His Virgin Ex Wife

His Virgin Ex Wife
Pertukaran



Wanita tersebut menemukan keanehan ketika membuka pintu ruangan. Plakat nama yang ada di atas meja menuliskan sesuatu yang asing: Tsurayya Busro-Direktur Strategi dan Operasional.


“Pak, ini kenapa?” tanya Rayya begitu lelaki tua itu datang.


Pria itu tersenyum dingin. Tangannya menenteng beberapa lembaran kertas yang dijilid rapi. “Nona perlu menandatangi se--”


“Pak Han, ini kenapa malah saya sih yang harus jadi direktur Operasional, Pak? Seharusnya ini jabatan Mas Daus. Kenapa malah….”


“Itu keputusan Tuan Ibrahim, Nona. Saya cuma menjalankan perintah,” sahut lelaki itu cepat.


Rayya mengerjap lalu berpikir cepat. “Ya, ini mungkin memang keputusan kakek, tapi… kenapa? Maksudnya, ini Direktur Operasional loh, Pak. Kenapa saya yang harus menjabat? Saya ini kan cuma sekadar cu--”


“Maaf Nona, saya tidak tahu. Tugas saya hanya meminta Nona menandatangani ini,” tukasnya menyela keluhan Rayya. Bagi Handoko, untuk mengamankan masa depannya, ia tidak mau repot masuk ke dalam politik perusahaan. Ia paham betapa masa lalunya begitu kelam. Maka, waktu Ibrahim Busro menawarkan pekerjaan, memberinya kesempatan untuk membuat hidupnya semakin baik, ia tidak bermain-main dengan tawaran tersebut.


Sekalipun ia tidak berniat untuk serakah dan masuk ke dalam perebutan kekuasaan di keluarga ini. Karena bosnya paham kalau pertengkaran itu kelewat menyusahkan, maka Ibrahim Busro mengetatkan puncak kekuasaan. Saat ini, perusahaan yang telah dirintis orang tua Ibrahim bertahun-tahun dulu, dijaga dengan meminimalkan kursi direksi. Ia tidak mau keluarganya kelak mengganggu kewenangan cucu-cucunya maka, saham terbesar beserta kursi kekuasaan hanya ia berikan kepada Handoko, sekretaris namun memiliki wewenang layaknya wakil direktur-- sebagai orang kepercayaannya dan kedua cucunya… Daus dan Tsurayya Busro.


“Mas Daus tahu soal ini?” tanya Rayya tidak nyaman.


“Ya, Tuan Daus mengetahui perihal ini.”


“Sejak kapan?” tanyanya lagi tidak sabar.


“Sejak senin kemarin, Tuan Daus telah mengetahui perubahan ini langsung dari Tuan Ibrahim.”


“Senin?” ulang Rayya. “Mas Daus masuk dari senin kemarin?” tanyanya lagi.


“Iya, Nona. Tuan Daus masuk kerja dari senin kemarin,” jawab Pak Handoko tenang.


Pikiran Rayya bercabang ke mana-mana. Bagaimana bisa mantan suaminya itu masuk tepat dua hari setelah pesta pernikahannya? Dulu, ketika mereka menikah setidaknya… meski lelaki itu tidak benar-benar menyentuhnya di ranjang dan membatalkan rencana bulan madu, namun mereka memilih untuk melewati waktu satu pekan untuk sekadar berbincang-bincang di rumah.


Setidaknya Daus tampak lebih nyaman dengan Rayya daripada istri barunya. Demi Tuhan, lelaki itu masuk kerja, berselang dua hari setelah melangsungkan pernikahan?! Rayya bertanya-tanya apa mungkin lelaki itu secepat ini bosan dengan istri barunya?


“Proposal ini--”


“Biar saya bicarakan dulu sama Mas Daus,” ucapnya menyela lelaki itu. Tangannya menjulur memberi kode agar orang kepercayaan Ibrahim itu menyerahkan berkas tersebut. “Nanti setelah berdiskusi sama Mas Daus, ini akan saya kembalikan,” tukasnya tegas.


Lelaki itu tersenyum datar. Tsurayya ini memiliki sifat mirip dengan Ibrahim. Ketika ia telah memutuskan sesuatu maka ia tidak ingin dibantah. Pak Handoko menjadi saksi ketika beberapa kali mereka beradu argumen dalam rapat, membuat aura mencekam di antara para pegawai. Ketika itu, bernapas pun terasa sulit.


“Baik, Nona,” sahutnya sambil menyerahkanya kepada Rayya. “Saya berharap berkas itu ditandatangani sebelum sore ini,” imbuhnya sebelum melangkah pergi. “Permisi.”


Tepat ketika lelaki itu keluar ruangan, Rayya memandangi tumpukan kertas di tangannya. Jelas tertera namanya pada halaman paling belakang. Tercetak di sana: Direktur Strategi dan Operasional, Tsurayya Busro.


Sekitar beberapa hari lalu, ia sempat melihat kertas-kertas ini di mejanya. Waktu itu, ia menjabat sebagai Direktur Keuangan dan nama yang tertera di berkas itu adalah Daus Busro. Ia ingat kalau ia perlu bertemu dengan Daus untuk meminta tanda tangannya sebelum dikembalikan kepada bagian manajemen pabrik. Tapi ia malah menemukan ruangan kosong. Daus mengambil cuti untuk persiapan pernikahan.


Ia nyaris hapal isi di dalam berkas itu karena ia sendiri pernah mengoreksi laporan proyeksi penggunaan kas bulan depan. Karena ia tidak mudah percaya dengan orang lain, maka ketika masuk ke perusahaan ini, Tsurayya dan Daus membuat sistem keuangan terintegrasi. Laporan keuangan ini akan mudah untuk dilacak karena dalam digitalisasi keuangan perusahaan, setiap angka terkait satu dan yang lain. Maka bila terjadi kesalahan input satu angka saja, laporan tersebut langsung berubah hingga ke buku besar. Dari situ mereka mudah melakukan investigasi ketika mencurigai sesuatu.


Kenapa Ibrahim menggeser posisi mantan suaminya? Satu pekan lalu Daus masih menjabat sebagai Direktur Strategi dan Operasional namun setelah pernikahannya dengan wanita yang baru, ia dipindahkan menjadi Direktur Keuangan. Kenapa Ibrahim tega kepada cucunya itu?


Posisinya memang masih menjadi Direktur namun, semua anggota keluarga ini mengetahui kalau Direktur Strategi dan Operasional lah yang akan menggantikan Direktur Utama alias Ibrahim Busro nanti setelah ia pensiun. Sewajarnya, ia memilih cucunya sendiri sebagai penerus perusahaan ini. Tapi kenapa ia malah mengganti jabatan Daud dengan Tsurayya? Maka ia tidak heran kalau keluarga Busro di luar sana menjadi semakin kesal dengannya. Ia itu cuma cucu yang Ibrahim pungut dari panti asuhan entah di mana.


Ibrahim menutup kesempatan para keluarga Busro untuk memperebutkan kekuasaan. Memang Ibrahim berkuasa untuk itu mengingat ia adalah pewaris tunggal dari orang tuanya dulu. Kerabat Busro yang lain hanya sepupu Ibrahim. Mereka tidak memiliki kepentingan langsung di perusahaan ini. Kemudian, anak tunggal Ibrahim-- orang tua Daus… karena melakukan kesalahan entah apa, diasingkan ke negara nunjauh di sana.


Benar! Tsurayya baru menyadari kalau di pernikahan Daus kemarin, Mama dan Papa-- orang tua mantan suaminya tidak muncul. Ibrahim pun waktu pesta itu tidak datang. Lelaki itu malah mendadak menghampiri Rayya di hotel tiga tingkat, menaiki tangganya satu per satu hanya untuk menemuinya.


Detik itu ia menyadari kalau ada yang salah dalam pernikahan Daus. Ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Ada berbagai teori konspirasi dalam keluarga ini yang belum ia pahami. Namun satu hal yang ia tahu pasti kalau… Ibrahim Busro akan selalu memihaknya.


Dengan santai wanita itu melenggang ke arah ruangan mantan suaminya. Asistennya bahkan bingung ketika menemukan Rayya berubah cerah saat bertemu di meja depan sekretariat. Ia bahkan tersenyum kepada para karyawan di kubikel ujung dekat ruangannya. Beberapa pegawai menebak-nebak kenapa atasannya mendadak bahagia seperti ini. Sebagian dari mereka mengatakan kalau mungkin Rayya punya siasat agar bisa rujuk dengan Daus. Sebagian lain berpikir kalau mungkin wanita itu menemukan lelaki lain.


Wanita itu tetap masa bodoh. Rayya mengabaikan para pegawai di belakangnya yang sedang bergunjing. Otaknya dipenuhi berbagai kemungkinan rencana masa depannya bersama Daus.  Kalau lelaki itu tidak secinta itu dengan istri barunya, kalau Ibrahim memberi Rayya kesempatan untuk berbaikan dengan mantan suaminya, maka ini harus dipergunakannya sebaik mungkin. Ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan untuk kembali memiliki Daus sebagai suaminya.


Kali ini ia harus pastikan kalau ia tidak akan bercerai dengan Daus Busro. Bagaimana pun caranya ia akan mengambil kembali mantan suaminya itu  dan mempertahankan rumah tangganya. Rayya tahu bahwa mereka harus berdamai.