
Setelah mendaratkan kamera itu di dekat Harun, Rangga dan Zia segera memakai earphone agar mereka bisa mendengar semua percakapan Harun dan anak istrinya.
Setelah mendengar semua percakapan mereka, Zia dan Rangga memutuskan untuk mengikuti mereka karena Zia dan Rangga mendengar jika mereka akan pergi ke tempat lima orang itu di sekap.
"Sayang, kamu masih kuat? Kalo kamu gak kuat kita pulang aja, Abang takut kamu kenapa-napa." Rangga memilih bertanya kepada Zia sebelum melanjutkan perjalanan mereka.
"Zia masih kuat, Bang. Ga papa kita lanjutkan aja, Zia udah gak sabar pengen liat kelima orang itu," jelas Zia meyakinkan Rangga.
"Yaudah." Rangga mengambil kembali kameranya, setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan dan mengikuti mobil Harun dari belakang.
Cukup lama mereka mengikuti Harun hingga tak terasa kini sudah siang, Rangga sempat menawarkan Zia untuk makan terlebih dahulu. Namun, Zia lagi-lagi menolak, alhasil Rangga pun hanya bisa memberi Zia beberapa snack saja yang sempat ia beli kemarin.
Setelah begitu jauh melakukan perjalanan, akhirnya mereka telah sampai di sebuah hutan yang sangat lebat dan tidak ada satu pun rumah di sana. Suasana hutan sedikit mencekam karena lebatnya dedaunan membuat cahaya matahari sulit masuk, di tambah lagi suasana saat ini sedang mendung.
Rangga memarkirkan mobilnya sedikit lebih jauh dari mobil Harun, ia juga kembali mengaktifkan kameranya dan kembali menerbangkannya.
"Abang, apa gak sekalian kita masuk aja?" tanya Zia pada Rangga.
"Gak, Zia. Kita lihat dari sini aja, Abang takut jika terjadi sesuatu kepadamu," ujar Rangga sambil terus fokus mengendalikan kameranya.
Rangga dan Zia terus menatap ponsel milik Rangga, mereka terus membuntuti Harun dan keluarganya menggunakan kamera terbang itu.
Setelah agak lumayan jauh menerbangkan kameranya ke dalam hutan lebat itu, akhirnya Rangga dan Zia melihat Harun beserta anak istrinya masuk ke dalam sebuah bangunan tua yang di jaga oleh beberapa anak buahnya di halaman rumah tua itu.
Rangga terus menerbangkan kameranya mengikuti mereka masuk ke dalam rumah itu, beruntungnya tak ada yang curiga melihat kamera itu karena kamera itu memang sangat mirip seperti tawon asli hingga mereka sama sekali tak menggubrisnya.
"Ayah, dimana mereka?" tanya Chika setelah memasuki rumah itu.
"Kemarilah, Nak!" ajak Harun kepada anak istrinya.
Kemudian, mereka pun berjalan ke sebuah kamar dan di kamar itulah tempat kelima orang itu di sekap. Selain para penjaga, ternyata musuh lama Tn. Andra juga ada di sana. Yaitu, Hans dan ada juga anak tertua Harun disana.
"Kakak." Chika segera berlari dan memeluk saudara kandungnya.
"Chika." Kakaknya langsung membalas pelukannya.
Setelah beberapa saat berpelukan, mereka pun melepas pelukannya dan kakaknya berganti memeluk kedua orang tua mereka.
"Ayah, Ibu. Bagaimana kabar kalian?" tanya kakak Chika yang bernama Reyan.
"Kami berdua baik, Nak. Bagaimana dengan keadaanmu?" tanya Harun pada putranya.
"Aku sangat baik, Ayah," jawab putranya yang bernama Rayen.
Rayen Adiwijaya, ia adalah putra sulung dari Harun dan Naura. Rayen memilik wajah yang terbilang cukup tampan, tetapi sayangnya sifat buruknya berhasil menutupi ketampanannya. Rayen sendiri di besarkan di Amerika dan ia di besarkan oleh Hans, sebenarnya Rayen juga sahabat Dev, Farhan dan Rangga sebelumnya.Namun ia tidak bersahabat sungguh-sungguh dengan mereka, melainkan ia berniat ingin memecahbelahkan hubungan Dev, Rangga dan Farhan yang sudah lama terbentuk.
Tujuh tahun yang lalu pada saat mereka masih bersekolah di bangku SMA, Rangga sempat menjalin asmara dengan seorang gadis cantik bernama Anjel. Tetapi tak lama kemudian, Rayen mengetahui tentang hal itu dan ia pun tak tinggal diam.
Pada suatu malam ia menculik Anjel, setelah itu ia memperk0s4 Anjel dan ia juga mengh4bisi Anjel dengan sadisnya. Setelah itu, ia pun menghasut Rangga dan mengatakan jika Dev dan Farhan lah yang telah memb*nuh kekasihnya karena Rayen mengatakan jika Dev juga mencintai Anjel. Dikarenakan Rangga sedang dalam keadaan terpuruk, ia pun mempercayai ucapan Rayen hingga ia memutuskan hubungan persahabatannya dengan Dev dan Farhan.
-------------------------------
"Tuan, Hans. Kapan anda kemari?" tanya Harun pada Hans.
"Setelah mendapat kabar darimu jika Andra masih hidup, kami segera pulang kemari," jelas Hans.
"Ok, bisa kita mulai rencananya?" tanya Hans lagi dan Harun hanya mengangguk setuju, setelah itu meraka mulai merencanakan sesuatu untuk menjebak Andra.
Setelah selesai mendiskusikan tentang rencana mereka, mereka pun menuju ke arah sel tempat mereka berlima di sekap.
"Hallo Gibran, Gavin," sapa Harun mengejek.
"Hallo Bu Devi, Bu Sofia, Bu Mila. Apa kabar kalian?" tanya ibunya Chika mengejek.
Ternyata memang benar, kelima orang itu adalah orang-orang terdekat Tn. Andra. Diantaranya juga terdapat orang tua Zia, orang tua Farhan dan juga ada ibunya Dev.
"Maafkan aku sahabat-sahabat baikku, sebenarnya aku sangat kasihan kepada kalian. Namun, apa boleh buat karena aku lebih menyayangi uang di banding kalian," ujar Harun dari balik jeruji besi itu.
"Hhhhaa!" tawa mereka pecah.
"Heh, kami tak butuh rasa kasihanmu itu. Simpanlah rasa kasihan itu untuk dirimu sendiri, karena kami sangat yakin jika putra-putra kami akan datang untuk menolong kami," jelas Gibran seraya menatap tajam ke arah mereka.
"Hhhha! Bermimpilah sebelum kalian m4ti, kalian pikir putra-putra kalian akan datang untuk menyelamatkan kalian? Tidak, bahkan mereka semua telah melupakan kalian dan mereka semua telah menganggap jika kalian sudah mat1," jelas Harun menertawakan mereka.
"Ayolah! kalian menyerah saja. Cepat katakan, dimana kalian menyimpan harta karun itu?" tanya Harun sedikit membentak.
Ya, itulah alasan Harun menyekap orang-orang terdekat Andra, ia hanya ingin mendapatkan harta karun berupa emas batangan yang di simpan oleh mereka. Harun juga pernah berniat ingin menyekap Andra, tetapi ia tak pernah menemukannya karena Andra berhasil lari dari kejarannya setelah kecelakaan lima tahun yang lalu.
"Oo, baiklah. Jika kalian tidak mau mengatakannya, maka kalian tetaplah di sini dan kami akan mengh4bisi satu per satu keturunan kalian," ancam Hans.
"Tidak! Jangan pernah menyentuh anak-anak kami, silakan kalian siks4 kami sepuasnya tapi jangan pernah mengganggu anak-anak kami," jelas Bu Devi yang sudah menangis.
"Ow, kau angkat bicara. Jika kau tidak mau anak dan suamimu dalam bahaya, cepat katakan dimana kalian menyembunyikan harta itu? Bukankah kau seorang Ibu? Apakah kau akan tega jika anakmu jadi korban keego1sanmu karena tidak mengatakan tentang harta itu?" Hans sedang mencoba mempermainkan hati ibunya Dev, ia tahu jika hati seorang wanita sangatlah lemah.
"Ta--tapi, aku juga tidak bisa mengatakan tentang harta itu," jawab ibunya Dev yang sudah bingung.
"Tidak! Devi. Jangan pernah mengatakan tentang harta itu, dia hanya sedang mempermainkan hatimu," jelas ibunya Zia berusaha membuat Bu Devi mengerti.
"Iya, Devi. Sofia benar, meskipun kau mengatakan tentang harta itu. Mereka akan tetap mengincar anak-anak kita, karena mereka bukanlah manusia tapi mereka adalah 1blis," jelas ibunya Farhan yang ikut mencoba membuat ibunya Dev mengerti.
"Jangan dengarkan mereka, dengarkan kata hatimu. Apa kau tidak ingin bertemu dengan putramu? Apa kau lebih mementingkan harta di bandingkan anak dan suamimu?" Lagi-lagi Hans mencoba memanfaatkan rasa keibuan yang di miliki oleh ibunya Dev.
"Tidak, Devi! Jika kau memang menyayangi anakmu, jangan pernah katakan tentang harta itu. Tidak masalah jika kita tidak bertemu dengan anak-anak kita, yang terpenting adalah keselamatan mereka," jelas Gibran lagi.
Bu Devi terdiam sejenak, kemudian ia mulai mempertimbangkan semua yang di katakan oleh sahabat-sahabatnya.
"Bagaimana, Devi? Kau tidak ingin bertemu putramu?" tanya Harun lagi.
"Tidak! Aku tidak akan pernah mengatakannya, aku tidak bisa mempercayai 1bl1s sepertimu. Aku lebih memilih mati asalkan anakku selamat!" ujar ibunya Dev dengan lantang dan tegas.
"Baiklah, kami akan membawa semua anak-anak kalian kemari dan mengh4b1si mereka tepat di hadapan kalian," ancam Harun lagi.
"Oh ya, Bu Sofia. Bukankah kau punya seorang putri bernama Zia? Sepertinya akan lebih menyenangkan jika dia juga kubawa kemari dan kunikmat1 tubuhnya di hadapan kalian. Bukan begitu, Tuan Gibran?" tanya Rayen disertai tawa mengejek di akhir kalimatnya.
"Hey! Ibl1s baj1ngan! JANGAN PERNAH SEKALIPUN KAU MENYENTUH PUTRIKU, AKU BERSUMPAH JIKA KAU BERANI MENYENTUH PUTRIKU. MAKA AKU SENDIRI YANG AKAN MENGH4BISIMU. Camkan itu, ini adalah sumpah seorang Ayah," jelas Tuan Gibran sambil menekan setiap kata-katanya.
"Aku sangat takut, hhhhha! Ancaman macam apa itu?" tawa Rayen lagi.
"Ayo kita pergi, Ayah. Chika udah gak sabar liat ekspresi mereka saat bertemu dengan anak-anaknya nanti sebelum kita b*nuh mereka," ujar Chika kegirangan.
Kemudian mereka pun keluar dari rumah tua itu untuk menjalankan rencana mereka, mengetahui mereka akan keluar. Rangga segera menamcap gas dari sana tanpa mengambil kamera itu terlebih dahulu, ia sangat takut jika mereka sampai ketahuan. Bisa-bisa Zia dan calon keponakannya berada dalam bahaya.
Rangga merasa sangat lega setelah mereka berhasil keluar dari hutan lebat itu, tetapi hatinya masih bersedih ketika melihat keadaan orang tuanya.
"Abang ... Kita harus segera membebaskan orang tua kita," ucap Zia mulai terisak.
"Zia gak tega liat Ayah dan Ibu di siksa seperti itu." Zia semakin terisak saat kondisi orang tuanya melalui handphone Rangga yang masih terhubung dengan kamera di sana.
"Iya, Sayang. Abang juga gak tega liat mereka seperti itu. Kamu tenang ya, pokoknya Abang janji akan segera melepaskan mereka semua bagaimanapun caranya." Rangga juga ikut meneteskan airmata karena melihat keadaan orang tuanya.
"Sekarang kamu tenang ya, Sayang." Rangga mengelus kepala Zia menggunakan tangan kirinya agar Zia sedikit tenang.
"Kapan Abang akan membebaskan orang tua kita?" tanya Zia lagi.
"Secepatnya, Sayang. Abang juga akan membicarakan hal ini dengan Tn. Andra dan Dev beserta Farhan, karena Abang gak akan sanggup jika pergi sendiri," jelas Rangga lagi.
"Baiklah." Zia mengangguk mengiyakan.
"Zia. Kamu ke rumah Abang dulu, ya? Abang takut kamu kenapa-napa karena Dev juga belum pulang dari kantornya," ajak Rangga dan Zia hanya mengangguk saja.
Setelah satu jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka pun telah sampai di rumah mewah milik Rangga. Zia dan Rangga segera turun dari mobil, lalu mereka memasuki rumah Rangga.
"Abang ... Ayah dan Ibu." Lagi-lagi air mata Zia luruh dari tempatnya.
"Sabarlah, Sayang." Rangga segera memeluk Zia agar ia lebih tenang.
"Bagus, Harun. Terima kasih karena kau telah membangunkan 1blis yang tengah tidur di dalam tubuhku, setelah ini sumpahku akan segera terpenuhi. Kau tunggulah, Harun. Aku juga bisa berbuat lebih s4dis darimu," batin Zia menyeringai seram di balik pelukan Rangga.
"Maaf, Bang Rangga. Zia tidak bisa tinggal diam," timpal Zia di dalam hatinya lagi.
"Sekarang kamu istirahat, ya!" titah Rangga seraya melepas pelukannya dan Zia hanya mengangguk patuh.
Bersambung ....
Akankah Rangga, Dev, Farhan dan Tn. Andra bisa menyelamatkan keluarga mereka?
🥰