
Dev dan Zia masih saja menikmati suasana indah yang ada di depan mereka, namun sekarang Dev telah merubah posisi nya. Jika sebelum nya ia menindih Zia maka sekarang ia telah berbaring di samping Zia, akan tetapi Dev tetap tidak melepas pelukan nya dari Zia.
"Sayang, Kakak pengen dede bayi," ucap Dev sambil menoel pipi istri nya.
"Ish Kak Dev, baru aja seminggu nikah. Sabar atu Kak," ucap Zia sedikit kesal.
"Hhhhe iya Sayang, Kakak akan terus menunggu kok." Dev kembali memeluk Zia.
Tak lama kemudian datang lah salah satu anak buah nya yang biasa mengurus Aslan, karena satu anak buah nya ini memiliki keahlian dalam mengurus dan memahami hewan. Dev pun menugaskan nya untuk merawat Aslan bersama dengan nya juga.
"Maaf Tuan, sedikit mengganggu. Saya mau bilang kalo Aslan tidak mau makan Tuan, dia hanya tidur tanpa memperdulikan makanan nya," jelas anak buah nya itu, Dev dan Zia yang mendengar nya sedikit hawatir pada Aslan.
"Apa Aslan sakit?" tanya Dev serius.
"Tidak, Tuan. Saya sudah cek suhu badan nya dia tidak sakit, namun ia seperti nya hawatir akan sesuatu Tuan. Hingga membuat nya tidak bersemangat," jelas anak buah nya lagi, lalu kemudian Dev dan Zia memilih untuk melihat kondisi Aslan.
Sesampai nya di kandang Aslan, Dev pun memasuki kandang nya dan menghampiri Aslan yang tengah tidur dengan mata yang terbuka.
"Ada apa Nak, kenapa tidak mau makan?" Dev mengelus kepala Aslan dan sesekali menggaruk leher Aslan untuk memanjakan nya. Aslan hanya menatap Dev sekilas lalu ia kembali tidur, hingga kemudian Zia pun ikut masuk ke kandang Aslan.
"Ada apa anak manis, mengapa tidak mau makan?" Zia ikut mengelus kepala Aslan. Mendengar suara Zia, seketika Aslan langsung bangkit dan mengusap-usap kepala nya ke tubuh Zia meminta untuk di manjakan oleh Zia.
"Ternyata Aslan rindu pada Nyonya, Tuan," ujar anak buah Dev yang bernama Reza itu. Dev hanya mendengkus kesal saat melihat tingkah Aslan, jujur saja ia merasa cemburu.
(Aduh bang Dev itu cuman hewan kok cemburu bang🤦🏻)
Melihat Aslan yang kembali bersemangat, Dev dan Zia menyuapi Aslan makanan dan Aslan pun memakan makanan itu dengan sangat lahap. Saat tengah asik-asik memberi makan Aslan, tiba-tiba saja beberapa bodyguard Dev yang berpakaian serba hitam dan berbadan kekar datang menghampiri Dev.
"Tuan, kami ingin bicara dengan Tuan," ucap salah satu dari mereka. Dev yang mengerti langsung saja mengangguk saat mendengar ucapan anak buah nya.
"Baik, tunggu saya di ruang keluarga!" titah Dev kepada anak buah nya, dan anak buah nya hanya mematuhi.
"Sayang, Kakak tinggal bentar ya mau ke ruang keluarga," pamit Dev sambil mengelus kepala Zia.
"Iya Kak," ucap Zia mengangguk dan terus menyuapi Aslan makanan.
---------------------------
"Apa kalian sudah tau siapa pemilik sidik jari itu?" tanya Dev sambil duduk di atas sofa mewah nya.
"Iya Tuan, ini berkas nya anda bisa lihat semua nya disana dan ada foto wanita itu juga," jelas salah satu anak buahnya yang bernama Bima, dan menyerahkan file yang berisi tentang Renata.
Dev membuka file itu, ia tersenyum devil di kala melihat sebuah foto wanita berada di halaman paling depan. Foto itu adalah foto Renata.
"Kau salah besar Renata, karena kau sudah berani mengganggu singa yang sedang tidur," guman Dev sambil menunjukkan seringai nya yang menakutkan.
"Wanita ini tidak sendiri, apakah kalian tau dua teman nya yang lain?" tanya Dev lagi.
"Iya Tuan, di belakang nya juga ada fto ke dua teman nya. Sebelum menyerahkan ini kepada Tuan, kami sudah sempat mengintai mereka," jelas Bima anak buah Dev juga.
"Bagus, sekarang kalian tangkap mereka lalu bawa mereka ke tempat biasa aku menyiksa orang yang ada di dalam hutan itu," titah Dev kepada anak buah nya.
"Baik, Tuan." Mereka segera melaksanakan perintah Dev. Setelah mereka pergi Dev memanggil beberapa anak buah nya yang lain, Dev mengeluarkan ponsel nya dan menghubungi anak buah nya.
"Angga! cepat bawakan tiga wanita pesulap kembar itu kemari!"
"Baik, Tuan."
Hanya menunggu 10 menit, Angga pun datang bersama tiga wanita kembar yang tadi ia minta. Wanita kembar tersebut adalah para pesulap hebat bahkan mereka bisa membuat diri mereka menghilang dan melayang di udara, para pesulap itu sebenarnya juga anak buah andalan Dev. Tak jarang Dev juga meminta bantuan kepada mereka dalam mengintai musuh.
"Ada apa, Tuan. Apa Tuan butuh bantuan kami?" tanya salah satu dari wanita kembar itu yang bernama Sania.
"Iya, aku mau kalian melakukan sesuatu," ucap Dev. Lalu Dev menjelaskan semua nya kepada gadis kembar itu.
"Apa kalian mengerti?" tanya Dev lagi.
"Kami mengerti, Tuan. Dan ini sangat mudah," jawab Tania salah satu dari mereka.
"Bagus, sekarang persiap kan diri kalian untuk nanti malam!" titah Dev kepada mereka, lalu mereka pun pergi dari hadapan Dev.
Drrttt
Drrttt
Bunyi ponsel Dev, dan tertera nama anak buahnya disana.
"Tuan, kami sudah berhasil menangkap mereka, dan sekarang mereka sudah kami bawa ke tempat yg Tuan suruh."
"Bagus, kalian tetap berjaga-jaga disana jangan sampai mereka lolos."
"Baik, Tuan."
-------------------------------
Jam sudah menunjuk kan pukul 10:30 malam, Dev dan anak buahnya tengah bersiap-siap untuk menjalan kan aksinya. Sedangkan Zia sudah tidur di kamar.
"Apa kalian sudah siap?" tanya Dev sambil memegang alat komunikasi di telinga nya, yang juga terhubung dengan semua bodyguard dan pesulap kembar itu.
"Siap, Tuan." jawab mereka serempak.
Tak lama Zia pun datang menghampiri Dev karena ia tak bisa tidur.
"Hikkss Kak Zia ga bisa tidur," rengek Zia di sertai isak manja nya.
"Cup cup ... Sini Baby. Tidur di pangkuan Kakak," ucap Dev gemas saat melihat Zia yang sangat manja, Zia pun mendekati Dev dan tidur dengan manja di pangkuan Dev.
"Tidur yang nyenyak ya, Sayang." Dev mencium kening Zia dan mengelus lembut kepala Zia, seketika Zia pun tertidur pulas dengan beralas kan pangkuan Dev sebagai bantal.
"Tuan, apa kami bisa mulai sekarang?" tanya anak buah Dev di seberang sana.
"Baik, laksanakan sekarang!" titah Dev. Lalu ia mengaktifkan handphone nya dan memantau mereka dari kamera pengintai yang terhubung ke handphone Dev.
------------------------------
Di sisi lain, Renata, Rista, dan Risna sudah mulai sadar dari pingsan mereka.
"Ren, kita dimana?" tanya Rista seraya mengedarkan pandangan nya kesuluruh ruangan kumuh itu.
"Gue juga ga tau, Ris. Seingat gue tadi ada yang nyulik kita," balas Renata sambil terus memegang kepala nya yang terasa berdenyut.
"Kak, Risna takut bangat." Risna merasa ketakutan.
Di saat mereka sedang memikirkan cara untuk keluar dari sana, tiba-tiba saja lampu di ruangan itu berkedip-kedip. Lalu tercium lah bau melati yang amat kuat dan sukses membuat mereka ketakutan.
"Ren, lo cium bau melati gak?" tanya Rista pada Renata.
"Iya Ris, bau nya kental bangat. Ini lampu kenapa sih kok kedap kedip gini," balas Renata yang sudah merinding.
"Eh gue dengar kan, kata orang. Kalo bau melati itu pertanda ada kuntilanak di sekitar sini iiih sereemm." Risna menambah suasana menakutkan dengan mengatakan tentang kuntilanak.
"Diam! Atau gue tabok lo ...." Ucapan Renata langsung tersela oleh sebuah suara ketawa yang mengerikan.
"Hihiihiiihiii!"(Anggap aja suara kuntilanak)
"Aaaaa!" teriak mereka bersamaan, dan mulai berlari kesana kemari mencari pintu keluar.
Tiba-tiba pandangan mereka tertuju ke arah tangga, dimana di sana terdapat seorang wanita berbaju putih dengan rambut menutupi wajah sedang duduk di tangga sambil menggendong bayi yang berlumuran darah.
"Re -- Ren, gu -- gue takut," ucap Risna gemetaran. Akan tetapi Renata yakin kalo itu adalah manusia jadi ia memilih untuk bertanya.
"Hey! Siapa lo hah? Kenapa lo nakut-nakutin kita," tanya Renata lantang. Seketika yang di tanya malah menghilang dari hadapan nya, sehingga membuat Renata benar-benar yakin sekarang kalo mereka hantu.
"Apa aku menakutkan hihihihi," ucap hantu itu yang muncul secara tiba-tiba di samping mereka sambil menunjukkan wajah nya yang membusuk, sontak mereka pun lari terbirit-birit seraya menjerit kencang.
Mereka lari tak menentu arah, jika sebelumnya mereka bertiga saling memeluk kini mereka sudah terpisah karena berlari tadi. Renata, Risna dan Rista memilih untuk memasuki kamar yang ada di rumah tua itu, akan tetapi yang yang lebih menakutkan menunggu mereka di dalam kamar itu sekarang.
Kamar-kamar dirumah itu telah di disain sehoror mungkin, lalu ada beberapa anak buah Dev yang lain nya yang ikut menyamar sebagai hantu untuk menakuti mereka disaat mereka masuk ke kamar itu.
"Aaaaaa!" teriak mereka bersamaan di kamar yang berbeda.
Mereka berteriak saat melihat makhluk hitam besar berbulu lebat, bermata merah dan bergigi taring berada di hadapan mereka. Makhluk itu mirip dengan genderuwo.
Mereka segera kembali keluar dengan terburu-buru, meskipun mereka tau di luar ada kuntilanak. Mereka tetap keluar dari pada harus menjadi santapan genderuwo.
"Hah hah hah, Risna! Rista! Kalian dimana? Hah hah," teriak Renata dengan nafas yang tersengal-sengal karena habis berlari.
"Ren, kita disini hah hah," ucap Rista sambil menghampiri Renata dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Syukurlah mereka gak ngikutin kita hah hah huff," ucap Risna lega sambil menetralkan nafas nya.
Baru saja mereka meresa lega, tiba-tiba saja mereka kembali ketakutan dengan kedatangan kuntilanak yang tadi.
"Hihihihiiii hihiii. Aku datang ... Hihihiii," ucap kuntilanak itu disertai tawa khas nya. Rista, Risna dan Renata tak tau harus lari kemana lagi karena pintu serta jendela rumah itu sudah terkunci. Sekarang tujuan mereka adalah dapur.
Mereka bertiga lari ke arah dapur rumah itu, dan di saat berlari tiba-tiba saja mereka bertiga jatuh karena menyandung sesuatu.
Brukk!
Mereka sempat meringis kesakitan dan salah satu dari mereka memilih melihat apa yang mereka sandung, Risna hanya bergetar seraya bangun dan menatap ke arah Renata dan Rista dengan tatapan takut.
"Lo kenapa Ris?" tanya Renata keheranan.
"I -- itu a -- ada po -- pocong." Risna sangat kesusahan untuk menyelesaikan perkataan nya, karena sudah merasa amat takut.
Mendengar ucapan Risna. Renata dan Rista memilih untuk bangkit dan melihat ke arah belakang.
"Aaaaahh! Kaburrrr!" teriak Rista dan Renata lalu berlari ke lantai dua, karena mereka anggap disana aman.
Mereka dengan terburu-buru menaiki tangga menuju kelantai dua, baru setengah mereka menaiki tangga itu. Tiba-tiba saja mereka kembali di kejutkan dengan kuntilanak berwajah busuk yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
Risna yang sangat terkejut pun, terjatuh dari tangga tersebut dan pingsan dengan kepala yang sudah mengeluarkan darah segar.
"Risna!" Rista segera berlari ke arah Risna yang sedang pingsan di susul pula oleh Renata, Rista terus mencoba membangun kan adik nya tapi sayang Risna tak juga bangun.
Kemudian tiga kuntilanak berwajah busuk datang menghampiri mereka sambil melayang, hingga kaki mereka tak menyentuh lantai. Rista dan Renata hanya bisa beringsut mundur dan memohon agar hantu itu tidak menyakiti mereka.
"To -- tolong ja -- jangan sakiti kam -- mi, a -- aku mohon." Renata menyatukan kedua tangan nya dan memohon sambil terus mundur.
"I -- iya ka -- mi mohon." Rista ikut memohon dan terus mundur bersama Renata, mendengar ucapan mereka. Ketiga kuntilanak yang melayang itu hanya tertawa hingga membuat bulu kuduk mereka merinding.
Sreet sreet sreet
Suara badan yang di seret. Mendengar suara itu Rista dan Renata pun menoleh kesamping mereka untuk melihat apa yang sedang di seret, tiba-tiba saja mereka sangat terkejut + ketakutan saat melihat ada seorang wanita yang berpakain suster sedang mengesot ke arah mereka. Ya, dia adalah suster ngesot.
Wajah nya yang sangat membusuk menambah kesan menyeram kan, kemudian Rista dan Renata segera bangkit dan berlari terbirit-birit.
Brukk!
Keduanya kini ambruk dan tak sadar kan diri karena tidak melihat ke depan saat berlari, mereka pun menabrak tembok besar yang ada di depan mereka dengan sangat kuat.
"Sudah cukup dulu permainan kita, mereka pun sudah pingsan. Jadi kalian bisa pergi dan beristirahat sekarang!" titah Dev kepada anak buah nya yang menjadi hantu-hantu tadi, mereka semua memakai alat komunikasi di telinga mereka. Jadi dengan mudah bisa mendengar aba-aba dari Dev.
"Baik, Tuan." Mereka pun segera keluar dari rumah itu dan membuka kostum mereka, lalu mereka pun naik ke mobil dan pergi untuk beristirahat.
Sedangkan para bodyguard yang tidak menjadi hantu, tetap berjaga-jaga disana agar mereka tidak melarikan diri.
Disisi lain, Dev tersenyum senang saat melihat mereka yang amat ketakutan. Dev melihat semua nya melalui kamera pengintai yang terpasang dirumah itu dan terhubung ke handphone nya.
"Rasakan lah apa yang istriku rasakan kemarin malam," ucap Dev disertai seringai menakutkan nya.
"Ini baru permulaan, kalian tunggu lah! Penyiksaan selanjutnya akan segera dimulai," gumam Dev dengan suara kecil agar tidak di dengar Zia.
Dev mamatikan ponsel nya, lalu menggendong Zia ala bride style dan membawanya menuju ke kamar. Sesampainya di kamar, ia membaringkan tubuh istrinya dan ikut berbaring di samping Zia.
Dev memeluk Zia yang sudah tertidur pulas, dan segera ia pun menyusul istri cantik nya ke alam mimpi.
Bersambung ....