His Virgin Ex Wife

His Virgin Ex Wife
The two that will never enough



Rinai masih melongo, mulutnya terbuka lebar. Kedua bola matanya membulat. “Abang lagi ngelucu?”


Iman mencebik. “Apa kamu ngeliat kalo muka Abangmu ketawa?”


Wanita itu menutup mulut menggunakan jemari. “Abang beneran ini?” tanyanya memekik tertahan, benar-benar tidak memercayai pendengarannya.


Rinai menarik napas. “Jadi, ini kenapa Kakek ngomong… dia nggak mau saya panggil Kakek? Ternyata Mas Daus cuma cucu angkat?”


Iman menatap iba ke arah Rinai. Saat ini wanita itu mengusap wajah, kemudian menyandarkan punggung pada sandaran sofa. “Pantas Mas Daus kemarin ngamuk, dia teriak, marah-marah sama Mba Rayya, katanya selama ini hidupnya merasa tertekan. Dia sebenarnya… merasa beban cuma menjadi cucu angkat Kakek, iya kan?” gumamnya lemah.


“Itu sebabnya Tuan Ibrahim kepingin Abang masuk perusahaan?” tanya Zahra tiba-tiba.


“Iya, dia minta saya bantu untuk pengelolaan financial soalnya Daus katanya perlu mempertanggung jawabkan proyek di cabang lain,” jawab Iman cepat.


“Jadi, ini kenapa Kakek minta kami pindah?” tukas Rinai masih menggumam. “Bener, ya… ternyata masalahnya memang ruwet, cuma gara-gara kesalahan kecil, Mas Daus disuruh pergi, melakukan pekerjaan berat ngalah-ngalahin proyek kerja rodi zaman Daendles!” imbuhnya.


Iman mencibir. “Kamu belum tahu kesalahan suami kamu menyentuh angka sampai triliyunan rupiah? Bahkan ternyata dia melobi pemda supaya memakai anggaran APBN sebagai subsidi proyeknya, yang ternyata begitu di audit, nggak lolos masalah AMDAL! Kalau udah begini, salah siapa?”


Rinai mengerjap mendengar penjelasan serta kemarahan Abangnya. Ia baru menyadari kalau suaminya memang mengkhawatirkan. Ia ingat ketika menjadi sekretaris sebelum mereka menikah, ia mendengar beberapa kabar kalau Daus bertengkar hebat dengan Rayya sebelum perceraian mereka. Konon pemicu perceraian suaminya memang karena sebuah proyek. Apa memang ini proyek penyebab perceraian Rayya dan Daus? Berarti memang Daus kelewatan. Cuma karena merasa kurang nyaman serta sedikit… tertekan, lelaki itu ternyatan nekat gambling… mempertaruhkan keuntungan perusahaan, menguasai dana dari APBN pemda, sambil kemudian mempertaruhkan nasibnya sendiri. Pantas kalau Ibrahim sebegitu kecewa kepada suaminya.


Iman menghela napas. “Terus kamu masih mencintai suami kamu, kan? Walaupun kenyataannya dia nggak sehebat pemikiran kamu, kamu masih… cinta sama Daus, benar?”


Rinai mendelik. “Abang mikir begitu?! Abang anggap kalo aku matre kan?! Begini-begini, aku ini nggak seburuk penilaian Abang, loh! Aku beneran cinta sama suami aku! Nggak segampang itu aku berpaling!” protesnya kesal.


Iman mengangguk-angguk.


“Hasil didikan dari ayah nggak mengecewakan, Bang. Aku begini-begini bakalan setia sama Mas Daus, Inshaa Allah. Aku mungkin cuma ngerasa sedih kenapa dia nggak ngomong kenyataannya ke aku? Apa dia takut aku nolak untuk nikah sama dia, ya?”


Iman mengedik, mengangkat kedua bahu. “Positif dulu kamu mikirnya lah, mungkin dia dilarang ngomong masalah ini sama Tuan Ibrahim,” tukas Imam.


“Lha… abang malah bocorin ke kami loh, gimana?” pekik Zahra.


“Makanya, kalian bedua tadi Abang minta janji nggak cerita atau pun menyebarkan masalah ini. Oke?!”


Rinai menatap langit-langit. Antara percaya dan tidak mendengar perkataan Abangnya. Ia bukannya marah ke suaminya, tapi cuma merasa kecewa. Kenapa rahasia begini besar disimpan suaminya sendiri? Mungkin memang Ibrahim Busro melarang suaminya membocorkan masalah ini.


“Berarti masalah ini Mba Rayya belum tahu gitu ya Bang? Buktinya… kemarin pas berantem, Mba Rayya kayak… desperate beneran. Apalagi waktu kemarin aku samperin sama aku labrak, Mba Rayya cuma bisa diam aku kata-katain dia mau ngerebut harta Mas Daus… aku bilang dia mau ngegodain Kakek, ngerayu Kakek yang sebenarnya Kakeknya sendiri….”


“Kamu ngapain?!” pekik Iman cepat. “Serius, Dek? Kamu ngelabrak dia? Ya Allaah… Astaga… Astagfirullaah… Abang nggak ngerti lagi mesti ngapain. Kamu… ngatain Rayya gimana, mau ngerayu Tuan ibrahim? Pantesan dia tiap ngelihat kita bawaannya mau ngajak gelud. Ternyata kamu duluan yang nantangin gelud, ya?!”


Wanita itu mengangguk lemah. “Aku kan baru tahu kalau kenyataannya begini.”


Sreet… sreet… sreet… sreeeeet!


Iman mencari ke arah suara, tepat ketika mendengar bunyi gesekan panjang. “Astaga!” lelaki itu berdiri, kemudian menuju balkon. “Juno! Kamu nggak boleh sembarangan! Kita cuma numpang! Nanti kalau gordennya rusak kita disuruh ganti!” pekik Iman ketika menemukan sumber keributan. Di sudut dekat balkon, kucing berwarna keabuan… mirip keset kaki, sedang menarik-narik kain jendela.


Gorden megah berwarna polos keabuan, mirip dengan bulu milik kucingnya namun kain tersebut memiliki aksen gemerlap, shining, silky… shimmering ketika memantulkan sinar lampu. Benda itu yang menutup pintu balkon serta jendela tersebut, rupanya bergerak menjuntai dan sesekali menyentuh kandang si kucing. Melalui celah besi jeruji dari kandang, kucing itu berusaha menggapai menggunakan kukunya.


Astaga!


 Iman bergegas menggeser kandang milik Juno menjauhi kaca.


“Astaga! Astaghfirullaah! Aku lupa belum sholat ashar!” pekik Zahra tiba-tiba kemudian berlalri ke arah toilet.


Iman menghela napas. Sebentar lagi maghrib. Ia mengangguk-angguk, mungkin memang ini bukan masalah sepele. Keruwetan permasalahan mereka membuat lalai lalu mengendurkan kewaspadaan mereka. Bahkan Zahra pun sama. Tumben Zahra bisa lupa melaksanakan kewajiban begini.


Lama-lama Iman merasa kalau mereka perlu saling merukiyah supaya nasib mereka membaik, minimal tidak serumit, tidak ruwet begini. Lelaki itu berdiri kemudian menuju sebuah ruangan. Sepertinya tempat itu mungkin diniatkan sebagai ruang kerja mengingat sebuah meja kantor beserta dua kursi saling berhadapan dan perangkat elektronik seperti laptop, printer, dan shredder ditata di dalam sana.


Di pinggir bagian pojok ruangan, sebuah rak buku tinggi hampir menyentuh langit-langit mengambil spot tersebut. Iman kemarin melihat-lihat. Di rak tersebut terdapat cukup banyak buku finansial dan self development dari dalam negeri maupun kopian asli dari luar negeri. Memang sepertinya Ibrahim Busro mengerti cara menghamburkan uang. Buku-buku tersebut bisa sepuasnya Iman baca. Padahal beberapa di antaranya merupakan literatur langka.


Astaga!


Iman mengerjap kemudian membentang sajadah sekadar mempersiapkan area sholat. Sebagai laki-laki ia tidak kepikiran menyiapkan mukena. Namun, seperti biasa ia yakin dalam tas milik Zahra biasanya ada mukena maka Iman tidak terlalu memusingkan persiapan sholat ashar yang memang sudah mendekati maghrib.


Setelah menggelar sajadah, Iman memilih masuk ke kamar. Lelaki itu membuka lemari kemudian mengambil kaos lalu menanggalkan kancing kemeja. Ia langsung terlonjak ketika seseorang masuk ke kamar. “Dek! Kamu tahu cara ngetok pintu, kan?”


Perempuan muda tersebut lalu menggerutu kemudian cepat berbalik melangkah ke arah pintu, mengetuk beberapa kali. “Udah, aku udah ngetok pintu,” tukasnya malas.


Iman mendelik gemas. “Kamu udah gede, udah istri orang. Masa kamu masuk kamar Abang sembarangan nggak permisi? Kalau tadi Abang lagi nggak pakai apa-apa gimana?!” protesnya.


Rinai melangkah ke arah kasur kemudian merebahkan punggung. “Kenyataannya Abang itu masih pakai baju nggak lagi bugil!” pekiknya kesal. “Nggak usah lebay!”


Iman geleng kepala melihat kelakuan adiknya.


“Tumben Kak Zahra telat sholat ya Bang.”


Iman mengangguk pelan. “Mungkin dia baru selesai dari tamu bulanan. Dulu pernah begitu juga, dia pernah lupa kalau seharusnya mulai sholat lagi. Gara-gara stress kerjaan, jadwal bulanan nggak rutin.”


Iman cuma terdiam lalu mengancingkan kembali kemejanya, membiarkan tiga kancing atas, maish terbuka. Iman kemudian mendekati Rinai. Wanita itu terduduk. Ia menepuk pinggiran kasur, memberi kode, meminta Abangnya duduk.


Rinai menatap tajam. “Abang benar nggak nyembunyiin sesuatu?”


Iman mengernyit. Ia kemudian menyugar rambut sambil menelengkan kepala, kembali mengernyit bingung. “Nyembunyiin apa maksudnya?”


Adiknya cuma menarik napas kemudian menyentuh lengan, menepuk bahu Iman beberapa kali. “Kesepakatan sama Kakek, benar cuma disuruh bantu perusahaan?” tanyanya lagi.


Iman menggumam. “Kamu mau dengar apa?”


“Ish!” pekik Rinai kesal kemudian memukul kencang lengan Abangnya.


“Aduh! Kamu KDRT sama Abang!”


Rinai memutar bola mata. “Abang sih becanda padahal aku bener-bener serius! Aku berhak tahu, Kak Zahra itu pun sama, kami berhak tahu kalau mungkin Abang sama Kakek punya kesepakatan lain selain membantu perusahaan, seperti…,” Rinai menatap ragu sebelum kembali menlanjutkan ucapannya. “Abang ditawarin kakek supaya mau mendekati Mba Rayya?!”


Iman mengerjap.


“Benar, Abang cuma diminta bantu perusahaan?” tanya Rinai lagi.


Iman berdeham. “Tuan Ibrahim minta supaya kami… mungkin Rayya sama Abang… siapa tahu kami mungkin….”


“Mungkin? Apa Bang, mungkin apa ya Bang? Benar… Abang berhubungan sama Mba Rayya?!”


Iman bersama dengan Rinai menatap ke arah pintu. Zahra terlihat baru selesai melaksanakan sholat. Mukenanya dilipat sembarangan kemudian membuka pintu lebar. “Benar kalau Tuan Ibrahim minta abang ngedeketin Mba Rayya?”


Iman terkesiap mendengar pertanyaanya.


“Jawab!” bentak Zahra marah. Wanita itu berbalik ketika melihat Iman yang masih menutup mulut. Ia bergerak tanpa ragu meraih tas kemudian mengarah ke pintu.


“Zahra!” pekik Iman mengejar langkahnya, berlari ke pintu.


“Zahra!” pekiknya lagi. Iman mengambil langkah lebar, mengikuti Zahra keluar apartemen. “Dengerin Abang! Dengerin dulu!”


“Apa, Bang? Apa lagi? Zahra musti dengar apa?” tuntutnya. Wanita itu menatap… memelas, melukis kemarahan dalam kedua matanya. “Abang beneran disuruh ngedeketin Mba Rayya? Abang… diminta untuk nikah sama Mba Rayya?”


“Astaga!” Iman memekik kencang. Ia mengusap wajah kemudian menggeleng tidak memercayai perkataan perempuan tersebut. “Kamu mikirnya kejauhan, Zahra. Gimana mau nikah kalau Rayya nggak suka sama Abang.”


“Jadi kalau Mba Rayya suka, Abang sama Mba Rayya mau nikah?!” pekiknya kesal. “Kenapa, bang? Kenapa sih begini terus? Abang dan cewek-cewek? Kenapa Abang terus berhubungan sama cewek-cewek? Mulai dari klien-klien kita lalu sekarang Mba Rayya, kenapa… kenapa Abang… nggak pernah sekali pun.. sekali aja….”


Iman menatap Zahra yang menggigit bibir. Kedua mata Zahra lagi-lagi menyiratkan lapisan emosi. Iman bisa menebak ke mana maksud percakapan mereka. “Kenapa Abang nggak pernak sekali pun… sekali aja ngeliat… aku?”


Detik itu Iman ingin memeluk Zahra namun kesadaran menamparnya kalau… wanita itu tidak bisa ia sentuh sembarangan. “Abang… nggak pantas buat kamu.”


“Abang bilang gimana?”


“Abang… nggak pantas buat kamu, Zahra….”


Astaga!


Sebuah tamparan melayang ke pipinya.


“Abang bilang nggak pantas sama aku, tapi kalau sama orang lain… Abang ngerasa pantas? Jujur sama Zahra, ini bukan masalah Abang nggak pantas… jangan-jangan, bukan Abang tapi Zahra nggak pantas sama Abang karena Zahra cuma… anak dari istri ke dua….”


“Stop! Stop it Zahra! Abang nggak mau… kamu ngerendahin diri sendiri!” pekiknya geram. Iman mencondongkan tubuh, kedua lenganya memanjang, menyentuh dinding… memerangkap Zahra.


Wanita itu kemudian menatapnya sambil meneteskan air mata. Ia menatap Iman lekat, memandang kedua mata, hidung, dan bibirnya. Zahra menelan ludah. Pandangannya menangkap dada bidang Iman mengintip melalui kemeja. Refleks ia mengalihkan pandangan. Kesadaran tiba-tiba membangunkan mimpi kelamnya. Mereka… bukan muhrim. Ini… salah!


Iman menarik lengan, menyingkir sedikit kemudian mengancingkan kemeja. Selalu begini, berhadapan dengan Zahra membuat mentalnya kelelahan. Iman ingin mengatakan kalau… Zahra bukan wanita sembarangan. Kenyataan bahwa Iman benar-benar merasa tidak pantas bersanding dnegan Zahra. Namun Zahra berpikir sebaliknya. Ketidakpercayaan diri Zahra membuat ia merasa kalau statusnya sebagai anak dari istri kedua, memnyebabkan ia tidak pantas menikah dengan Iman.


Kalau saja Zahra tahu-- menyadari ratusan pria mengantri, dengan status sheikh, dan kerabat Emyr bersaing ingin menjadi suaminya.


“Abang benar-benar mau menikahi Mba Rayya?” tanya Zahra lagi.


Iman menghela napas mengawasi keadaan sekitar. Ia diberi tahu kalau satu lantai di sini milik perusahaan Busro. Untuk saat ini yang menempati apartemen di lantai ini cuma Rayya dan Iman. Namun bisa saja nanti ada orang, seperti pekerja maintenance kebetulan melintas. Lelaki itu mengingatkan Zahra supaya mengecilkan suara.


“Nggak begitu, niat Abang cuma memperbaiki masa depan Tuan Ibrahim sama cucunya. Cuma itu. Apalagi Tuan Ibrahim mengancam rumah tangga Rinai kalau Abang nggak mau nolong. Makanya… Abang terpaksa menyetujui permintaannya.”


Zahra menghela napas. “Termasuk permintaannya menikahi cucunya?”


Iman terdiam.


“Nanti kalau Mba Rayya mau menerima permintaan Kakeknya, berarti… kalian berdua bisa menikah, gitu?”


Iman masih terdiam menolak merespon pertanyaan Zahra. Wanita itu memilih melangkah ke arah lift. Ia mengabaikan teriakan Iman, sekadar memintanya untuk tetap berada di sisinya.