
Lelaki itu ingin melakukan gelundungan, gelindingan, kayang, koprol, split, apa pun cuma untuk membuktikan kalau ini bukan mimpi. Ia melirik ke plafon, mungkin sebentar lagi, sebuah confetti terbuka, menaburkan kertas kerlap-kerlip ke penjuru ruangan. Percuma, kenyataanya itu cuma perkiraan di kepala Iman. Langit-langit masih bersih, tidak nampak benda menggantung apalagi confetti warna-warni di sana.
Iman bahkan tadi melirik ke pintu, siapa tahu para pengawal masuk membawa party popper, kemudiam pop! Menembakkan popper beramai-ramai kemudian serentak mereka mengatakan: u've got punk'd-- kamu kena tipu! Impossible-- iman malah tertipu khayalannya.
Lawan bicaranya tetap tenang mengamati reaksinya. Ibrahim Busro berbicara lagi. Seperti menembakkan hattrick, ia mengulang informasi itu.
"Rayya cucu kandung saya."
Iman terdiam lalu melongo. Ia ingin bertanya "how come?" tapi bibirnya tertutup. Ia... sesaat lupa cara berbicara. Beberapa menit ia seakan dihipnotis perkataan Ibrahim Busro.
"Kalau kamu bantu saya, saya bisa menjamin setidaknya pernikahan adik kamu... tidak terganggu, dan tetap baik-baik saja." ucapnya santai. "Kalau kamu menolak, saya bisa tiba-tiba memiskinkan Daus."
Iman mengerjap mendengarnya.
"Kamu masih yakin kalau saya bikin Daus melarat, rumah tangga mereka... baik-baik saja?"
"Adik saya tidak sepicik itu. Dia pasti masih mau menerima suaminya meski mereka...."
"Anak muda....!" tegurnya cepat. "Kamu pikir pernikahan sesederhana perhitunganmu?"
Iman bergerak untuk protes namun, ia tiba-tiba teringat, bagaimana ibunya... bersedia menikahi laki-laki asing, cuma karena bosan miskin. Ia kemudian menyadari, bagaimana bapak biologisnya, meninggalkan Iman beserta ibunya cuma karena ingin menerima warisan keluarganya. Ya... lelaki itu bukan menceraikan ibunya. Ia malah berpura-pura... mengadu ke pemerintah, bahwa ia dijebak orang pribumi, dipaksa menikahinya.
Lelaki itu bisa sebegitu nekat cuma demi membuktikan kepada keluarga di negara asalnya, kalau lelaki itu belum pernah menikah. Maka setelah melampaui persidangan sangat rumit, lelaki itu berhasil... membatalkan pernikahan, bukan perceraian namun pembatalan pernikahan. Bahwa Iman kemudian... dianggap sebagai bayi... di luar nikah, cuma anak haram.
Itu semua cuma karena dunia, harta dan benda. Iman ingin berdebat mengenai kehormatan adiknya namun... ia rasanya tidak mampu melakukan apa-apa? Pada kenyataannya, Rinai bahagia menikahi suaminya. Sementara Iman, mana tahu bahagia adiknya karena apa. Apa memang ia mencintai suaminya karena menyukai kepribadiannya kah? Atau fisiknya kah? Atau kecerdasannya kah? Atau memang benar kalau adiknya bahagia karena saat ini, ia telah berhasil melangkah masuk ke dalam jajaran the crazy rich society?
Iman ingin bilang kepada lawan bicaranya, bahwa Rinai menikahi suaminya karena... cinta. Namun... Iman punya bukti seperti apa? Sekadar meyakini keputusan Rinai pun, Iman tidak berani. Ia berperang bersama pikirannya dalam kepala, kalau misalnya wanita itu tahu bahwa Iman menolak tawaran Ibrahim, membiarkan mereka miskin mendadak, apa adik tirinya masih mau memaafkannya? Seharusnya kalau mereka menikah memang karena saling suka, bukan cuma untuk harta, Rinai tidak mungkin marah, kan?
"Kalau kamu cuma mau mengumpulkan argumen untuk mendebat saya, tidak perlu. Kamu nggak usah ngajarin soal cinta sama saya."
Iman mengerjap menatap lelaki di depannya.
"Saya nggak perlu nasihat kamu atau kisah picisan soal... generasi milenial yang lagi mabuk cinta. Sejarah mengajarkan kalau perasaan nyatanya... bisa dibeli, kesetiaan bisa pudar. Bahkan dongeng-dongeng telah mencatat kalau para perempuan merana, mereka itu cuma bisa selamat kalau bertemu seorang pangeran," tukasnya mencemooh. Ibrahim menarik napas, kemudian tersenyum begitu sinis. "Tidak bisa terbantahkan karena kenyataannya, syarat untuk bisa menjadi pangeran, kamu itu musti kaya raya. Benar, bukan?!"
Iman melengos. Lelaki tua ini benar. Bahkan cerita mencatat kalau Aladdin, baru bisa mendekati seorang putri setelah menjadi orang kaya raya. Sebelumnya, mana berani ia bermimpi mendekati tuan putri?
"Kenapa bisa?" tanya Iman tanpa sadar.
Ibrahim mengernyit. "Apanya?"
Iman mendengus. "Kenapa bisa cucu anda, cucu dari seorang pria seperti anda... bisa tertukar?"
Iman menelengkan kepala, memikirkan macam hukumam seperti apa yang Tuhan berikan kepada Ibrahim Busro. Kalau bentuk hukuman itu adalah menjadi lelaki kaya raya dengan akses keuangan nyaris tanpa batas, rasanya Tuhan begitu baik, kelewatan baikNya. Sang pemilik dunia beserta isinya, memberikan sebuah hukuman semenyenangkan ini. Tuhan mengutuk Ibrahim menjadi pria kaya raya seumur hidup? Iman mendadak tertarik untuk dikutuk.
Astaga!
Astaghfirullaah!
Naudzubillaah!
"Saya menikahi wanita karena alasan cinta. Saya mengabaikan wanita baik-baik pilihan orang tua cuma karena dimabuk cinta. Saya kemudian baru tahu kalau nyatanya wanita pilihan saya picik. Perusahaan keluarga milik saya, nyaris bubar. Sayangnya, saya mendapatkan keturunan sama piciknya. Dia menukar cucu saya cuma karena... masalah warisan."
Ibrahim menghela napas, kemudian melanjutkan kekesalannya, "tadi saya bilang, nggak usah ngomongin perasaan. Saya ini pernah menjadi korban perasaan."
Iman belum terlalu memahami kisah sedih milik Ibrahim. Ia cuma tahu kalau dulu lelaki tua ini salah pilih istri, menolak wanita pilihan keluarganya. Lalu karena kualat, Ibrahim mendapati istri pilihannya merupakan wanita yang picik. Di mana bagian cucunya kemudian tertukar?
"Seseorang berhasil menghasut anak saya\, menakut-nakutinya kalau Rayya\, yang saat itu lahir dalam kondisi kelewat lemah\, bahkan dokter berpikir tidak akan selamat... anak saya menukar Rayya. Anak saya yang b*d*h menukar cucu saya\, darah dagingnya\, cuma karena ketakutan kalau nanti... saya tidak bersedia memberinya hak waris. Dia takut kalau... semisalnya Rayya... tidak bisa selamat\, saya akan memberi kekayaan saya kepada orang lain."
Iman... melongo. Ternyata bapak biologisnya punya kawanan. Iman pikir bapak bilogisnya merupakan laki-laki paling hina, namun... nyatanya dia itu punya kawan sepemikiran. Ia curiga kalau-kalau... mereka, bapak biologisnya bersama anak Ibrahim, berteman. Mengingat mereka itu sama-sama serakah. Kalau bapak biologisnya membatalkan pernikahan, membuat Iman tumbuh sebagai anak haram, maka orang tua Rayya... membuangnya ke panti asuhan, kemudian membuatnya tumbuh sebagai cucu adopsi.
"Kalau kamu berpikir ini luar biasa gila, tapi meski terpaksa mengakuinya, ini memang benar. Daus bukan cucu kandung saya. Saya pun baru mengetahuinya setelah mereka mulai dewasa."
Iman melongo tidak percaya, merasa iba. Setidaknya dulu ia merasakan kasih sayang keluarganya, ia tahu yang mana keluarganya, minimal siapa ibunya. Namun Rayya... ia bahkan belum tahu kalau orang tua kandungnya ada di dekatnya.
Ibrahim Busro terdiam sejenak, kemudian menatap Iman. "Susah payah saya membentuk Rayya, membangun pola pikirnya, menyusun masa depannya. Saya membuatnya tumbuh seperti ini. Tapi perhitungan saya meleset. Nyatanya... lelaki itu kelewat pengecut. Ketika ia tahu kenyataannya, Daus bukannya membalas budi, ia malah memohon agar... dibebaskan. Ia terlalu pengecut, ia tidak tahan memperistri seorang cucu dari Ibrahim Busro. Ia bilang ia merasa nyaris gila! Ia merasa tertekan!"
Iman... merasa kasihan. Wanita itu melewati masa kecil menyedihkan, dibuang di panti asuhan. Begitu Rayya telah dewasa... ia dibuang oleh suaminya karena... ia dirasa terlalu mengerikan? Ya Tuhan!
"Kenapa anda tidak mengatakan kenyataannya?" tanya Iman bingung.
"Terus bagaimana? Saya perlu mengumumkan kepada seisi jagat raya kalau saya punya anak laki-laki yang sontoloyo? Saking sontoloyonya, anak saya menukar anaknya sendiri, cuma karena takut tidak kebagian hak waris?"
What the....
"Saya minta kamu menjaga rahasia kita. Belum waktunya bagi cucu saya mengetahui kenyataannya."
Iman memang ingin menelan kenyataan mengherankan tersebut, mencernanya baik-baik, memercayai kalau ini bukan prank ala Ibrahim, kemudian sesuai permintaan... menyembunyikan rahasianya serapat mungkin, sekadar takut menyakiti Rayya. Namun... bagaimana bisa ia menghadapi Rayya? Bayangan wanita tersebut kembali muncul, waktu Iman menemukannya seperti orang setengah senewen kemarin, tepat di taman apartemen ketika ia menemui Rinai. Bahwa kenyataannya, bahagia tidak bisa semudah itu. Meski Ibrahim berusaha menebus kekacauan yang telah dibuat anaknya, namun tetap... cucunya, Rayya... menjadi korban.
"Kamu mau bekerja sama kan?"
Iman menatap bingung. "Semisalnya memang tawaran ini saya terima dan kita kelak bekerja sama, anda ingat baik-baik, saya melakukan ini karena Rayya. Saya cuma merasa kasihan sama Rayya."