Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Chika Yang Malang



Setelah dua bulan mencari informasi tentang Zia, akhirnya Chika menemukan semua informasi lengkap tentang Zia.


"Ayah, ini informasi tentang gadis itu. Nama lengkap nya Ziana Sofia Andara, dia adalah anak tunggal dari Gibran Andara musuh kita," jelas Chika sambil duduk dan menyerah kan berkas berisi tentang Zia kepada ayah nya.


"Ternyata gadis itu anak dari Gibran. Baik lah mari kita mulai rencana kita," ucap Harun seraya tersenyum smirk. Dia pun menyusun rencana nya untuk memisah kan Zia dan Dev, kemudian menyatukan putri nya dan Dev setelah mereka berpisah. Begitulah yang ada di pikiran Harun.


"Apa kamu mengerti, Nak?" tanya Harun setelah menjelaskan semua rencana nya kepada putri nya.


"Chika mengerti, Yah. Ini sangat lah mudah," ujar Chika di sertai senyum penuh kemenangan.


"Ingat! Jangan pernah melukai gadis itu jika kau tidak ingin mati. Kita hanya akan menyerang hati nya bukan fisik nya, jadi jangan pernah sesekali pun kau bertindak gegaba yang akan membahayakan nyawa mu," ucap Harun memperingati putri nya.


"Baik, Ayah. Apa Chika bisa menjalan kan rencana itu sekarang?" tanya Chika kegirangan.


"Tentu Nak, tapi jangan lupakan pesan Ayah tadi," tutur Harun mengingatkan putri nya lagi.


"Iya Yah, Chika gak akan lupa kok," balas Chika tersenyum.


--------------------------------


Di sisi lain, Dev tengah asik memandangi wajah istri nya yang masih tertidur. Menurut nya wajah istri nya sangat lah cantik, bahkan semakin di pandang malah akan semakin cantik.


"Sayang ... Ayo bangun, kita sarapan dulu." Dev berusaha membangun kan Zia dengan mengusap lembut kepala nya.


"Eeuuhh." Hanya itu yang keluar dari mulut Zia, entah mengapa pagi ini Zia merasa sangat malas untuk bangun. Mungkin bawaan debay kali ya.


"Cintaku ... Ayo bangun Sayang, kasian loh debay nya kelaparan," ucap Dev lembut dan terus berusaha membangun kan Zia.


"Zia ngantuk Kak," rengek Zia dengan suara serak khas suara orang bangun tidur, namun ia masih menutup mata nya sekarang. Zia kemudian berbalik lalu memeluk tubuh Dev dan mencari kehangatan disana.


"Baby ... Ayo lah," bujuk Dev sambil mengelus kepala Zia.


"Eee gak mau ... Zia masih pengen di manja sama Kakak," rengek Zia lagi dengan suara manja nya.


"Baiklah Baby, akan ku buat kau benar-benar nyaman sekarang." Dev kemudian melentangkan tubuh Zia, lalu ia mulai menindih Zia. Akan tetapi Dev menopang tubuh nya dengan kedua tangan nya agar Zia tidak merasa sesak dengan berat badan nya.


Dev kemudian melakukan gerakan push up dan mengecup kening Zia, perlahan kecupan itu turun ke area hidung mungil Zia. Setelah itu Dev beralih mengecup kedua pipi mulus Zia, perlahan Dev mengelus pipi Zia dengan bibir nya dan sekarang ia mengecup sudut bibir Zia.


Lalu Dev memposisikan bibir nya agar pas dengan bibir Zia dan tanpa menunggu lama, ia langsung menci*um bibir mungil itu dan ******* nya dengan lembut. Zia yang sudah mulai tergoda dengan sentuhan Dev, ia pun segera membalas perlakuan Dev pada nya.


Zia mengalungkan tangan nya di leher Dev seolah memberi isyarat agar Dev tidak menghentikan aksi manisnya itu. Setelah cukup lama melakukan aksi itu, Dev pun menghentikan aksi nya dan kembali menopang tubuh nya dengan kedua tangan nya. Zia pun membuka mata nya dan pandangan mata mereka bertemu sekarang.


"Terima kasih Kak, karena udah membuat Zia senyaman ini," lirih Zia dengan mata yang terus menatap manik mata Dev.


Zia kemudian melilitkan kedua tangan nya pada tubuh Dev dan memberi isyarat pada Dev bahwa dirinya butuh kehangatan sekarang, Dev yang mengerti akan keinginan Zia segera mendekat kan tubuh nya pada tubuh Zia lalu memeluk nya erat.


"Sayang ... Sekarang kita makan ya," bujuk Dev lagi sambil mencium leher Zia dengan lembut.


"Iya Kak, ayo kita makan," balas Zia sambil mencium pipi Dev. Dev pun bangkit dari tubuh Zia, tapi sebelum itu ia menyempat kan diri untuk berbicara dengan calon anak nya.


Dev mendekatkan kepala ke perut yang sedang tidur sambil bersandar di kepala ranjang nya, kemudian Dev mencium perut rata Zia.


"Sayang ... Kamu sehat-sehat terus ya nak, kamu jangan nyusahin Mama ya." Dev mengelus perut rata istri nya.


"Appa udah ga sabar ketemu kamu, Nak." Dev kembali mencium dan mengelus perut rata Zia, sementara Zia hanya terharu saat melihat perilaku Dev yang menurut nya semakin hari semakin perhatian pada nya.


"Sayang ... Kok kamu nangis?" tanya Dev bingung karena melihat Zia menangis.


"Gak ada Kak, ini cuma air mata haru," balas Zia lalu ia pun menghamburkan dirinya ke pelukan Dev.


"Kak, Zia bahagia bangat bisa bersama Kakak," ucap Zia di dalam pelukan Dev.


"Iya Sayang, Kakak juga bahagia bisa bersama kamu," balas Dev sambil mengelus rambut panjang istri nya.


Setelah adegan romantis itu berakhir, kedua nya pun menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka yang sudah lengket.


20 menit berlalu, kini kedua nya sudah selesai dengan ritual mandi mereka.


"Kakak gak ke kantor hari ini?" tanya Zia sambil menyisir rambut di depan meja rias nya.


"Pergi Sayang. Emang ada apa Cinta, apa mau ikut Kakak?" tanya Dev sambil mengancingi kancing kemeja nya.


"Gak sih Kak cuman nanya aja," balas Zia tersenyum tipis.


"Tapi bener nih, gak mau ikut?" tanya Dev lagi.


"Iya Kak, Zia main sama Aslan aja." Zia masih saja asik menyisir rambut nya.


"Emang gak takut kalo nanti Kakak di ambil sama cewe la ...." Belum habis Dev menyelesaikan perkataan nya, tiba-tiba sebuah bantal melayang ke wajah nya.


Bugh!


Dev sangat terkejut saat sebuah bantal tiba-tiba mendarat di wajah nya, karena ia dari tadi hanya sibuk memakai baju nya tanpa melihat ke arah Zia yang melepari nya dengan bantal.


"KALO KAKAK BERANI SELINGKUH AWAS AJA, KU JAMIN MASA DEPAN KAKAK HANCUR," ancam Zia dengan menekan setiap kata-kata nya di sertai dada yang sudah naik turun akibat menahan amarah, kemudian ia berjalan menuju ke arah nakas dan mengambil sebuah pisah yang terletak di antara buah-buah yang lain. Setelah mengambil pisang itu, Zia langsung memotong pisang itu dengan pisau buah, Zia memotong pisang itu dengan sadis nya.


"Anj*r gue yang mafia kok istri gue yang kejam bin sadis gini ya?" batin Dev sambil menelan ludah nya dengan susah payah. Seketika Dev merasa sangat ngilu karena merasa bahwa aset pribadinya lah yang di potong oleh Zia, Dev pun menutupi masa depan nya dengan kedua tangan nya.


"Sayang, jangan kejam-kejam dong," ucap Dev memohon.


"Makanya Kakak jangan berani-berani nya selingkuh," tukas Zia kesal.


"Hhhhe mana mungkin Kakak selingkuh dari istri yang cantik kek kamu." Dev berjalan ke arah Zia sambil menyengir kuda lalu ia memeluk tubuh Zia untuk meredakan amarah Zia.


Kini kedua nya turun untuk sarapan pagi, setelah selesai dengan sarapan nya Dev pun berpamitan dengan Zia untuk pergi ke kantor. Namun sebelum berangkat Dev menghubungi anggota mafia nya untuk menambah keaman dirumah nya.


"Farhan, lo dimana?"


"Ada nih, gue lagi di markas. Emang nya ada apa?


"Segera lo kirim anggota kita ke rumah gue sebanyak seratus orang"


"Apa! Seratus orang? Emang nya rumah lo lagi di kepung sama musuh atau gimana?"


"Gak ada ... Gue cuman mau nambahin keaman buat istri gue"


"Apa! Istri?"


"Bisa gak kalo bicara ga usah teriak-teriak, suara kek toa mesjid aja bangga"


"Hhhe maaf, eh btw kapan lo nikah? Kok gak undang-undang?"


"Gue yang yang gak undang atau lo yang gak pergi, coba lo ingat sebelum otak lo gue kasih ke singa gue"


"Hhhhe oh iya ya, lo udah nikah tiga bulan yang lalu. Gue ga bisa pergi karena lagi sakit waktu itu"


"Eh Dev, ceritain dong tentang malam pertama nya"


"Cepat kirim anggota kita ke rumah gue sebelum gue bom bardir rumah lo"


"Anj*r sama sahabat sendiri kok sadis amat sih. Ok gue otw sekarang ya"


"Lo ga usah ikut, gue takut nanti lo suka lagi sama istri gue"


"Tenang aja, gue akan memendam rasa ini dan merelakan dia untuk dirimu"


Tutt ...


Dev langsung mematikan panggilan nya secara sepihak, ia tak ingin lama-lama berbicara dengan sahabat nya yang menurut nya tidak waras sama sekali.


"Sayang, Kakak pergi dulu ya," pamit Dev sambil mencium kening Zia.


"Iya Kak," balas Zia tersenyum.


"Oh ya, nanti ada bodyguard Kakak yang datang kesini untuk ngejagain kamu. Jadi kamu ga usah takut ya Sayang," jelas Dev dan mengelus kepala Zia, sedangkan Zia hanya mengangguk mengiyakan sambil tersenyum.


Di sisi lain, Farhan sedang kesal kepada Dev karena mematikan panggilan nya secara tiba-tiba.


"Anj*r kok dimatiin sih, dia ga tau apa di matiin secara sepihak itu rasa nya kek cinta bertepuk sebelah tangan," ucap Farhan dengan kata-kata nya yang lebay bin alay.


*Farhan Gavindra Mahesa adalah sahabat Dev sejak dari kecil, Farhan sendiri memiliki wajah tampan dan tubuh atlestis yang tak jauh dari Dev. Akan tetapi di balik ketampanan nya, Farhan memiliki sifat yang sedikit menyebalkan. Jika Dev pendiam dan dingin, maka Farhan sangat lah bar bar dan gesrek*


Farhan pun segera membawa anggota gang mafia Dev yang tadi di minta oleh Dev.


-----------------------------


"Gue cantik bangat. Pasti Dev akan langsung tergila-gila pas ngeliat gue," ucap Chika penuh percaya diri.


(Yaelah Chika, masih cantikan juga gue daripada lo. Anj*r author jadi ikut-ikutan Chika😅😅😅)


Setelah Chika siap, ia pun langsung melajukan mobil nya menuju ke kediaman Dev untuk melancarkan aksi nya.


Beberapa menit menempuh perjalan, Chika pun sampai di kediaman Abraham. Ia langsung saja memasuki halaman mansion Dev saat melihat pagar yang terbuka, namun ia sangat lah terkejut saat melihat ada banyak pria berbadan kekar dengan seragam serba hitam sedang menatap ke arah mobil nya dengan tatapan yang tajam.


Baru saja Chika akan memutar mobil nya, tiba-tiba saja mereka menodong kan pistol ke arah mobil nya dan menyuruh nya untuk keluar. Dengan gemetaran Chika pun keluar dari mobil nya, melihat Chika yang datang. Farhan segera menghubungi Dev.


"Dev, Chika datang kerumah lo nih"


"Dia datang sama siapa?"


"Sendiri aja"


"Yaudah biarin aja dia, tapi kalo dia berani macam-macam sama istri gue lo habisin aja"


"Ok, itu mah udah ada dalam otak gue"


"Tadi kan gue bilang lo jangan ke rumah gue, kok lo tetap ke rumah gue sih?"


"Abis gue penasaran sama istri lo, gue pengen liat seberapa cantik dia. Anj*i padahal cantik bangat"


"Awas berani lo sentuh istri gue, gue bantai lo hari ini juga"


"Iya gue akan nyentuh istri lo kok, tapi jujur gue suka sama istri lo"


"Farhan, sebaik nya lo diam karena gue mau lanjut kerja"


Percakapan pun di akhiri oleh Dev, kemudian Farhan mendekat ke arah Chika dan mengintrogasi diri nya.


"Ngapain lo kesini?" tanya Farhan dingin.


"Gu -- gue cuman ma -- mau ketemu De -- Devan," balas Chika terbata-bata karena ketakutan, sebab saat ini para bodyguard Dev yang berjumlah seratus orang sedang menodong kan sejata ke kepala nya.


"Devan gak ada," jelas Farhan singkat.


"Ka -- kalo gitu gu -- gue mau ketemu Zia," ujar Chika masih dengan nada bicara yang gagap, kemudian Farhan memberi isyarat kepada para bodyguard agar menurun kan senjata nya karena Chika tidak akan berani berbuat nekat apalagi ia sedang sendiri saat ini.


"Huuuffff," Chika menghela nafas lega sambil mengelus dada nya. Kemudian Chika mendekati pintu dan menekan bel rumah itu, sedangkan para bodyguard terus mengawasi gerak-gerik nya dan siap menembak nya kapan saja jika ia melakukan kesalahan.


Ting! Tong!


Zia yang tengah makan ayam goreng dan menoton tv bersama Aslan di ruang keluarga, seketika ia pun bangkit dari tempat duduk nya dan hendak membuka pintu karena bel berbunyi akan tetapi di cegah oleh bi Sari.


"Biar saya aja Nyonya," ucap bi Sari dan berjalan menuju ke arah pintu, Zia pun kembali melanjutkan acara makan-makan nya yang sempat terhenti tadi.


"Makan yang banyak Nak ku biar sehat terus," ucap Zia sambil menyuapi ayam goreng untuk Aslan.


Kriiett!


Pintu pun terbuka dan terlihat lah sosok Chika, Zia dan Aslan seketika menoleh ke arah pintu dan menatap Chika dengan tatapan tak suka karena mereka tau bahwa Chika adalah seorang p*lakor.


"Nak, itu adalah wanita yang akan merebut papa Dev dari kita. Gimana kalo kita kerjain aja, apa kamu setuju?" tanya Zia sambil mengajak Aslan untuk tos, seketika Aslan pun mengangkat tangan nya dan membalas ajakan tos dari Zia dengan cara meletak kan tangan nya di telapak tangan Zia.


"Bagus Nak, sekarang jangan biar kan dia masuk. Kejar dia Nak tapi jangan sakiti dia ya, kamu takutin aja dia biar ga berani datang kesini lagi," bisik Zia di telinga Aslan.


Melihat Zia yang tengah berbisik dengan seekor binatang, Chika pun memandang remeh ke arah Zia dan menganggap nya tidak waras.


"Heh, dasar gak waras. Masak singa di ajak ngomong dia kan hewan mana ngerti bahasa manusia," batin Chika sambil melipat kedua tangan nya di dada dan menatap sinis ke arah Aslan dan Zia. Akan tetapi jujur saja di dalam hati nya ia merasa sangat takut kepada Aslan, di tambah waktu itu Aslan hampir melukai nya sewaktu di bandara.


"Kamu siap, Nak?" tanya Zia dan di balas erangan kecil dari Aslan.


Aslan pun perlahan bangkit dari tempat duduk nya dan menunggu aba-aba dari Zia, Aslan melihat ke arah Zia dan seketika Zia pun mengangguk. Lalu Aslan mulai mengejar Chika, sontak saja Chika langsung lari terbirit-birit.


"Huwaaa! Tolong!" teriak Chika sambil berlari sementara Zia hanya tertawa ketika melihat Chika ketakutan.


"Hhhha rasain lo. Makanya jangan berani ganggu suami gue, Dev hanya milik gue dan Aslan," ucap Zia di sertai tawa nya dan mengikuti mereka dari belakang.


Chika terus saja berlari sambil berteriak hingga keluar dari mansion itu, para bodyguard Dev yang melihat Chika di kejar oleh singa nya Dev. Seketika mereka ingin membantu karena mereka pikir singa Dev lepas, namun Zia datang dan menghentikan aksi mereka agar tidak menolong Chika.


"Berhenti! Ga usah di tolong. Ga papa Aslan gak akan nyakitin dia karena Aslan cuma mau ngajak main aja hhhha," jelas Zia di sertai tawa nya, mendengar penjelasan dari Zia. Para bodyguard pun hanya menonton aksi kejar-kejaran itu.


Farhan mendekat ke arah Zia dan bertanya kepada Zia.


"Ini pasti ulah kamu kan?" tanya Farhan sambil terkekeh pelan.


"He em habis dia mau rebut Dev dari kami, ya auto kami kerjain lah hhhha," jelas Zia yang tak henti-henti nya tertawa.


"Emang Aslan mau nurut sama kamu?" tanya Farhan bingung, karena dia aja yang udah lama mengenal Aslan tapi Aslan tak pernah mau nurut dengan nya, bahkan Aslan masih galak kepada nya.


"Iya, bahkan lebih nurut sama aku daripada sama kak Dev," jelas Zia meyakinkan Farhan.


"Anj*r si Aslan sama bangat kek si Dev, tau aja mana yang bening mana yang enggak," batin Farhan sambil tertawa kecil.


Chika masih saja berlari untuk menghindari Aslan walaupun saat ini ia sangat lelah, ia berlari hingga ke pinggir jalan tiba-tiba saja Aslan menarik rok dress panjang Chika hingga robek dan membuat Chika terjatuh kedalam lumpur lebih tepat nya muka nya yang terjatuh kedalam lumpur.


Sraakk! ( suara robekan baju Chika )


"AAAAAA!" Chika berteriak histeris saat dirinya jatuh kedalam genangan lumpur. Melihat Chika jatuh kedalam lumpur, para bodyguard beserta Zia dan Farhan tertawa terbahak-bahak sehingga Chika merasa sangat lah malu.


"Aslan kemari lah! Hhhhhha," titah Zia kepada Aslan tanpa menghentikan tawa nya.


Aslan pun segera berlari ke arah Zia dan meninggalkan Chika yang masih berusaha bangkit dari lumpur yang licin itu, tak lama kemudian mobil Dev pun datang dan Dev beserta Bima amat lah terkejut di saat melihat Chika yang lebih mirip dengan manusia lumpur.


Dev melihat ada genangan air hujan di depan Chika, segera ide cemerlang pun terlintas di pikiran Dev.


"Bima berhenti!" titah Dev dan Bima segera berhenti.


"Ada apa, Tuan?" tanya Bima penasaran.


"Cepat mundurkan mobil nya!" titah Dev lagi dan hanya di turuti oleh Bima.


Setelah mundur jauh hingga beberapa puluh meter, Dev menyuruh Bima untuk kembali melajukan mobil nya dengan kecepatan penuh.


"Bima, sekarang lajukan mobil ini dengan kecepatan penuh!" titah Dev di sertai senyum jail nya, Bima pun hanya menurut saja walau jujur ia merasa bingung dengan perintah tuan nya.


Brumm


Mobil pun melaju dengan sangat cepat dan melewati genangan air yang ada di depan Chika.


"AAAAAA!" Lagi-lagi Chika berteriak histeris saat genangan air hujan itu kembali membasahi diri nya, sedangkan para bodyguard beserta Zia dan Farhan tidak tinggal diam. Mereka kembali tertawa terpingkal-pingkal bahkan diantara mereka ada sakit perut karena tertawa keras.


"Rasaian lo Chika, Dev kok di lawan," batin Dev sinis sambil melihat Chika dari kaca spion mobil nya.


Mobil Dev pun memasuki halaman mension mewah nya, ia segera turun dari mobil nya hingga membuat para bodyguard diam seketika.


Mereka membungkuk sekilas untuk menghormati Dev, kecuali Zia dan Farhan yang tidak membungkuk.


"Woi geser cepat! Enak aja lo dekat-dekat istri gue," sinis Dev sambil berdiri di tengah Zia dan Farhan, agar Farhan tidak mendekati istrinya.


"Posessif amat sih lo," balas Farhan kesal.


"Biarin, orang ini istri gua kok lo yang ribut." Dev melirik Farhan sekilas dengan lirikan tajam nya.


"Sayang, kamu baik-baik aja kan? Chika gak ngapa-ngapain kamu kan? Dan cowok ini apa dia ada kurang ajar sama kamu?" tanya Dev bertubi-tubi.


"Gak Kak, Kak Farhan baik kok sama Zia dia gak kurang ajar," jelas Zia meyakinkan Dev.


"Dan lo liat Chika sekarang, dia kek gitu karena ulah istri lo dan Aslan hhhha," ujar Farhan tertawa saat melihat Chika.


"Apa! Zia sama Aslan?" tanya Dev kaget dan tak percaya.


"He em, ayok kita masuk dulu biar gue ceritain kejahilan istri lo hhhha," ajak Farhan yang masih tertawa.


Dev dan Zia beserta Farhan pun masuk kedalam mansion mewah itu, sedangkan Chika memilih untuk mengambil mobil nya walaupun ia merasa amat sangat malu karena para bodyguard Dev terus menertawakan nya saat ia mengambil mobil nya yang masih terparkir di halaman Dev.


Mana para bodyguard Dev muda-muda dan ganteng-ganteng semua lagi, yang paling tua dari bodyguard Dev baru berumur 30 tahun. Fiks auto pakek cadar dah si Chika saking malu nya.


Bersambung ....