
Kini Chika berada di dalam mobil nya dan sedang menuju ke rumah nya, ia terus saja mengumpat di sepanjang jalan karena sangat marah akan kejadian tadi.
"Tunggu lo Zia akan gue balas perbuatan lo ke gue," monolog Chika sambil terus fokus menyetir.
"Aaarrggg!" Chika mengerang marah dan memukul keras stier mobil nya.
Tak lama setelah di pukul, mobil nya pun mogok dan berhenti mendadak hingga membuat kening nya terhantuk ke stier mobil.
"Aduduh jidat gue." Chika mengusap jidat nya yang membiru akibat terbentur stier.
"Ishh, ni mobil kenapa lagi?" Chika pun turun untuk memeriksa mobil nya.
Chika membuka kap depan mobil nya dan memeriksa mesin-mesin yang ada disana, akan tetapi ia sama sekali tak mengerti akan mesin.
"Aarrgg!" erang Chika marah dan menutup kembali kap mobil nya dengan keras.
"Aaaaaa!" teriak Chika karena satu tangan nya terjepit kap mobil nya. Sungguh malang masib Chika, sudah jatuh ketimpa tangga. Begitulah kata pepatah.
Chika berdiri di tepi jalan dan meminta tolong, namun tiada yang mau menolong nya. Orang-orang malah mengatakan kalau dia adalah orang gila karena pekaian nya yang sudah compang camping, dia memang benar-benar sangat mirip orang gila. Di tambah lagi wajah dan badan nya yang penuh dengan sisa-sisa lumpur.
"Jangan dekat-dekat Nak, itu orang gila," ucap ibu-ibu kepada anak nya dan menatap tajam ke arah Chika.
"Woi jangan sembarangan lo ya, enak aja lo bilang gue orang gila gue lapor ke papa gue mampos lo," tukas Chika kesal.
"Kasian ya, masih muda udah gila," ucap ibu-ibu lain yang lewat di samping Chika.
"He em, cantik-cantik kok gila ya," balas ibu-ibu yang lain dan menatap iba ke arah chika.
"Hey anj*ng! Gue gak gila woi, mau gue tabok lo." Chika berteriak dan mengumpat kesal, sehingga membuat nya semakin mirip orgil.
"Orang gila! Orang gila!" teriak beberapa anak-anak yang lewat di samping Chika.
"Huh dasar anak-anak nakal. Pergi gak!" Chika memelototi anak-anak itu hingga mereka lari terbirit-birit.
"Aaaa! Ada orang gila!" teriak anak-anak itu sambil berlari. Kemudian Chika memutuskan untuk masuk kembali ke dalam mobil nya, karena ia sudah tak sanggup mendengar orang-orang memanggil nya orang gila. Setelah berada di dalam mobil, Chika menghubungi ayah nya agar menjemput nya.
"Aaaaaaa!" Chika kembali berteriak frustasi sambil mengacak-acak rambut nya hingga rambut nya berantakan kek rambut si Aslan.
(Hhha canda Aslan, jan marah ya ...π)
-----------------------
"Hhhhhaaaa!" Tawa Devan dan Farhan pecah, ketika mendengar penjelasan dari Zia tentang kejailan nya kepada Chika.
"Hhhh bumil kok jail bangat sih," ujar Dev tak berhenti tertawa begitu pula Farhan.
"Hhhhh ... Apa! Bumil?" tanya Farhan kaget dan tak percaya.
"Iya, itulah alasan gue nambah keamanan dirumah gue tadi. Karena istri gue lagi hamil," jelas Dev meyakin kan Farhan.
"Wiiihh, selamat ya buat kalian berdua, auto jadi paman dah gue bentar lagi," ucap Farhan kegirangan. Sedangkan Dev dan Zia hanya tersenyum.
"Makanya lo nikah sono biar gak jadi jomblo karatan," balas Dev dengan ucapan pedas nya.
"Yaelah lo pakek bilang gue jomblo karatan padahal lo yang udah hampir karatan, untung ada Zia yang mau nerima lo apa adanya. Tapi kalo sempat Zia ketemu duluan sama gue, udah gue nikahin dah si Zia biar lo jadi jomblo karatan bin dekil seumur hidup," jelas Farhan membalas ucapan pedas Dev.
"Eh lo dengar ya! Dekil-dekil gue kek gini, gue berwibawa tau gak? Bukan kek lo yang bar-bar dan takut sama kecoa." Dev membongkar rahasia Farhan.
"Dari pada lo, lari setengah mati cuman karena pacat. Huuhh! Percuma badan gede sama binatang gak bertulang aja takut." Farhan ikut membongkar rahasia Dev.
Zia hanya menyaksikan pertengkaran itu dengan tatapan malas nya, lalu kemudian ia pun melerai pertikaian diantara mereka berdua.
"Cukup! Kalian ini udah kek anak kecil aja. Kak Dev lagi, udah hampir jadi ayah kok masih ke kanak-kanakan aja," omel Zia karena kesal dengan sikap mereka.
"Hhhha dimara ...." Zia langsung menyela ucapan Farhan.
"Kak Farhan lagi, udah dewasa juga kok masih suka berantem ga jelas," omel Zia kepada Farhan.
"Cepat baikan!" titah Zia kepada Dev dan Farhan, namun mereka enggan berbaikan bahkan menatap pun tidak mau.
"Di yang duluan," ucap kedua nya serempak dan saling menunjuk, Zia yang sudah kesal melihat drama itu pun langsung menjewer telinga mereka hingga memerah.
"Aww, aduduh sakit," ringis kedua nya serempak saat di jewer oleh Zia.
"Mau baikan gak?" tanya Zia sambil terus menjewer telinga mereka.
"Iya iya! Kita baikan kok awwss," ucap kedua nya sambil mengangguk cepat.
"Nah gitu dong." Zia pun melepas tangan nya dari telinga mereka, dan mereka langsung berbaikan karena takut akan di jewer lagi oleh Zia.
"Eh btw, gue mau balik dulu ya," pamit Farhan.
"Ok, lo hati-hati di jalan ya," ucap Dev memperingati Farhan.
"Bye bumil, jaga diri baik-baik ya bumil cantik," ucap Farhan seraya tersenyum manis ke arah Zia dan membuat Dev menatap tajam ke arah nya.
"Udah sana lo pulang sekarang! Ganggu aja tau gak?" usir Dev kesal.
"Jadi cerita nya lo ngambek kan karena gue tatap istri lo?" tanya Farhan menebak.
"Hmmm." Hanya deheman yang keluar dari mulut Dev.
"Huh! Dasar kulkas dua belas pintu," umpat Farhan kesal.
"Dah lah gue mau balik aja." Farhan pun membalik kan tubuh nya dan berlalu pergi meninggalkan mansion itu. Apakah Farhan marah? Tentu saja tidak karena Devan adalah sahabat karib nya dan hal seperti itu sudah biasa bagi mereka.
"Sayang, Kakak cemburu," rengek Dev manja dan langsung memeluk tubuh istri nya.
"Ga usah cemburu Kak, aku cuman milik Kakak kok," jelas Zia sambil mengelus lembut kepala Dev hingga membuat Dev merasa sangat nyaman.
Karena lelah yang teramat sangat dirasakan oleh Dev, kini ia pun tertidur di pelukan Zia dengan menyandar kan kepala nya di dada empuk Zia.
"Kak, ayo tidur di kamar aja biar lebih nyaman tidurnya," ajak Zia sambil terus mengelus kepala Dev.
"Gak mau Baby, Kakak lebih nyaman tidur disini," lirih Dev dengan mata yang masih tertutup.
"Kak, ayolah. Zia juga capek kalo harus sambil duduk gini terus, Zia butuh sandaran Kak," jelas Zia berusaha membuat Dev mengerti.
"Yaudah, tapi Kakak mau nya tidur di pelukan kamu bukan di kasur," ujar Dev manja.
"Iya Kak, boleh kok." Zia dan Dev segera bangkit dan menuju ke kamar mereka.
---------------------------
Harun telah sampai di tempat yang kirim oleh Chika, ia segera turun dan mencari putri nya. Chika yang melihat ayah nya sudah datang, ia segera turun dari mobil nya.
"Ayah! Chika di sini," sahut Chika yang berdiri tidak jauh dari Harun. Harun celingak celinguk mencari anak nya, karena ia baru saja mendegar suara Chika.
"Dimana Chika, Tadi ada suara nya tapi kemana Chika nya? Lebih baik ku telpon saja dia." Harun mengeluar kan handphone nya dan menghubungi Chika.
"Ayah! Ngapain ayah telpon Chika lagi? Orang Chika ada disini kok," ucap Chika berdecak kesal kepada ayah nya.
"Kamu Chika?" tanya Harun keheranan saat melihat kondisi anak nya yang sangat mirip orang gila.
"Iya, masak Ayah gak kenal sama anak sendiri sih?" ketus Chika.
"Ayah pikir tadi kamu itu orang ...." Harun menggantung kan ucapan nya.
"Apa? Ayah pikir aku ini orang gila. Huuhh! Ayah ngeselin," tukas Chika dan langsung masuk ke dalam mobil ayah nya.
"Tidak, Nak. Hanya saja Ayah tidak mengenal mu karena kondisi mu sekarang," jelas Harun yang ikut masuk ke dalam mobil nya.
"Nak, kenapa kamu bisa seperti ini?" tanya Harun bingung dan menatap putri nya serius.
"Ini semua gara-gara Zia, Ayah." Chika pun mencerita kan semua nya kepada ayah nya.
-----------------------
Ke esokan hari nya ....
Zia tengah asik bersantai di taman yang ada di dekat mansion Dev sambil menjilati ice cream nya dan menunggu Dev pulang, sebenar nya ia di larang makan ice cream oleh Dev. Namun ia tidak bisa menahan nya karena ia sangat ingin memakan ice cream hari ini.
"Slurrp, emmm enak bangat ice cream nya sluurp," ucap Zia kegirangan sambil terus menjilat ice cream nya.
"Yaampun! Aku lupa kasih Aslan ice cream ini, biasa nya kami selalu makan berdua." Zia pun bangkit dari kursi taman itu dan bergegas pulang untuk memberikan Aslan ice cream, akan tetapi tiba-tiba ada seseorang orang yang memanggil nya.
"Zia tunggu!" teriak seorang gadis yang tak lain adalah Chika. Zia pun membalikkan badan nya dan menatap Chika dengan tatapan malas.
"Mau ngapain kamu kesini?" tanya Zia ketus saat melihat Chika mendekati nya.
"Aku cuma mau ngomong sama kamu Zia, ini penting dan ini soal orang tua kamu. Aku tau siapa pembunuh kedua orang tua mu," jelas Chika meyakin kan Zia.
"Pembunuh? Kamu jangan ngadi-ngadi deh, karena ayah ku meninggal di dalam kecelakaan. Sedangkan ibu meninggal karena sakit," jelas Zia dan hendak meninggalkan Chika, namun tangan nya di cekal oleh Chika.
"Ayo ikut aku, biar ayahku yang akan menjelaskan semua nya kepada kamu karena ayahku tau siapa pelaku nya," jelas Chika lagi sambil menarik tangan Zia menuju ke mobil nya, sementara Zia hanya ikut saja karena ia juga penasaran.
Di sepanjang perjalanan hanya ada keheningan di antara mereka, karena Zia enggan berbicara dengan Chika sebab ia tau bahwa Chika menyukai Dev.
[Ayah, Zia sudah bersama ku dan kami sedang menuju ke rumah kita]
[Bagus Nak, terus lah bersikap manis kepada nya agar ia mau ke rumah kita]
[Iya Ayah, sebentar lagi kami sampai]
Setelah mengirim kan pesan kepada ayah nya, Chika pun kembali bersikap sok manis kepada Zia.
"Zia, kamu mau apa biar aku belikan?" tawar Chika berpura-pura baik.
"Gak, aku gak mau apa-apa," ketus Zia.
Beberapa menit kemudian, mereka pun telah sampai di kediaman Wijaya. Chika langsung menuntun Zia masuk dan saat masuk, Zia di sambut ramah oleh kedua orang tua Chika.
"Silahkan duduk, Nak!" titah Harun kepada Zia, sementara Zia hanya mematuhi tanpa membalas nya.
"Ini Nak minuman nya di minum ya." Ibu nya Chika datang sambil membawa nampan berisi camilan dan air.
"Apa kamu anak nya Gibran Andara?" tanya Harun membuka percakapan serius dengan Zia.
"Iya, kenapa anda mengenali ayah saya?" tanya Zia bingung.
"Bagaimana tidak kenal, Gibran adalah sahabat karib Om bahkan kami selalu bekerja sama dalam setiap proyek, bukan hanya itu bahkan kami sudah menjodoh kan mu dengan Kakak nya Chika. Tapi apa boleh buat sekarang kamu sudah menikah," jelas Harun berbohong. Padahal ia adalah musuh terbesar ayah nya Zia.
Zia hanya mendengar kan penjelasan Harun dengan serius tanpa menjawab nya sepatah kata pun.
"Apa kau tau siapa yang sudah melenyap kan ayah mu?" tanya Harun pada Zia sedangkan Zia hanya menggeleng pertanda tidak.
"Om merasa tidak enak bila harus mengatakan yang sebenarnya, tapi Om kasian kepada mu jika tidak mengatakan nya." Harun memasang wajah sedih nya untuk membuat Zia semakin penasaran.
"Katakan lah yang sebenar nya! Aku sudah siap," ucap Zia tegas.
"Dev lah pembunuh nya," ungkap Harun berbohong, seketika Zia marah dan memukul keras meja kaca kecil yang ada di depan nya sekarang.
Brakk! ( suara meja yang di pukul )
"Tidak! Tidak mungkin kak Dev pelaku nya, jika memang kak Dev pelaku nya mengapa ia menikahi ku sekarang?" tanya Zia penuh emosi.
"Tenang lah Nak, aku bisa menjelaskan nya dari awal," ucap Harun lembut dan menenang kan Zia, seketika Zia pun meredam amarah nya dan memilih mendegar kan lagi ucapan Harun. Harun pun melanjutkan cerita karangan nya.
"Tidak! Tidak mungkin kak Dev menikahi ku hanya untuk balas dendam hikks." Zia mulai terisak ketika mengingat nasib nya. Benar kah suami nya hanya menikahi nya karena dendam.
"Om tidak berbohong, Nak. Bahkan Om lah saksi nya disaat ayah kamu di bunuh oleh Dev dengan sadis nya." Lagi-lagi harun menceritakan kebohongan nya.
"Dan kamu tau? Sebenarnya Dev hanya mencintai Chika karena ia telah Om jodoh kan sedari kecil dengan Chika, dan dia menikahi mu hanya sebagai pelampiasan nya saja karena ia kesepian saat Chika pergi ke Amerika untuk belajar waktu itu," jelas Harun sambil terus meyakin kan Zia agar percaya dengan fitnah nya dan termakan hasutan nya.
Zia hanya menangis sekarang, ia benar-benar bingung. Harus kah ia percaya kepada Harun ataukah ia harus percaya kepada suami nya. Entahlah, pikiran Zia campur aduk sekarang dan ia sangat terpuruk saat mengingat tentang ayah nya.
Harun kemudian mengeluarkan sebuah jam tangan dari saku nya dan jam tangan tersebut milik ayah Zia, Harun sengaja menunjuk kan jam tangan itu agar Zia lebih percaya kepada nya.
"Ini Nak, Om harap kamu percaya kepada Om." Harun menyerahkan jam tangan itu kepada Zia.
"Ini milik Papa," gumam Zia sembari mengambil jam tangan itu dari tangan Harun.
"Iya Nak, itu punya ayah kamu. Itu Om temukan di lokasi kejadian, hanya itu yang berhasil Om temukan dan Om menyimpan nya sebagai kenangan," jelas Harun dengan manis nya.
"Nak, jika kamu ingin selamat dari mafia itu. Kamu harus segera menjauh dari nya, pergi lah Nak sebelum kau menjadi mangsa berikut nya." Harun semakin memprovokasi Zia yang sedang terpuruk.
"Apa kamu mau mati sia-sia di tangan Dev? Jika tida ...." Ucapan Harun langsung di sela oleh Zia yang sudah sangat kesal karena mendegar suami nya di fitnah.
"Cukup! Berhenti memfitnah suami ku!" bentak Zia dengan air mata yang masih saja mengalir.
"Zia, Ayah ku tidak berbohong percayalah kepada nya. Bahkan aku sudah berusaha untuk menjelaskan nya dari kemarin tapi tidak sempat," jelas Chika menambah-nambah hasutan nya.
Zia kemudian berlari keluar dari rumah itu tanpa menjawab perkataan mereka sepatah kata pun, ia segera pulang dengan menggunakan taksi.
"Ayah, apakah ini akan berhasil? Apakah Zia akan percaya kepada kita?" tanya Chika sambil menatap Zia yang kian menjauh dari pandangan nya.
"Meskipun dia tidak percaya akan tetapi, dia sudah memiliki keraguan di hati nya untuk Dev," balas Harun di sertai senyum smirk nya.
Bersambung ....