
"Kak, apa Zia boleh pulang hari ini?" tanya Zia sambil melahap makanannya.
"Makan dulu, Sayang. Setelah itu kita tanya pada dokternya, Ok?" balas Dev seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah Zia.
"Ish, dasar genit," ujar Zia yang risih dengan perbuatan Dev tadi.
Satu jam berlalu ....
Dokter telah datang dan telah memeriksa kondisi Zia, sekarang Zia telah di izinkan untuk pulang karena kondisinya sudah membaik. Zia merasa sangat senang karena sudah terbebas dari ruangan yang membosankan itu.
"Yey! Akhirnya Zia bisa pulang, Horee!" ucap Zia sambil melompat-lompat kegirangan.
"Sayang. Jangan lompat-lompat, nanti kamu bisa jatuh dan Kakak takut akan terjadi sesuatu kepada anak kita," jelas Dev berusaha memperingati Zia, akan tetapi Zia masih saja melompat kegirangan.
Karena terlalu senang, Zia tidak memperhatikan langkahnya dan terpeleset. Hampir saja ia terjatuh ke lantai, beruntung Dev sempat menangkapnya dengan cepat.
"Nah, Kan. Kalo Kakak bilangin itu di denger, Sayang." Dev merasa sangat kesal kepada Zia karena ia sangat takut jika terjadi sesuatu kepada kandungan Zia.
"Maaf, Kak," lirih Zia sembari menunduk karena ia merasa bersalah.
Dev tidak menjawab permintaan maaf dari Zia, ia langsung menggendong Zia ala bride style dan membawanya keluar dari rumah sakit itu.
Dev memasukkan Zia kedalam mobilnya dan kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah. Di sepanjang perjalanan hanya ada keheningan di dalam mobil yang di naiki oleh Zia dan Dev, sedangkan Rangga dan Farhan beserta anak buah Dev menaiki mobil yang berbeda dengan mereka.
Dev masih saja mendiami Zia, ia masih kesal kepada Zia yang tidak mendengarkan peringatannya tadi.
"Kak ... Apa Kakak marah sama Zia?" tanya Zia seraya menatap Dev yang tengah fokus menyetir.
"Gak," balas Dev dingin tanpa melihat ke arah Zia yang sedari tadi memperhatikannya, ia sengaja bersikap dingin kepada Zia agar Zia mau mendengarkannya.
Zia kembali menatap jalanan di depannya, ia merasa sedih karena Dev bersikap dingin kepadanya. Dev melirik sekilas ke arah Zia yang sedang menatap jalanan, jujur saja ia merasa kasian harus bersikap dingin kepada Zia. Namun, ia harus melakukan itu agar Zia tidak lagi keras kepala.
"Maafkan Kakak, Sayang. Kakak terpaksa melakukan ini karena Kakak ingin agar kamu patuh kepada Kakak," jelas Dev membatin, kemudian ia kembali fokus menyetir.
Beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka telah sampai di kediaman Abraham. Dev langsung turun terlebih dahulu dan meninggalkan Zia sendirian di dalam mobil, Zia merasa bingung karena melihat Dev yang tiba-tiba dingin kepadanya.
"Zia. Dev kenapa?" tanya Farhan yang baru saja sampai.
"Entah, Kak. Zia juga ga tau," balas Zia seraya mengangkat kedua bahunya.
"Mungkin dia lagi gak mood." Rangga mencoba menenangkan Zia agar tidak sedih dengan sikap Dev.
"Iya, Kak. Mungkin juga," balas Zia tersenyum.
Kemudian, mereka bertiga segera masuk ke dalam mansion mewah itu.
--------------------------------
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, akhirnya mereka berhasil keluar dari hutan lebat itu. Mereka segera menghentikan mobil-mobil yang melewati jalan raya yang ada di tengah hutan itu, mereka berniat untuk meminta tumpangan kepada pengguna jalan yang sedang berlalu lalang.
Bukannya berhenti, sebagian pengendara malah menancap gas saat mereka meminta tumpangan. Ya, mereka tidak mau berhenti dan menolong kedua pria itu, karena mereka takut jika itu hanyalah modus dari para perampok yang berpura-pura sedang meminta tolong.
"Tuan, bagaimana ini? Tidak ada yang mau berhenti dan tidak ada yang mau menolong kita dari tadi," ucap anak buahnya khawatir.
"Tidak perlu khawatir. Bukankah kita masih punya kaki?" tanya pria itu seraya tersenyum kepada anak buahnya.
"Jadi maksud, Tuan. Kita akan berjalan kaki?" tanya anak buahnya tak percaya.
"Tentu. Apa kau keberatan?" tanya pria itu lagi sambil terus berjalan ke depan.
"Ti--tidak, Tuan." Anak buahnya ikut berjalan mengekor di belakangnya.
Mereka terus berjalan, kemudian ada seseorang yang mau memberikan mereka tumpangan. Pemilik mobil itu merasa iba ketika melihat pria itu yang berjalan kaki, apalagi melihat umurnya yang sudah tidak muda lagi.
"Tuan, kemana tujuanmu?" tanya pemilik mobil itu setelah menurunkan kaca mobilnya.
"Kami akan pergi ke kota Jakarta," jelas pria itu singkat.
"Kebetulan aku juga ingin ke sana. Naiklah, Tuan!" ajak pemilik mobil itu dengan ramahnya.
"Apakau tidak takut kepada kami?" tanya pria itu lagi.
"Tidak. Karena ku rasa kalian ini bukanlah orang jahat yang harus ku takuti," jelas pemilik mobil itu.
Pria itu tersenyum mendengar jawaban dari supir mobil itu, kemudian ia dan anak buahnya segera menaiki mobil itu.
"Tuan, siapa namamu?" tanya pemilik mobil itu sambil fokus menyetir.
"Namaku, Narandra dan kau bisa memanggilku Andra," jelas Pak Andra kepada pemilik mobil itu.
"Kalau namamu siapa?" tanya Pak Andra.
"Namaku, Ahmad. Kalau nama orang di sebelahmu, Tuan?" tanya Ahmad seraya melirik sekilas ke arah anak buah Pak Andra.
"Namaku, Bagas," balas anak buah Pak Andra.
"Baiklah. Sekarang kemana tujuanmu, Tuan," tanya Ahmad kepada Andra.
Pak Andra langsung mengatakan tujuan dan alamat rumahnya.
Setelah setengah jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka telah sampai di kota Jakarta bahkan mereka telah sampai di tempat yang di tujukan oleh Pak Andra. Yaitu, kediaman Abraham.
"Tuan, apa kau tidak salah alamat?" tanya Ahmad yang masih tidak percaya bahwa itu rumah Andra.
"Tidak. Apa kau tidak mau mampir dulu?" tawar Pak Andra.
"Tidak, Tuan. Aku harus segera pergi karena ada tugas yang masih harus aku selesai," jelas Ahmad menolak, sebenarnya ia sangat ingin masuk ke dalam rumah mewah itu.
Akan tetapi apalah daya, pekerjaan memaksanya untuk segera pergi dari sana.
"Tuan, aku pergi dulu," pamit Ahmad.
"Baiklah. Ini kartu namaku, jika kau perlu apapun, kau bisa menghubungiku." Andra menyerahkan kartu namanya beserta beberapa lembar uang berwarna merah untuk Ahmad.
"Tidak, Tuan. Aku iklas membantumu," ucap Ahmad menolak pemberian Andra.
"Akupun iklas memberikan ini untukmu," ujar Andra memaksa.
Dengan perasaan yang sangat tidak enak, Ahmad terpaksa mengambilnya dan setelah berterima kasih kepada Andra. Ia segera pergi dari sana, sementara Andra dan anak buahnya segera masuk ke halama rumah Dev.
"Berhenti, kau siapa?" Bima dan anak buah Dev yang lainnya segera menghentikan Andra, mereka tidak bisa mengenali Andra karena ia memakai topi hingga menutupi sebagian wajahnya.
"Kalian sudah melupakan aku?" tanya Andra seraya melepas topi yang ia kenakan.
"Tu--Tuan, benarkah ini kau?" tanya Bima tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Bima dan yang lainnya benar-benar terkejut saat melihat Narandra masih hidup, padahal ia telah hilang selama bertahun-tahun bahkan telah di nyatakan meninggal.
"Iya, ini aku. Sentuhlah jika kau tak percaya kalo aku ini manusia," titah Andra seraya mengulurkan tangannya ke depan Bima.
Bima langsung menyentuh Andra dan ternyata, Andra benar-benar masih hidup.
"Yaampun, Tuan. Kau benar-benar masih hidup," ucap Bima dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Iya. Apa Dev ada di rumah?" tanya Andra.
"Ada, Tuan. Haruskah aku panggilkan?" tawar Bima.
"Tidak, aku akan memberinya kejutan," ucap Andra seraya terus berjalan ke arah pintu dan menekan bel rumahnya.
Ting! Ting!
Zia dan tiga cogan yang sedang duduk di ruang keluarga segera melihat ke arah pintu saat bel di bunyikan, kemudian Zia bangkit dari tempat duduknya dan membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.
"Maaf, anda siapa?" tanya Zia bingung saat melihat pria yang sedang membelakanginya.
Andra berbalik, ia pun tak kalah bingungnya dengan Zia saat melihat ada seorang gadis di rumahnya.
"Siapa, Sa ...." Dev tak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat orang yang sudah lama ia rindukan berada di hadapannya, ia benar-benar tidak menyangka jika orang yang selama ini dia cari sedang berdiri di hadapannya.
"Ayah!" Dev langsung berlari dan memeluk Andra dengan erat, Andra langsung menyambut pelukan dari putranya karena ia juga sudah sangat rindu kepada Dev.
"Ayah?" ucap Rangga dan Zia secara bersamaan.
"Iya, itu Ayah kandung Dev. Beliau pernah di nyatakan telah tiada sewaktu kecelakaan dulu, karena beliau tidak di temukan selama bertahun-tahun," jelas Farhan, sementara Rangga dan Zia hanya ber oh saja.
"Ayah, mengapa kau meninggalkan aku begitu lama?" tanya Dev di sertai isak tangisnya.
"Ceritanya panjang, Nak." Andra juga ikut terisak.
"Ayah, aku harap Ayah tidak akan meninggalkanku lagi," ucap Dev yang masih terisak di dalam pelukan ayahnya.
"Tidak, Nak. Ayah tidak akan meninggalkanmu lagi," balas Andra sambil mengelus kepala putranya.
"Ayah, aku ada kejutan untuk mu," ucap Dev sambil melepas pelukannya.
"Kejutan apa, Nak?" tanya Andra penasaran.
"Kau akan segera tua, Ayah. Kau akan segera menjadi seorang kakek," jelas Dev seraya tersenyum dengan mata yang masih mengeluarkan air.
Andra merasa terkejut saat mendengar ucapan Dev, ia benar-benar belum biaa mempercayai perkataan Dev.
"Apa yang kau katakan, Aku akan segera menjadi kakek?" tanya Andra sambil menatap serius ke arah putranya.
"Apa kau sudah menikah?" tanya Andra lagi.
"Iya, Ayah. Itu menantumu dan sekarang ia sedang mengandung darah dagingku," jelas Dev sambil menunjuk ke arah Zia.
"Apa kau bersungguh-sungguh?" tanya Andra yang masih tidak percaya dengan ucapan Dev, akan tetapi ia juga merasa sangat bahagia.
"Iya, Ayah. Zia kemarilah!" Dev langsung memegang tangan Zia dan membawanya ke hadapan Andra.
Zia langsung meraih tangan Andra dan mencium punggung tangan ayah mertuanya, sedangkan Andra hanya tersenyum melihat Zia yang begitu sopan. Ia sangat bahagia sekarang sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Kemarilah, Anak-anakku!" titah Andra sambil membuka tangannya lebar-lebar.
Dev dan Zia segera mendekat ke arah Andra, Andra langsung memeluk anak dan menantunya. Ia tak henti-hentinya menangis haru, kebahagiaannya bertambah dua kali lipat. Selain bahagia karena bertemu dengan anaknya, Andra juga bahagia karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang kakek, dimana keinginan itu adalah keinginan yang paling ia dambakan sedari dulu.
Bersambung ....