
Rayya menatap ke arah Shanaz kemudian meremas pinggiran meja bar.
"Mau saya teleponkan dokter atau kita ke rumah sa...."
"Nggak, nggak usah," sahut Rayya cepat, kemudian menggeleng. "Saya udah nggak apa-apa."
Shanaz melirik kemudian mengerjap. Apa benar bosnya sudah normal lagi? Maksudnya, wanita itu tadi nampak seakan mengalami shock karena sesuatu yang... Shanaz tidak tahu pasti.
Rayya kemudian berdiri, melangkah dari dapur ke arah sofa. Ia kemudian merebahkan punggung. "Kamu dari mana?"
Shanaz melangkah cepat mendekati Rayya. "Dari bawah."
Rayya mengernyit. "Ngapain ke bawah?"
Shanaz meringis. "Tadi saya olahraga."
Rayya menatap heran. Ia tengah bermimipi? Wanita seperti ini mau olahraga dengan rela hati, suka cita? Kalau ini bukan mimpi, mungkin telinganya yang salah.
"Kan sekarang car free day, Miss."
Rayya menghela napas. "Kamu itu bukan mau olahraga, paling kamu numpang jajan sambil cuci mata, iya, kan?" cibirnya.
Seingat Rayya biasanya kalau hari libur, taman apartemen ramai. Banyak para penghuni keluar. Anak-Anak ramai bermain di taman. Banyak penghuni ekspatriat-- orang asing yang juga keluar beolahraga. Sebagian pergi ke pusat kebugaran, sebagian ikut bersantai di taman, satu dua yang nekat, ikut mencicipi beraneka jajanan di pinggir jalan bergabung dengan warga asli.
Rayya menatap ke arah asistennya. Mungkin tadi harusnya ia ikut Shanaz ke bawah. Wanita itu bisa bersantai di taman sambil cuci mata. Kalau beruntung, ia bisa berkenalan dengan orang asing lalu menjalin hubungan baru.
Wanita itu menghela napas. Ia melupakan hal paling penting. selama Ibrahim Busro masih ada, maka Rayya tidak bisa pergi dari keluarga ini. Apa sebenarnya yang Ibrahim Busro inginkan darinya? Apa Rayya benar-benar harus mengikuti setiap kemauan lelaki itu? Apa Ia benar-benar tidak bisa membebaskan diri sebelum Ibrahim Busro....
Astaga!
Ia lagi-lagi memikirkan-- berharap keburukan untuk dilimpahkan Tuhan pada Ibrahim Busro. Itu malah makin membuat Rayya... merasa ia telah menjelma menjadi orang tidak tahu malu, tidak mengerti cara berterima kasih, tidak tahu diuntung.
Ya Tuhan... rencana macam bagaimana lagi sih yang dimiliki lelaki itu?
"Miss belum makan, kan?"
Rayya menoleh ke arah asistennya itu. Shanaz membawa sepiring makanan. Wanita itu bergegas meletakkannya di meja depan sofa.
Rayya mengernyit melihatnya.
"Itu batagor campur siomay. Satu telur, satu batagor kering, satu siomay, dua kentang, dua tahu, tiga kubis, tiga pare, sedikit bumbu kacang, kecap, sambal."
Rayya menatap datar ke arah piring.
"Miss nggak suka makanan penuh lemak, kan? Makanya saya banyakin kubis sama pare. Makan dulu, Miss, katanya Miss kan mau move on," tukasnya kemudian meringis.
"Move on butuh makan, butuh tenaga. Nggak bisa cuma pakai niat." lanjutnya.
Rayya menghela napas, kemudian mengambilnya. Ia menatap ke arah Shanaz. "Tolong kamu bawain minuman saya."
Shanaz mengangguk cepat. Ia melangkah menjauh, mengambil lemon tea, minuman Rayya. Ia kemudian berinisiatif untuk berbelok ke arah kulkas, mencari sesuatu.
Matanya menatapi berbagai macam ragam air mineral berjajar rapi di satu rak lemari pendingin. Shanaz mengambil cepat, kemudian setengah berlari kembali ke ruang tengah. Ia pikir mungkin Rayya memerlukan air oksigen. Setidaknya menambah kandung oksigen, mungkin membuat pikiran Rayya lega, segar.
Ia letakkan barang tersebut di depan Rayya. Wanita itu masih sibuk mengunyah makanan. Rayya kelihatan tidak bersemangat. Namun, ia terlihat nyaman menyendok pare ke mulutnya.
Shanaz bergidik. Ia bingung karena Rayya, lebih memilih memakan pare, dibandingkan batagor beserta siomay.
"Ini nggak terlalu pahit," tukasnya ketika ia melihat Shanaz melongo mengamatinya memakan pare. "Kalau nggak percaya... kamu cobain.'
"Nggak deh makasih, Miss," tolaknya cepat. Ia tidak menyangka ada pecinta sayuran, seekstrem bosnya.
Shanaz memilih kembali ke dapur, mengambil bungkusan plastik lain. Ia kemudian mengudap jajanan lain yang tadi dibelinya. Ia memilih untuk ikut duduk bersebelahan dengan Rayya.
Mereka memandang lurus ke arah balkon. Matahari makin terik. Atasannya itu lagi-lagi menghela napas.
"Di bawah masih ada?"
Shanaz mengernyit. "Batagornya?"
Shanaz menggeleng. "Ini udah tengah hari, udah bubar, Miss. Kenapa? Miss mau turun kah?" tanyanya semangat. "Mau cari makanan lain? Saya anter yuk."
Rayya menggeleng cepat. "Mau cuci mata. siapa tahu saya ketemu orang asing yang nggak takut sama Ibrahim Busro terus nekat mau ngajak nikah. Paling nggak ketemu pegawai... yang kerja di kedutaan seberang sana. Nanti dia ngajak saya pindah negara, pindah kewarganegaraan,"
Shanaz menghela napas. Siapa kira-kira yang berani mengajak Rayya nikah? Begini, bahkan seisi Embassy-- kantor kedutaan yang di miliki negara adi daya di seberang jalan, sudah tahu keluarga Busro, mereka semua mengenal siapa atasannya tersebut.
Shanaz tiba-tiba memahami posisi plus kerumitan nasib Rayya. Ia bukannya tidak mau move on. Selain memang traumanya belum sembuh total, Ia pun bingung mau menjalin hubungan baru dengan siapa? Semisalnya pun bertemu lelaki nekat, atau lelaki yang belum mengenal keluarga Busro-- orang negara lain, misalnya. Kalau nanti Ibrahim Busro menolak hubungan itu, mereka bisa berbuat apa?
Ternyata ini yang membuat Rayya kesulitan untuk melupakan pernikahannya. Bukan sekadar masalah melupakan, mau mencari pengganti mantan suaminya pun, tidak segampang itu. Bukan cuma bibit bebet serta bobot, Ibrahim Busro pasti sudah menyiapkan puluhan syarat... tidak mudah tentunya, untuk meminang wanita itu.
Rayya merasa panas. Mungkin ini karena makanannya sangat pedas. Rayya pikir tadi sambalnya memakai cabai biasa, ternyata makanan itu menggunakan cabai rawit.
Astaga!
Ia mulai keringatan. Ketika melirik ke samping, asistennya pun berpeluh. Wanita muda di sampingnya itu terus mengunyah makanannya, tanpa mengkhawatirkan pipi yang terkena bumbu saus atau rambut yang lepek. Rayya mendadak gemas.
"Coba kamu telepon Jeng Ayu.'
Shanaz menoleh. Wanita itu berusaha mengingat-ingat dari banyaknya teman, sosialita, partner, relasi, kenalan bisnis yang dimiliki Rayya, ia ingin menghubungi Jeng Ayu, siapa?
"Tanyain deh, kalau kita treatment sekarang, masih bisa?"
Shanaz pun paham. Rayya memintanya untuk menghubungi costumer care Kanjeng Putri Wilujeng Ayu... Jeng Ayu, beauty center langganannya.
Pusat perawatan beserta kecantikan itu dikelola oleh keluarga besar Mangkubegjan, masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Trah Mangkumulyo. Sedangkan Trah Mangkumulyo sendiri, beberapa keluarga mereka, menikahi keluarga Busro. Mereka memiliki hubungan bisnis dan pertnership tersendiri.
Spa sekaligus pusat kecantikan langganan Rayya, konon mereplikasi perawatan ala Puteri-Puteri kerajaan sejak masa lalu. Konon bahkan bahan perawatan mereka menggunakan resep turun temurun. Meski memang untuk teknologi, mereka mengupgrade dengan peralatan kekinian. Namun, tetap kualitas bahan berserta resep yang digunakan, asli dan telah teruji puluhan tahun. Hari libur begini, tempat itu biasanya sudah penuh oleh kalangan ningrat untuk treatment.
Rayya berdiri, membiarkan Shanaz menghubungi tempat spa mereka. Ia melangkah ke arah dapur, meletakkan gelas beserta piring kotor. Ia berniat mencucinya. Biasanya kalau ia memasak, asistennya bertugas untuk mencuci piring. Rayya tidak mau menumpuk piring kotor. Sekalipun Bibi mengatakan supaya membiarkannya, namun wanita itu merasa kelewat sakit mata kalau membiatkan wastafel penuh dengan cucian. Karena tadi ia sudah ditraktir Shanaz, maka ia berniat mencuci piring sendiri.
"Miss, katanya udah penuh. Kalau mau pun, pasti pulangnya malam banget. Gimana?"
Rayya membasuh piring menggunakan sabun. Ia menyalakan keran sambil menimbang kemungkinan lain. Wanita itu menatap ke arah pintu, letaknya persis berseberangan dengan kitchen island.
"Lagian, kenapa tiba-tiba? Biasanya kita itu reservasi minimal satu hari sebelum perawatan, kan, Miss?" tanya Shanaz bingung.
Rayya menaruh piring ke rak peniris, kemudian mengeringkan tangannya. "Karena ternyata, move on bukan cuma perlu tenaga, tapi juga wajib bersih lahir batin," jawabnya kemudian mendengkus. "Gimana saya bisa sukses kalau kita berdua, kucel bersamaan."
"Kok... saya ikutan?" protes Shanaz cepat.
"Kan kamu tinggal bareng sama saya, kamu mondar-mandir terus di depan saya. Makanya, kamu itu bisa memengaruhi mata dan mood."
Shanaz mengangguk beberapa kali sebagai tanda menyetujui pemikitan atasannya. "Terus gimana? Miss mau tetap nyalon?"
Rayya menggeleng. "Saya mau berendam aja pakai bathtub. Tapi nanti, setelah makan itu sebaiknya nggak langsung mandi. Kurang baik."
Shanaz kembali mengangguk-angguk. "Terus Miss mau ke mana?"
Rayya melangkah mendekati sebuah ruangan lalu... ia menatapnya beberapa lama. Sudah satu tahun kira-kira ruangan itu tertutup. Kadang Bibi membuka sekadar membersihkan . Setelah itu tidak boleh satu orang pun masuk ke sana, tanpa seizinnya.
Rayya menggenggam kenop pintu lalu membukanya cepat. Shanaz melongo. Kenapa bosnya mendadak membuka pintunya? Bukankan itu merupakan ruang kerja mantan suaminya? Ruang tempat di mana mereka bertengkar, lebih tepatnya, itu ruang yang Daus masuki tepat di malam Daus pergi dari apartemen?
Rayya membuka lebar, kemudian membiarkan udara bertukar. Pengap terasa menyesakkan. Ia mulai menyusun progam, mempersiapkan langkah untuk move on.
"Miss mau... ke sana?"
Rayya mengangguk mantap.
"Tapi kan...."
Rayya tersenyum. "Saya perlu mengobati luka masa lalu, kan? Kalau tidak berani membuka memori kelam di kepala saya, bagaimana bisa move on?"
Shanaz mengangguk paham.
"Asal kamu tahu, move on bukan cuma butuh tenaga dan bersih lahir batin, tapi move un pun perlu niat serta... keberanian." Rayya membuka kedua pintu makin lebar, membiarkan ingatan kelamnya menyergap satu persatu.