
Wanita itu bergegas ke luar, pergi tanpa banyak protes ketika Rayya membalikkan sumpah serapahnya tentang karma. Dia beberapa kali menjejak-- menghentak-hentak kesal ke lantai. Untungnya wanita itu memakai sandal berkitten heels-- memiliki hak kecil. Kalau tadi ia memakai dengan model stiletto lalu haknya patah kan… Rayya bisa tertawa bahagia. Tapi… dia masih beruntung. Haknya tidak patah namun mungkin, harga dirinya telah dipatahkan Rayya berkali-kali.
Ketika tamunya telah benar-benar menghilang, lepas dari pandangan, Rayya memanggil asistennya. Kemudian ia menitahkan Shanaz agar memesan makanan kesukaan mantan suaminya. Rayya tidak bisa tinggal diam, seumur-umur dia merasakan aneka model pembullyan oleh mantan suaminya. Kenapa sekarang ia harus merasakan sumpah serapah oleh perempuan itu? Apa istri baru Daus sudah bosan hidup?
Apa dia tidak tahu kalau Rayya, bahkan pernah hampir tenggelam, mati karena ulah Daus namun… Tuhan masih baik. Rayya diselamatkan, berhasil diselamatkan. Lantas… setelah menceraikannya lalu menikah lagi, apa Daus itu mau kembali ke zaman jahiliyah? Kembali menjadikannya bahan untuk dicemooh? Tidak bisa! Enak saja! Perempuan itu belum sadar siapa Rayya ini. Kalau Daus bahkan tidak mampu membunuh Rayya, kalau Tuhan bahkan begitu baik kepada Rayya, maka perempuan itu berarti siap dihancurkan oleh Rayya. Kita lihat bagaimana wanita itu memohon ampun padanya.
“Miss!”
“Astaga! Nanaz! Kamu ngagetin!” bentak Rayya gemas.
Asistennya mengernyit. “Dari tadi itu saya manggil Miss tapi cuma diam. Ini Miss, pesanannya udah nyampai,” ucapnya kemudian menyerahkan sebuah bungkusan plastik dengan dua porsi makanan di dalam. Perlahan wanita itu menaruh pesanan itu di atas meja.
“Naz,” sergahnya ketika wanita itu memilih berbalik, bersiap keluar.
“Kenapa, Miss?”
“Kamu dengar yang tadi itu nggak?”
Shanaz mengernyit. “Dengar apa ya, Miss?”
Rayya melirik malas. Dia ini belum mengerti atau cuma pura-pura? “Obrolan tadi.”
Asistennya cuma bereaksi ‘Ooo’ kemudian menatap lantai. “Miss maunya tadi saya itu dengar atau nggak?” tanya dengan hati-hati.
“Naaz?!”
Shanaz menghela napas kemudian memilih memberengut. “Tadi itu Missis Rinai ngomongnya keras… banget. Saya lupa bawa tutup kuping, Miss,” jawabnya jujur.
“Jadi?” pancing atasannya, memaksa wanita itu untuk mengaku jujur.
“Saya dengar tapi nggak dengar, Miss?!”
Rayya menghela napas kemudian kembali mengejar Shanaz dengan pertanyaan. “Dengar atau nggak? Coba definisikan maksud kamu. Maksud dengar tapi nggak dengar itu gimana?” tuntutnya.
Shanaz menatap lantai. “Dengar, Miss, tapi tidak sengaja pingin dengar. Kan tadi udah bilang Missis Rinai ngomongnya teriak-teriak. Saya kan cuma duduk di depan ruangan, di meja kerja. Gimana saya bisa nggak dengar? Kuping saya masih normal. Nanti dibilang bohong. Saya itu terpaksa dengar,” jelasnya.
Rayya mengangguk kemudian kembali memberi pertanyaan. “Kamu tahu kalau saya kena sumpah?”
Shanaz melongo. “Maksudnya?”
“Tadi dia bilang kalau saya udah rebut posisi Daus. Dia tadi itu nyumpahin saya biar kena karma.”
Shanaz makin melongo. Bibirnya semakin melebar. “Missis Rinai bilang begitu, Miss?”
Rayya melirik malas. “Kamu tadi bilang kamu dengar, masa kamu pakai nanya?!”
“Kan saya bilang kalau cuma mendengar tapi nggak dengar. Saya nggak terlalu perhatiin Missis Rinai ngomong apa aja. Saya kan cuma dengar Miss Rinai teriak tapi ntah ngomong apa,” gerutunya. “Serius Miss tadi dia ngomong gitu?” tambahnya.
Rayya kembali menghirup napas kemudian mengeluarkannya, membuang berbagai hawa jahat dan toxic yang dibawa perempuan itu tadi. “Kamu gimana?”
“Apanya?”
“Sebenarnya menurutmu, saya itu ngerebut posisi mantan suami saya nggak?” tanya Rayya menyelidik. “Jujur!”
Wanita tersebut mengernyit kemudian menatap Rayya. “Dari pertama waktu saya diminta jadi sekretaris di sini, saya sering lihat kalau Pak Daus dan Miss tukaran tugas. Jadi kalaupun terjadi pergantian posisi kayaknya sama aja, Miss. Kan Miss terbiasa ngerjain tugas Direktur Strategi,” tukasnya.
Rayya mengernyit. “Kamu itu belum pernah dengar kalau posisi Direktur Strategi dan Operasional itu merupakan posisi penting?!” tanyanya penasaran. Ia menghela napas perlahan. “Siapa pun yang kelak akan menjadi Direktur utama, pengganti Kakek, dia itu harus menduduki posisi ini.”
Shanaz kembali bereaksi ‘Ooo” kemudian menganggut-angguk. Seperti mendapatkan penjelasan kalau ikan itu berenang dengan sirip.
Rayya menatap gemas. “Kamu ngerti maksud saya?!”
“Ngerti,” tukasnya cepat. Ia lalu tersenyum.
“Kamu nggak penasaran kenapa kakek menukar posisi kami? Atau kamu bingung kenapa kakek malah nyuruh saya menjabat posisi ini?”
Shanaz mengernyit. “Kenapa bingung?”
Gantian, atasannya melongo merasa keheranan. “Naz! Kamu tadi belum paham kalau posisi ini penting? Siapa pun yang menjabat posisi ini artinya akan menjadi pengganti kakek,” tukas Rayya berusaha membuat asistennya paham.
“Terus kenapa, Miss?” tanyanya lagi. “Anehnya apa? Kalau Miss memang memiliki kemampuan, kenapa nggak? Nggak ada yang salah, kan? Tuan Ibrahim mungkin melihat Miss Rayya lebih mampu dari Tuan Daud, makanya Miss yang dijadiin calon penerus,” tambahnhnya.
Shanaz terdiam beberapa lama ketika menemukan atasannya mulai menatap kosong. Mungkin ia berdebat sendiri mengenai berbagai alasan masuk akal kenapa ia dipilih untuk meneruskan perusahaan ini.
“Bisnis Tuan Ibrahim kan multiproduk, lintas benua, bahkan pangsa pasarnya di mana-mana. Kalau Tuan Ibrahim memilih hanya karena keturunan, dia takut nasib karyawannya, kayak saya begini, Miss… bakalan sengsara, kena PHK gimana?”
Rayya kemudian tersenyum dingin lalu menatap aistennya, kembali mengembalikan kesadaran pikirannya, lahir dan batinnya. “Tapi itu tetap terdengar nggak masuk di nalar! Coba pakai logika, masa iya udah susah payah kakek menyingkirkan banyak anggota keluarganya yang jadi benalu, tapi malah memilih saya… cuma cucu hasil adopsi, sebagai pimpinan… untuk menguasai perusahaan miliknya?”
Shanaz mengerjap, kemudian menggigit bibir. Ia takut kalau nanti malah salah omong. Ternyata wanita nyaris sempurna seperti atasannya ini bisa merasa tidak percaya diri.
“Kamu tahu kalau menurut mereka, saya pakai ilmu pelet. Minimal, saya pakai guna-guna untuk menguasai kakek.”
Shanaz memekik tertahan.
“Kalau mereka bilang kayak gitu, kamu percaya?” tantang atasannya.
Shanaz melongo. “Miss pakai goyang jaran? Eh jaran goyang?”
“Emang pelet goyang jaran gunanya untuk apa?” tanya Rayya heran.
Shanaz mencebik. “Berarti Miss bersih, nggak pakai pelet. Buktinya tadi itu Miss nggak tahu kan pelet model begitu?!”
Rayya menatap lurus. “Kamu pakai pelet? Kok kamu tahu nama-nama pelet?!”
Astaga!
“Astaghfirullaaah! Miss! Ngapain pakai pelet? Dosa saya itu udah cukup banyak. Nggak perlu tambah pakai pelet pun perhitungan di akhirat kelak masih menegangkan. Ngapain nambah masalah pakai pelet?!” teriaknya takut. Wanita itu bergidik kemudian menggeleng-geleng.
“Nah! Apalagi saya! Tahu pelet pun nggak! Masalahnya, orang di luaran mikir kalau saya pakai ntah apa, kenapa bisa bikin kakek kelewatan begini percaya sama saya. Masa kamu nggak pernah dapat gosip mengenai saya?” tanyanya penasaran.
Ia menghela napas kemudian mencebik kesal. “Ghibah itu cuma nambah dosa, Miss. Saya udah beberapa bulan ini menyatakan keluar dari keanggotaan geng Ghibah di kantor kita,” ucapnya.
Rayya mengernyit berusaha memahami maksud Shanaz. Pantas dari beberapa bulan ini asistennya makan siang di meja kerja. Biasanya, ia pergi ke kantin dan memilih duduk di antara sekretaris lain. Rayya belum tahu, betapa asistennya benar-benar memiliki dedikasi sebegitu tinggi. Sejak Rayya bercerai dengan Daud, para sekretaris berusaha mencari informasi lebih dalam mengenai Rayya. Mungkin mereka cuma disuruh oleh atasannya, atau memang karena mereka sekadar kepo.
Shanaz tidak bisa dipaksa melukai Rayya begitu. Sekadar memberi info kepada para sekretaris pun ia tidak mau. Baginya Rayya itu atasannya dan perlu dijaga harga dirinya. Di antara manajer lain-- Shanaz pernah training di divisi lain sebelum menjadi sekretaris Rayya, namun cuma ia yang mau mempertahankan Shanaz.
Wanita itu benar-benar paham kalau ia hampir dipecat, tapi Rayya mempertahankannya. Kalau bukan karena Rayya, kalau Rayya tidak memintanya menjadi skeretaris tetap, mungkin Shanaz itu sedang dipusingkan ke mana ia harus melamar kerja. Maka, ia memilih untuk mempertahankan kehormatan atasannya!
“Mungkin memang Tuhan sayang sama Miss. Saking sayangnya, Miss dikasih banyak rizki,” tukasnya penuh semangat kemudian menatap Rayya senang.
“Kalau Tuhan bener sayang sama saya, kenapa dulu… saya dibuang ke panti asuhan?” cemoohnya sinis.
Tatapan mata asistennya melemah kemudian memalingkan muka. “Miss!” pekiknya tiba-tiba.
Rayya mendelik kesal karena kaget mendengar pekikannya. “Kamu mulutnya bisa dikondisikan nggak? Jangan teriak-teriak begitu! Saya tambah pusing nih!”
Shanaz terkikik tanpa malu.
“Kamu lagi ngetawain siapa? Kamu sekarang beneran berani sama saya ya, Naz?”
“Nggak, Miss,” ucapnya kemudian berusaha menyembunyikan rasa bahagianya.
“Kamu daripada ketawa nggak keruan kan, coba kasih tau dulu, kalau menurutmu itu… Tuhan baik ke saya, kenapa dulu waktu kecil saya kok dibuang orangtua saya?”
Wanita itu tersenyum. “Miss itu bukan dibuang, Miss dititipin ke panti asuhan,” sahutnya. Dia menatap berani. “Kenapa Miss nggak mikir kalau mungkin… waktu kecil kemarin sebenarnya Miss sedang memakai jatah kesengsaraan?”
Rayya memilih untuk tertawa… getir, ia menertawakan teori yang paling tidak logis yang pernah ia dengar dari Shanaz.
“Pernah dengar kalau manusia memiliki jatah rizki masing-masing?”
Rayya menatap lurus, membiarkan wanita itu berpidato.
“Manusia punya bahagia dan sengsara yang porsinya ditentuin Tuhan, Miss,” jelasnya. “Kenapa Miss berpikir nasib Miss bakal jelek selamanya? Kenapa Miss nggak mikir kalau jangan-jangan… kemarin pas waktu kecil, Miss sedang berusaha memakai-- menghabiskan,” ralatnya, “porsi kesengsaraan yang dikasih oleh Tuhan? Lalu mungkin ini waktunya memakai porsi bahagia. Anggap aja porsi kesengsaran Miss sekarang udah tipis, kalau nggak boleh dibilang habis.”
Rayya menelengkan kepala, kemudian mengamati asistennya.
“Udah waktunya untuk memakai porsi kebahagiaan karena porsi kesengsaraan Miss udah mulai habis. Udah waktunya Miss memiliki keberuntungan sebanyak ini. Udah waktunya Miss menuai yang dulu ditanam. Semua kesabaran Miss, kesedihan Miss udah habis, mungkin. Makanya, Tuhan ngasih banyak rizki… melalui Tuan Ibrahim, Miss mendapat hidup layak, bahkan sekarang bisa mimpin perusahaan sebesar ini,” jelasnya.
Rayya masih mencerna perkataannya. Semua ucapan beserta teori konspirasi asistennya ia masukkan dalam kepala, kemudian didengarkannya begitu baik.
“Mungkin sekarang ini… menurut Tuhan, udah saatnya Miss… bahagia.”