His Virgin Ex Wife

His Virgin Ex Wife
Hallo Rayya



Rayya mengetatkan cardigan. Ia menengadah, menatap langit-langit. Masih mendung, sama seperti waktu ia keluar apartemen pagi tadi. Wanita tersebut mengangkat tangan kemudian membuat penghalang beberapa senti dari mata. Meskipun matahari tidak kelewat menyengat, namun masih terasa menyilaukan.


Ia menggenggam ponsel. Tadi setelah ia keluar dari apartemen mantan suaminya, Bibi menunggunya kemudian menyerahkan cardigan. Ia mencebik kemudian menghela napas. Cinta membuatnya berkelakuan seperti kehilangan akal. Bagaimana bisa ia keluar apartemen dengan pakaian seperti ini?


Waktu saat ini menunjukkan pukul setengah satu. Itu artinya ia sempat pingsan beberapa jam di apartemen Daus. Ini waktunya makan siang namun… ia terasa tidak lapar. Tumpukan masalah tiba-tiba membuatnya kenyang… menelan pahitnya kenyataan.


Astaga!


Ia mengernyit waktu mengingat kejadian ketika di lift tadi. Setelah puas menyumpah serapah, memaki mantannya, bergegas ia pergi. Setengah berlari ia menuju elevator. Bibi tetap begitu setia mengekorinya. Kemudian… tepat ketika benda itu nyaris tertutup sempurna, terdengar seseorang memekik.


“Tunggu!” teriaknya kencang. Tangan wanita itu nyaris terjepit pintu.


Refleks Rayya berjengit kemudian menekan sebuah tombol penahan pintu agar jemari lentik itu tidak terjepit. Ia menggeleng ketika mengetahui pelakunya. Perempuan di hadapannya itu tersenyum manis.


“Handphone Mba ketinggalan,” ujarnya mengulurkan benda persegi tersebut. Rayya menatap tajam kemudian meski ia bungkam namun tetap mengambil ponsel tersebut.


“Mba…,” ucapnya kemudian berusaha mencegah pintu lift menutup lagi. “Saya… minta maaf, Mba. Untuk tiap kesalahan Mas….”


“Kamu… siapa?” potongnya cepat. Rayya menggeram lirih. “Kamu pikir… kamu siapa? Kenapa kamu berani meminta maaf mewakili Daus?”


“Saya istrinya. Saya… istrinya, Mba,” jawabnya mantap. “Saya mewakili Mas Daus… kami minta maaf. Untuk tiap kesalahan, tiap permasalahan yang membuat Mba nggak nyaman, kami… minta maa….”


Rayya mengangkat tangan, memberi kode untuk menyudahi perkataan wanita itu. Demi Tuhan… ia pikir ini masalah sepele dan bisa diselesaikan dengan maaf-maafan seperti Idul fitri?


Apa wanita itu menganggap setelah ia meminta maaf lalu Rayya… bisa tertawa bahagia? Apa menurutnya belasan tahun masa muda milik Rayya akan mampu ditebus dengan sesederhana ini? Apa ia bisa mengembalikan kehidupan bahagia milik Rayya sesederhana mengatakan… maaf? Astaga!


“Saya minta maaf karena pasti Mba merasa… tidak nyama….”


“Sorry not sorry,” sela Rayya cepat. “Sebanyak apa pun kalian minta maaf, sorry… saya bahkan tidak peduli karena nyatanya, saya tidak bisa memaafkan kalian dan tidak ingin memaafkan kalian.”


Rayya setengah mendorongnya, kemudian bergegas ia menutup pintu lift. Setelah ia beserta Bibi kembali ke lantai dasar, Rayya memilih untuk mengarah ke taman. Ia mengenakan cardigan pemberian dari Bibi kemudian meminta wnaita itu untuk kembali ke apartemen. Ia sedang ingin sendiri dan memilih melewati waktu siang ini dengan menghirup udara di taman apartemennya.


Sepasang matanya menemukan keanehan lalu menggerutu lirih. Di depannya, agak jauh beberapa meter, para laki-laki berseragam hitam mengawasi. Itu mungkin bodyguard kiriman dari kakeknya. Ia menggeleng. Tadi pagi ia menghubungi Pak Han karena masalah video itu, maka berita tentang pertengkaran mereka pasti sudah sampai ke telinga Ibrahim.


Rayya nyaris ingin menangis ketika ia menatap anak-anak kecil di kejauhan. Mereka terlihat bahagia sambil menggandeng orang tuanya. Ia bertanya-tanya. Kalau… kalau pernikahannya berjalan semestinya, sesuai dengan prediksinya, maka ia pasti… sedang berbahagia bersama suaminya. Mereka di hari libur seperti ini pasti tengah berjalan-jalan atau kalau pun tidak kemana-mana, mereka bisa menghabiskan libur… sekadar ngobrol bersama di apartemen, bercengkerama sambil tertawa, atau mengunjungi Kakek.


Ia kemudian teringat ucapan Daus. “Aku cuma… kemungkinan kecil bisa punya anak….”


Rayya menghirup napas sebanyak mungkin. Kalau pun… kalau pun ia belum dikaruniai anak, setidaknya ia bersama Daus masih bisa berbahagia bersama. Itu… kalau Daus tidak… menyerah secepat ini. Nyatanya, mantan suaminya memilih menyerah kepada keadaan mereka.


Apa maksudnya lebih memilih menikahi perempuan lain? Logikanya, kalau memang yang tidak mampu memiliki anak adalah Daus, maka ia menikahi perempuan mana pun pasti… tidak bisa punya anak, kan? Lalu kalau wanita lain boleh, kenapa Rayya… tidak boleh?


Kenapa?


Rayya berusaha untuk meredakan kemarahannya, menjeda untuk tidak mengumpat. Ia sudah cukup mempermalukan diri sedari pagi tadi. Kalau diingat-ingat, ia seharusnya benar-benar mulai menghentikan keinginannya agar mengajak Daus rujuk. Bagaimana pun mantan suaminya sudah menolaknya, berkali-kali. Mau dengan cara bagaimana lagi ia meminta, memohon, mengemis, Daus… tetap bertahan untuk tidak mau kembali lagi bersamanya.


Maka bagaimana ia musti menata masa depannya nanti? Ia pasti mencoret mantan suaminya sesegera mungkin, berhenti untuk berencana atau pun sekadar membayangkan agar mereka kembali rujuk atau membangun keluarga bahagia yang… tidak mungkin benar-benar ada. Nyatanya… kalau ia harus jujur, Daus dan istri barunya kelihatan lebih serasi.


Rayya kembali ingat senyum manis milik Rinai. Wanita itu bahkan bisa meminta maaf atas nama Daus. Kalau dalam buku cerita, Rinai itu ibarat tokoh perempuan yang menjadi beban. Ia melakukan begitu banyak kegiatan yang kelewat tidak berguna seperti… permintaan maaf untuk suaminya, mengancam Rayya lalu menuduhnya merebut posisi suaminya, lalu… astaga! Wanita itu pernah mengancam Rayya masalah… karma.


Apa ia pikir kegiatannya mendatangkan kesenangan? Apa berputar-putar berusaha melibatkan diri ke masalah-masalah sensitif seperti itu bisa membuatnya kelihatan hebat? Apa ia pikir… ia akan menjadi pahlawan kalau… Rayya dan mantan suaminya saling memaafkan? Apa ia pikir… masalah mereka bisa segampang itu terpecahkan?


“Miss!” pekik wanita itu.


Rayya menjauhkan ponsel. “Kamu… makan speaker?” tukasnya kesal.


Lawan bicaranya terkekeh. “Miss kalau udah becanda kayak gini, berarti Miss udah baikan.”


“Kamu kira apa saya lagi sakit? Kamu… nyumpahin saya supaya sakit?”


“Astaga! Astagfirullaah… Miss nuduhnya gitu? Kan saya ini peduli sama Miss,” protesnya. “Miss di mana?”


Rayya menatap gedug apartemennya. “Saya… di taman.”


“Taman… mana?”


Rayya menghela napas. “Saya maunya bilang saya lagi di Taman Bermain Impian atau di Universal Studio tapi sayangnya saya cuma lagi duduk di taman  depan apartemen.”


Shanaz terisak. “Nanti… kita main-main, Miss… kita liburan bareng ke….”


“Kamu lagi ngapain?” sela Rayya.


“Saya… saya lagi naik KRL,” jawabnya. “Saya… bentar lagi sampai ke situ.”


Rayya berdeham. “Kamu bilang izin liburan sampai besok? Ngapain kamu balik secepat ini?”


“Nggak apa-apa, Miss. Lagian, orang tua saya udah dikasih hadiah liburan ke luar kota sama Tuan Ibrahim. Saya diminta buat nemenin Miss,” jawabnya.


Rayya tidak bisa menebak kenapa Ibrahim Busro sebaik ini kepadanya. Apa Tuan Ibrahim punya hutang kepadanya atau kepada keluarga Rayya di masa lalu? Apa mungkin… Ibrahim tahu mengenai keluarga Rayya? Siapa mereka? Kenapa… orang seperti Ibrahim bisa sangat baik seperti ini?


“Miss tunggu bentar. Paling bentar lagi saya sampai kok,” suara asistennya mengembalikan Rayya dari lamunan sesaat.


Rayya mengernyit. “Kayaknya bentar lagi hujan. Kamu nyuruh nunggu? Kamu… mau saya hujan-hujanan?”


“Oh….”


“Saya mau masuk ke apartemen. Nanti kamu langsung masuk,” selanya kemudian menutup telepon.


Rayya membeku beberapa waktu ketika sebuah tangan terjulur di depan wajahnya.


“Halo, Rayya… kamu masih ingat saya?”


Wanita itu mengernyit kemudian menatap lurus. Ia bergegas waspada. Anehnya itu, para bodyguard cuek seakan membiaarkan lelaki  ini. Rayya mengernyit. Ia bingung ketika para pengawal malah kelihatan menyepelekan.


  Lelaki itu bertubuh tinggi, bertungkai kaki panjang, berpotongan rambut begitu rapi, lalu berpakaian kaos berkerah dengan merk… biasa saja. Bukan keluaran brand ternama meski memang harganya menyentuh sekian ratus ribu. Tapi… itu bukan barang yang ingin Rayya beli. Itu terlalu… dipakai sejuta umat.


Siapa sih commoner-- rakyat jelata yang… berani mengajaknya bersalaman? Sebegini kah besarnya ia punya rasa percaya diri? Seberapa sih hebatnya lelaki ini?


Rayya membuka cepat labirin ingatan di kepalanya. Daftar-daftar klien, partner, orang penting, relasi kerja, siapa saja yang pernah ia temui namun… dia siapa?


Lelaki itu tiba-tiba memilih duduk di sampingya. Ia kembali tersenyum, mengulurkan tangan. “Halo Rayya, saya… Iman, abang lelaki pengantin wanita.”