
Terdengar suara klakson panjang di parkiran mobil. Beberapa orang yang melintas melirik kesal, berisik! Di dalam mobil, lelaki itu tengah berteriak histeris. Tangannya mengepal, memukul kemudi. Kepalanya pun ia benturkan beberapa kali. Daud merasa setengah sinting. Ia sedang tidak waras.
Daud memijit kepala, menarik beberapai helai rambut… menghilangkan pening. Masalah siang tadi menyebabkan serangkaian serangan pening. Bukan salah mereka sih… tadi, untuk menghilangkan penat, Daud meneguk beberapa minuman beralkohol. Memang kalau berdasar kepercayaan pun keyakinan yang ia miliki, ia tidak bisa mengonsumsi minuman itu. Bahkan mendekati pun jangan. Namun… pola kebiasaan beserta gaya hidup dengan teman-temannya selama ini membuatnya terpengaruh.
Sekarang ia ingin menuntut siapa pun yang mengatakan kalau meminum alkohol itu bisa membuat pikiran tenang. Nyatanya, ia malah terkena serangan pening yang nyaris tidak berkesudahan. Ia menarik napas panjang. Antara keadaan tipsy dan sesak napas membuatnya semakin sakit kepala. Berdasarkan keadaanya yang tidak baik-baik saja, Daud kembali berulah dan memukul-mukul kemudi, menimbulkan bunyi klakson panjang, berkali-kali.
Lelaki itu bergegas melonggarkan kerah kemeja dan ikatan dasi. Ia membuka jendela, kemudian menghirup udara sepuasnya. Matanya menyapu area parkir.
Tahun lalu ia pernah merasa seperti ini. Tempatnya memang bukan di parkiran ini melainkan di tower sebelah, di tempat parkir apartemen Rayya. Tepat sebelum ia menggugat cerai mantan istrinya, ia mengalami hal nyaris seperti ini.
Ingatanya kembali pada masa lalu. Itu merupakan hari bahagia-- seharusnya menjadi hari paling penting, paling bahagia. Setelah belasan tahun Daud dan Rayya mendewasa bersama, Daud nyaris tidak pernah memenangkan apa pun dari Rayya. Namun kali itu, ia berhasil membuktikan kalau perhitungan Rayya salah.
Sebuah proyek yang sebenarnya kurang begitu besar namun Daud bersikeras ingin mengambil kesempatan itu. Ia berdebat banyak dengannya, melakukan perhitungan nyaris ratusan kali. Pokoknya ia berniat mengambil proyek itu hanya untuk membuktikan egonya, Bahwa Rayya hanya manusia, ia bisa melakukan kesalahan, bisa salah.
Maka pekerjaan itu merupakan kemenangan pertamanya. Daud berhasil memenangkannya. Ia mendapatkannya, proyek itu berhasil membawa keuntungan… padahal Rayya bilang kalau mereka tidak akan mendapat apa-apa. Rayya merasakan pertama kalinya melakukan kesalahan.
Daud berencana untuk merayakannya dengan Rayya. Mereka ingin melakukan perayaan kecil di apartemen mereka. Ia memang berniat pulang ketika koleganya menelepon memintanya merayakan keberhasilan tersebut. Bahkan teman-temannya pun mengetahui kalau ini adalah kemenangan pertama Daud. Ironis. Meskipun strata beserta status sosial Daud lebih tinggi dari Rayya, tapi bakatnya memang jauh lebih menonjol, meninggalkan Daud yang kelewat ragu dan sering takut ketika membuat keputusan.
Rayya membolehkannya bertemu para kolega. Wanita itu bersedia menunggu di apartemen, mengingat ia tidak menyukai pesta kecuali untuk acara-acara resmi yang memang tidak bisa dihindari. Kebahagiaan Daud begitu sempurna malam itu.
Ia menenggak beberapa sloki minuman beralkohol. Ia seharusnya paham kalau ia tidak boleh mendekati minuman itu. Namun… sekali lagi, budaya beserta besarnya pengaruh lingkungan menuntunnya terbiasa dengan barang haram itu.
Daud permisi ke kamar kecil, sekadar ingin bebersih, memercikkan sedikit air sebelum memilih pulang, menemui istrinya. Ia mencuci tangan di wastafel ketika sebuah pintu dari bilik tengah terbuka.
“Hai, brother… long time no see!”
Ia mencengkeram ujung wastafel.
“Lo apa kabar?” tanya lelaki itu kelewat ramah. Ia mendekatinya, berdiri tepat di samping Daud, ikut mencuci tangan di sebelahnya. Lelaki itu menatap melalui kaca. “Gimana rasanya nikah sama Rayya? Udah… dapet apa?” tanyanya lalu mencondongkan tubuh, mengejek Daud.
“Br*ng*sk!” pekik Daud kemudian melayangkan pukulan. Tangannya berhasil mengenai pipi lelaki itu. Lelaki tersebut hanya tersenyum kemudian mengelus wajahnya.
Pening kembali terasa ditambah dengan sesak udara toilet. Daud memercikkan wajah dengan air wastafel.
“Kalian udah ngapain aja selama nikah?” tanya lelaki itu lagi.
Daud diam mengabaikan pancingannya. Ia melangkah ke arah pintu, kemudian bersiap pergi.
“Dia… udah tau yang lo sembunyiin?”
Dalam langkah lebar\, Daud berbalik… memburu lelaki tersebut kemudian kembali melayangkan pukulan bertubi-tubi. Mereka melakukan perkelahian singkat sebelum lelaki itu kembali berkata\, “LO NGGAK NGERASA BERSALAH?! Lo nggak biarin dia sekali aja… tahu masalah yang sebenarnya! Lo br*ngs*ek tahu nggak?!”
Daud berhenti memukuli lelaki itu.
“Lo bahkan belum melakukannya sama Rayya. Gue berani bilang… dia masih perawan, kan?!” kejarnya. “LO ITU BENERAN PENGECUT! Gue kasih lo kesempatan ngebahagiain Rayya. Lo bebas buat milih mau melepaskan Rayya atau ngebahagiain dia. Tapi nyatanya… lo pengecut untuk mengambil keputusan! Lo nggak ngelepasin… tapi lo bahkan nggak bisa ngasih nafkah batin sama dia! Lo nggak bisa muasin dia!” pekiknya kencang.
“Diam! Kamu nggak berhak ikut campur urusan rumah tangga sa….”
“What the…! Lo pikir gue nggak berhak?! Lo mau tahu yang sebenarnya? Seharusnya, gue ini lebih dari sekadar berhak karena kalau lo nggak ada di sini, Rayya mungkin bakalan nikah sama gue!”
Daud mengerjap.
“Lo pikir lo pantas nikah sama Rayya? Atas dasar apa lo ngerasa pantas? Apa sih hebatnya lo? Lo bahkan belum pernah sekalipun memenangkan apa pun dari Rayya!”
“Lo salah! Proyek itu….”
“Proyek itu yang lo rayain sama temen-temen lo? Lo itu bodoh atau gimana?” tanyanya kemudian berdecih. “Gue tanya sama lo… kalau bukan cuma karena nama Busro, apa Rayya masih mau nikah sama lo? Lelaki penakut yang bahkan nggak bisa apa-apa!”
Lagi… Daud melayangkan pukulan keras. Lelaki itu berhasil menangkal kemudian menahan tangan Daud.
“Rayya seumur hidup mengabdikan dirinya untuk menjadi tameng lo. Setiap lo ngelakuin kesalahan, Rayya berusaha bertanggung jawab ke Kakek… kenapa? Karena dia begitu patuh dan menganggap kalau lo itu masa depannya. Lo itu cuma proyek masa depan Rayya. Doktrin yang ia terima nyaris setiap hari. Bahwa lo itu akan menjadi suaminya… kalian akan terus bersama membangun perusahaan, kalian akan bangun negeri dongeng ala ibu peri karena Rayya tahunya cuma seperti itu. Dia itu bagaikan sebuah robot milik keluarga lo!” protesnya.
“Gue tanya ya sama lo. Kalau dia tahu kenyataan sebenarnya\, apa Rayya masih mau nikah sama lo? Waktu lo lagi senang-senang\, Rayya dengan begitu nurut nunggu lo di rumah. Dia bahkan putus asa\, memesan sebotol besar obat per*ngs*ng cuma supaya lo berani nyetuh dia! Dia pikir kalau kesalahan ada sama dia. Mungkin dia yang kurang cantik atau kurang mengg*irahkan. Tapi nyatanya malah lo…! Suaminya ini yang sebenarnya kelewat pengecut untuk menyentuh istrinya sendiri!”
Daud berbalik, menarik tangan… membebaskan dari genggaman musuhnya kemudian berkali-kali… bertubi-tubi memberikan serangan kepada lelaki itu. Tepat ketika lawannya nyaris pingsan, Daud berbalik, membetulkan kemeja kemudian melangkah pergi.
“Gue punya hadiah buat kalian.”
Daud berhenti melangkah. Ia mendengar ucapan itu.
“Lo punya waktu lima belas menit… sebelum bukti-bukti itu sampai di tangan Rayya,” cemoohnya kemudian tertawa nyaring.
Dalam satu gerakan, Daud membuka pintu kemudian berlari ke tempat parkir. Ia berusaha untuk menahan mual. Bergegas ia memacu mobil, nyaris melanggar lampu merah pun menabrak pengendara lain. Ia memaksa matanya menatap lurus, menyingkirkan serangan mual, mabuk, beserta pusing juga sesak akibat pengaruh alkohol.
Ia memarkir kendaraan asal, tidak memedulikan teriakan penghuni apartemen lain yang tempat parkirnya ia serobot. Bergegas ia keluar, kembali lari… memicu sisa tenaga dan napas yang terengah-engah. Ketika lift telah sampai di lantainya, ia mengambil gerakan cepat, melangkah lebar-lebar ke arah unit apartemennya.
Daud memencet bel, menggedor beberapa kali, membuat wanita itu melangkah cepat ke arah pintu.
“Sayang… kamu uda….”
Tepat ketika wanita itu menyambutnya, Daud berteriak tertahan. Untuk segala bahagianya, ia berterima kasih mengucap syukur kepada Sang Pencipta. Allaah masih baik, Tuhan masih baik. Rayya menyambutnya begitu hangat… membuatnya meyakini bahwa segalanya masih baik-baik saja.
Rayya memekik tertahan ketika lelaki itu menyeretnya ke sofa. Ia melepaskan kemeja kemudian menciumi Rayya. Kening, mata, pipi, rahang, kedua bibir, leher, pundak dan… kedua gumpalan tepat di dadanya. Rayya melenguh….
“Ma…s!” tuntutnya.
Daud terus bergerak menyentuh perempuan itu jengkal demi jengkal, mengabsennya nyaris tanpa luput satu senti pun. Antara mabuk, mual, gairah, sesak… datang satu per satu.
“Ma…s!” pekik Rayya meminta lebih. Ia bersiap untuk menarik Daud, memberi ciuman yang lebih dalam ketika sebuah suara berisik di pintu kembali menyadarkan Daud.
Seseorang menekan bel berkali-kali. Kemudian terdengar gebrakan-- gedoran keras.
Daud masa bodoh! Ia memilih membiarkan siapa pun itu yang mungkin membawa berkas apa pun… tidak boleh merusak pernikahannya. Malam itu, ia akan melakukannya. Ia dan wanita itu harus mengesahkan pernikahan mereka di atas ranjang saat itu juga!
Rayya menjerit ketika kesadarannya nyaris pergi. Antara serangan gairah, nikmat, beserta rasa ingin tahunya beradu. Tamu di pintu masih mengetuk, memencet bell, menggedor… seperti ingin mengganggu mereka.
“Ma…s. Ma..s! A…h! Ap… k… a… mu…h ya…kin… kahmuh… nggak nunggu seseora…! Astaga!” pekiknya ketika ia melihat Daud mulai menurunkan celananya.
Daud makin pening. Kesadaran menipis, bersama mual, beserta gairahnya itu mengambil alih kewarasannya. Ia nyaris melepas seluruh pakaian ketika mendengar seseorang merusak pintunya. Terdengar nyaring bahwa di luar ada yang melepaskan sekitar dua buah tembakan.
“Mas!” Rayya tegas, mendorong pelan suaminya.
Kawarasan lelaki itu perlahan kembali. Ia menatap wanita yang ada tepat di bawah tubuhnya. Ia bahkan tidak percaya apa yang baru saja ia lakukan. Banyak bercak warna merah di tubuh Rayya. Ini mungkin pengaruh minuman.
Benar dia melakukannya?
Daud berdiri, melapaskan tubuh berusaha menjaga kesadarannya. Ia memilih untuk melangkah ke arah pintu, menjauhi Rayya. Dalam satu gerakan ia membukanya. Apa pun yang memang perlu terjadi, terjadilah. Ia bersiap untuk menerima tembakan atau apa pun, namun… kosong dan tidak ada manusia siapa pun. Tidak satu makhluk pun ditemuinya. Ia membungkuk waktu menemukan dua butir peluru beserta berkas dalam amplop cokelat.
Daud mengintip isi amplop itu ketika Rayya menyentuh pundaknya.
“Mas….”
Ia nyaris mengeluarkan sebuah kertas ketika Rayya memeluknya dari belakang.
“Pergi! Pergi!”
“Mas?”
Daud mendorong Rayya, kemudian mulai berlari ke arah ruang kerjanya. Ia menuju tepat ke mesin penghancur kertas. Bagaimanapun, Rayya tidak bisa mengetahui kenyataan itu, tidak boleh! Ia sudah berjanji kalau ia akan membawa rahasia itu selamanya.
Ia kembali ingat percakapannya dengan lelaki itu tadi. “…kalau lo nggak ada di sini, Rayya mungkin bakalan nikah sama gue!”
“What the!” Daud mulai mengumpat ketika seseorang melangkah masuk.
“Kamu masih mabuk?” tanya Rayya pelan. Ia menyadari itu ketika pergumulan mereka tadi, tercium bau minuman meyengat.
Daud memandang gelas dalam nampan yang Rayya bawa ketika ucapan pria tadi kembali melintas dalam ingatan. “Dia bahkan putus asa\, memesan sebotol besar obat per*ngs*ng cuma supaya lo berani nyetuh dia! Dia pikir kalau kesalahan ada sama dia. Mungkin dia yang kurang cantik atau kurang mengg*irahkan. Tapi nyatanya malah lo…! Suaminya ini yang sebenarnya kelewat pengecut untuk menyentuh istrinya sendiri!”
Daud menebak-nebak. Mungkin gelas itu berisi….“Pergi!” teriaknya.
“Mas…?”
“Keluar sekarang kalau kamu nggak mau saya pergi… dari rumah ini!”
Beberapa waktu kemudian… Daud mengetahui bahwa ternyata proyek yang ia sombongkan, bisa mendapat banyak keuntungan karena Rayya diam-diam negosiasi dengan para pengembang, melakukan berbagai cara untuk menolong lelaki itu agar tidak malu dan menelan kerugian milliaran rupiah.
Daud menghirup napas sedalam, sebanyak mungkin. Begitu kesadarannya mulai kembali, ia melompat berusaha keluar dari mobil, membuang setumpuk luka, memori masa kelam. Ia kembali tersadar kalau masa-masa itu sudah pergi.
Ia mulai membenahi kehidupannya. Ia sekarang menikahi wanita lain. Benar… Rinai… istri baru yang tadi sore nyaris ia ceraikan.
“Aaagh!” Daud memekik lalu memukul mobil, menggebrak pintu. Ia mulai memukul, meninju kaca mobil ketika seorang security mendekat.
“Pak…apa anda baik-baik saja…”
“Pergi! Pergi!”
Security itu berusaha menghubungi seseorang melalui ht-- radio panggil.
Daud terus berusaha memukul mobil lalu memecahkan kacanya. Terdengar suara yang nyaring ketika benda itu pecah, berkeping-keping. Daud terus mengusir petugas keamanan. Orang-orang mengerumuni mereka.
Ia berpegangan pada pintu mobil, mengabaikan buku-buku tangannya telah memerah berdarah. Daud meluruh, merosot, bersimpuh di lantai. Ia memekik histeris, tersedu-sedu. Orang-orang berdatangan, mengeluarkan ponsel-- merekam kejadian itu.
“Permisi… permisi!” teriak seorang perempuan membelah kerumunan. “Ya ampuun… Tuhan!”
Dari sela bulir air mata yang menutup penglihatannya, Daud mendapati seseorang… melangkah mantap tanpa ragu kemudian bersimpuh. Wanita itu berpakaian sederhana, sebuah daster yang berwarna oranye cerah… secerah sinar matahari, bergambar beruang madu.
“Nggak apa-apa,” bisiknya. “Aku datang, Mas. Nggak apa-apa udah ada aku di sini,” imbuhnya, memberi pelukan erat. Ia mengecup pelan kemudian mengulang-ulang kalimatnya.
Daud memeluknya begitu erat. “Tolong… beritahu saya bagaimana cara melupakan Rayya?”