His Virgin Ex Wife

His Virgin Ex Wife
Miss, ada Pasukan Konoha menyerang?!



Rayya terlihat memotong-motong setumpuk daun selada ketika asistennya melangkah dari dalam kamar. Rambutnya di bebat handuk. Mungkin asistennya baru saja mencuci rambut. Rayya melirik beberapa detik lalu terus mengiris sayuran berbagai warna.


“Miss masak?” tanya wanita itu basa-basi.


Rayya menghela napas. “Pinginnya saya nyuruh kamu masak tapi, selera kamu itu nggak pas di lidah saya.”


“Sama, selera Miss juga nggak cocok di mulut saya,” sahut Shanaz sambil mencebik. Wajahnya terlihat tertekuk, merana meratapi calon menu cemilannya sore ini. Biarlah atasannya makan seperti ini di sore ini. Nanti malam, Shanaz berniat untuk memasak mi instan yang sudah disimpannya dalam kabinet.


Kalau Rayya mendengar jawaban seperti itu dari orang lain, mungkin Rayya langsung marah, namun… raut muka Shanaz ketika menjawab atau mengatakan sesuatu itu membuat orang merasa tidak kepingin marah. Mukanya menggambarkan jelas kalau memang, jujur… wanita itu tidak menyukai menu yang dikonsumsi Rayya, bukan untuk menghina apalagi menertawai Rayya. Seperti menjawab tidak mau, memang tidak mau. Bukan maksud mau menertawai apalagi menghina. Seperti ditanya, kamu lagi mengantuk atau tidak. Atau… seakan menjawab pertanyaan kamu sudah mandi atau belum.


Selancar itu, sesantai itu, selugas itu, sejujur itu!


Shanaz seakan mendapat ide lain ketika mendengar iklan di televisi. “Boleh nggak Miss kalau saya pesan makanan online? Mulut saya udah pahit cuma ngeliat yang ijo-ijo begini,” tukasnya sambil memelas, membayangkan masakan cepat saji di dalam iklan televisi.


“Nggak, Naz. Kamu nggak menghargai saya? Dari tadi tuh saya udah capek nyiapin ini dan kamu nggak mau makan?”


Shanaz mencebik. Sepertinya ia kembali pada rencana awal, makan mi yang sudah disimpannya untuk nanti malam. “Oke, Miss… nggak apa-apa nanti saya makan masakan itu,” tukasnya lalu berlari ke arah lemari pendingin makanan.


Rayya melirik kelakuan asistennya kemudian mengernyit ketika melihat wanita itu menenteng sebuah kotak dengan beberapa bungkusan aneh yang tersusun di dalam sana. “Sejak kapan barang-barang itu ada dalam kulkas?” tanya Rayya keheranan.


Shanaz mengambil sebuah plastik seukuran bungkus koyo. Wanita itu tersenyum kemudian menatap semangkuk sayuran yang disiapkan Rayya. Wanita muda itu bersiap menyobek bungkusan yang dipegangnya. “Sejak Miss malas makan dan saya harus menghabiskan masakan Bibi. Saya nggak tega ngunyah sayuran yang kadang-kadang cuma disiram air jeruk lemon, Miss,” jawabnya semringah. Ia menyobek plastik merah itu. Di dalamnya ada pasta kental berwarna krem agak oranye--kuning.


“Komposisi lemak mayonaise kan nggak sehat, makanya kamu pakainya jangan kebanyakan. Udah susah-susah bikin salad supaya sehat, tapi kamu campur lemak lagi.”


“Miss, lama-lama… saya berpikir kalau pola makan saya itu dosa banget, ya?”


“Nah!” Rayya memekik kencang. “Itu kamu nyadar, Naz. Saya malah bingung, dengan pola hidup kamu itu kok kamu masih sehat wal afiat sampai sekarang?” tanyanya.


Shanaz mencebik. “Miss pingin liat saya sakit?”


Rayya menggeleng tegas. “Bukan begitu, kamu itu banyak makan keripik, gorengan, chiki dan anti makan makanan sehat begini. Tapi anehnya… kamu masih bisa haha-hihi kayak gini. Nanti berapa bulan lagi waktunya medical check up, kalau ternyata kolesterolmu ketinggian, saya ketawain kamu,” ujarnya gemas.


“Miss tega nyumpahin saya,” rengeknya. Shanaz menghela napas melihat atasannya yang masih serius meramu berbagai macam sayuran entah apa dalam mangkuk.


Suara bel pintu membuat mereka terlonjak. Keduanya menatap bersamaan lalu menebak-nebak siapa orang itu.


“Miss lagi nunggu siapa?”


Rayya mengernyit. “Saya pikir itu nyari kamu.”


Shanaz melongo. “Mana berani Miss kalo saya ngajak tamu ke sini,” jawabnya.


Mereka termenung ketika suara dari pintu kembali berbunyi.


“Bentar, saya coba cek bentar,” ucap asistennya lalu melangkah setengah berlari ke pintu.


Rayya menunggu beberapa menit sebelum kemudian kembali menata sayuran.


“Astaga!”


Wanita itu meletakkan pisau perlahan ketika melihat asistennya berlari ke dapur, lalu menatap ketakutan.


“Hah?” tanya Rayya bingung. Asistennya tadi bilang gimana?


“Di depan itu negara api mau nyerang kita!” pekiknya tertahan.


“Gimana?” Rayya berusaha pelan-pelan mencerna informasi tersebut.


“Miss,” cicitnya lalu menatap ketakutan.


Rayya menghela napas kemudian melangkah ke pintu. Dari layar interkom ia mendapati seorang wanita tengah memencet bel. Rayya mengernyit mengetahui maksud perkataan Shanaz.


“Miss,” racaunya sambil memegangi lengan Rayya. “Kan, ada anak buah Konoha,” imbuhnya.


Rayya melirik malas lalu menghela napas. “Kamu kebanyak nonton kartun,” jawabnya dingin.


Matanya kembali menatap ke layar interkom. Dia menebak-nebak kenapa perempuan itu datang ke sini? Istri baru mantan suaminya, ada urusan apa mendatangi Rayya sore ini?


Ia mengingat-ingat wajah wanita itu. Tidak salah lagi memang dia istri baru Daus. Penampilannya berubah lebih normal dari siang tadi. Kali ini wanita tersebut memakai atasan tanpa kerah dengan manik-manik di bagian leher. Batu-batuan itu akan nampak gemerlap berkilauan ketika terkena cahaya lampu. Rayya belum tahu pasti karena ia hanya melihat dari layar interkom. Bawahannya, seperti tadi waktu di kantor, wanita itu masih setia menggunakan rok mengembang berlipit-lipt meski bukan berbahan brokat.


Perempuan itu menggerai rambutnya dengan poni yang menutupi dahi. Ukuran tubuhnya yang mungil malah mebuat orang mengira kalau dia anak SMA yang meminjam baju ibunya. Antara style yang dipilihnya dengan bentuk tubuh mungilnya itu… agak berlebihan. Badannya itu cuma seukuran anak remaja, seharusnya ia bisa memakai baju berpotongan sederhana agar tidak terlihat kedodoran seperti memakai baju orang lain begitu. Berbeda dengan bentuk tubuh Rayya yang tinggi, membuatnya terlihat bagus memakai baju apa pun.


Wanita itu kemudian memilih pergi lalu membiarkan tamunya di luar. Tidak sedikit pun perempuan itu berniat membukakan pintu. Untuk apa? Rayya merasa tidak ada masalah apa pun yang perlu mereka bicarakan. Lagi pula kenapa perempuan itu berpikir untuk mendatanginya ke sini? Wanita itu mau apa? Apa dipikirnya, Rayya mau mengajaknya makan malam bersama?


“Mimpi apa istrinya Pak Daus main ke sini?” gumam Shanaz.


Rayya menghela napas. “Kalau kamu tanya sama saya percuma, Naz. Sana kamu tanya sendiri dia mimpi apa sampai berani datang ke sini?”


Shanaz bergidik. “Nggak, Miss, terima kasih. Saya masih mau kerja nggak pingin dipecat,” tukasnya kemudian membantu Rayya merapikan makanan.


Rayya membawa mangkunya ke depan televisi. Di depan tidak terdengar lagi bel berbunyi. Shanaz kemudian mampir sekadar melirik ke layar interkom apa pasukan “Konoha” tadi sudah pergi.


“Aman, Miss,” lapornya lalu melangkah ke sofa di samping Rayya. “Kirain dia bakal mencet-mencet sampai kita bukain. Cuma dua menitan lah istri Pak Daus berdiri di situ,” gumamnya kemudian.


“Emang kalau tadi bellnya dia pencet berkali-kali, ntar lama-lama kamu mau ngebukain pintu?” tanya Rayya malas sekedar setengah hati. Ia berani menebak kalau Shanaz pun enggan berurusan dengan wanita itu. Ia kemudian kembali menyibukkan diri-- memasukkan potongan selada ke dalam mulut lalu menonton acara di tv, mengabaikan Shanaz yang sedang mencampur sayur dengan mayonaise.


“Naz, menurut kamu, tadi itu mau ngapain dia ke sini?” tukasnya penasaran tepat setelah asistennya mulai melupakan masalah itu.


Shanaz melongo mendengar pertanyaan Rayya. “Miss, kan tadi udah saya tanya, dia mau ngapain main ke sini. Kok malah Miss nanya saya lagi. Saya sendiri aja nggak ngerti kenapa anak buah negara api berani nyamperin ke sini,” protesnya.


Rayya mengangguk-ngangguk. Kalau dia boleh jujur, Rayya itu memang penasaran namun tidak sepensaran itu. Tapi memang benar penasaran sih meskipun sedikit, tetap rasa ingin tahu masih ada. Kalau tadi kata Shanaz, mimpi apa wanita itu datang ke sini?


“Kenapa tadi Miss nggak mau bukain pintu? Kan bisa tanya langsung ke orangnya mau ngapain ke sini. Siapa tahu tadi dia cuma mau ngajak kita ngerujak bareng,” jawab Shanaz polos.


Astaga!


Apa menurutnya, dengan keadaaan yang terjadi antara mereka, wanita itu masih mau segampang itu mengajak Rayya sekadar mengobrol sambil makan?


“Nggak deh. Saya nggak mau kalau sore ini keganggu sama pasukan negara api kayak tadi,” sahut Rayya tegas.