Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Siksaan Dari Devan



Di lain tempat Erna merasa sangat khawatir sebab kedua putrinya belum pulang, padahal ini sudah larut malam. Berkali-kali ia mencoba menghubungi kedua putri nya, namun nihil tak ada jawaban dari kedua nya.


"Yaampun, Rista sama Risna kemana sih? Jam segini kok belum pulang." Erna terus mengotak-atik smartphone nya, dan mencari nomor putri nya untuk di hubungi.


"Rista, jawab lah! kalian dimana?" ucap Erna sambil mematikan panggilan nya dan beralih menghubungi Risna, namun tetap saja tidak ada jawaban dari kedua nya.


Erna berlanjut menghubungi Renata yang tak lain adalah sahabat dari kedua putri nya, namun lagi-lagi tidak ada jawaban dari dia.


Di karenakan rasa kantuk yang teramat berat, Erna pun memutuskan untuk tidur. Dan ia berpikir akan melapor pada polisi besok.


----------------------------


Kini trio R mulai membuka mata nya karena terkejut dengan suara petir, ternyata di luar hujan sedang turun dengan lebat nya dan di sertai angin badai. Mereka pun merasa sangat kedinginan sekarang, apalagi sekarang mereka hanya duduk di lantai putih polos yang sangat dingin tanpa beralaskan tikar. Di tambah lagi mereka juga memakai baju kurang bahan, sehingga mereka benar-benar merasa kedinginan.


"Awws, kepala ku sakit bangat," ucap Risna seraya bangkit dan memegang kepala nya yang berdarah.


"Eemm, kepala ku juga sangat sakit." Rista ikut memegangi kepala nya, sedangkan Renata hanya duduk sambil memeluk lutut nya karena sangat dingin.


Rista dan Risna pun mendekati Renata yang sedang memeluk lutut nya, dan mereka memutuskan untuk saling menghangat kan satu sama lain dengan cara memeluk.


"Astaga Ren! lo demam? Badan lo panas bangat." Rista dan Risna terkejut saat memegang badan Renata yang panas.


"Di -- dingin." Hanya itu yang terucap dari mulut Renata, ia menggigil kedinginan bahkan gigi nya bergemerutuk karena saling menabrak akibat rasa dingin yg hebat.


Risna mencoba bangkit dan mendekati pintu, lalu ia menggedor-gedor pintu sambil berteriak minta tolong berharap ada yang mendengar mereka. Namun sayang nasib mereka sungguh malang, tak ada satu pun manusia yang mendengar mereka kecuali anak buah Dev yang seolah menganggap mereka tiada.


Seminggu telah berlau ...


Rista, Risna dan Renata semakin tersiksa berada dirumah itu, bahkan hari-hari nya dirumah itu terasa di neraka. Sudah seminggu pula mereka kelaparan karena tidak di beri makan, keadaan mereka sangat memprihatin kan.


Tubuh mereka kurus dan pucat, dan mereka juga merasa sangat stres seminggu ini karena mereka kerap kali di ganggu oleh hantu-hantu nya Dev. Tapi apalah daya nasi sudah menjadi bubur dan kini mereka juga harus menuai apa yang mereka tanam, seandai nya mereka tidak menyakiti Zia dan mereka tidak iri kepada Zia maka mungkin sekarang mereka bisa hidup bebas sekarang.


"Apakah mereka masih hidup?" tanya Dev sambil menekan alat komunikasi nya.


"Masih Tuan," jawab anak buah nya di seberang sana.


"Bagus, saya akan kesana sekarang." Dev pun berpamitan kepada istrinya dengan alasan ke kantor, ia pun pergi menuju ke tempat dimana mereka di kurung. Namun sebelum pergi tak lupa ia menambah keamanan dirumah nya agar istrinya tidak kenapa-napa.


Sesampainya di rumah itu, Dev langsung membuka pintu untuk melihat lebih tepat nya untuk menyisakan mereka. Karena meskipun mereka sudah sangat tersiksa Dev belum lah puas, bukan Dev namanya jika membiarkan musuh nya mati begitu saja.


Krriieett! (Suara pintu yang terbuka)


Ketika mendengar suara pintu yang terbuka, mereka bertiga pun melihat ke arah pintu untuk memastikan siapa yang datang. Seberkas cahaya terang masuk bersamaan dengan terbuka nya pintu, hingga membuat mereka tidak bisa melihat wajah dari orang yang datang itu yang terlihat hanya lah postur tubuh nya.


Orang itu semakin mendekat, baru lah kini mereka bisa melihat wajah orang itu yang ternyata adalah Dev. Secercah cahaya harapan muncul di benak mereka saat melihat Dev yang mereka pikir akan menolong mereka, akan tetapi mereka tak seberuntung itu sebab Dev kesana untuk menyiksa bukan untuk menolong.


"Dev ... Apa kau datang kesini untuk menolong kami?" tanya Renata, sedangkan Dev hanya tersenyum mengangguk. Sehingga mereka semakin senang akan kehadiran Dev.


"Kalian pasti lapar, bukan?" tanya Dev berpura-pura baik. Mereka mengangguk cepat karena mereka benar-benar kelaparan sekarang. Dev kemudian mengeluarkan tiga bungkus nasi dan memberikan nya kepada mereka, dengan cepat mereka pun merebut bungkusan nasi itu dan melahap nya dengan sangat rakus.


"Makanlah sepuas kalian, agar kalian kuat saat ku siksa," batin Dev disertai senyum miring nya, kemudian Dev duduk di sebuah kursi yang ada disana dan menyaksikan mereka yang sedangkan melahap makanan dengan rakus nya.


Sekarang mereka telah selesai memakan makanan yang di berikan oleh Dev tanpa sedikitpun tersisa, selanjut nya Dev memberikan mereka 3 botol air mineral dan mereka kembali merebut dan meminum nya dengan sangat rakus hingga menghabiskan air tersebut tanpa sisa. Setelah mereka makan dan minum terasa ada sedikit tenaga di tubuh mereka.


"Bagaimana, apa kalian merasa lebih baik?" tanya Dev seraya menunjuk kan senyum yang sulit di artikan.


"Iya Kak, kami merasa lebih baik sekarang," jawab Rista kegirangan. Dev kembali menunjukkan senyum palsu nya.


"Dev, apa kau benar akan membantu kami? Dan dari mana kau tau kami ada disini?" tanya Renata bertubi-tubi.


"Benar, aku akan membantu kalian untuk menuju kematian," gumam Dev yang masih terdengar di telinga mereka, namun mereka tidak tau apa yang di katakan Dev.


"Apa kau bilang sesuatu, Dev?" tanya Renata lagi.


"Tidak ... Aku tidak bilang apa-apa kok. Renata, itu leher dan pipi kamu kenapa?" tanya Dev berpura-pura, dan ia langsung mendekati Renata. Sedangkan Renata hanya salah tingkat di saat Dev mendekati nya, ia pikir Dev benar-benar perhatian kepada nya.


"Apa boleh aku buka perban nya?" tanya Dev saat sudah berada di depan Renata, Renata yang salting langsung saja mengangguk saat Dev meminta untuk membuka perban nya.


"Yaampun Renata, luka kamu parah bangat! Kamu kenapa? Kenapa bisa luka nya seperti ini?" tanya Dev pura-pura terkejut, padahal ia sudah sangat ingin untuk membunuh wanita yang ada di depan nya ini.


"Em, em ini hanya ... hanya ...." Ucapan Renata langsung di sela Dev.


"Hanya dicakar oleh binatang buas?" tanya Dev berpura-pura menebak.


"Aa iya, ya benar aku di cakar oleh binatang buas waktu di kebun binatang. Benar kan," jelas Renata gugup dan ia memberi kode kepada Risna dan Rista agar mengangguk, seketika Rista dan Risna hanya mengangguk.


"Ooo begitu, boleh kah aku obati luka mu?" tanya Dev sambil mengelus pipi Renata, dan Renata lagi-lagi terperangkap dengan sikap manis Dev.


Renata mengangguk, lalu Dev mengeluarkan sebotol obat yang ada di saku nya lalu ia pun meneteskan nya ke luka Renata. Alhasil Renata berteriak keras karena merasakan perih yang luar biasa di luka nya.


"Aaaaah! Perih bangat. Ini obat apa Dev kenapa sangat perih dan menyakitkan?" tanya Renata sambil memegangi pipi nya.


Kenapa obat itu sangat perih? Bagaimana tidak perih. Ternyata itu bukan lah obat melainkan air jeruk nipis yang di campur dengan garam dan cabai oleh Dev, jadi kebayang kan gimana rasa nya kalo kenak luka.


Setelah meneteskan air jeruk nipis itu, Dev kemudian menyiksa Renata dengan cara lain. Ia mengambil pisau lipat kecil di saku jas nya beserta dengan korek, mereka bertiga mulai merasa ada yang aneh akan tingkah Dev, hingga mereka sedikit was-was dan berhati-hati akan Dev.


"Dev mau apa kau?" tanya Renata ketakutan saat melihat Dev sedang memanaskan pisau nya dengan korek.


"Aku hanya ingin membersihkan luka mu Renata, kalau tidak di bersih kan bisa semakin parah," jelas Dev berbohong, kemudian ia segera mendekati Renata dan menggores luka Renata dengan pisau panas itu.


Sreek!


Luka Renata semakin melebar karena di gores oleh Dev.


"AAAAHH!" Renata berteriak keras dan akhir nya pingsan di tempat karena menahan sakit yang luar biasa, darah segar terus mengalir di pipi dan leher nya sekarang.


"Dasar gadis lemah," gumam Dev sambil membersihkan darah di pisau kecil nya.


"Yah, dia sudah pingsan. Sekarang aku akan bermain dengan siapa?" Dev melirik ke arah Rista dan Risna yang sudah ketakutan, Dev melirik mereka dengan tatapan maut dan seringai yang menakutkan. Kemudian Dev mendekati mereka, mereka hanya bisa beringsut mundur sambil memohon kepada Dev.


"Ja -- jangan bunuh kami, a -- aku mohon." Risna dan Rista menyatukan tangan mereka dan memohon kepada Dev, namun Dev sudah menggila saat ini dan iblis jahat di tubuh nya benar-benar telah bangun sekarang. Ia tak menggubris permohonan mereka dan ia terus saja maju, mereka juga terus mundur hingga kemudian badan mereka berhenti mundur karena terhalang dinding.


"Ups, kalian tidak bisa lari lagi ya?" tanya Dev sambil menunjukkan wajah pura-pura iba, kemudian ia segera mengganti nya dengan seringai yang sangat seram.


"A -- apa salah kam -- kami pad -- padamu?" tanya Rista terbata-bata.


"Kalian tidak tau, atau pura-pura tidak tau hmm?" tanya Dev sambil memainkan pisau di wajah Rista sehingga ia sangat ketakutan.


"Oh ya, waktu itu kau pernah ... pernah, haa ... sebelum Zia menjadi istri ku kau pernah membuat kepala nya terluka kan? Coba ku lihat tangan mu yang membuat kepala istri ku terluka saat itu," ucap Dev seraya mengulurkan tangan nya meminta tangan Rista, Rista yang sudah tau kalo Dev akan menyakitinya. Ia pun menyembunyikan tangan nya di belakang punggung nya.


"Baiklah, akan ku ambil sendiri." Dev pun segera menarik tangan Rista ke depan, lalu ia pun menggores telapak tangan yang putih itu dengan pisau kecil nya.


"Aaaaa Hentikan! Ini sangat menyakitkan!" Rista berusaha melepaskan tangan nya dari cengkraman Dev, namun sia-sia saja karena kekuatan Dev lebih kuat dari nya.


Dev masih saja fokus mengukir tangan Rista dengan pisau nya, dari goresan kecil kini berubah menjadi sebuah luka besar dan terus mengalir kan darah segar. Risna yang melihat Dev tengah fokus menyiksa kakak nya, ia pun memanfaat kan kesempatan itu untuk lari dari sana dan meminta bantuan. Namun, tanpa ia sadari ternyata Dev mengetahui gerak gerik nya.


Dorr!


Satu peluru tertancap sempurna di kaki Risna tepat nya di bagian lutut, hingga membuat nya ambruk di tempat.


Brukkk!


"Aaaa! Awwss sakit hikks awws," Risna berteriak dan meringis karena merasa sangat sakit di bagian lutut nya.


"Itulah akibat nya jika kau mencoba melarikan diri." Dev membiarkan Risna yang terus meringis kesakitan, kemudian ia melanjutkan menyiksa Rista. Setelah membuat luka besar di telapak tangan Rista, Dev pun menuangkan air jeruk nipis yang sama ke telapak tangan Rista.


"Lepaskan! Ini sakit sekali. Tolong lepaskan hikss hikks." Rista mulai terisak saat merasakan sakit yang luar biasa di tangan nya, Dev kemudian melepaskan cengkraman tangan nya dari tangan Rista.


Rista sangat terkejut saat melihat telapak tangan nya sudah di kuliti oleh Dev, ia mencoba menghapus cairan jeruk nipis itu namun hanya sia-sia saja. Karena semakin ia mencoba menghapus, maka semakin dalam pula air jeruk itu masuk ke dalam daging nya.


"Oh ya, jika ku buat luka yang sama di kepala mu seperti luka di kepala Zia, seperti nya itu akan sangat seru, bukan?" Dev berdiri dan hendak menjabak rambut Rista, namun Rista segera menggeleng keras pertanda tidak mau.


Braakk!


Kepala nya terbentur keras ke dinding dan mengeluarkan banyak darah segar, hingga Rista pun pingsan di tempat.


"Sekarang hanya tinggal kau yang belum ku siksa." Dev berjalan mendekati Risna, sedangkan Risna terus mengesot mencoba untuk menjauhi Dev.


Kraakk! ( Suara tulang yang patah )


"Aaaaahhh!" Risna berteriak keras saat pergelangan kaki nya di injak oleh Dev dan terasa seolah-olah patah.


"Tolong lepaskan aku, aku hanya ikut mereka saja. Sebenarnya aku tidak ada niat untuk menyakiti Zia," ucap Risna memohon berharap Dev luluh, namun Dev semakin senang saat ia memohon begitu.


"Aku pun hanya ikut menyiksa mu saja, agar permainan ku adil kepada kalian semua," jelas Dev dengan wajah iba yang di buat-buat, lalu ia pun berjongkok di depan Risna dan kembali mengeluarkan pisau kecil nya.


"Coba tunjukan dimana peluru tadi," ucap Dev sambil menyentuh kaki mulus Risna dengan ujung pisau nya.


"Tidak! Jangan, jangan sakiti aku." Risna mencoba melawan namun sia-sia saja, karena Dev sudah memegang kaki nya sekarang.


Jleep


Satu tusukan pisau mendarat di lutut belakang Risna, tepat dimana peluru itu berada. Risna hanya bisa menggigit bibirnya menahan rasa sakit dan air mata nya seketika luruh begitu saja.


Dev mencongkel paksa peluru itu, hingga daging Risna ikut terkelupas bersama peluru itu. Risna yang sudah tak tahan menahan rasa sakit itu, seketika ia pingsan dan tak sadar kan diri.


Dev pun kini merasa sangat puas setelah menyiksa mereka, ia membersihkan pisau nya lalu keluar dari rumah tua itu dan membiarkan mereka terkapar di lantai dengan darah yang terus mengalir dari tubuh mereka.


Bersambung ....