
Saat ini, keluarga Zia sedang berada di tempat pasukan Zia memarkirkan mobil mereka. Semua anggota Zia dan Tuan X telah berkumpul di sana setelah mengalahkan semua pasukan Harun, beruntung tak ada satu pun dari anggota Zia dan Tuan X yang terluk4.
Sekarang mereka hanya sedang menunggu Zia, Leon dan dua temannya, sembari menunggu Zia. Sebagian dari mereka ada yang sedang mengobati luk4-luk4 kecil yang ada di tubuh keluarga Zia.
"Eeughh," lenguh mereka yang mulai tersadar dari pingsannya.
"Tuan! Bagaimana ini? Mereka mulai sadar," ujar Sam anak buah Tuan X.
"Biarkan mereka sadar, mereka juga harus melihat akhir dari hidup para b4jing4n itu," jelas Tuan X menenangkan mereka.
"Dimana ini?" lirih Dev yang mulai membuka matanya.
"Kakek!" Ketiga cogan itu merasa sangat kaget melihat Tuan X yang sedang berdiri di depan mereka.
"Ayah!" Ayah-ayah mereka tak kalah kagetnya dengan mereka.
Ketiga cogan beserta ayah-ayahnya itu segera bangkit dan mendekat ke arah Tuan X, setelah itu mereka juga memeluknya sambil mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih karena telah menyelamatkan kami, Kakek," ujar ketiga cogan itu bersamaan.
"Iya, Ayah. Terima kasih karena telah menyelamatkan kami," ujar Andra, Gibran dan Gavin bersamaan.
"Iya, Ayah. Terima kasih!" ucap Bu Devi, Sofia dan Mila seraya menyatukan tangan mereka.
"Kalian semua salah," ujar Tuan X seraya melepas pelukan pada anak dan cucunya.
"Salah? Apa maksudnya, Kek?" tanya Rangga seraya mengerutkan keningnya.
"Iya, Ayah. Apa maksudnya?" timpal Gibran mewakili perasaan dari semuanya.
"Zia yang telah menyelamatkan kalian," ujar Tuan X lagi, tersenyum tipis.
"Zia ada di sini?" tanya Sofia yang mulai khawatir kepada putrinya.
"Iya." Tuan X mengangguk.
"Lalu dimana, Zia?" tanya Dev yang sudah panik.
"Iya, Kek. Dimana Zia? Apa dia masih di markas itu?" tanya Rangga yang tak kalah paniknya dan Tuan X hanya mengangguk.
"Ayah! Bagaimana kau bisa mengizinkan Zia datang kemari?" tanya Gibran yang sudah sangat panik.
"Ayo kita kesana untuk menyelamatkan Zia!" ajak Andra yang juga sudah sangat panik.
"Kalian panik tanpa alasan. Lihatlah dulu apa yang di lakukan oleh Zia," ujar Tuan X lagi hingga membuat mereka kembali terheran-heran.
"Mari kita saksikan akhir dari semua ini!" ajak Tuan X dan langsung di setujui oleh mereka.
Mereka semua mulai melangkah menuju ke markas itu lagi, mereka yang sudah sangat penasaran pun mulai mempercepat langkah mereka hingga tibalah mereka di sebuah bukit tempat pasukan Zia berdiri tadinya.
Mereka semua di larang oleh Tuan X untuk ikut campur dengan masalah Zia termasuk Dev sendiri, mereka semua hanya di perintahkan untuk melihat Zia dari atas bukit itu. Awalnya mereka tidak setuju, tetapi setelah melihat Harun, Hans dan Chika sudah di ikat. Mereka pun setuju dengan perintah dari Tuan X.
Di sisi lain, Zia tengah menanti kedatangan ketiga hewan buas itu yang kian mendekat ke arahnya. Namun, Zia sama sekali tidak tahu jika semua keluarganya sedang memperhatikannya saat ini dari atas bukit itu.
"BERHENTI!" teriak Zia, seketika ketiga hewan itu berhenti tepat di hadapannya dengan kepala yang menunduk.
"Anak pintar." Zia mengelus kepala Aslan, Tiger dan Raider bergantian.
Leon dan dua temannya merasa sangat terkejut plus kagum ketika melihat adegan itu karena setau mereka, tidak ada yang bisa menaklukkan hewan buas itu kecuali Dev. Bahkan terkadang, Raider dan Tiger juga sulit di taklukkan oleh Dev.
Mereka yang menyaksikan aksi Zia dari atas bukit juga ikut melongo keheranan saat Zia berhasil menaklukan ketiga hewan itu, akan tetapi mereka juga kagum melihat keberanian Zia.
"Zi--Zia, ke--kenapa kamu me--membawa me--mereka kemari?" Chika memberanikan diri untuk bertanya walau sudah gemetar hebat.
"I--iya, Nak. U--untuk apa kau pa--panggil me--mereka?" tanya Harun yang tak kalah takutnya dari Chika.
"Ja--jauhkan he--hewan itu da--dari kami," pinta Hans yang juga sudah takut.
"Kalian! Lepaskan ikatan mereka!" titah Zia sambil terus mengelus leher ketiga hewan buas itu.
"Baik, Nyonya." Mereka tak berani membantah Zia karena mereka tahu, pasti ada alasan mengapa Zia menyuruh mereka untuk melepaskan para b4j1ng4n itu.
"Larilah!" titah Zia pada Harun, Chika dan Hans.
"Apa?!" tanya mereka heran karena mendapat perintah lari dari Zia.
"Larilah!" teriak Zia lagi, mereka pun langsung berlari.
Mereka sangat kesulitan berlari karena kaki mereka sakit akibat ulah Zia, Harun dan Hans kesakitan karena kaki mereka sudah di t3mbak oleh Zia. Sedangkan Chika, kakinya terkilir karena sempat di inj4k dengan kuat oleh Zia tadi.
"Aslan, yang tengah!" titah Zia seraya menunjuk Chika yang memang berlari di tengah.
"Tiger, yang kiri!" ucap Zia lagi seraya menunjuk Harun yang berlari di sebelah kiri Chika.
"Raider, sebelah kanan." Zia menunjuk ke arah Hans yang berlari di kanan Chika.
"Kejar mereka, tapi jangan b*nuh mereka. Kalian hanya boleh meny1ksanya, kalian mengerti?" tanya Zia pada ketiga hewan buas itu, seketika hewan-hewan itu mengerang kecil seolah mengerti bahasa Zia.
"KEJAR!" titah Zia, ketiga hewan buas itu langsung bangkit dan mengejar mereka. Hewan itu mengejar orang yang telah di tunjuk oleh Zia tadi.
Mendengar Zia yang menyerukan kata "Kejar" mereka pun memalingkan wajah mereka untuk melihat ke belakang, mereka semakin mempercepat langkah mereka saat melihat tiga hewas buas itu sedang mengejar mereka. Namun sayangnya, mereka kalah cepat dari tiga hewan itu. Baru saja berlari sekitar lima meter, mereka pun sudah di terkam oleh hewan itu.
"Aaaaa!" teriak mereka bersamaan.
Brukk!
Mereka jatuh cukup keras di atas tanah karena di terkam oleh hewan-hewan buas itu.
Srett!
Sreet!
Kuku-kuku tajam hewan-hewan buas itu mulai meny0bek kulit dan d4ging mereka, mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain meringis kesakitan karena di cakar oleh hewan itu. Setelah cukup puas melihat mereka di s1ksa oleh ketiga hewan buas itu, Zia pun menghentikan mereka dan memanggil mereka untuk kembali padanya.
"Cukup! Kembalilah!" titah Zia dan ketiga hewan buas itu langsung menghentikan aksinya lalu kembali menghadap Zia.
"Tunggulah disini! Aku akan memberikan makanan lezat untuk kalian." Zia memerintahkan ketiga hewan itu untuk menunggu dan ketiga hewan itu langsung duduk di atas tanah mematuhi perkataan Zia, sementara Zia melangkah untuk melihat mereka yang sudah terkulai lemah dengan bersimbah d4rah.
"Ka--kau mau a--apa Zia?" tanya Chika terbata-bata karena sudah sangat lemah akibat kehabisan banyak d4rah.
"Aku akan mengakhiri semuanya," ujar Zia serius.
Jleb!
"Aakhhh!" teriak Hans saat pisau Zia men4ncap di dadanya.
Perlahan t4ncapan itu semakin di perdalam oleh Zia hingga Hans menghembuskan nafas terakhirnya, akan tetapi Zia tidak berhenti sampai di sana. Zia m4mb3l4h dada Hans dan mengambil j4ntungnya, barulah Zia berhenti setelah melakukan hal itu.
"Aaakhhh!" teriak Harun saat Zia melakukan hal yang sama seperti yang Zia lakukan pada Hans tadi.
"Ayaahh!" teriak Chika menangis.
"Dasar b4jing4n! Kau memang 1bl1s, Zia!" Chika marah saat melihat ayahnya di bun*h oleh Zia, akan tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena ia sangat lemah.
Setelah melakukan hal yang sama pada Harun, seperti yang ia lakukan pada Hans tadinya. Zia pun menyimpan kedua j4ntung itu untuk di berikan kepada hewan peliharaannya, lalu Zia mendekat ke arah Chika yang membuat Chika sangat ketakutan.
"Mengapa kau melakukan ini Zia? Mengapa kau tidak langsung m3mbun*h kami? Mengapa kau harus meny1ksa kami terlebih dahulu?" tanya Chika yang sudah menangis karena takut.
"Seharusnya, kau langsung men3mb4k kami tadi. Jadi kau tak perlu meny1ksa kami seperti ini," ujar Chika lagi yang semakin keras menangis.
"Kau memang 1bl1s, Zia!" maki Chika di sela-sela isak tangisnya.
"Kau tahu kenapa aku tidak langsung memb*n*h kalian, terutama kau?" tanya Zia dan Chika hanya menggeleng.
"Aku tidak ingin kalian m4t1 begitu mudahnya karena kalian telah meny1ksa keluargaku selama lima tahun, rasanya s1ksaan seperti ini juga masih kurang untuk kalian. Dan ya, aku mengakui jika sifatku ini b4j1ng4n dan 1bl1s tetapi kalian sendiri yang sudah memb4ngunkan 1bl1s ini. Terkadang untuk menghukum b4j1ng4n, memerlukan 1bl1s yang lebih sad1s," jelas Zia sambil menunjukkan senyum devilnya.
"Zia, tolong ampuni aku. Aku mohon Zia," pinta Chika memohon.
"Tidak, Chika! Aku sudah berkali-kali memaafkanmu, tapi kau tak pernah berubah bahkan kau semakin menjadi-jadi karena menganggapku lemah. Sekarang, aku tidak akan memaafkanmu, Chika!" jelas Zia lagi.
Tanpa menunggu lama, Zia langsung mendekat ke arah Chika yang saat ini masih terbaring di atas tanah.
"Tidak, Zia. Jangan!" pinta Chika yang sudah sangat takut pada Zia.
Jleb!
"Aakhhh!" teriak Chika saat pisau milik Zia telah men4ncap di dadanya.
Srakk!
Seketika dada Chika terb3l4h dan Chika pun menghembuskan nafas terakhirnya,
Zia terus melakukan apa yang ingin Zia lakukan dan saat ini ia telah mengambil j4ntung milik Chika.
Zia membawa jantung-jantung itu dan memberikannya kepada ketiga hewan buas miliknya.
"Aslan!" Zia melempar j4ntung milik Chika ke arah Aslan dan langsung di sambut pula oleh Aslan.
"Tiger! Raider!" Zia melemparkan sisa j4ntung itu untuk Raider dan Tiger, seketika mereka pun langsung mengambilnya.
Setelah ketiga hewan buas itu memakan j4ntung-j4ntung itu, Zia pun memerintahkan hewan itu untuk mem4kan tubuh para b4j1ng4n itu.
"Nikmati makanan kalian!" titah Zia dan ketiga hewan itu hanya mematuhi saja.
"Huh ... Akhirnya aku bisa m3ngh4bisi mereka semua," gumam Zia menghela nafas lega.
Lima belas menit berlalu, kini Aslan, Raider dan Tiger telah menghabiskan makanan mereka.
"Kalian! Cepat masukkan semua b4ngk4i-b4ngk4i itu ke dalam markas!" titah Zia dan lagi-lagi Leon beserta teman-temannya hanya bisa mematuhi saja.
Beberapa menit berlalu, mereka pun telah selesai melaksanakan apa yang di perintahkan oleh Zia.
"Tuang minyak ini di sekitar markas itu, lalu pasang juga pel3d4k ini di setiap dinding markas itu!" titah Zia lagi seraya menyerahkan jirgen berisi minyak tanah dan menyerahkan satu tas berisi peled4k pada mereka.
"Baik, Nyonya!" Mereka mengambil p3l3d4k dan minyak itu, lalu melaksanakan perintah Zia.
"Sudah, Nyonya!" ucap Leon setelah melaksanakan perintah Zia.
"Aslan, Tiger, Raider. Ayo!" ajak Zia dan ketiga hewan itu langsung mematuhi.
"Ayo kita pergi!" ajak Zia pada Leon dan dua temannya.
Klek!
Bumb!
Zia menekan tombol pel3d4k yang terpasang di tubuh Rayen, seketika p3l3d4k yang lainnya ikut meledak dan menciptakan kebakaran hebat di markas itu. Seluruh markas itu hangus terbakar, akhirnya kemenangan menjadi milik Zia.
Mereka berempat berjalan beringingan dengan tiga hewan itu di depan mereka, Aslan berada di tengah-tengah sebagai raja sedangkan kedua harimau putih itu berjalan di kanan kiri Aslan. Semua yang menyaksikan kemenangan Zia tersenyum bangga, bahkan Tuan X dan anak buahnya menghormati Zia dengan menyebutnya seorang dewi.
"Salam Sang Dewi," ucap Tuan X menyatukan kedua tangannya ke arah Zia.
"Salam Sang Dewi," seru anak buah Tuan X yang juga ikut menghormati Zia.
Zia, Leon dan dua temannya beserta ketiga hewan buas itu telah sampai di kaki bukit, Zia sangat terkejut saat melihat semua keluarganya telah berkumpul di atas bukit itu. Zia sempat berhenti melangkah, tetapi ia kembali melanjutkan langkahnya dan berjalan mendekati keluarganya.
Zia sempat berpikir jika keluarganya akan memarahinya, tetapi hal yang tak terduga terjadi. Mereka semua tersenyum bangga melihat Zia, bukan bangga karena Zia telah memb*nuh para b4j1ng4n itu tapi mereka bangga akan keberanian Zia yang rela bertaruh ny4wa demi menyelamatkan mereka semua.
"Semuanya telah berakhir ...," lirih Zia, kemudian penglihatan Zia mulai buram dan seketika dia kehilangan kesadarannya.
"Zia!" teriak Dev yang langsung berlari dan menangkap tubuh Zia.
"Zia!" Mereka semua berlari mendekati Zia yang sudah tak sadarkan diri di pelukan Dev.
"Cepat siapkan mobilnya!" titah Farhan dan langsung di angguki oleh anak geng Dev.
Tanpa menunggu lagi, Dev langsung menggendong Zia ala bride style dan berlari membawa Zia ke mobil. Sementara yang lainnya juga ikut berlari di belakang Dev, setelah semuanya siap dan semua telah masuk ke dalam mobil. Mereka pun segera menancap gas untuk pergi dari hutan itu dan mobil yang di naiki oleh Dev dan Zia berada di barisan paling depan.
Bersambung ....
Apa yang terjadi pada Zia?