
Ketiganya lalu terdiam. Arsa dan Dhita menelaah cerita Rayya, sedangkan sebagai pencerita, Rayya cuma menghela napas. Cuma memberi penjelasan pun, ia merasa lelah. Apalagi tadi pagi ketika mengalaminya sendiri.
"Beneran, Mba? I mean... how come? Kakek Ibrahim itu kepalanya nggak kepentok apa kan?"
"Dhita...."
Wanita muda itu menatap Kakaknya yang baru saja menegur. "Maksudnya... gini Mas... kan Mas tahu kalo Kakek Ibrahim curigaan, kelewat hati-hati, over protektif banget. Kenapa bisa gampang banget percaya sama orang baru?"
"Ya mungkin karena Kakek nganggapnya kayak saudara. Kan Iman ini abangnya istri baru Mas Daus," sahut Rayya.
Dhita mengernyit. "Tetep rada aneh, Mba... creepy malah, spooky," gumamnya pelan.
"Dia bukan setan. Kamu pakai bahasa yang agak bagus napa, Dhit?!"
Dhita mendelik ke arah Arsa. "Kan beneran, Mas. Si Iman ini nyeremin sih. Dia itu ilmunya apaan kok bisa bikin Kakek Ibrahim gampang percaya?"
Rayya mengangguk-angguk. "Dia ini tadi pagi ketemuan sama Zahra di depan kantor," tukas Rayya mengingat kejadian saat pagi, ketika tiba di lobi.
Dhita kembali mengernyit. "Zahra... siapa?"
"Zahra Bawazeer, anaknya Ahmed Ibnu Bawazeer. Teman ibu dan ayah Mas Daus," ucap Rayya.
"Yang ponakannya sese-Emyr, Mba?"
Rayya mengangguk. "Iya, yang waktu dulu Mba nikah dia datang sama orang tuanya."
"Gokil! Serius ini Mba... Iman ini bukan orang sembarangan. Tapi... siapa sih kok kayaknya dia belum pernah gabung di grup kita, ya?"
Arsa kembali merebahkan punggung ke sandaran sofa. Ia menghela napas mendengar perkataan adiknya. Mungkin benar dia itu sepertinya bukan orang sembarangan.
"Mas pernah kenal sama... dia? Si Iman... Iman tuh?" tanya Dhita.
Rayya menatap tajam, memerhatikan gerakan lelaki itu.
Arsa menggeleng pelan, ragu. "Kayaknya... belum sih. Ini Iman yang mana? Maksud Mas, banyak orang yang namanya Iman. Ini... Iman siapa? Nama lengkapnya tahu?"
Rayya terdiam. Ia mengernyit, berusaha mendobrak ingatan mengenai Iman. "Kalo waktu kenalan, dia cuma bilang... Iman... Sulaiman."
"Mba pernah kenalan? Maksudnya... kenalan kayak bersalaman, kenalan... yang kenalan?"
Rayya menghela napas. "Bukan cuma kenalan, kami malah pernah nyaris adu pukul." tukas Rayya mengeluarkan kekesalannya. Ia menyembunyikan beberapa kenyataan seperti... ia berkali-kali diselamatkan Iman ketika nyaris terjatuh.
Arsa mengerjap. "Dia berani mukul kamu?"
Rayya menggeleng cepat. "Lebih tepatnya, saya malah yang berkali-kali mau mukulin dia."
Iman memejamkan mata sejenak lalu menarik napas. Dengan tenang, ia memikirkan ucapan Rayya. Ia merasa bahwa sesuatu sedang dimainkan, ada sesuatu yang terjadi di sini.
"Mas Daus terima sama keputusan Kakek? Dia nggak nolak atau marah, Mba?" tanya Dhita.
Rayya menghela napas. "Dia tadi buru-buru keluar dari rapat. Mba tadi nyoba ngejar, kayaknya dia marah sih. Tapi Mba ngerasa aneh. Dia kenapa kayak marah sama Mba?"
Dhita mengernyit. "Dia itu udah biasa. Dari dulu pokoknya kalau ada masalah, apa pun itu, bagi dia yang salah selalu Mba Rayya. Toxic dia, Mba," geramnya.
Rayya mengangguk pelan kemudian melirik Arsa. Lelaki itu masih sibuk memikirkan sesuatu. Entah masalah yang mana Rayya belum tahu. Biasanya memang ia sering diam ketika Dhita heboh mengomentari banyak hal. Nanti di waktu kemudian, Arsa lalu membuka suara memberi sebuah jalan keluar sebagai penyelesaian masalah. Dia memang tipe pemikir serius, tidak pernah bermain-main untuk menolong orang-orang di sekitarnya.
Rayya mengernyit mendengar perkataannya.
"Mba mending pergi, Mba tinggalin lah semuanya. Di sini, lingkungannya udah toxic sih, Mba. Apalagi Kakek itu pikirannya mulai nggak jelas. Apa-apaan Kakek nerima orang lain, bukan siapa-siapa dan nyingkirin Mas Daud?!" ucapnya kesal.
Rayya mendengarkan dengan serius setiap ucapan wanita itu.
"Dari masalah kalian, menurutku Kakek Ibrahim tipe orang yang suka ngebuang orang. Sekalipun itu keluarganya, dia nggak pernah ragu membuang mereka."
Rayya terdiam. Dhita benar, Rayya pun berpikir begitu.
"Siapa bisa menjamin kalau nanti... Mba Rayya itu nggak akan mengalami hal kayak Mas Daus, dibuang Kakek?"
Rayya masih diam. Mata mereka beradu pandang, Dhita terus menatap lurus, serius. "Mba mending pindah. Mba gabung ke rumah sakit kami."
"Nggak boleh," sahut Arsa cepat.
"Mas!" protes adiknya keras.
"Mas nggak bolehin Rayya pindah atau pergi dari perusahaan ini."
Dhita menghela napas. "Kenapa?"
"Rayya," tukas Arsa menatap lurus ke arah Rayya. "Kamu... masih ingat bagaimana kamu menderita karena Daus? Kamu masih ingat bagaimana kamu setengah mati berjuang, mempelajari bisnis, bertahan di lingkungan... meskipun memang benar toxic, tapi kamu udah melakukan nyaris semua hal untuk bertahan, kan?"
Rayya tersentak, ia mengangguk pelan.
"Apa kamu udah rela?"
"Ha?" tanya Rayya bingung, merespon pertanyaan Arsa.
"Kamu rela melepaskan semuanya segala perjuangan kamu? Setelah bertahun-tahun kamu setengah mati memperjuangkan posisi kamu, lalu cuma gara-gara Kakek sekarang menyingkirkan Daus, kamu mau ikut pergi?"
Rayya kembali terdiam.
"Kamu bukan wanita naif kan? Kenapa kamu menyerah sekarang setelah semuanya? Kenapa cuma gara-gara Daus pergi kamu mau ikut pergi? Seharusnya kamu senang karena mantan suamimu menyingkir. Anggap lah ini balasan kelakuannya di masa lalu. Kenapa kamu malah merasa mau melindungi mantan suami kamu?"
Rayya mengerjap, mendengarkan perkataan itu. Arsa... benar. Kenapa ia malah kesal sih? Seharusnya ia berbahagia karena Kakek menyingkirkan Daus. Bukannya lelaki itu memang perlu membereskan perbuatannya sendiri? Itu proyek yang sedang memiliki masalah, proyek pilihannya sendiri, kan? Meskipun Rayya berkali-kali menentang, dia tetap berkeras mempertahankan keinginannya yang ternyata bermasalah, kurang perhitungan.
"Kenapa kamu masih mepertahankan perasaan kamu? Kalian udah besar, sama-sama dewasa. Kamu itu... bukan baby sitter, kan? Kenapa kamu merasa perlu membelanya? Udah waktunya bagi mantan suamimu membereskan kekacauan yang ia buat!" ucap Arsa terdengar tegas.
"Ini perusahaan kamu, ini perjuangan bertahun-tahun, Rayya. Kenapa kamu mau melepaskannya?" tanyanya kemudian.
Rayya dan Dhita beradu pandang. Mereka sibuk mencerna setiap kalimat milik Arsa. Ucapannya benar. Kenapa Rayya musti mundur?
"Terus menurut Mas Arsa apa maksud Mas... Mba Rayya ini harus mempertahankan posisinya? Ini... kayak gambling, Mas. Siapa sih yang jamin kalau setelah Mba Rayya bertahan, selalu berkerja dengan sebaik mungkin, Mba Rayya nggak akan mengalami kejadian sama? Disingkirkan... kayak Mas Daus?" protes Dhita.
"Itu sama kayak Mas Arsa nyuruh Mba Rayya kerja rodi. Mending keluar dari sekarang, sebelum Mba tambah lelah lahir batin," imbuh wanita itu.
Rayya mempertimbang kedua pendapat. Dhita benar, tapi... Arsa pun tidak salah. Apa Rayya mau melepaskan semua jerih payahnya?
"Bekerja seperti biasa, Rayya. Cukup bertahan berapa kamu mampu. Kalaupun nanti... semisalnya kamu benar mengalami masalah seperti Daus, misalnya kamu menyerah... dipaksa menyerah," ralatnya.
Arsa menatap lurus, kemudian melanjutkan ucapannya, "Rayya, kalau nanti benar kamu memang tersingkir, setidaknya kamu nggak menyesal. Setidaknya kamu nggak menyerah, nggak semudah itu. Kamu udah berusaha yang semaksimal, sebisa kamu. Kamu... cukup bertahan. Kalau dulu kamu mengalahkan mantan suamimu, kalau kamu berhasil mengalahkan Daus, maka sekarang ini waktunya kamu mengalahkan Iman."