His Virgin Ex Wife

His Virgin Ex Wife
mereka cuma beban



Astaga!


Demi Tuhan…! Rayya mengerjap tepat ketika mendengar lelaki tersebut menyebutkan nama. Bergegas ia beringsut ke pinggir ketika Iman memilih untuk duduk di sebelahnya. Kedua orang itu kemudian memilih untuk terdiam sibuk bergumul memikirkan masalah mereka masing-masing.


“Kamu apa kabar?” tanya lelaki itu kemudian memberi senyum ramah.


Rayya berdecih. Ia bersiap untuk berdiri ketika lelaki menyebalkan di depannya kembali bersuara.


“Saya sudah tahu mengenai masalah video itu,” ucapnya kemudian menghela napas.


Rayya menatap keheranan kemudian mengernyit.


“Kamu… apa kabar?” tanyanya lagi.


“Saya rasa, kita nggak terlalu dekat sampai perlu bertukar kabar.”


“Saya kira, kita ini udah saling kenal… meskipun memang bisa dibilang hubungan kita agak… luar biasa, tapi nggak papa kan kalau saya nanya kabar kamu? Bagaimanapun kita ini bisa dianggap sebagai kerabat.”


Apa dia bilang?!


Rayya cuma memicing malas lantas tersenyum sinis, mencibir. Ia menatap menghina kemudian melirik melalui sudut mata, menilai keberanian Iman yang menurutnya kelewat batas. Ia memilih untuk bergerak cepat lalu berdiri.


Iman mengamati gerakan wanita di sampingnya. Ia tahu betapa Rayya nampak tidak nyaman-- sungguh sangat tidak nyaman. Pakaian wanita itu pun… astaga! Apa barusan tadi terjadi gempa? Apa Rayya berlari setengah sadar kabur dari rumah? Mengingat pakaiannya yang… kelewat Subhanallah… tidak tergambarkan betapa serampangan penampilan Rayya siang ini, berbanding terbalik waktu mereka pertama kali bertemu.


Wanita ini tampak… menyedih-- mengenaskan!


“Ya Tuhan!” pekik Iman bingung ketika mendapati wanita di hadapannya limbung. Dalam satu gerakan cepat, Iman berdiri kemudian menahan agar tubuh Rayya tidak rubuh. “Saya cuma bisa berharap kalau kamu… baik-baik saja,” imbuhnya kemudian menatap lurus sampai membuat Rayya merasa kurang nyaman.


Dua kali bertemu lalu Iman menemukan Rayya kembali dengan keadaan nyaris jatuh. Ia sempat berpikir kalau mungkin Tuhan mengajaknya bercanda. Kenapa ia harus selalu menjadi penolong Rayya? Bukannya Iman tidak mau. Ia sih bersedia menolong siapa pun meski tanpa pamrih, apalagi wanita cantik begini.


Well… bagaimanapun Iman itu lelaki normal. Berdekatan dengan wanita cantik merupakan bagian dari kehidupan laki-laki normal. Tapi ia bingung karena seakan-akan ia diberi tugas oleh Tuhan. Dalam dua kali pertemuan mereka, Iman seperti… harus menjadi penolongnya. Bagaikan prince charming yang diberi mandat oleh Tuhan untuk menyelamatkan Rayya. Membuat wanita itu tidak meluruh-- terjatuh merupakan bagian adegan setiap mereka bertemu. Setidaknya, dua kali ini.


Perempuan itu berbalik menatap nyalang dan tajam. Ia menepis cepat tangan Iman.


“Lagi, nggak ngucapin terima kasih. Apalah saya yang cuma apalah,” gerutunya. Iman membuat ekspresi pura-pura sedih kemudian memelas.


Rayya memilih cuek tak menanggapi perkataan lelaki itu. Ia sekuat tenaga menjaga kewarasannya yang baru saja kembali setelah setengah hari ini tertutup oleh emosi akibat perseteruannya dengan Daus. Apa Tuhan begitu senang mengajaknya bergurau? Kenapa ia harus bertemu dengan lelaki ini? Saat ini? Apa menurut Tuhan, mungkin… kehidupannya sebecanda ini.


Iman terkekeh. “Oke, ucapan saya nggak lucu. Nggak apa-apa kok kalau kamu nggak ketawa. Nggak apa-apa juga kalau kamu nggak ngucapin makasih. Mungkin kamu… lagi nggak baik-baik aja.”


“Excuse me?” Rayya mendelik melihat kelakuannya.


Dia itu kenapa? Sikap sok pedulinya… mirip dengan istri baru Daus. Dua orang itu memang kakak adik, namun Rayya tidak menduga mereka sama-sama mengganggu-- annoyying. Atau… mungkin bagi wanita itu taraf gangguannya malah sudah mendekati disgusting! Ibaratnya, mereka berdua bisa menjadi karakter beban dalam hidup Rayya. Sama-sama membuat berat serta menimbulkan banyak beban di dalam hatinya.


“Saya tahu video itu, Rayya. Saya cuma bisa nebak, mungkin… penampilan kamu yang… Subhanallaah ini… alasannya itu karena, salah satunya gara-gara video itu. Saya nggak bisa bilang nggak apa-apa karena nyatanya Daus, kamu dan adik saya… nggak lagi baik-baik saja. Makanya saya cuma nolong kamu dalam bentuk… ngejagain kamu supaya nggak jatuh. Saya… nggak bermaksud mau kurang aj*r ke kamu,” jelasnya berusaha untuk membela diri meluruskan kesalahpahaman.


Iman mengerjap mendengar suara Rayya.


“Kamu itu kelewat… sok tahu! Tahu apa kamu mengenai masalah saya? Tahu apa kamu soal… perasaan saya?” bentaknya. “Saya… benci dengan orang seperti kamu,” imbuhya. Ia mencondongkan tubuh kemudian menunjuk-nunjuk kasar bahu lawan bicaranya.


Iman terkejut ketika Rayya menarik kerahnya.


“Dua!”


Astaga!


Wanita itu terus mencengkeram polo shirt Iman, membuatnya… memaksanya menunduk untuk menyemakan posisi tinggi mereka, kemudian berbisik… mendesis di telinganya.


“Kamu manusia sok peduli paling sok peduli dari manusia mana pun yang saya kenal! Kamu punya niat apa sama saya? Kamu pikir sikap manis kamu… bisa membuat saya mengampuni kesalahan adik ka….”


“Mba Rayya! Mba Rayya! Ya Tuhaaan! Mba Rayya!”


Rayya melepas cengkeraman ketika mendengar seseorang memekik kencang. Ia melirik kemudian menemukan sumber suara. Wanita itu berdecih lalu melirik malas.


Here we go… again.


“Mba Rayya, Mba kenapa marahin abang?” tanya si pemilik suara melengking.


Rayya menghela napas, menatap tanpa minat kepada mereka. Rinai menepuk bahu Iman kemudian merapikan kaosnya. “Abang nggak apa-apa kan?” Kedua orang itu sibuk sendiri. Adik kakak tersebut kemudian sesaat melepas rindu, berpelukan. Tepatnya, Rinai lah yang memeluk abangnya.


“Mba… saya kan tadi udah minta maaf. Kenapa Mba belum maafin saya dan marah ke Bang Iman, Mba? Kalau memang Mba kesal sama saya, Mba marah ke saya. Jangan bawa-bawa Bang Iman begini.”


Rayya berdecih. Ia melirik ke langit, mempertanyakan maksud Tuhan kali ini. Kenapa ia harus menghadapi scene model ini dalam keadaan sepenat ini? Ia kemudian cepat menatap kedua orang itu. Keduanya nampak berbeda. Lelaki itu bertubuh tinggi, memiliki rambut cokelat gelap dan… bermata biru! Astaga… bermata biru! Sedangkan wanita yang mengaku adik lelaki itu memiliki tubuh mungil-- petite, berambut hitam kelam dan bermata cokelat gelap khas pribumi. Entah Iman yang terlampau mirip masyarakat ras Eropa, atau ia memiliki kelainan karena… bola matanya biru.


“Tadinya saya ingin meragukan hubungan yang kalian miliki,” tukasnya pedas kemudian melangkah mendekati Rinai, menatap nyalang… tajam tepat ke mata Rinai. “Ketika saya menyadari kalau kelakuaan kalian… sama-sama drama begini, saya rasa nggak perlu melakukan… tes DNA. Kalian tahu kalau kalian… kelewat pintar ngedrama. Lama-lama kalian ini bisa menjadi polusi untuk hidup saya! Racun, tahu nggak?!”


“Rayya!” pekik Iman ketika wanita itu tiba-tiba mendorong keras adiknya. “How come, Rayya? Come on how old are you? Tindakan kamu ini bisa disamain sama bullying, ok?”


Rayya menatap nanar, sudut matanya berkedut. Ia terluka waktu mendapati lelaki yang beberapa menit lalu-- meskipun Rayya begitu ketus namun lelaki itu masih mau  menunjukkan rasa pedulinya. Seakan Iman itu baru mengumumkan bahwa ia adalah pahlawan yang akan membantu Rayya melewati hari seberat ini, dikirim Tuhan untuk menyapanya, menanyakan kabarnya yang… tidak baik-baik saja namun malah… berbalik menyerangnya.


Sedikit, meskipun sedikit… Rayya merasa kecewa.


“Come on, Rayya,” ucapnya kemudian menatap miris. Iman lebih memilih membantu memperbaiki posisi punggung Rinai, menjaganya untuk tetap berdiri agar tidak goyang. Dua wanita ini terlihat tidak baik-baik saja. Iman bahkan terkesiap ketika menemukan kedua tangan Rayya mengepal. Wanita itu meremas jemarinya sampai buku-buku jarinya memutih.


“Rayy….”


“Stop!” pekik Rayya melangkah mundur ketika Iman mencoba mendekat. “Cukup! Mulai sekarang, jangan pernah campuri urusan saya lagi. Besok-besok, semisalnya kita bertemu lagi, jangan pernah kalian menyapa saya. Jangan pernah bermimpi,” desisnya kemudian menatap nyalang. “Jangan pernah bermimpi kalau kalian bisa saya maafkan dan menjadi bagian dalam hidup saya!”