His Virgin Ex Wife

His Virgin Ex Wife
menguping



Sesampainya di luar ruangan, perempuan itu menyingkir ke samping pintu dan merapatkan tubuh ke dinding. Wanita itu berniat mencuri dengar pembicaraan di dalam. Lama ia mendapati keheningan. Rayya mengangkat kepala lalu menatap langit-langit. Sejenak ia memilih memejamkan mata kemudian menarik napas.


“Miss…,” ujar seorang sekretaris Daus. Lelaki itu bingung menatap Rayya yang memejamkan mata sambil menempel di dinding. “Mi… Miss…,”


Ia mengangkat telunjuk kemudian menempelkan ke mulut. “Diam!” pekik Rayya tertahan.


Lelaki itu bergegas menuruti perintah tersebut kemudian kembali mengerjakan tumpukan pekerjaan di depannya.


“Mas ngapain berdua-duaan sama dia?” cibir wanita di dalam ruangan.


Rayya menegakkan punggung lalu meningkatkan kewaspadaan.


“Mas! Mas dengar nggak sih? Aku nanya kenapa Mas asyik berdua-duaan sama dia di kantor?!” tanyanya lagi, geram karena lelaki di dalam sana tidak juga mengeluarkan suara.


“Mas?!”


“Aku lagi ngobrol sama Rayya tadi,” jawab Daus malas. Nada suaranya terdengar tidak semangat.


“Ngobrol kok pegang-pegangan tangan?! Kalau ngobrol itu profesional, Mas! Jangan malah ngelus-ngelus kayak it--”


“Kami cuma ngobrol!” bentak Daus.


Rayya tercenung mendengar bentakan mantan suaminya. Sudah sangat lama lelaki itu tidak marah begitu. Ia menebak-nebak seberapa besar mantan suaminya menyukai wanita itu? Daus itu bersikap sangat lembut kepada wanita yang ia suka karena Rayya sempat diperlakukan begitu lembut.


Ia kembali mengingat kalau dulu lelaki itu akan bersikap sangat manis kepada pacar-pacarnya. Iya, Daus sering berganti pacar sesering jadwal datang bulan wanita. Pokoknya, tiap bulan pacarnya selalu ganti. Meskipun Ibrahim mewanti-wanti cucunya agar bersikap hati-hati-- mendoktrin panjang lebar kalau lelaki itu tidak boleh memiliki anak dari wanita lain selain Rayya, Daus masih boleh menjalin hubungan sebatas bersenang-senang dan berpesta ke sana-sini dengan pacar-pacarnya.


Bentakan Daus itu membuat Rayya kembali curiga, apa dia mulai bosan dengan istri barunya? Sebegini cepat? Kalau memang benar dugaannya, ia merasa bingung apa harus senang atau gemas. Rayya memang merasa senang kalau lelaki itu bosan secepat ini dengan istri barunya. Itu artinya Rayya punya kesempatan untuk kembali merebut mantan suaminya. Namun kalau boleh bilang, Rayya pun gemas kalau Daus bisa bosan secepat ini.


Wanita itu bertanya-tanya apa jangan-jangan pernikahannya dulu berakhir karena lelaki itu bosan dengannya? Tapi setidaknya ia cukup hebat karena bisa mempertahankan pernikahan mereka lebih dari satu tahun. Sedangkan istri barunya di dalam sana, baru beberapa hari dinikahi, Daus sudah menunjukkan sikap kasar.


  “Aku nggak mau suami aku selingkuh,” rengek perempuan itu dengan nada yang terdengar menyebalkan. Rayya bahkan langsung mual.


“Mas… mas,” ulangnya dengan nada sama.


Raya mendengkus, apa selera Daus turun ke level segitu? Semurahan itu? Ia kemudian mengingat kalau di luaran, kolega-kolega bisnisnya memang memiliki sugar baby, gula-gula sekadar pelampiasan kebosanan, perempuan-perempuan muda yang sekadar diajak hura-hura dan… rata-rata tipe mereka seperti istri baru Daus.


Demi Tuhan… kalau selera mantan suaminya seperti itu, untuk apa ia susah-susah mempelajari bisnis sesulit ini, pontang-panting mempertahankan nila-nilai akademisnya karena ingin menjadi wanita tangguh yang bisa Daus banggakan?! Harusnya dari pada belajar tentang cara mengalahkan rekan bisnisnya, Rayya memperdalam cara bersolek dan bermanja-manja pada suaminya. Nyatanya, wanita-wanita tangguh malah sering diselingkuhi oleh wanita-wanita parasit seperti istri baru Daus itu.


“Tapi Mas, aku cemburu lho.”


Astaga! Boleh tidak kalau Rayya menyiram air sekolam kepada wanita itu agar dandanan waita itu luntur, sekalian sama pelet atau apalah itu. Ia memang sebelumnya tidak memercayai klenik macam apalah-- yang katanya di zaman serba modern begini, guna-guna atau pelet itu masih ada. Rayya tidak percaya sampai ia menemukan mantan suaminya terpikat dengan wanita dari antah berantah seperti itu. Cuma dengan modal merengek-rengek, wanita itu mampu merebut Daus darinya?!


Ya Tuhan!


  “Bener kalo katanya Mas diturunin jabatannya sama kakek?” tanyanya dengan nada sedikit menggerutu. “Kok kakek tega sama cucunya sendi….”


“Kamu ngapain ke sini?” potong lelaki itu dingin. Rayya tahu kalau mantan suaminya sedang menahan emosi. Lelaki itu terdengar menahan kesal. Daus seperti ingin menyudahi percakapan dengan wanita itu.


“Mas… kenapa nanya gitu? Aku kan main ke kantor suami aku, mau nengoklah kan kangen,” jawabnya dengan nada lebiiiiiih manja.


Demi Tuhan, kalau menjambak rambut dan cakar-cakaran itu bukan sebuah kejahatan, maka Rayya ingin masuk ke sana dan melakukannya kepada wanita itu. Ia rada malas kalau nanti ia harus memperpanjang urusan dengan wanita serupa ulat bulu semacam itu.


Rayya bertanya-tanya kalau-kalau perempuan itu pernah memasukkan kepalanya sendiri ke dalam ember, lalu mengomel panjang lebar, mendengar--membuktikan sendiri nada bicaranya yang luar biasa menggelikan. Apa dia tahan dengan suaranya sendiri? Bagi Rayya, suara wanita itu merupakan polusi tingkat ekstrem.


“Kamu mending pulang karena kerjaan saya masih banyak.”


“Maaas! Ih!”


Astaga!


Kok bisa mantan suaminya menikahi wanita dengan suaran cempreng begitu? Ia bergidik membayangkan kalau-kalau Daus mulai hilang akal. Ia pikir, Daud terpikat kepada perempuan anggun yang lebih elegan dengan nasab--garis keluarga yang mungkin lebih jelas dibandingkan anak pungut semacam Rayya. Tapi nyatanya, lelaki itu malah menikahi wanita yang hobinya berbicara pakai suara falset tapi fals seperti itu?


Ini benar istrinya Daus, kan? Model begini? Kayaknya ketika perempuan itu masih jadi sekretaris dulu, ia terlihat lebih normal. Atau mungkin waktu menikah kemarin, itu orang terbentur sesuatu dan menjelma menjadi titisan toa masjid?


Rayya geleng kepala mendengar rengekan perempuan itu. Demi apa mantan suaminya menikah dengan wanita itu? Barangkali lelaki itu lupa kalau menikah itu butuh kebahagiaan bukan kehebohan seperti kelakuan istri barunya begitu.


“Mas….”


Kali ini nada suaranya masih manja namun turun beberapa oktaf, alias mulai normal.


“Mas beneran turun jabatan? Kok mau? Kamu takut sama kakek? Apa sih hebatnya Mba Rayya sampai kakek segitunya sayang sama dia. Padahal kan kamu seharusnya lebih diperhatikan. Kamu kan cucu ka….”


“Rinai!”


“Ya ampuun, Mas bentak aku?”


“Kamu kalau cuma mau ngomel, mending kamu pulang sekarang. Saya makin pusing ngedenger omelan kamu,” usirnya.


Kalau Rayya, ia pasti malu karena sudah diusir berkali-kali oleh Daus. Tapi sepertinya wanita ini kehabisan stok malu makanya dia bertahan meski sudah dimarahi begini.


“Aku kan cuma berniat supaya kamu itu mempertahankan posisi kamu, Mas. Niatku baik kok. Aku cuma nggak mau kalau kakek gelap mata begitu aja percaya sama orang asing kayak Mba Ra….”


“Stop!”


“Mas!”


“Stop aku bilang!” Tukas lelaki itu sengit. “Sekali lagi kamu mencampuri masalah ini, aku nggak akan maafin kamu!”


Rayya menarik napas, geleng kepala. Ia pusing mendengar adegan picisan ala sugar baby jadi-jadian begitu. Namun, sebagian dirinya merasa senang karena wanita itu dibentak-bentak begini.


“Mungkin kakek lebih suka punya cucu perempuan, makanya dia lebih peduli sama Mba Rayya, ya? Kalau gitu, aku bisa kok jadi cucu yang manis. Nanti, kamu bisa naik jabatan lagi.”


“Satu!” pekik Daus geram. Suaranya bahkan membuat kedua sekretarisnya terdiam lalu menengok ke dalam.


“Mas?!” protes wanita itu.


“Satu!” ulangnya. “Kamu nggak berhak mengatur apa pun di kantor ini. Kamu itu bukan siapa-siapa di perusahaan ini,” tegasnya lagi.


Rayya menahan bibirnya agar sekadar mengulum senyum, belum waktunya ia tertawa lebar.


“Tapi kan Mas, aku kan...”


“Dua!” pekik lelaki itu, masih dengan nada menakutkan. “Kamu lupa Tuan Ibrahim Busro ngomong apa?”


“Mas….”


“Tuan Ibrahim Busro bilang ke kamu, kan kalau… ia tidak mau kamu panggil kakek karena kamu bukan cucunya. Jadi, kalau Tuan Ibrahim Busro sebenci itu sama kamu, jangan mimpi untuk merebut posisi Rayya!”


Di menit berikutnya wanita itu tahu kalau ada yang tidak benar. Apa pun itu, namun rasanya ada sesuatu atau masalah apalah dalam pernikahan Daus. Kalau mantan suaminya seketus itu dengan istri barunya, mungkinkah dia tidak mencintai istrinya itu? Lalu kenapa mereka menikah? Kenapa Daus menikahi wanita itu?


Rayya tidak menyukai perempuan itu. Tapi, ia tidak bisa memahami laki-laki yang menikahi wanita hanya untuk disakiti. Ia bukan pengikut paham feminis, namun sebagai perempuan, harga dirinya terusik ketika ada laki-laki yang merendahakan wanita. Lagian, kenapa sih perempuan itu mau-maunya dinikahi kalau hanya diperlakukan sekasar ini? Harga dirinya ke mana?


Oh iya, Rayya ingat kalau nyatanya di luar sana, banyak yang mau menggadaikan harga diri demi setumpuk uang dan kemewahan. Diam-diam ia bertanya, apa wanita itu dibayar oleh Daus? Seberapa banyak uang yang dijanjikan kepada wanita itu? Kalau Rayya membayarnya lebih banyak, apa dia bersedia mengembalikan Daus kepada Rayya? Karena Tuhan tahu kalau Rayya, rela menukar segala kekayaan yang ia punya hanya untuk mendapatkan Daud kembali.