His Virgin Ex Wife

His Virgin Ex Wife
Rayya dan twinkle sprinkle li'l star



Rayya membuka mata ketika mendengar seseorang mengetuk-- menggedor pintu kamarnya. Ia memang menguncinya karena merasa kelewat lelah, tidak mau terganggu. Namun ia lupa kalau... asistennya itu terlampau menggebu-gebu kalau ada masalah mendesak. Rasa patriotisme yang asistennya miliki pasti membuatnya semangat melakukan apa pun seperti... mendobrak pintu kamar Rayya.


Wanita tersebut melenguh, menghela napas. Ia memilih untuk menyambar ponsel yang diletakkan di nakas, terlalu malas untuk melangkah membuka pintu. Mungkin rasanya ia perlu mengganti pintu kamar pakai pintu sidik jari saja tapi... nanti Shanaz yang bahagia karena pasti merasa lebih leluasa mengganggu Rayya karena masalah pekerjaan.


"Apa?" tanya Rayya malas. Ia  mengerjap kemudian menguap. Tubuhnya masih lemah sekaligus mengantuk. Kombinasi tepat untuk bermalas-malasan di kasur.


"Miss, disuruh makan."


Rayya mengernyit. "Sama siapa?"


"Eeemm... makan sendiri, memang Miss mau makan sama siapa?"


Ia menepuk kening. Rasanya ia memilih kalimat kurang pas. "Maksudnya bukan makan sama siapa, maksud saya itu siapa sih yang berani nyuruh makan? Kamu berani nyuruh saya, Naz? Kamu berani... ngatur saya?"


"Astaga... Astaghfirullaah... saya takut kualat nyuruh-nyuruh Miss kayak gitu. Mana berani saya. Lagian, kenapa Miss malah nelpon, bukannya buka pintu?"


Rayya mendengkus. "Malas... kalau kamu bilang, istilahnya saya ini mager."


"Yaa Tuhan... Miss Rayya udah pinter gaul, sekarang!" pujinya.


Rayya mendengar langkah kaki Shanaz melangkah menjauhi pintu. Mungkin wanita itu menyerah membuka paksa pintu Rayya. "Siapa orang yang berani nyuruh-nyuruh saya?"


Shanaz menghela napas. "Tuan Ibrahim."


Rayya lalu terduduk, bersiaga dengan informasi asistennya. "Tadi Kakek mampir ke sini?"


"Ng... nggak sih. Tapi Tuan Ibrahim nelpon saya, berkali-kali. Tuan Ibrahim bilang kalau saya harus memastikan Miss Rayya bangun dan makan malam ini," jelasnya rinci.


Rayya mendecih. "Kamu kan bisa bilang kalau saya udah makan, daripada kamu ganggu tidur saya," sahutnya kesal.


"Nggak gitu, Miss. Bohong itu bisa bikin dosa. Apa Miss mau nanggung kalau saya... kena dosa?"


Astaga! Rayya menepuk kening. Dosanya sendiri mungkin sudah melimpah, masa iya harus menanggung dosa asistennya juga?


"Bibi tadi ngomong kalau seharian Miss kan nggak makan. Makanya, malam ini Miss makan, ya," bujuk Shanaz.


Pelan, Rayya mendengar wanita itu menyalakan berita di tivi. "Kamu udah makan?"


"Cuma ngemil cyantik," jawabnya kemudian terkikik.


Rayya paham maksud asistennya. Ia pasti tadi bermain dengan peralatan baru. Beberapa waktu lalu Rayya memesan sebuah mesin pembuat kopi. Dari beberapa macam mesin, Rayya terbujuk iming-iming Shanaz karena coffe maker tersebut bisa digunakan untuk membuat berbagai minuman, persis seperti hasil yang dibuat oleh  barista.


"Tuh... plek ketiplek kan," promosi versi asistennya beberapa pekan lalu.


Untuk menyeduh kopi, menggunakan wadah khusus. Biasanya per porsi kopi, krimer, susu untuk tiap sekali seduh dikemas satu per satu dalam wadah plastik kecil-- capsule begitu namanya. Nanti wadah tersebut dipasang ke mesin kopi. Tinggal mencolokkan listrik plus menambahkan air, maka secangkir kopi, bisa dinikmati.


Shanaz bilang, sudah banyak bubuk teh pun ramuan jahe, kunyit beserta berbagai jamu-jamuan dikemas dalam capsule-capsule yang kompatibel dengan mesin tersebut. Maka, Rayya tertarik lalu membeli mesin kopi-- yang konon, dibilang kekinian.


"Naz bikinin matcha latte," pintanya. "Pakai dua capsule krimer....."


"Dua? Krimer?"


"Iya, dua capsule krimer," jawab Rayya.


"Miss... itu krimer yang... krimer, kan?"


Rayya menghela napas. "Emang krimer yang bentuknya mana lagi?"


"Tumben?" guman Shanaz tidak percaya. "Biasanya Miss bahkan nggak suka kalo ditambahin yang begituan."


"Saya lagi malas makan, Naz. Daripada nanti tubuh saya mengalami krisis kalori, jadi kamu tambahin krimer dua capsule."


Shanaz mencebik. Meskipun Rayya tidak melihat langsung ekspresi wanita itu, namun dia tetap melakukannya, kemudian mencibir, "kalori dalam krimer nggak seberapa banyak. Miss beneran nggak mau makan apa kek... nanti saya pesankan...."


"Naz, saya lagi malas makan. Daripada kita ribut semalaman, mending kamu bikin matcha latte, nanti kalau pingin, saya bisa cari makan. Oke?!" tukasnya tanpa kompromi. Rayya menutup telepon kemudian mengarah ke kamar mandi, mencuci muka.


Wanita itu berganti pakaian, kemudian keluar kamar. Ia menemukan cangkir berisi cairan hijau di mini bar dapurnya. Shanaz tidak nampak. Mungkin ia berada di kamarnya.


Rayya mengambil cangkir itu kemudian membawanya menuju balkon. Ia disambut embusan angin tepat ketika membuka pintu. Udara terasa lembab, efek hujan tadi siang. Sayang, di lantai tinggi seperti ini agak sulit membaui petrichor-- aroma tanah basah setelah hujan. Namun, Rayya masih bisa membaui aroma lembab yang dibawa angin.


Langit mulai cerah. Meski beberapa gumpalan awan kadang berarak menutup bintang-bintang, namun sesekali sinarnya terlihat. Meski Rayya bukan ahli ilmu langit, ilmu bintang, apalagi ahli nujum, namun Rayya terkadang menyukai suasana malam hari. Itu mengapa ia memilih apartemen dengan balkon menghadap barat agar bisa menikmati senja dan berlama-lama di balkon hingga malam.


Itu dulu... impiannya ketika baru menikah dengan Daus. Sebelum mimpinya kandas, digagalkan lelaki itu. Sebelum ia tahu bahwa... mencari ridho Tuhan bukan perkara mudah.


Rayya kembali menengadah, mengamati bintang-bintang. Ia memang tidak mendalami ilmu perbintangan. Pengetahuannya soal ilmu astronomi cuma sebatas menghapal urutan planet, membedakan matahari, bulan, beserta bintang. Itu pun ia ragu kalau ada pesawat terbang di malam hari dan menyalakan lampu, ia tidak yakin bisa membedakan cahaya lampu pesawat dengan kerlapkerlip sinar bintang.


Rayya pun tidak benar-benar paham mana rasi bintang Orion, Ursa, atau Casiopeia, atau macam-macam rasi lainnya. Rayya cuma tahu kalau tebaran bintang di langit itu, yang berserakan di sana sini itu, sebenarnya mirip dengan masa depannya. Mirip dengan hidupnya yang sedang hilang arah. Malah kalau mau jujur, bintang-bintang itu masih lebih mending. Rasi-rasi bintang itu kalau dihubungkan dengan garis tak kasat mata, masih membentuk pola tertentu. Sedangkan masa depan Rayya cuma abstrak dan buram. Bahkan garis tak kasat mata yang mengatur alur hidupnya pun... Rayya mana tahu.


Kalau saja ia boleh mengintip masa depannya. Minimal, ia tahu bagimana alur hidupnya agar ia tidak salah melangkah namun nyatanya... gugusan bintang bahkan lebih terarah, terpola, tertebak, tersusun rapi berbanding rencana-rencananya yang sudah kelewat berantakan-- berserakan. Rasanya, ia perlu benar-benar fokus menata ulang prioritas kehidupannya.


Rayya menyesap minumannya, memberi waktu bagi ramuan itu agar menyatu dengan saluran pencernaannya, mengalir perlahan berputar-putar bersama tetesan darah. Ia menghirup uap aroma matcha, kemudian membiarkan tubuhnya menjadi santai. Setelah penatnya mulai reda, ia kemudian memilih masuk. Berlama-lama di balkon mengamati langit cuma membuatnya semakin meratapi kehidupan.


Ia lalu berbalik, kemudian terdiam beberapa waktu mengamati  pantulan tubuh dari pintu kaca. Ia tidak buruk. Bahkan menurut mantan suaminya, ia wanita sempurna... paling sempurna yang pantas dinikahi. Ia diceraikan bukan karena ia melakukan kesalahan. Daus memilih bercerai karena ia terlalu pengecut menghadapi wanita sehebat dirinya.


Ia sempurna, ia luar biasa, ia hebat, ia... luar biasa hebat. Rayya mengulang-ulang kalimat tersebut dalam pikirannya. Ia tahu bahwa sekarang ini sudah waktunya maju dan melupakan para benalu dalam hidupnya.