikut campur! Oke?!”
Rinai terdiam beberapa lama. “Kalau memang istrimu ini nggak ngerti apa-apa, ya Mas kasih ngerti. Kasih tahu loh, Mas. Biar aku ini ngerti, biar aku ini nggak bodoh-bodoh amat….”
“Aku nggak pernah menghina kamu kayak begitu. Kamu sendiri yang menilai dirimu….”
“Aku ini bodoh, Mas. Dibandingkan Mba Rayya, aku ini bukan apa-apa. Aku ini yang nggak ngerti apa-apa, aku cuma bisa melakukan hal yang menurut keterbatasan… kebodohan aku, ya aku lakukan. Aku sedang memperjuangkan posisi kamu, Mas!” tukasnya sok tahu.
Daus berdecih, menertawakan istrinya yang naif dan sok berani. Dia itu tipe pahlawan kesiangan yang benar-benar kesiangan.
“Kalau aku ini nggak ngerti apa-apa… kamu kasih tahu supaya ngerti. Coba Mas pikir, setiap kita berhubungan intim… kamu itu cuma mau sebatas foreplay, kamu kasih aku alasan… begini begitu. Aku merasa kamu nolak aku, Mas. Terus… aku mau coba silaturahmi ke Kakek, kamu selalu nolak, kamu ngomong kalau Kakek masih nggak mau nerima aku. Kamu pun ngelarang aku nolong kamu. Kamu nggak biarin aku ikut campur urusan kamtor, Mas!” protesnya.
“Aku ini istrimu apa cuma pajangan, Mas?” tanyanya menahan isakan tangis.
Daus menghela napas, membiarkan istrinya menumpahkan perasaan.
“Aku coba belajar untuk membuatmu nyaman, supaya kamu mau melakukannya sama aku. Aku pikir ini mungkin karena aku kurang cantik dari Mba Rayya, makanya aku udah mulai perawatan… bahkan aku ikut daftar di spa langganan Mba Rayya. Cuma supaya kamu mau nyentuh aku, Mas!” pekiknya.
“Kamu… bilang… katanya Kakek belum mau nerima aku. Kalau kamu terus nolak, kamu nggak mau aku ajak main ke tempat Kakek, kalau kamu nggak mau aku mendekati Kakek, kapan Kakek mau nerima aku?” protesnya.
“Dan… aku tadi cuma mampir ke ruangan Mba Rayya. Aku cuma bilang kalau ia seharusnya nggak jahatin kamu. Apa dia nggak malu ngambil posisi ka….”
“Rinai! Stop!” pekiknya Daus tiba-tiba. “Kamu bisa udah ngomongnya?”
Mereka terdiam, cukup lama. Seseorang mulai terisak, meluapkan kemarahan beserta kesedihan. Seorang lagi, menahan kemarahan berperang sendiri di dalam hati… mencegah kejadian yang tidak perlu terjadi.
“Aku nggak ngerti, Mas. Aku nggak ngerti, tapi aku pingin ngerti. Apa kamu belum bisa ngasih tahu aku?”
“Belum… saya belum bisa ngomong ke kamu,” jawab Daus cepat.
Rinai menarik napas, memasukkan udara yang terhambat di hidung. “Pernikahan butuh kejujuran, Mas… kita perlu terbuka satu sama lain,” tuntutnya.
“Tapi saya belum bisa ngomong ke kamu,” jawab Daus tegas. “Saya cuma minta kamu percaya sama saya.”
“Mas… gimana aku bisa percaya kalau aku nggak tahu apa-apa. Semua selalu yang salah di aku. Aku pokoknya yang salah, aku nggak tahu apa-apa dan selalu disalahkan. Mas maunya gimana? Aku terus harus bagaimana?” tanyanya frustasi.
“Kamu cukup percaya sama saya,” jawab Daus tegas.
“Kalau Mas mau aku percaya, Mas kasih tahu sebenarnya ada apa. Supaya aku paham, aku nggak berpikir macam-macam.”
“Nggak… saya belum bisa kasih tahu kamu.” Daus menegaskan tanpa mau dibantah. “Saya mau kamu percaya sama saya.”
“Gimana bisa percaya kalau Mas nggak ngomong apa-apa?” tuntutnya.
“Saya… belum bisa bilang ke kamu. Saya cuma minta kamu percaya sama saya….”
“Saya nggak bisa!” tolaknya tegas. “Mas seharusnya bilang kenapa Mas melakukan ini semua? Salahku di mana, Mas? Apa aku ini nggak dibolehin minta penjelasan ke suami sendiri?”
“Aku… belum bisa bilang apa-apa. Aku cuma mau kamu percaya!”
“Mas!” kejarnya tidak terima.
“Kamu… nggak bisa percaya sama saya?” tanyanya dingin. “Kamu pingin tahu tapi saya belum bisa bilang ke kamu. Saya pingin kamu percaya, tapi kamu bilang kamu nggak bisa….”
Keduanya terdiam memilih sibuk dengan kemarahannya, merasa saling benar.
“Kamu maunya bagaimana? Apa… menurutmu, kita… lebih baik bercerai?”