His Virgin Ex Wife

His Virgin Ex Wife
another theory, move on itu butuh ridho Tuhan



Ia membuat coretan besar di sebuah sticky note, kemudian menempelkan di kaca. Rencananya, setiap ia melihat ke kaca, ntah untuk memperbaiki riasan, untuk mengaplikasikan perawatan kecantikan, atau sekadar merapikan tampilan pakaian, Rayya terus melihatnya, membacanya. Lama-lama, itu menjadi sesuatu yang melekat dalam ingatannya dan menjadi kebiasaan sehari-hari.


Itu merupakan tatanan, alur rutinitas baru yang ia rumuskan. Itu merupakan strateginya. Itu… adalah pelampung-- pertolongan untuk dirinya sendiri. Serangkaian tindakan, langkah-langkah mengenai hal apa atau benefit apa yang harus ia dapatkan ketika ia melakukan sesuatu. Setidaknya, Rayya merasa ini semua segala pencapaiannya tidak lagi sia-sia. Ini bukan tentang membahagiakan mantan suaminya, bukan tentang mencintainya lagi. Kali ini tentang bagaimana ia bisa membuat lelaki itu besimpuh, mengaku kalah, habis-habisan.


Ia meregangkan badan, kemudian berdiri lalu melangkah ke arah pintu. Shanaz nyaris tersungkur mencium lantai ketika bosnya muncul di pintu.


“Kamu sekarang hobi ngintip?”


Shanaz menghela napas. “Saya nggak niat ngintip, Miss. Saya cuma memastikan kalau Miss… nggak terinspirasi buat jadi kera sakti.”


Rayya mendengkus kemudian mengabaikannya. Ia melangkah ke dapur, menuju lemari pendingin. Kali ini wanita itu mengambil sebotol air mineral PH tinggi.


Shanaz mengernyit. Tadi Rayya minum air dengan oksigen, sebagai cara untuk menyegarkan pikiran. Kali ini bosnya minum air berPH tinggi untuk mendetoks racun ditubuhnya. Kalau wanita itu minum air zam-zam setelah ini, Shanaz berani bilang, bosnya mungkin telah bersih jiwa raga!


Rayya menatap ke arah pintu kaca. Matahari di luar kelewat panas. Mungkin, ini tanda betapa Tuhan merestui rencananya mengingat, betapa cerianya matahari kali ini.


Shanaz mengambil satu kotak minuman kemasan, jus buah yang terasa manis dan lebih menarik untuk diminum daripada minuman Rayya.


“Naz!”


Ia berubah menjadi siaga. Mana tahu tiba-tiba, bosnya ini ternyata tengah merencanakan sesuatu yang tidak masuk akal, seperti menanyakan… apakah ada universe lain di luar angkasa?


Astaga!


Ya Tuhan!


“Kamu tahu kan, kalau kita ini butuh strategi untuk move on?”


Shanaz menghela napas. Syukur bosnya tidak menanyakan hal yang tidak masuk di akal seperti saat di dalam kamar tadi.


“Banyak persiapan yang perlu dilakukan supaya berhasil maju,” tukasnya kemudian.


Shanaz kembali menghela napas. Ia telah meminum jusnya, kemudian memilih berdiri. “Setahu saya, move on bukan cuma perlu strategi, tapi juga butuh Ridho dari Tuhan,” sahutnya.


Rayya mengernyit melihat Shanaz melangkah menjauh. “Kamu mau ke mana?”


“Mau mandi, mau membersihkan jiwa raga. Saya lupa tadi belum sholat,” jawabnya cepat. “Saya… mau mendoakan biar Miss sukses move on.”


Rayya terkesiap mendapat jawaban Shanaz, kemudian menghela napas. Ia mengingat-ingat, apakah ia tahu tata cara beribadah? Mengingat… rasanya ia terlalu lama lupa dengan kewajibannya, jangan-jangan ia bahkan lupa bunyi surat Al Fatihah?!


Astaga!


Rayya menghela napas. Kalau Shanaz berniat mendoakannya, apa doanya bisa diterima? Bagaimanapun, Rayya sendiri, si pemilik masalah malah lupa… kapan ia berdoa?


Bergegas Rayya melangkah ke kamar, lurus ke arah kamar mandi. Wanita itu menyalakan air, mencampur air bersuhu hangat dan dingin. Ia mengambil bola kecil berwarna-warni-- bath bomb, sea salt, membubuhkan beberapa tetes minyak lavender, menyiapkan scrub.


Rayya duduk, menunggu bathtub terisi komposisi air yang pas. Sesekali Rayya memercik kulit, meraba apakah panasnya sudah sesuai. Ia mengabsen persiapannya sebelum mandi.


Wanita itu terdiam. Ia kemudian ingat, di buku tertulis kalau perubahan kebiasaan juga butuh keyakinan untuk berhasil. Banyak pasien yang menderita kecanduan alkohol berhasil ketika mereka bergabung, berteman dengan teman-teman yang sangat taat beragama. Shanaz benar, move on pun perlu ridho, perlu mendapat izin Tuhan.


Ia lalu bertekad untuk memperbaiki hubungannya dengan Tuhan. Mungkin ini waktunya memperbaiki ibadahnya yang bukan hanya dilakukan kapan sempat. Rayya bahkan merasa… tidak pernah bisa sempat melakukan ibadah selama ini. Seperti selalu tidak menemukan saat yang tepat sekadar untuk menghamba kepada Tuhan.


 Bergegas ia melepas pakaian kemudian… bersiap membersihkan baik raga dan juga jiwanya nanti. Rayya meregangkan kaki, berselonjor di bathtub. Mulai membersihkan tubuh.


Berikutnya, untuk berhasil merubah kebiasaanya, melupakan impiannya tentang Daus, Rayya memerlukan… sekutu! Sebagian kisah mengatakan kalau… banyak pasien yang gagal karena mereka tidak memiliki pendukung untuk menjaganya tetap dalam track, tidak melenceng bahkan malah mundur ketika menghadai masalah. Rayya memerlukan sekutu, beberapa teman.


Wanita itu berpikir pelan-pelan sekadar memindai, siapa teman yang ia miliki. Saat ini ia memiliki Shanaz. Setidaknya ia tidak sendiri meratapi kesedihan. Namun, Shanaz rasanya belum cukup. Ada waktu tertentu ketika ia memerlukan seseorang yang memiliki strata sosial atas. Mengingat Rayya ini sedang merencakan sebuah balas dendam kepada Daus, mengandalkan Shanaz tidak cukup.


Wanita itu memepuk kening ketika mengingat sesuatu. Bagaimana ia bisa melupakan teman-temannya? Meskipun ketika ia sekolah, ia nyaris tidak memiliki teman, tapi… Rayya memiliki mereka.


“I don’t do friendship,” ucap Rayya waktu itu setiap ia mendapat penolakan dari siswa lain, berusaha berbesar hati karena mereka memilih untuk memihak Daus daripada dirinya. Rayya nyatanya memiliki mereka.


Kalau ia benar-benar lupa, ia akan mendapat nasihat, ceramah panjang lebar. Bagaimana bisa ia melupakan kedua cucu Eyang Ti? Astaga!


Rayya mengangkat tangan, menyambar ponsel yang terletak di pinggir bathtub. Ia mengetikkan sebuah nama, kemudian menghubunginya. Beberapa detik, sambungan tersebut belum terangkat.


“Halo!” pekik seseorang.


Rayya menjauhkan telepon demi kesehatan telinganya. Ia mengernyit waktu menemukan lawan bicaranya meminta persetujuan, mengubah menjadi vidio call.


“Annyeong!” pekik wanita itu.


Rayya mendelik tidak percaya! Wanita dalam ponsel memiliki rambut… hitam legam. Namun melalui selal-sela rambutnya… seperti muncul  buntut unicorn warna-warni. Kapan dan bagaimana Ardhita menjadi begini berani meng-highlite rambutnya? Kalau nanti Yang Ti mengetahui ini, pasti beliau bisa pingsan!


“Kamu di mana?”


“Incheon!” pekiknya tidak kalah antusias.


Rayya menghela napas. Dhita dan hobinya berkelana. Wanita itu bisa tiba-tiba manis, tiba-tiba berubah versi menjadi a little bit snob! Namun, untuk urusan menegakkan keadilan, Dhita paling pertama. Ardhita Mangkumulyo tidak akan diam ketika melihat orang lain ditindas. Ia cuma bertingkah ketika menghadapi orang-orang menyebalkan.


“Kamu ngapain ke sana?” tanya Rayya kemudian menghela napas. Karena wanita itu hobi berkeliling dunia, ia berhasil menjadi selebgram, membuka layanan untuk jastip dari luar negeri.


“Beli bungeoppang! Ada orang titip tadi. Katanya ngidam gara-gara dia nonton drama.”


Ya Tuhaan!


Rayya lupa kalau kadang, pelanggan Dhita sama-sama… setengah gila! “Terus kamu beli makanan itu? Kamu cuma beli itu doang? Jauh-jauh ke situ?”


Dhita terkekeh. “Aku kan udah tiga hari di sini, Mba. Ini baru mau balik,” tukasnya. Dhita menyipitkan mata. “Pasti Mba nggak liat akunku, kan? Oh bener… sejak kapan Mba Rayya main sosmed!”


Rayya menghela napas. “Kamu main kejauhan. Mba kira kamu lagi sama….”


“Halo Rayya, long time no see.”


Tunggu dulu! Rayya mengernyit mendengar suara laki-laki. Seseorang mengambil ponsel. Untung Rayya tertutup busa sabun. Kalau tidak, lelaki itu bisa melihat tubuhnya yang berendam di bathtub.


Rayya membulatkan mata, tidak percaya pada kedua penglihatannya.


“Mba Rayya…!” pekik Dhita, mengembalikan kesadaran Rayya. Kali ini wanita tersebut mengambil ponsel yang tadi direbut lelaki itu. Dhita mengedip beberapa kali, kemudian terkikik. “Mba Rayya, kata Mas Arsa… dia kangen sama kamu.”


Astaga!


“Gimana?”


Dhita kembali tersenyum, mengedip-ngedipkan mata. “Kata Mas Arsa, dia kangen sama Mba Rayya.”