
Zia dan Dev beserta mertuanya masih saja menangis bayi itu, mereka sangat terpukul dengan kepergiaan bayi itu terlebih lagi Zia. Ia merasa jika hidupnya ikut berakhir saat mendengar kabar kem4tian anaknya.
Hujan turun semakin deras dan angin badai bertiup semakin kencang seolah ikut merasakan kesedihan yang mereka alami sekarang.
Duarr!
Tiba-tiba sebuah petir menggelegar dengan sangat kuat hingga membuat mereka semua terkejut, beriringan dengan suara petir pula. Sebuah keajaiban pun terjadi.
"Ooeekk! Oeekk! Oeekk!" tangis bayi itu pecah setelah petir bersuara dengan sangat kerasnya.
Mereka semua terkejut bukan main ketika mendengar suara tangisan bayi yang memenuhi ruangan itu, sontak saja mereka semua langsung melihat ke arah anak Zia yang kini masih di gendong oleh Zia sendiri.
"Putraku!" tangis Zia kembali pecah setelah melihat putranya yang sedang menangis di dalam gendongannya.
"Ibu, Ayah, Kak Dev. Lihatlah! Anakku masih hidup!" ucap Zia di sela-sela isak tangisnya.
Mereka semua mengucap syukur kepada sang pencipta, seketika tangis mereka berubah menjadi tangis haru dan wajah mereka semua terhiasi dengan senyum walau masih menangis.
"Ini adalah sebuah keajaiban," gumam Tn. Andra terisak.
"Oeek! Oeek! Oeek!"
Melihat anaknya yang terus menangis, Zia pun membalikkan badannya dan menyusui bayi itu. Ia sama sekali tidak peduli walau bayi itu belum di bersihkan sekarang, di dalam hatinya hanya ada rasa syukur dan bahagia karena bayinya telah hidup kembali.
"Terima kasih banyak, Tuhan. Terima kasih karena kau telah memberikan anak ini untukku," batin Zia yang terus mengeluarkan airmata haru.
"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih karena telah mengembalikan anak ini kepada kami," batin Dev yang juga masih menangis haru.
Setelah beberapa menit menyusui bayi mungil itu, Bu Devi menyuruh Dev untuk mengambilkan air hangat karena mereka akan membersihkan bayi itu.
"Dev, cepat ambilkan air hangat!" titah ibunya Dev dan Dev langsung mematuhinya.
Tak lama kemudian, Dev kembali dengan sebaskom air hangat di tangannya.
"Ini, Bu," ucap Dev seraya meletakkan baskom itu di depan ibunya.
"Sayang, berikan anakmu biar Ibu bersihkan dulu!" pinta Bu Devi pada Zia.
"Iya, Bu. Ini." Zia segera menyerahkan bayi itu kepada mertuanya.
"Ibu, Ayah, Zia. Dev ingin kita menyambut bayi ini dengan sangat spesial," ujar Dev menatap mereka bertiga secara bergantian.
"Ayah setuju, Nak," balas Tn. Andra mengangguk.
"Ibu juga sangat setuju, Nak," balas bu Devi yang tengah memandikan cucunya.
"Zia juga setuju, Kak," balas Zia ikut menyetujui rencana Dev.
"Bagaimana kalo kita adakan acaranya minggu depan? Sekaligus dengan acara pemberian nama dan turun tanah," saran Dev dan langsung di setujui oleh mereka semua.
Satu minggu kemudian ....
Jam telah menunjukan pukul 08:00 pagi.
Semua orang mulai berdatangan ke kediaman Abrahan termasuk keluarga Zia dan Farhan, tak lupa juga Tn. Andra mengundang Tuan X dan seluruh rekan-rekan kerja mereka lainnya. Fotographer juga turut undang oleh Dev karena ia ingin setiap momen bahagia itu di abadikan.
Semua orang yang datang tak henti-hentinya mengucapkan selamat kepada keluarga Ibu dan Ayah Dev, juga kepada Ibu dan Ayah Zia yang saat ini telah berada di sana. Semua orang yang hadir terlihat sangat gembira dan mereka mulai bertanya tentang keberadaan Zia karena mereka memang sudah tidak sabar lagi untuk melihat anaknya Dev.
Tak lama kemudian, Zia pun turun bersama dengan Dev yang menggendongnya karena Zia masih sangat lemah sehabis melahirkan semalam. Semua pandangan orang yang hadir tertuju kepada Zia dan Dev beserta bayi yang tengah di gendong oleh Zia, semua yang hadir pun tersenyum bahagia melihat kedatangan mereka.
Bima segera membawakan kursi roda saat melihat Dev menggendong Zia, kemudian ia meletakkan kursi roda itu di samping tangga dan Dev segera menurunkan tubuh Zia di atas kursi roda itu.
Semua orang mendekat ke arah Zia untuk melihat bayi itu, pujiaan pun turut di layangkan oleh mereka setelah melihat bayi mungil itu.
"Yaampun, bayinya lucu bangat."
"Iya, tampan lagi."
"Tampan seperti ayahnya."
"Ibunya juga sangat cantik."
"Benar-benar sangat menggemaskan."
"Sangat tampan."
Begitulah pujian yang di layangkan oleh mereka kepada saat melihat bayi itu, selain memuji bayi itu. Tangan mereka juga tidak bisa di kendalikan hingga mereka tidak bisa jika tidak menyentuh bayi itu, mereka benar-benar gemas ketika melihat bayi itu.
Setelah ibu-ibu itu menjauh dari Zia, terlihatlah Rangga yang berlari menuju ke arah Zia.
"Maaf, Sayang. Abang terlambat," ujar Rangga dengan nafas yang terengah-engah.
"Zia pikir Abang gak datang," balas Zia menatap Rangga.
"Gak, Sayang. Abang terlambat karena Abang harus beli ini dulu untuk ponaan Abang." Rangga meletakkan sebuah kado di hadapan Zia.
"Selamat ya, Sayang," ucap Rangga, kemudian ia mengecup kening Zia dan setelah itu ia beralih mencium keponakannya.
"Keponakanku sangat tampan," puji Rangga seraya mengelus pipi bayi mungil itu.
"Ya, iyalah. Lihat dulu Ayahnya," ujar dev penuh percaya diri.
"Ya elah, Adek gua juga cantik kali," bantah Dev.
"Kalo gak ada gue, gak mungkin ada anak itu," ujar Dev lagi.
"Tapi kalo gak ada Adek gue, anak ini juga gak mungkin ada," bantah Rangga lagi.
"Hhhhha!" Semua orang tertawa mendengar perdebatan mereka.
Tak lama kemudian, terlihatlah Farhan yang datang bersama seorang ustadz andalan keluarga Abraham. Tn. Andra, Tn. Gibran dan Tn. Gavin segera menyambut kedatangan ustadz itu dan mempersilakannya untuk duduk.
"Wa'alaikumsalam," balas Tn. Andra, Tn. Gibran dan Tn. Gavin bersamaan.
"Silakan duduk, Ustadz." Tn. Andra segera merangkul bahu ustadz itu dan mengajaknya untuk duduk.
"Silakan di minum, Ustadz." Tn. Gibran meletakkan segelas jus di depan ustadz itu.
"Terima kasih." Ustadz Zaki tersenyum kepada mereka dan langsung meminum jus yang di berikan oleh Gibran.
"Apa kita mulai sekarang?" tanya ustadz Zaki setelah meminum jus itu.
"Iya, Ustadz," balas mereka bertiga mengangguk.
"Baiklah. Apakah semua persiapannya berupa madu, pisau cukur, kelapa tua, payung, kain batik dan nasi ketan sudah siap?" tanya ustadz Zaki lagi.
"Sudah, Ustadz. Pelayan! Tolong bawakan semua perlengkapannya!" titah Tn. Andra dan para pelayan langsung membawakan semuanya ke depan ustadz tersebut.
"Tolong bawakan bayinya kemari!" pinta ustadz Zaki.
"Baik, Ustadz. Nak! Kemarilah!" seru Tn. Andra kepada Dev dan Zia.
"Baiklah, Ayah!" Dev segera mendorong Zia menuju ke arah ustadz itu duduk.
Setelah Zia dan Dev sampai di sana, ustadz Zaki langsung melakukan ritual adat yang di sebut dengan ( peusijuk ). Setelah ritual peusijuk selesai, ustadz Zaki berlanjut membacakan doa dan mulai menyuapi sedikit madu ke dalam mulut bayinya Dev.
Selanjutnya ustadz Zaki meminta Dev untuk membawa putranya ke halaman rumah karena akan di lakukan ritual selanjutnya, Dev hanya menurut saja dan ia langsung membawa Zia dan anaknya ke halaman rumah.
"Bawakan juga payung dan kain batiknya! Kelapanya juga!" pinta ustadz Zaki lagi.
"Baik, Ustadz." Ibunya Zia langsung mengambil kain batik dan ibunya Dev mengambil payungnya. Sementara ibunya Farhan mengambil kelapa.
"Tuan, sekarang gendonglah cucumu dan berjongkoklah di sini sambil berpayung tapi usahakan agar kaki cucumu menyentuh tanah. Dua orang, tolong kibarkan kain batik ini di atas mereka. Dan kau, Nak. Belah kelapa ini, usahakan terbelah hanya dalam satu kali pukulan," jelas ustadz Zaki kepada semuanya.
Kemudian Gibran segera menggendong cucunya dan berpayung sambil berjongkok di halaman itu seperti arahan ustadz Zaki, Tn. Andra dan Tn. Gavin membuka kain batik itu dan memegangi tepi kain itu lalu membentangnya tepat di atas kepala Gibran dan cucunya, seperti memayungi.
Selanjutnya, Dev mengambil kelapa dan membelahnya hingga terbelah dalam satu kali pukulan saja. Dev membelah kelapa itu tepat di atas kain batik itu, hingga airnya mengalir dan mengenai payung yang di gunakan oleh Tn. Gibran dan cucunya.
Setelah selesai membelah kelapa itu, ustadz Zaki menyuruh Dev untuk membuang belahan kelapa itu ke arah timur dan barat. Dev hanya menurut saja, kemudian yang terakhir. Tinggallah ucapara cukur rambut dan pemberian nama, ustadz itu mencukur rambut putranya Dev.
"Sekarang hanya tinggal memberikan bayi ini nama. Siapa nama yang akan kalian berikan?" tanya ustadz itu setelah mencukur rambut bayi Zia.
"Saya akan memberinya nama Alzan karena saya merasa anak ini, adalah anak yang sangat kuat," ujar Dev pada ustadz itu.
"Alzan? Nama yang indah. Alzan artinya, singa yang kuat. Mulai sekarang, panggillah anak ini dengan nama Alzan. Alzan Devan Abraham," jelas ustadz itu sambil mengusap pipi lembut bayi itu.
"Alzan." Bayi itu tersenyum di saat Zia menyebut namanya seolah ia menyukai nama itu.
Akhirnya, semua upacara telah selesai dan kini hanya tinggal acara makan-makan saja. Alzan yang sedari tadi di gendong oleh Zia mulai rewel, sepertinya Alzan haus.
"Kak. Keknya Alzan haus, deh. Gimana, ya? Gak mungkin juga kalo Zia pergi sekarang, gak enak sama tamu," ujar Zia mengadu pada Dev.
"Tenang, Sayang." Dev langsung membuka jasnya dan menuti dada Zia agar Zia bisa menyusui Alzan.
"Nah, sekarang kau bisa menyusui Alzan," ucap Dev tersenyum pada Zia dan Zia langsung mematuhi ucapan Dev.
Dev terus berdiri di belakang Zia dan memegangi jas itu agar tidak melorot selama Zia menyusui Alzan.
"Kak, Kakek gak pulang?" tanya Zia pada Dev yang saat ini masih berdiri di belakangnya.
"Entah, Sayang. Katanya Kakek pulang. Tapi kok belum sampai, ya?" ujar Dev bingung.
Satu jam telah berlalu, saat ini semua para tamu undangan telah pergi meninggalkan rumah Dev. Namun, sebelum pergi dari sana, mereka semua telah meninggalkan kado-kado mereka untuk bayi mungil itu. Selain tamu undangan, ustadz Zaki juga telah di antar pulang oleh Bima dan kini yang tersisa hanyalah keluarga Dev dan Zia.
"Ayah, Kakek gak pulang?" tanya Dev pada ayahnya.
"Bagaimana mungkin aku tidak datang," ucap Tuan X yang baru saja memasuki pintu rumah itu.
"Ayah!" ucap Tn. Andra, Tn. Gibran xan Gavin bersamaan.
"Kakek!" timpal Dev, Rangga dan Farhan.
Mereka semua langsung menghampiri Tuan X dan menyambut serta mempersilakannya untuk masuk.
"Selamat, Nak. Selamat Cucuku." Tuan X memeluk anak-anak angkatnya dan tak lupa pula beliau memeluk cucu-cucu angkatnya.
"Siapa namanya, Nak?" tanya Tuan X pada Dev.
"Alzan, Alzan Devan Abraham," ujar Dev memberitahu Tuan X.
"Alzan, nama yang sangat indah. Sesuai untuk putramu yang tampan ini." Tuan X mendekat ke arah Zia dan mengelus pipi mulus Alzan yang tengah tertidur di pangkuan Zia.
"Selamat untukmu, Nak," ucap Tuan X pada Zia.
"Oh ya, bawakan manisannya!" titah Tuan X dan anak buahnya langsung memberikannya sekotak manisan.
Tuan X mulai menyuapi manisan itu kepada semua orang yang ada di sana tanpa terlewatkan satu pun termasuk anak buahnya dan anak buah Dev, itu adalah kebiasaan yang kerap kali di lakukan oleh orang India ketika mereka mendapatkan kabar bahagia.
Setelah selesai Tuan X menyuapi manisan itu, Dev pun mengajak seluruh semuanya untuk berfoto bersama.
"Ayo semuanya! Ayo kita berfoto bersama," ajak Dev dan langsung di setujui oleh mereka semua.
Tahap pertama Zia berfoto dengan keluarganya dan keluarga Dev juga keluarga Farhan beserta Tuan X, di tahan kedua Dev dan Zia beserta Alza berfoto bersama seluruh anak buah Dev dan Tuan X.
Setelah sesi foto selesai, mereka semua kembali berbincang-bincang hangat sambil menemani Tuan X makan. Sementara Dev, Rangga dan Farhan tengah asik bermain bersama Alzan yang saat ini sudah bangun dari tidurnya.
Zia tersenyum bahagia karena melihat semua keluarganya telah kembali berkumpul dengan selamat dan penuh canda tawa bahagia, Zia bertambah bahagia karena hadirnya Dev junior di antara mereka.
TAMAT .
Akhirnya seluruh keluarga Zia hidup bahagia tanpa adanya gangguan sedikitpun, hari-harinya mereka lalui dengan sangat bahagia bersama seluruh keluarga dan juga bersama Dev junior.