His Virgin Ex Wife

His Virgin Ex Wife
Dugaan, Kecurigaan, Tebakan



Wanita itu membolak-balik berkas dari Iman. Kata Shanaz tadi Iman datang untuk menyerahkan setumpuk kertas. Itu merupakan laporan arus kas perusahaan mereka. Rayya mengecek tanda centang kemudian catatan kecil di sebelahnya.


Iman mungkin belum tahu kenapa dana promosi begitu besar namun penggunaannya setiap bulan tidak seberapa. Lelaki itu baru saja masuk ke perusahaan ini. Ia belum paham pelaksanaan serta operasional perusahaan mereka. Rayya menghela napas kasar. Ini pekerjaan tambahan bagi Rayya… mengenalkan, memahamkan Iman tentang bagaimana perusahaan ini dijalankan.


Sebenarnya, Rayya tengah memikirkan alasan kenapa masih mau menuruti Kakek. Ia mempertimbangkan untuk mencari lowongan, berganti pekerjaan lain. Namun satu-satunya kesempatan menggiurkan-- bergabung dengan keluarga Mangkumulyo, menjadi staf di rumah sakit mereka, nyatanya ditentang oleh Arsa… sang pewaris utama. Rayya bisa berbuat apa? Dia mungkin bisa merayu Nenek Arsa alias Yang Ti untuk menerimanya bekerja di rumah sakit tersebut, tapi kalau cucunya sendiri menentang, Rayya merasa ini kurang apik, tidak bagus karena nanti mereka malah saling memperdebatkan masalah Rayya. Lagipula, Arsa memintanya untuk bertahan di perusahaan ini. Rayya masih memercayai perhitungannya. Selama ini dia yang menolong Rayya memilih banyak keputusan penting dalam hidupnya. Mulai dari langkah-langkah pintar, membalas tindak bulllying baik Daus maupun teman-temannya selama di sekolah.


Satu-satunya ketidak cocokan Arsa dengan Rayya adalah ketika Rayya menerima pernikahannya. Menurut lelaki itu, menikahi Daus bukanlah hal masuk akal. Cuma karena ingin membalas kebaikan keluarga Busro, Rayya perlu mengorbankan masa depannya. Padahal Rayya tahu betul kalau Daus cuma setengah hati menyukainya. Lalu perhitungan tersebut benar, Arsa benar, pernikahannya dengan mantan suaminya… cuma bertahan beberapa bulan, bahkan tidak genap satu tahun Rayya ditalak. Oke… satu tahun lebih sedikit, mengingat banyaknya kesepakatan serta mediasi sebelum mereka mengesahkan perceraian.


Rayya kembali berkomunikasi dengan kedua adik kakak tersebut. Termasuk ketika ia menerima perceraian dari Daus. Mereka mendukungnya. Arsa benar… nyatanya, ia bisa bertahan, tidak melakukan tindakan konyol seperti… melakukan percobaan menyakiti diri sendiri… tidak perlu depresi cuma karena masalah perceraian. Rayya buktinya bisa bertahan selama ini. Berarti perhitungan dari Arsa benar. Maka kali ini Rayya memilih menuruti pertimbangan lelaki itu, bertahan di perusahaannya.


Ia kembali menghela napas kelelahan. Setelah drama tadi pagi, seharian ini ia sibuk memikirkan berbagai macam kemungkinan. Dari pada batinnya yang kaget mendengar pengusiran Daus, ternyata otak beserta kepalanya lebih lelah. Ia nyatanya berpikir berlebihan kenapa Kakek melakukannya? Alasan logis macam apa sih sampai-sampai Kakek… Seorang Ibrahim Busro mengusir Daus-- pewaris utamanya, menggantinya dengan orang lain.


Rayya kemudian ingat kalau Kakeknya bahkan mengusir anak dan mantunya karena melakukan kesalahan. Lalu bagaimana kalau nanti Rayya melakukan kesalahan, ia akan terusir? Sama mengenaskannya dengan mantan suaminya? Dibuang begitu saja oleh Kakeknya? Tapi lagi-lagi ia ingat perkataan Arsa. Rayya sudah berjuang begitu lama sebelum menduduki posisi ini. Apa Rayya begitu saja melepaskan perjuangannya?


Wanita itu bergerak cepat, menutup tumpukan kertas. Nanti-nanti saja ia mencari waktu untuk memikirkan pekerjaan dari Iman. Ia bahkan belum tahu apa keputusan bertahan di perusahaan milik Kakeknya merupakan hal yang tepat? Selain dari pilihan arsa, Rayya sendiri belum benar-benar tahu keinginannya.


Jangankan menjelaskan mengenai pertanyaan masalah pekerjaan, otaknya masih penat memikirkan posisinya sendiri. Maka dari pada pusing memikirkan pertanyaan Iman, catatan-catatan penting  di kertas tersebut, Rayya memilih untuk menikmati sore ini dengan pulang tepat waktu. Mungkin me time sore ini, menyeruput secangkir latte, menikmati matahari menjelang senja… duduk di balkon apartemen merupakan pilihan yang menggiurkan. Bukankah besok-besok mereka akan mulai menjadi partner, menjalankan perusahaan ini?! Maka biarlah urusan Iman menjadi pekerjaan besok hari.


Wanita itu bergerak memasukkan ponsel beserta barang-barangnya ke dalam hand bag, kemudian melangkah keluar. “Kamu udah beres?”


Shanaz menggeleng cepat. Matanya masih menatap layar komputer. “Masih banyak kerjaan saya nih, Miss,” tukasnya kemudian mengalihkan pandangan, menatap bosnya.


Rayya mengernyit. Ia mendapati banyaknya schedule rapat yang nampaknya sedang Shanz ganti.


Bosnya mendecih gemas. Lelaki itu baru masuk sudah bertingkah. Dia pikir dia itu siapa kok berani memberi syarat ini itu padahal ia baru diterima di perusahaan ini. Menolak lembur? Bahkan Rayya beserta mantan suaminya, Daus memiliki banyak rekam pengalaman melalui bermalam-malam sekadar lembur karena menyelesaikan ini itu di kantor. Jarang-jarang mereka bisa santai. Rayya pun baru-baru saja mulai memmerhatikan jam kerja semenjak perceraiannya. Itu pun ia melakukan karena mencari ketenangan seperti saat ini. Ia merasa terlalu shock, makanya ia perlu menenangkan diri. Ia bahkan tidak pernah benar-benar menolak lembur bahkan ketika ia kemarin berada di fase down segalau-galaunya.


Rayya kemudian teringat kelakuan Dhita juga Arsa kepada Iman. Rayya tidak benar-benar mendengar pedebatan mereka mengingat ia cuma mendengar di depan pintu ruangannya. Namun nampaknya mereka memperdebatkan sesuatu masalah. Bahkan Dhita terlihat menarik pakaian Iman. Tahu begitu, tadi ia mensupport supaya Dhita sekalian adu pukul sama Iman. Begitu-begitu, Dhita memiliki ilmu bela diri level menengah. Setidaknya kalau cuma membuat muka lelaki itu membiru di sana-sini, itu cuma perkara mudah.


Astaga!


Kenapa ia malah mendadak memikirkan kelakuan kriminal seperti ini? Bergegas ia menarik napas kemudian membuang segala pemikirannya. Lama-lama berinteraksi dengan Iman cuma membuatnya semakin kesal. Lelaki itu nyatanya ahli membuat Rayya marah. Apa pun tampak salah ketika mereka berinteraksi. Semoga dia tidak perlu menghadapi lelaki itu terlalu lama. Semoga posisi Iman segera kembali kepada Daus. Setidaknya Rayya telah belasan tahun menghadapi kelakuan Daus. Tapi kalau Iman… baru beberapa bulan mereka kenal, entah mengapa ia merasa kesal terus menerus.


Wanita itu mengulurkan lengan kemudian memberi perintah kepada Shanaz. “Kunci mobil mana? Saya bawa mobilnya. Nanti kamu balik jalan kaki ya.”


Shanaz mengangguk cepat. “Ok, Miss,” jawabnya kemudian memberi kunci kepada Rayya.


Wanita itu melangkah ke area parkir. Tidak susah mencari mobilnya karena memang Rayya memiliki parkir khusus. Ia bisa meminta supir mengantarkannya. Namun mengingat dekatnya jarak kawasan apartemen Rayya, maka rasanya bukan masalah mengendari mobilnya. Ia perlu mengasah kemampuan menyetirnya, kan?


Rayya tidak memercayai penglihatannya sendiri ketika menatap ke arah seberang. Itu mobil yang tadi pagi ia lihat. Mobil SUV yang dikendarai Zahra. Tunggu… kenapa malah Iman yang masuk ke sana? Apa… tadi pagi Zahra ke kantor sekadar mengirimkan kunci? Mengingat wanita itu tidak nampak seharian ini, selain tadi waktu bertemu di lobi.


Rayya mengetukkan telunjuk pada kemudi lalu menggumam. Apa ini berarti Zahra dan Iman tinggal bersama? Mengingat Shanaz tadi melihat Zahra yang keluar dari unit di depan apartemennya… bukan Iman. Kemudian saat ini Iman mengendari mobil milik Zahra, apa benar kalau…. mereka berdua tinggal bersama? Apa… memang benar begitu? Apa Iman dan wanita itu merupakan sepasang kekasih? Atau Iman cuma meminjam kendaraan Zahra?


Rayya mendapati Iman mulai melakukan pergerakan. Ia ikut bersiap-siap menyalakan mobil. Mungkin ini tidak terlalu penting. Tapi… tidak bisa disalahkan kalau Rayya… berniat mengecek dugaannya. Siapa tahu nanti, di masa mendatang, informasi mengenai dua orang itu berguna untuk masa depan Rayya.