
Rayya mengakui kelemahannya. Nyatanya ia belum bisa kalau berlama-lama berdiam di ruangan kerja milik mantan suaminya itu. Ia memilih mengikuti Shanaz dan keluar. Rayya membawa beberapa pulpen warna-warni dan kertas sticky notes. Ia kemudian berjalan menuju kamar, mengabaikan wajah kebingungan Shanaz ketika mereka papasan sekilas di dapur.
Ia memilih masuk kamar kemudian menyalakan air purifier-- pembersih udara. Buku dalam tangannya berdebu. Meskipun Bibi membersihkan ruang kerja, namun tetap buku-buku yang ada di lemari kelewat sulit untuk dibersihkan satu-persatu. Kalau ada yang bilang aroma kertas lama itu membuat rindu, Rayya bingung. Buku-buku koleksi lamanya… sedikit berdebu. Aroma yang tercium cuma mendatangkan batuk. Rayya takut… ia mendadak bengek bersin-bersin karena polusi debu.
Wanita itu menuju ke meja rias. Ia menarik kursi, kemudian duduk, mengambil tisu steril lalu mengelap sampul dan pinggir-pinggir buku dari serbuk- serbuk udara yang mengotorinya. Berikutnya ia mulai membuka, membaca berlembar-lembar tulisan di dalam buku itu.
Rayya menemukan warna-warni catatan dari proses pembelajarannya bertahun-tahun lalu. Ketika membaca buku, Rayya terbiasa untuk memberi penanda mana-mana saja hal yang penting kemudian menempel sticky notes atau post it.
Buku itu, pada bab pertama mengangkat kisah mengenai seorang perempuan… mantan pecandu alkohol, yang berhasil bertransfromasi menjadi seorang wanita karir. Tadinya ia putus asa. Kekasihnya mencampakannya-- meminta putus, lalu menjalin hubungan dengan wanita lain. Pada satu titik, wanita itu kemudian sukses merubah nasib. Ia termotivasi untuk berhenti dari kecanduan, kemudian memiliki pekerjaan menyenangkan.
Rayya menghela napas. Bab ini bukan kunci dari masalahnya. Ia bukan pecandu alkohol. Tanpa perubahan yang berlebihan pun, Rayya memiliki kesuksesan serta karir cemerlang. Rayya bahkan bisa masuk dalam kategori wanita… sempurna, itu menurut ucapan mantan suaminya. Ia tidak dicampakkan karena memiliki kekurangan, tapi karena terlalu baik. Such a cliche!
Rayya membalik buku beberapa halaman, menemukan sebuah catatan yang pernah ia tempel menggunakan sticky notes mengenai mengidam. Diceritakan seorang profesor neuroscience University Of Cambridge, melakukan penelitian pada sekelompok monyet. Mereka menemukan lingkar kebiasaan, mengidam, begitu mereka menyebutnya.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi siklus aktifitas yang terpola dan tertata, muncullah sebuah kebiasaan. Diawali dari tanda, dalam masalah ini, para peneliti menyalakan lampu. Jika para monyet melihatnya, otak mereka mengantisipasi untuk memunculkan reaksi. Mereka merespon tanda yang diberikan para peneliti dengan melakukan hal tertentu. Setelah itu, mereka mendapat hadiah, berupa minuman yang mereka suka. Mereka mengidam-idamkan hadiah atau sebuah ganjaran.
Apabila mereka tidak mendapat ganjaran atau hadiah seperti biasanya, para monyet akan mengamuk. Seperti itulah yang membuat pola mengidam terbentuk. Karena monyet-monyet itu menginginkan hadiah!
Masalah mengidam pula yang membuat para pegawai perusahaan Protect and Gambling-- perusahaan barang-barang harian seprti sabun, shampoo, pasta gigi, berhasil melakukan penjualan massal, memenangi mayoritas konsumen. Segalanya bisa berawal dari… membuat konsumen terobsesi dengan produk mereka, mengemas iklan begitu memikat dan menarik, epik. Lalu tanpa tersadar, para konsumen termakan hasutan iklan, membuat mereka mengidamkan… hadiah dalam bentuk barang-barang jualan mereka.
Butuh beberapa waktu untuk membuat para kera terobsesi dengan ganjaran. Perlu penelitian beberapa tahun agar para pegawai divisi penjualan memenangi pasar. Lalu Ibrahim Busro… menggunakan waktu bertahun-tahun-- berbelas tahun untuk membuat konsep dalam kepala Rayya, menanamkan keyakinan bahwa wanita itu… menginginkan cucunya, Daud Busro. Membuat alam bawah sadar dalam pikiran Rayya mengidam, menginginkan dengan sangat, bahwa... hal terpenting dalam hidupnya adalah… berhasil menjadi istri Daud Busro.
Rayya mengangkat wajah lalu menatap cermin. Ia manusia, bukan kera atau mamalia lain.
“Miss!”
Rayya mengerjap ketika mendengar pekikan asistenya.
“Ada telpon dari Jeng Ayu. Miss mau ke sana? Kebetulan ini customernya cancel. Kalau mau body treatment, sekarang kita ke sana?”
Ia kembali mengerjap, menatap wanita itu. “Naz… manusia sama kera pintar manusia, kan?”
“Ha?” Shanaz melongo. Demi Tuhan… kenapa lagi bosnya ini?
“Menurut penelitian di Cambridge, kera-kera akan mengamuk ketika mereka… tidak mendapatkan keinginan mereka,” sahut atasannya sambil membaca sesuatu.
Astaga! Buku itu penyebabnya? Tulisan dalam buku itu membuat Rayya makin tidak keruan? Shanaz membatin, mewanti-wanti sendiri untuk menjauhi apa pun koleksi buku Rayya. Buku itu ternyata bisa mencuci otak manusia. Shanaz perlu waspada!
“Manusia lebih pintar dari kera, kan? Seharusnya, manusia bisa menahan perasaan… mengidam. Seharusnya, saya tidak mengamuk ketika kehidupan saya… tidak berjalan seperti semestinya, seperti impian yang saya inginkan. Benar, kan? Seharusnya saya bisa memahami konsep ini sejak dulu.”
“Ha?” Shanaz kembali melongo.
“Setidaknya, saya ini manusia. Saya punya kecerdasan melebihi kera. Saya ini… bukan manusia bodoh. Benar, kan? Kalau saya bilang saya pintar, kamu percaya?”
Shanaz mundur perlahan sambil mengangkat ponsel. “Maaf Mba, kayaknya kami nggak jadi. Mungkin lain kali. Nanti kami buat reservasi kalau kami mau perawatan.”
Astaga!
Wanita muda itu ingin mengatakan, saya tidak tahu… saya ini belum pernah pacaran dengan penjual tahu bulat. Shanaz menghela napas lalu mengamati atasannya, mengintip dari balik pintu kamar yang renggang.
Rayya menatap wajah dari pantulan kaca. Sepertinya ini yang terjadi. Ia tengah… mengidam. Kenyataannya, sepintar apa pun manusia, perasaan mengidam itu sebuah hal yang wajar.
Pola mengidam ini pun pernah diteliti di berbagai universitas lain kepada berbagai pasien. Ada pasien yang ingin merubah kebiasaan buruk, ada pasien yang sekadar ingin memperbaiki kualitas hidup. Mereka memiliki kesamaan. Perasaan mengidam ternyata memiliki pola yang sama: tanda---rutinitas---ganjaran. Segala proses munculnya keinginan-- mengidam, diawali dengan tanda tertentu.
Namun… supaya ia bisa benar-benar sembuh, Rayya mencoba untuk menganalisa pola mengidam yang ia miliki. Kalau ia mau sembuh, seperti pasien-pasien yang lain, Rayya musti cepat mengidentifikasi rasa mengidamnya agar mampu mengatasinya.
Dalam kasusnya, setidaknya selama tahun-tahun belakangan, perasaannya, mengidamkan mantan suaminya, selalu memiliki penanda khusus. Seperti begini. Ia mengalami hari yang kurang baik, katakanlah ia gagal atau merasa insecure karena sesuatu. Ini adalah penanda, awal dimulainya fase mengidam.
Setelah ia bad mood dan uring-uringan, Rayya biasanya melakukan sesuatu. Ia mencari cara untuk mengatasi masalah-masalahnya. Ini merupakan kebiasaan, rutinitas. Terlihat masih baik. Bukankah… mengatasi masalah itu merupakan sebuah terobosan baik? Rayya bisa menjadi sukses seperti sekarang, juga karena kepiawaiannya mengatasi masalah.
Nyatanya, kepandaiannya mengatasi masalah… menimbulkan masalah baru! Ia berpikir kalau ia melakukan segala yang terbaik yang ia bisa, ia akan membuat kakeknya senang. Ini betul. Ibrahim memang bangga kepada Rayya. Wanita itu ingin membungkam musuh-musuhnya yang menghinanya. Ini pun betul karena satu persatu keluarga Busro mengakui kemampuannya. Tapi… Rayya menginginkan ganjaran ketiga. Ia ingin ia mendapat pujian dari Daus Busro.
Mungkin Rayya serakah menginginkan ketiganya sekaligus. Namun… dalam konsep happily ever after versi Rayya, hal itu yang paling penting. Membuat Daus bangga. Sayangnya… ternyata belasan tahun kemarin… Rayya bukannya berhasil membuat Daus bangga dan mencintainya, ia malah membuat mantan suaminya… muak!
Rayya nyaris berteriak! Ia menemukan inti masalahnya! Ia memahami miskonsepsi miliknya. Ia tidak bisa lagi memikirkan hadiah berupa… membahagiakan, membuat Daus Busro bangga. Ia… tidak boleh menginginkan lelaki pecundang itu lagi!
Wanita itu meremas kertas-- sticky notes yang ia pegang. Kenapa sih ia tidak mencari tahu pemahaman ini sejak lama? Mungkin karena kemarin-kemarin, ia masih berpikir kalau kehidupan percintaannya dengan lelaki itu bisa diselamatkan. Makanya, ia tidak berusaha menyelamatkan diri sendiri. Ia masih ingin diselamatkan… berdua bersama mantan suaminya. Astaga!
Ya Tuhan!
Lalu… ia membutuhkan beberapa bulan, sekitar satu tahun untuk mencari sendiri bagaimana cara menyelamatkan diri. Bahwa pernikahannya telah benar-benar dihancurkan oleh Daus dan… satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa bahagianya, Rayya perlu berdamai, menerima kenyataan. Ia tidak boleh menginginkan lelaki itu lagi.
Rayya perlu mencari, memperbarui ganjaran untuk dirinya. Karena kebiasaan hadiah lama sepertinya tidak bisa ia gunakan lagi, iya membutuhkan konsep baru dan perasaan baru. Ia masih bisa merasa senang ketika membuat Ibrahim Busro bangga. Anggaplah sebagai balas budi.
Membungkam para musuhnya pun merupakan kebahagiaan, namun itu terlalu biasa. Rayya sudah biasa mengalahkan mereka. Sepertinya ia membutuhkan pembaruan.
Rayya mencari trofi kemenangan lain, yang membuatnya merasa pantas memenangkan pertandingan, perlawanan untuk bertahan. Ia berpikir keras. Menemukan lelaki lain… bukan sesuatu yang tepat. Lagi-lagi, Ibrahim Busro belum tentu menerima pria yang ia bawa, itu pun kalau Rayya… secepat ini bisa jatuh cinta lagi.
"Tuhan... menghukum saya.” Rayya mengerjap waktu teringat pertengkarannya dengan Daus. Tiba-tiba ucapan itu kembali melintas dalam kepalanya.
"Saya cuma... lelaki tidak berguna.” Lagi-lagi… raut wajah mantan suaminya melintas, berputar-putar di benaknya.
Rayya menatap pantulannya, Ia tidak bisa bertanya apakah ia lebih cantik dari istri baru Daus? Seperti ibu tiri Snow white yang bertanya kepada cermin ajaib. Rayya tidak bisa mendapatkan satu jawaban apa saja… meski ia bertanya berkali-kali kepada pantulan wajah di depannya. Siapa sebenarnya yang lebih pantas menikahi Daud?
"Saya... bisa menikahi perempuan lain, siapa saja tapi... bukan kamu, Rayya.”
Wanita itu mengerjap. Ia menemukan trofi barunya! Ia menemukan, setidaknya sebuah hadiah baru… ganjaran, alasan kenapa ia musti kembali bertahan. Ia tidak lagi menginginkan kebagaiaan mantan suaminya. Sebaliknya, Rayya ingin menunjukkan… bagaimana bisa ia berpikir kalau… Rayya… bisa digantikan oleh wanita lain?
Rayya bertekad, ia akan menunjukkan kepada mantan suaminya, kepada semua yang telah menganggapnya kalah, bahwa… Rayya bahkan tidak dapat digantikan oleh wanita manapun, siapa pun, siapa saja yang bisa ia temui! It is time to turn the table. Membuat lelaki itu berlutut seperti kemarin, adalah sebuah hadiah baru di masa depan Rayya.