Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Pengorbanan Rangga



Mobil ambulance yang membawa Bima dan Zia terus melaju dengan cepat menuju ke rumah sakit, sedangkan Rangga dan Farhan juga ikut melajukan mobil mereka dengan kecepatan penuh agar tidak ketinggalan ambulance itu.


Beruntung sekali hari ini jalanannya sangat sepi, biasanya jalan yang mereka lalui sekarang sering kemacetan. Mungkin, ini adalah hari keberuntungan untuk Zia dan Bima.


Di karenakan tidak ada hambatan di jalanan, merekapun sampai dengan cepat di rumah sakit kota. Tim medis langsung menurunkan Zia beserta Bima dan membaringkan mereka di atas brangkar rumah sakit, setelah itu tim medis membawa mereka ke ruang operasi.


"Duh ... Dev belum bangun lagi," monolog Farhan sambil memarkirkan mobilnya.


"Dev, bangun!" Farhan menggoyangkan tubuh Dev agar Dev bangun.


"Far. Aku duluan, ya. Cepat bangunin Devan, mungkin Zia sangat membutuhkannya," ucap Rangga seraya melangkah masuk ke dalam rumah sakit.


Farhan merasa sangat heran saat melihat tingkah Rangga yang mendadak baik, entah setan apa yang merasuki Rangga hingga ia bisa sebaik itu. Begitulah yang di pikirkan oleh Farhan.


"Kesambet apa tu anak, kok tiba-tiba jadi baik gitu, ya?" gumam Farhan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Alah, b*d* amat. Mungkin dia udah tobat," monolog Farhan sembari mengangkat bahunya.


Kemudian, Farhan mengambil minyak kayu putih dan mengolesnya di pelipis Dev agar Dev sadar dari pingsannya.


---------------------------------


Rangga terus saja mondar mandir di depan pintu ruang operasi Zia, sesekali ia melirik ke arah lampu yang ada di atas pintu ruangan itu.


"Ya Tuhan, tolong selamatkan Zia dan bayinya," batin Rangga berdoa untuk Zia dan bayinya.


Lelah karena terus berdiri, Rangga pun duduk di atas kursi yang ada di depan ruangan itu.


"Ya Tuhan, aku mohon pada-Mu. Tolong selamatkan Zia dan bayinya," batin Rangga yang tak henti-hentinya mendoakan Zia.


"Ya Tuhan, selamatkan Zia. Aku berjanji, jika Zia dan bayinya selamat, maka aku akan melepaskan Zia dan aku akan membiarkan dia bahagia bersama suaminya. Aku juga akan meyerahkan diriku kepada polisi setelah Zia siuman nanti dan aku juga akan merubah diriku menjadi pribadi yang lebih baik, jadi aku mohon. Tolong selamat Zia dan bayinya," batin Rangga. Kali ini Rangga benar-benar tulus dengan janjinya, ia sudah menyesali semua perbuatannya.


Tak lama kemudian, dokter yang menangani Zia sudah keluar dari ruang operasi itu. Namun, dokter itu tidak menunjukkan wajah gembiranya, melainkan ia menunjukkan wajah khawatirnya.


"Dok. Bagaimana kondisi pasien, apa pasien baik-baik saja?" tanya Rangga khawatir.


"Pasien kehilangan banyak darah dan golongan darah pasien adalah golongan darah yang langka, sementara di rumah sakit ini stok darahnya sedang habis," jelas Dokter itu seraya menghela nafasnya dengan kasar.


"Apa golongan darahnya, Dok?" tanya Rangga lagi.


"Golongan darahnya AB+ dan golongan darah itu sangat langka, sebenarnya kita bisa mendapatkan darahnya di rumah sakit yang ada di luar kota, tetapi itu akan memakan waktu yang cukup lama dan kemungkinan untuk mendapatkannya sangat kecil karena itu darah yang langka. Sementara kondisi pasien semakin melemah sekarang," jelas dokter itu khawatir.


"Dok. Cepat ambil darah saya, kebetulan golongan darah saya AB+," pinta Rangga seraya menatap dokter itu dengan penuh harap.


"Tapi kami butuh darah yang banyak, sekitar lima kantong darah. Aku rasa kau tidak akan kuat jika harus kehilangan darah sebanyak itu, apalagi kondisimu juga terlihat lemah sekarang," jelas dokter itu sambil menatap iba ke arah Rangga yang sudah babak belur.


"Tidak apa-apa. Aku akan kuat, bahkan aku rela mat* asalkan Zia selamat," ucap Rangga meyakinkan dokter itu.


Dokter diam sejenak, ia berpikir keras. Di satu sisi Zia sangat membutuhkan darah itu, di sisi lain Rangga juga sedang lemah sekarang. Kemudian dokter itu menghela nafasnya dan ia segera mengambil keputusan.


"Sus. Cepat kemari!" titah dokter kepada suster yang sedang berlalu lalang di ruangan bernuansa putih itu.


"Iya, Dok. Ada apa?" tanya suster itu sambil mendekat ke arah mereka.


"Bawa dia, dia yang akan menyumbangkan darah untuk pasien yang sedang saya tangani," jelas dokter itu dengan perasaan yang sangat khawatir.


"Saya akan kembali melanjutkan operasinya." Dokter itu segera melangkah ke dalam ruangan operasi Zia.


"Mari ikut saya, Pak!" ajak suster itu menuntun Rangga, sedangkan Rangga hanya mengikuti suster itu dengan suka rela.


Tap! Tap! Tap!


Suara langkah kaki yang sedang berlari.


Dev dan Farhan baru saja sampai di depan ruangan operasi Zia, mereka terlihat bagitu khawatir.


"Loh, kemana Rangga? Tadi katanya dia ada di sini," batin Farhan bingung saat melihat tidak ada Rangga di depan ruangan itu.


"Tapi, syukurlah Rangga gak ada disini. Kalo dia ada di sini, auto mat* dah dia di pukulin sama Dev," batin Farhan lagi.


"Far, aku takut Zia kenapa-napa," lirih Dev di sertai isak tangisnya.


"Dev, tenanglah. Aku yakin zia akan baik-baik saja," ujar Farhan meyakinkan Dev.


Dev tak henti-hentinya menangis saat memikir keadaan Zia dan bayinya sekarang, ia benar-benar hancur saat memikirkan nasib istrinya yang sedang berjuang melawan mautnya.


"Dev, doain aja supaya Zia baik-baik saja." Farhan mengelus punggung Dev agar ia sedikit tenang. Semantara Dev hanya mengangguk mengiyakan perkataan Farhan.


-------------------------------


Di sisi lain, Rangga semakin melemah karena darahnya sudah di ambil sebanyak empat kantong. Namun, ia mencoba menahannya sekuat mungkin demi Zia.


Suster sangat khawatir saat melihat Rangga mulai pucat, suster itu sangat takut jika terjadi sesuatu kepada Rangga.


"Pak, apakah anda masih kuat? Jika tidak, saya akan berhenti mengambil darah anda," ucap suster itu khawatir.


"Saya masih kuat, kok." Rangga tersenyum ke arah suster itu, sebenarnya ia sudah sangat melemah sekarang.


Akhinya, kantong darah ke lima sudah terisi. Suster itu langsung menyuruh temannya untuk membawa darah itu ke ruangan Zia.


"Pak, apakah anda baik-baik saja?" tanya suster itu lagi.


Rangga hanya mengangguk, kemudian ia menatap langit-langit ruangan itu dan ia tersenyum.


"Mungkinkah ini akhir dari hidupku? Jika itu memang benar, maka aku akan pergi dengan damai. Setidaknya, aku sudah menebus sedikit kesalahanku dengan mengorbankan nyawaku demi Zia," batin Rangga sambil terus menatap langit-langit ruangan itu.


"Selamat tinggal Zia, semoga kau bahagia bersama Devan," batin Rangga lagi.


Perlahan Rangga mulai menutup matanya dan tak sadarkan diri. Suster yang berada di samping Rangga merasa sangat panik saat melihat Rangga mulai menutup matanya, ia segera memeriksa denyut nadi Rangga dan ia semakin panik karena denyut nadi Rangga semakin melemah.


"Pak, bangun!" Suster itu menggoyangkan tubuh Rangga, tetapi tidak ada reaksi dari Rangga.


Kemudian, suster itu segera berlari keluar ruangan itu dan ia segera mencari dokter untuk memeriksa kondisi Rangga.


-----------------------------------


Ceklek!


Pintu ruangan operasi Zia terbuka dan menampilkan sosok dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu, Dev segera bangkit dan menghampiri dokter itu.


"Dok, apakah istri saya baik-baik saja?" tanya Dev khawatir.


"Istri anda baik-baik saja dan kandungannya juga tidak apa-apa," jelas dokter itu sembari melempar senyum kecutnya.


Dev dan Farhan merasa sangat lega saat mengetahui bahwa Zia dan kandungannya baik-baik saja.


"Tapi ...." Dokter itu menggantungkan ucapannya dan kembali memasang wajah khawatir.


"Ada apa, Dok?" tanya Dev penasaran.


"Ini sangat aneh. Operasinya sudah berjalan dengan lancar, tetapi istri anda belum juga menunjukkan tanda-tanda akan siuman. Saya merasa sedikit khawatir akan hal itu," jelas dokter itu sambil menghela nafasnya dengan kasar.


"Apakah istri saya akan koma, Dok?" tanya Dev lagi.


"Saya tidak tahu. Kita akan mengetahuinya setelah beberapa jam kemudian, jika pasien tidak bangun dalam waktu 24 jam kemudian, berarti pasien akan mengalami koma," jelas dokter itu serius.


"A ...." Ucapan Dev langsung terhenti saat mendengar suara teriakan suster.


"Dokter!" panggil suster yang menangani Rangga tadi.


"Ada apa, Sus?" tanya dokter khawatir.


"Hah hah, gawat, Dok." Suster itu tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena merasa sangat kesulitan bernafas, ia mulai mentralkan nafasnya. Kemudian, ia pun mulai menceritakan keadaan Rangga kepada dokter itu.


"Dok, pemuda itu tidak sadarkan diri. Keadaannya semakin melemah, Dok," jelas suster itu khawatir.


"Sudah ku duga, ini pasti akan terjadi. Cepat pindahkan pasien ke ruang rawat, saya akan mengurus pemuda itu." Dokter langsung pergi dari ruangan itu dengan tergesa-gesa, ia amat panik saat mengetahui Rangga sudah tak sadarkan diri.


Dev dan Farhan merasa sangat bingung saat melihat dokter sepanik itu. Ada apa sebenarnya, siapa pemuda itu? Begitulah pertanyaan yang muncul di benak mereka.


"Sus, ada apa dengan pemuda itu?" tanya Farhan seraya melangkah masuk ke dalam ruang operasi itu.


"Iya, Sus. Apa yang terjadi dengan pemuda itu," tanya Dev lagi.


"Pemuda itulah yang memberikan darahnya untuk pasien ini. Tadinya, istri anda sempat melemah akibat kehilangan banyak darah dan golongan darah istri anda adalah golongan darah yang langka. Untunglah ada pemuda itu yang suka rela memberikan darahnya, bahkan pemuda itu memberikan darahnya sebanyak lima kantong," jelas suster itu sambil memasangkan alat-alat medis pada Zia.


Dev dan Farhan membuka mulut dan matanya lebar-lebar, mereka benar-benar terkejut saat mendegar penjelasan suster itu.


"Apa! Lima kantong?" tanya mereka bersamaan.


"Iya," balas suster itu seraya mengangguk untuk meyakinkan mereka.


Setelah memasang alat-alat medis kepada Zia, suster itu segera mendorong brangkar Zia menuju ke ruang rawat yang di ikuti juga oleh Dev dan Farhan.


"Dev, lo berhutang nyawa sama orang itu dan lo harus berterima kasih sama orang itu," jelas Farhan sambil ikut mendorong brangkar Zia.


"Iya, lo benar. Sebagai gantinya, gue juga akan menanggung seluruh biaya perawatannya hingga ia sembuh," balas Dev serius.


Beberapa menit kemudian, merekapun telah sampai di ruang rawat Zia. Setelah mengurus semua keperluan Zia, suster itu segera melangkah pergi dari ruangan itu. Namun, Farhan mencegahnya.


"Sus, dimana ruangan pemuda itu di rawat?" tanya Farhan.


"Mari ikut saya!" titah suster itu.


"Dev, lo jaga Zia. Gue akan segera kembali." Farhan langsung mengikuti suster itu, sedangkan Dev hanya menunggu Zia sadar.


Apakah Dev tidak peduli dengan orang yang sudah menyelamatkan istrinya? Tentu saja ia sangat peduli dan khawatir, akan tetapi ia juga tidak bisa meninggalkan istrinya yang masih belum sadar. Jadi, ia memutuskan untuk melihat orang itu setelah Zia sadar.


Bersambung ....


Syukurlah Zia dan kandungannya selamat.


Apa yang terjadi pada Rangga, apa Rangga akan meninggal? ....