Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Chika Comeback And Pria Misterius



Sebulan kemudian ....


Kini usian kandungan Zia sudah genap dua bulan dan berjalan menuju usia tiga bulan. Semenjak kepergian Chika, hidup mereka sangatlah damai dan bahagia di tambah lagi dengan adanya buah cinta yang sedang di kandung oleh Zia, maka kebahagiaan mereka semakin bertambah.


Hari ini Zia dan Dev sedang berada di rumah sakit untuk memeriksa kandungan Zia.


"Bagaimana, Dok?" tanya Dev penasaran.


"Euum, sangat bagus. Anak dan ibu sangat sehat," ucap dokter kandungan itu sambil mengulas senyum manis kepada mereka.


"Tapi meskipun ibu dan bayinya sehat. Tetap jaga mereka terlebih lagi si ibu, karena jika si ibu tertekan dan terlalu lelah, maka efeknya tidak akan baik untuk si bayi. Jadi saya harap, jangan biarkan si ibu merasa tertekan sedikit pun," jelas dokter itu memperingati mereka berdua.


"Iya, Dok. Saya akan menjaga istri dan calon anak saya," balas Dev tersenyum.


"Baik, saya permisi dulu." Dokter itu kembali mengulas senyum manis, kemudian ia bergegas meninggalkan ruangan itu.


"Sayang, ayo kita pulang!" ajak Dev kepada Zia.


"Ayo. Tapi sebelum pulang kita ke supermarket dulu, ya," pinta Zia seraya mengangkat kedua alisnya.


"Iya, Sayangku." Dev langsung menggendong Zia dari atas brankar rumah sakit itu, kini mereka akan menuju ke supermarket sesuai dengan permintaan Zia.


"Kak Dev, gak ke kantor hari ini?" tanya Zia.


"Gak, Sayang. Kakak mau bawa kamu jalan-jalan biar kamu bahagia terus, jika kamu bahagia maka anak kita juga makin sehat," jelas Dev sambil mencium tangan Zia yang ia pegang sedari tadi, sedangkan tangan kanannya sedang menyetir.


Zia hanya tersenyum ketika mendengar jawaban dari Dev, ia merasa sangat bahagia karena mendapat suami yang perhatian seperti Dev. Kebanyakan pria hanya sayang kepada pasangannya sebelum menikah, tetapi Dev sangat berbeda, ia sangat menyayangi Zia setelah menikah dan ia semakin sayang kepada Zia karena ia tengah mengandung anaknya sekarang.


-----------------------


Seorang pria tengah duduk di kursinya, ia menghadap ke arah jendela dan memandangi langit kota Amerika yang penuh dengan bintang-bintang berkilauan. Tiba-tiba saja anak buahnya datang dan memberitahukan apa yang ia inginkan.


"Did you get the information?" tanya pria itu seraya membalikkan kursinya.


(Apakah kamu mendapatkan informasinya?)


"Already, Sir. This is file about that person," ucap anak buahnya seraya menyerahkan berkas berisi tentang orang yang yang pria itu cari.


(Sudah, Tuan. Ini berkas tentang orang itu)


"Is he already married?" tanya pria itu seraya mengambil berkasnya.


(Apakah dia sudah menikah?)


"Yes, he is already married with a girl named Ziana Sofia Andara," jawab anak buahnya.


(Ya, dia sudah menikah dengan seorang gadis bernama Ziana Sofia Andara)


"Is his wife beautiful?" tanya pria itu di sertai senyum jahatnya.


(Apakah istrinya cantik?)


"So pretty, Sir. There is a photo in the file," balas anak buahnya.


(Sangat cantik, Tuan. Ada fotonya di dalam berkas itu)


Pria itu sesegera mungkin membuka berkas itu dan membaca semua informasi tentang Devan dan Zia, kemudian ia membuka halaman terakhir yang berisi tentang foto Zia. Pria itu tersenyum lebar saat melihat foto Zia, ia sangat tertarik melihat kecantikan Zia.


"Gadis ini akan segera menjadi milikku, akan ku rebut dia bagaimanapun caranya," gumam pria itu seraya tersenyum smirk.


"Good job. Prepare my flight now!" titah pria itu kepada anak buahnya.


(Kerja bagus. Siapkan penerbanganku sekarang!)


"Yes, Sir." Anak buahnya segera bergegas pergi dan menyiapkan segela keperluan pria itu untuk ke Indonesia.


Satu jam kemudian ....


Semua keperluan pria itu telah di siapkan, dan ia segera berangkat menuju ke Indonesia.


"Tunggu aku gadis cantik," monolog pria itu sambil memejamkan matanya membayangkan wajah Zia.


--------------------------


"Eeuhhh," lenguh Chika yang baru tersadar dari komanya. Mendengar suara Chika yang baru sadar, kedua orang tuanya segera berlari menuju ke ranjang tempat ia tidur.


"Yaampun, Nak. Kamu udah sadar," ucap bu Naora di sertai tangis harunya.


"Ayah, Ibu, ada dimana kita?" tanya Chika sembari memegang kepalanya yang terasa sedikit berdenyut.


"Kita ada di Amerika, Nak. Kau sudah koma selama sebulan," jelas Harun singkat.


"Apa! Sebulan?" Chika membuka mulutnya lebar-lebar, ia benar-benar tak percaya dengan apa yang ayahnya katakan barusan.


Chika merasa sangat terkejut saat mengetahui bahwa dirinya telah koma selama sebulan, dan ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi kepadanya hingga membuatnya koma selama sebulan.


"Ayah, apa yang terjadi padaku hingga aku bisa koma sebulan?" tanya Chika dan ia terus mengingat apa yang menimpanya sebulan lalu, kemudian ia pun ingat.


Flashback On


* * * * * * * * * *


"Euhh." Chika bangun sambil memegang kepalanya yang sakit akibat di benturkan ke dinding semalam, perlahan Chika mencoba berdiri seraya bersandar ke dinding karena kepalanya masih amat pusing.


"Aku harus pulang, mungkin saja Ayah dan Ibu sudah khawatir kepadaku," monolog Chika seraya mencoba berjalan perlahan, Chika terus berjalan dengan sempoyongan sambil memegangi kepalanya yang terluka.


Setelah sampai di halaman rumah sakit, ia segera menaiki mobilnya. Namun, sebelum itu ia mengecek handphonenya untuk melihat apakah ada panggilan dari ortunya.


"Yaampun, banyak bangat panggilan yang terlewatkan dari Ayah dan Ibu," gumam Chika kepada dirinya sendiri. Kemudian ia menjalankan mobilnya, sementara satu tangannya mengotak atik handphonenya untuk menghubungi Ayahnya kembali.


"Nak, kemana aja kamu? Udah dua malam gak pulang"


"Nanti bisa aku jelasin, Yah"


"Sekarang kau ada dimana?"


"Lagi di jalan, Yah. Ni aku mau pulang"


"Yasudah, kau pulanglah! Ibumu sangat khawatir kepadamu"


"Iya, Ayah"


Chika mematikan percakapannya secara sepihak, Chika terus menyetir mobilnya dengan hati-hati. Namun, tak lama kemudian ia pun meringis kuat saat merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya.


"Awws, mengapa kepalaku sangat sakit," ringis Chika, ia memegangi kepalanya yang mengalami pendarahan akibat luka semalam.


Karena rasa sakit yang teramat hebat di kepalanya, Chika pun lupa bahwa ia sedang menyetir sekarang hingga ia terus memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Mobil Chika mulai kehilangan kendali karena tak ada yang menyetir, kemudian mobilnya pun oleng dan terjatuh ke jurang.


Karena kecelakaan itulah ia koma selama sebulan, lukanya sangat parah hingga dokter di Indonesia tak sanggup menanganinya dan ia di bawa ke Amerika oleh Ayahnya agar mendapatkan perawatan yang lebih baik.


Flashback Off


* * * * * * * * * *


"Ayah, Ibu, aku tidak bisa terus disini, aku harus pulang. Aku masih belum iklas jika Devan bersama Zia," ujar Chika mendesak kedua orang tuanya.


"Tapi, Nak. Kau baru saja sadar dari koma." Bu Naora berusaha membuat Chika mengerti.


"Tidak, Bu. Aku sudah membaik, pokoknya kita harus pulang hari ini." Chik terus bersikeras untuk kembali ke Indonesia, kemudian dokter datang untuk melihat kondisi Chika.


"Hallo, how are you?" tanya dokter itu saat melihat Chika.


"I'm fine, Doctor. Can i go home today?" tanya Chika sambil mental serius dokter itu.


(Aku baik, Dokter. Bolehkah aku pulang hari ini?)


"Wait, let me check first." Dokter itu langsung memeriksa Chika.


(Tunggu, biar aku periksa dulu)


Setelah di periksa, ternyata dia sudah baik-baik saja dan ia di izinkan untuk pulang hari ini juga.


"Ok, you can go home today too because you're completely healed now," jelas dokter itu seraya tersenyum.


(Ok, kau bisa pulang hari ini juga karena kau sudah sembuh total sekarang)


"Are you serious?" tanya Chika kegirangan.


"Yes, i'm serious," jawab dokter itu sambil mengembangkan senyum indahnya kepada Chika.


"Horee! Aku bisa pulang sekarang!" teriak Chika sambil meloncat-loncar bahagia.


"But you still have to rest, ok!" ujar dokter itu lagi.


(Tapi kau tetap harus istirahat, ok!)


"Ok Doctor, i will rest," balas Chika dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.


(Ok Dokter, aku akan istirahat)


"Fine, i'll excuse myself firs," ucap dokter itu seraya bergegas keluar dari ruangan Chika.


(Baik, saya permisi dulu)


"Ayah, Ibu, ayo kita pulang sekarang," rengek Chika lagi.


"Yaudah, Sayang. Kita pulang hari ini kok," ucap Bu Naora seraya tersenyum.


"Dan Ayah akan mengurus penerbangan kita sekarang," timpal Harun lagi.


Chika merasa sangat senang karena ia akan segera bertemu dengan Dev lagi, Chika sangat mencintai Dev bahkan ia tak perduli jika Dev tidak mencintainya. Di dalam hatinya hanya ada cinta untuk Dev.


Bersambung ....


Siapa pria misterius itu?


Apakah dia akan berhasil memiliki Zia?


Dan apakah Chika akan mencelakai Zia demi Dev?


Nantikan part selanjutnya ya ...