His Virgin Ex Wife

His Virgin Ex Wife
isnt't it for laugh



Kedua mata milik Rayya mulai terbuka kemudian mengerjap. Perempuan tersebut menghela napas kemudian mengangkat jemari, menempelkan ke kening. Ia tidak demam, namun perasaan di hatinya seakan tergelitik membuat kurang nyaman. Ada sedikit… aneh, tidak biasa, dan mungkin janggal. Rayya kembali ingat mengenai setiap kalimat dari mulut Arsa.


Ia sendiri sebenarnya mau melupakan lalu menganggap sebagai angin lalu. Mengingat, mungkin lelaki itu cuma sekadar bercanda. Namun kegiatannya-- mengobrol berdua dengan Arsa merupakan kegiatan paling belakang, paling di ujung sebelum perempuan itu menutup malam harinya, maka… ingatan mengenai obrolan mereka langsung menyergap sebegitu pagi.


Bukan maunya untuk terus mengingat namun… setahunya memang yang akan diingat ketika bangun di pagi hari biasanya adalah memori kegiatan di penghujung malam. Rayya mendengkus gemas. Kenapa pagi ini ia musti mengingat-ingat becandaan Arsa yang kelewat konyol… dan nggak cuma sekadar little bit… tapi much more… awkward?


Perkataan mengenai ‘solving problem’ yang nyatanya berputar soal Arsa yang… katanya lebih memedulikan any kind of things about her… dari pada tentang urusannya sendiri, seakan memberi kode kalau Arsa memang… memiliki perasaan lebih, kan? Atau… sekali lagi… mungkin itu cuma bercandaan ala Arsa. Kayaknya, itu sekadar habbit baru mengingat Arsa terlalu lama tinggal di luar negeri.


Atau mungkin ini bukan salah Arsa. Apa mungkin ini perasaan aneh karena Rayya selama ini membekukan radar cita miliknya. Maka ketika ia mendapatkan seseorang mengungkapkan kata-kata manis, maka Rayya menganggap awkward? Bisa sih ia mengaktifkan kembali namun… bagaimana kalau ternyata memang Arsa semalam cuma bercanda?


Rayya mendadak merasa kelelahan meski belum mengawali paginya dengan aktivitas apa pun kecuali… merenung. Kalau kata para millenial, mungkin Rayya cuma feeling gloomy. Ia kemudian terduduk ketika mengingat sesuatu.


“Shanaz!” pekiknya ketika turun dan melangkah ke kamar sebelah. Ia menghela napas ketika menemukan asistennya sedang melakukan sholat shubuh. Ia kembali mengerjap, melihat melalui celah pintu kamar yang renggang.


Setidaknya Shanaz pulang ke apartemen, ia tidak kenapa-napa, dan selamat. Rayya pikir tadi malam Shanaz akan pulang ke rumah orang tuanya mengingat sampai pukul sembilan malam, wanita itu belum kelihatan. Rayya sendiri malas menelepon lagi. Ia lalu menebak kalau mungkin… tadi malam cuma rencana Dhita, mengajak Shanaz keluar. Ini semua cuma supaya Arsa memiliki waktu berdua dengan Rayya.  Lalu… kalau memang ini cuma rencana Dhita… mendekatkan Rayya dengan abangnya, apa ini… benar? Arsa benar… menyukainya?


“Miss?” Rayya mengerjap ketika Shanaz melebarkan pintu, menemukan Rayya tengah berdiri mengawasi Shanaz.


Rayya menatap lururs. “Kamu semalam pulang kapan? Kemalaman? Kamu… ke mana?”


“Saya… diajak sama Miss… Dhita, Miss.”


Rayya kemudian melangkah ke arah dapur sambil mengoceh.  “Kamu itu diajak ketemu sama siapa?” tanyanya menyelidik. Jemari Rayya terlihat meraih mug kemudian mengambil kapsul kopi.


“Miss… itu… kopi?” pekiknya tertahan. Shanaz mengekori atasannya menuju pantry, kemudian menemukan sebuah keajaiban… kalau tidak bisa ia sebut keanehan.


Rayya mendengkus. “Kamu… nggak usah mengalihkan pembicaraan. Saya tahu ini kopi. Saya memang mau membuat kopi,” tukasnya cepat.


“Tapi Miss biasanya kalau pagi minum teh. Sejak kapan Miss minum kopi?”


“Sejak kamu mulai mengkhianati saya,” jawabnya ketus. “Halo Naz, saya lagi tanya kemana kamu semalam? Kenapa kamu berdua menyusun konspirasi?”


Shanaz mendelik. “Konspirasi?”


Rayya mengangguk. “Kamu dan Dhita… bekerja sama, supaya saya dan Arsa memiliki waktu bicara?” selidiknya. “Kalian… merencanakan apa?”


Shanaz mendadak… lupa cara bicara. Mengingat ia menggenggam rahasia-rahasia milik Iman… Dhita, dan Arsa… ia musti ngomong apa? Tidak mungkin ia membeberkan kejadian semalam mengenai Iman dan Zahra. Tidak mungkin juga kan kalau Shanaz… mengumumkan kalau Dhita berencana mencomblangkan Rayya dengan Arsa. Atau… mengatakan kalau ia… diberitahu Dhita bahwa kakak lelakinya tersebut sebenarnya… sudah lama mencintai Rayya.


“Saya cuma… diajak keliling mall, Miss,” tukasnya setelah berusaha berpikir mencari jawaban yang menurutnya setidaknya menghindari kontroversi, apalagi… interogasi berkelanjutan.


Shanaz menelan ludah.


“Semalam katanya dia mau ketemu klien? Coba kamu ngomong, klien dia itu siapa? Dhita itu bisa ngerelain pekan pertamanya landing di sini cuma buat nanganin klien? Dia lagi becanda?”


Shanaz merutuki diri. Kenapa ia bisa berpikir kalau menghindari sesi detektif-detektifan ala Rayya, sih? Wanita itu kalau sedang ada pada mode… waspada, atau curiga, maka kucing tetangga pun kesulitan untuk bisa melarikan diri dari penyelidikan Rayya.


“Saya… nggak masalah Dhita mau ketemu siapa. Atau mungkin dia memang benar menemui klien, bahkan gebetannya.”


Shanaz menunduk mendengar perkataan Rayya.


“Saya cuma nggak suka kalau kamu… berkonspirasi di belakang saya. Kalian semalam sengaja pergi kan? Supaya saya bisa bicara dengan Arsa kan?”


Asistennya mengangkat wajah kemudian menatap penuh penyesalan.


“Saya saat ini cuma punya kamu, Naz. Setelah masa-masa sulit, saya belum bisa membuka diri apalagi lalu semudah itu percaya dengan orang lain. Kalau kamu bekerja sama dan memiliki rencana entah apa di belakang saya, lalu saya musti percaya siapa? Saya tahu, niatmu baik. Tapi… kamu itu kayak… seenaknya berpindah posisis mendukung orang lain. Apa kamu yakin kalau mas Arsa atau saya setuju mengenai rencana kalian?” tanyanya sinis.


“Bahkan kamu, asisten saya sendiri… bisa berpindah… mendukung orang lain,” imbuhnya kemudian. Rayya menghela napas. Ia memilih untuk mengurungkan niat membuat sarapan lalu meletakkan mug secara asal kemudian kembali berbalik ke kamar.


Rayya merebahkan tubuh. Ia ingat sebuah riwayat mengatakan kalau… Rasulullaah telah mengajarkan kalau marah, maka duduk dan kalau masih merasa belum reda, maka berbaringlah. Ia paham bahwa ia mungkin masih jauh kalau dianggap sebagai hamba yang baik. Namun Rayya berusaha mengaplikasikan contoh yang baik-baik dalam menjalankan keseharian. Meski memang ia mengaku kalau urusan ibadah rutin, masih merupakan PR mengingat… Rayya pun mengaku masih sering lupa, dan ibadahnya bolong sana-sini.


Ia memilih untuk shortcut mengingat masih sangat pagi, maka ia perlu membereskan mood secepat mungkin. Karena itu ia merebahkan punggung, bukan sekadar duduk. Bola matanya nyalang, mengamati langit-langit kamar.


Sebenarnya ia tidak berniat marah, cuma sekadar mengiterogasi asistennya. Namun… entah mengapa ketika Shanaz mengatakan kalau semalam mereka, Shanaz dan Dhita, cuma keliling mall seakan mereka menyembunyikan kemungkinan rencana mereka mengenai mencomblangkan Arsa. Diam-diam mereka seperti memiliki planning meng-hack… membajak kehidupan dan romantisme hidupnya. Rayya merasa marah karena Shanaz, asisten dan orang kepercayaannya… malah ikut ‘memeriahkan’ rencana tersebut.


Bukannya Rayya mengakui kalau marah merupakan kebiasaannya, namun ia tumbuh melalui pola asuh Ibrahim Busro. Ketegasan merupakan kewajiban, mengingat Rayya dipersiapkan untuk menduduki setidaknya tingkat manajerial dalam perusahaan. Dan… memarahi Shanaz… orang kepercayaannya sebenarnya bukan hobinya. Ia cuma merasa… kecewa, ditambah kebingungan mengenai sikap Arsa… apakah lelaki itu benar mengkode untuk menunjukkan rasa suka, atau sekadar simpati, atau malah cuma bergurau? Karena perasaannya tidak ingin dipermainkan.


Ia pun paham kalau masalah percintaannya, terlebih ketika ia kemarin menghadapi masalah soal Daus… bertubi-tubi, membuatnya perlu menyikapi Arsa lebih bijak lagi. Ia tidak boleh mendadak langsung ‘melting’ atau merasa spesial dengan perlakuan Arsa. Come on! Rayya ini bukan remaja labil yang pantas berhalusinansi dan berfantasi soal cinta.  Belum lagi Iman yang merecoki kehidupannya. Rayya perlu berhati-hati. Ia menanamkan kuat, bahwa kenyataannya… hidup Rayya tidak sebecanda itu.


Rayya memilih bergerak, kemudian kembali duduk ketika pikirannya mulai dingin. Ia kemudian bergerak. Mungkin ia dan Shanaz perlu meluruskan sistuasi ini. Setidaknya ini terlalu pagi kalau ingin melakukan dramatisasi perasaan. Apalagi, nanti merupakan meeting pertama… secara serius bersama Iman. Kalau kemarin cuma perkenalan, maka nanti ia akan melakukan pembahasan mengenai laporan serta plan perusahaan. Ia musti hati-hati kalau-kalau lelaki itu membuat ulah dan mengkonfrontasi dalam rapat. Ia butuh sekutu, ia butuh kesiapan asistennya.


Perempuan itu menghela napas kemudian melangkah ke arah pintu. Ia terkejut ketika Shanaz muncul, berdiri di depan pintu.


“Miss, ada tamu. Ada… Tuan Arsa nunggu Miss. Katanya mau bareng sarapan di sini.”


Rayya mengernyit. Tanpa menyadari ia memegang dada merasakan gemuruh dalam dirinya. Mungkin sebelum mempersiapkan pikiran menghadapi rapat nanti, ia seharusnya berusaha cepat menguasai diri menghadapi Arsa yang… mulai melancarkan berbagai serangan pendekatan kepadanya… sepagi ini.