
Setelah cukup puas memeluk anak dan menantunya, Andra segera melepaskan pelukan itu dan mengajak mereka untuk masuk ke dalam dan berbicara lebih lanjut di sana.
"Nak, siapa namamu?" tanya Tn. Andra sambil duduk di atas sofa, kemudian ia menatap serius ke arah Zia untuk meminta jawaban dari pertanyaannya.
"Na--nama saya, Ziana. Pa," jawab Zia sedikit gugup.
"Nama lengkapmu, Nak?" tanya Tn. Andra lagi.
"Ziana Sofia Andara," balas Zia seraya tersenyum manis.
"Andara? Apa kau putri dari Gibran dan Sofia?" tanya Tn. Andra seraya menatap serius ke arah Zia, sedangkan Zia hanya mengangguk.
Degh!
Rangga tertegun saat melihat Zia yang mengiyakan pertanyaan Tn. Andra, ia semakin yakin jika Zia adalah adiknya.
"Mengapa nama orang tua Zia sama dengan nama orang tuaku," batin Rangga penuh tanda tanya.
"Dan kau. Kau Rangga, 'kan?" tanya Tn. Andra kepada Rangga dan Rangga hanya mengangguk.
"Kau juga anak dari Gibran dan Sofia, 'kan?" tanya Tn. Andra lagi dan lagi-lagi Rangga hanya mengangguk.
"Apakah kalian tidak mengenal satu sama lain?" Tn. Andra menatap ke arah Zia dan Rangga secara bergantian.
"Tidak, Om. Ada hubungan apa di antara kami, apakah Om mengetahuinya?" tanya Rangga penuh harap kepada Andra, ia berharap bahwa Andra akan menjawab semua pertanyaan yang ada di benaknya.
"Tentu. Kalian ini adalah saudara kandung, hanya saja kalian sudah terpisah sejak kecil hingga kalian tidak bisa mengenali satu sama lain," jelas Tn. Andra serius.
Rangga dan Zia merasa sangat terkejut saat mendengar penjelasan dari Tn. Andra, mereka kembali mengingat perkataan ibu mereka sewaktu di dalam mimpi saat itu, penjelasaan dari Andra benar-benar mirip dengan penjelasan ibu mereka yang juga mengatakan bahwa mereka sudah terpisah sejak kecil.
"Apa! Saudara?" pekik Dev dan Farhan bersamaan, mereka merasa bingung saat mendengar penjelasan dari Andra.
"Ayah. Apa Ayah yakin dengan apa yang Ayah katakan barusan, dari mana Ayah tau kalau mereka adalah saudara dan apa Ayah mengenal keluarga mereka?" tanya Dev bertubi-tubi.
"Tentu, Nak. Bahkan Tn. Gibran adalah sahabat dekat Ayah, bagaimana mungkin Ayah tidak mengenal keluarga dari Tn. Gibran." Tn. Andra meyakinkan Dev, putranya.
"Lalu apa yang menjadi penyebab mereka berpisah, Om?" tanya Farhan lagi.
Tn. Andra menarik nafasnya dalam-dalam dan mulai menceritakan tentang kejadian, dimana kejadian itu harus memisahkan antara adik dan kakaknya.
Flashback On
* * * * * * * * * *
*POV Tn. Andra*
Aku memiliki tiga orang sahabat yang selalu mendampingiku susah dan senang. Yaitu, Tn. Gibran Andara, Tn. Gavindra Mahesa dan Tn. Harun Wijaya. Kami berempat bersahabat sangat dekat dan kami juga selalu bekerja sama hingga perusahaan kami berkembang pesat kala itu, kami mencapai puncak kejayaan.
Tiga tahun berturut-turut kami menduduki puncak kejayaan. Tiba-tiba, di saat kejayaan kami akan masuk tahun ke empat, sebuah tragedi yang tak pernah di inginkan terjadi kepada kami. Yaitu, datangnya musuh besar kami yang mengancam akan menghabisi seluruh keturunan kami.
"Andra, apa kau sudah mendapatkan kabar bahwa musuh kita akan segera kemari?" tanya Gavin kepadaku, ia terlihat begitu khawatir.
"Iya, Vin. Tapi aku masih bingung, dari mana dia tau kalau kita ada di kota ini. Bukankah dia sudah lama kehilangan jejak tentang kita?" Aku masih merasa penasaran dengan Hans, dari mana ia tahu kalau kami ada di kota ini.
"Iya, Andra, kau benar sekali. Bahkan kita menyamar di sini, tak ada yang mengenali nama asli kita selain kita berempat," timpal Gibran yang tak kalah penasarannya denganku.
"Harun, bagaimana pendapatmu tentang masalah ini?" Aku sengaja bertanya kepada Harun, karena aku perhatikan. Sedari tadi ia terlihat begitu santai, seolah tak ada masalah di pikirannya.
"Em ... A--aku, emm ... Aku juga sangat khawatir." Dia begitu gugup saat aku tanyai tentang masalah itu.
"Mengapa dia begitu aneh, apakah dia penghianat diantara kami?" batinku mulai mencurigainya.
"Andra. Apa solusimu untuk masalah ini?" tanya Gibran penuh harap, ia berharap aku menemukan solusi di antara masalah ini. Karena, biasanya aku selalu bisa menemukan solusi yang tepat di saat kami ada masalah.
Aku menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan pikiranku, setelah itu baru aku memberikan saranku,"Tidak ada jalan lain, kita harus segera menyembunyikan anak-anak kita di tempat yang aman."
"Tapi dimana kita akan menyembunyikan anak-anak kita, Ndra?" tanya Gavin lagi.
"Kita akan memberikan anak kita kepada seseorang, aku rasa orang itu bisa melindungi anak kita," jelasku meyakinkan mereka.
"Permisi, aku keluar dulu." Tiba-tiba saja Harun keluar dari ruangan itu, ia benar-benar bersikap sangat aneh.
"Andra. Apa kau merasa ada yang aneh dengan Harun?" tanya Gibran setengah berbisik kepadaku.
"Iya, Andra. Aku juga merasa ada yang aneh dengan Harun. Mungkinkah dialah penghianat di antara kita?" Gavin juga ikut berbisik kepadaku.
"Entahlah, kita tidak bisa menuduhnya sebelum kita tahu kebenarannya. Akan tetapi, usahakan agar rahasia kita tidak lagi terbongkar kepadanya," jelasku seraya menatap serius ke arah mereka.
"Iya, Ndra. Kau benar, aku juga tidak bisa mempercayainya lagi," timpal Gibran.
"Andra. Kapan kita akan mengirim anak-anak kita kepada orang itu, dan siapa orang yang kau maksud itu?" tanya Gavin penasaran, ia masih belum mengerti dengan perkataanku.
"Kita akan mengirim anak kita ke Mumbai dan kita akan menitipkan mereka kepada Mr.X," jelasku lagi.
"Apa kalian masih ingat dengan Mr.X?" tanyaku kepada Gavin dan Gibran.
"Tentu. Dia adalah orang yang pernah menyelamatkan kita saat itu, dimana kita hampir terbunuh oleh geng mafia kelas bawah yang lainnya. Beruntung sekali dia datang tapat waktu dan menyelamatkan kita," jelas Gibran dan kembali mengingat jasa baik daripada Mr. X.
"Iya, bahkan dia juga yang membuat kita seperti sekarang ini. Kita sukses karena didikannya dan kita kaya juga karena bantuannya," ujar Gavin yang ikut mengingat kebaikan Mr. X.
"Tapi Ndra, apa anak-anak kita akan aman di sana? Mengingat dia juga seorang mafia. Pastilah dia juga tak pernah lepas dari yang namanya musuh." Gibran kembali khawatir.
"Tenang saja. Sekuat apapun musuh mencoba, tidak ada satupun musuhnya yang berhasil memasuki rumahnya. Rumahnya benar-benar di jaga ketat dan semua bodyguardnya telah terlatih dengan hebat," jelasku menenangkan mereka.
"Iya, kau benar. Aku rasa Mr.X adalah orang yang tepat untuk menjaga anak-anak kita, karena beliau juga sangat menyukai anak-anak." Gavin mengangguk setuju.
"Iya, Vin. Aku setuju denganmu." Gibran ikut mengangguk setuju.
*POV Author*
Setelah mereka semua setuju dengan rencana Andra, Andra langsung menghubungi Mr.X untuk meminta bantuannya.
"Ma--maaf, Tuan. Maaf karena aku sudah mengganggu waktumu," ucap Andra gugup, bahkan tangannya yang memegang handphone bergetar saat mendengar jawaban dari Mr.X.
[Ada apa Andra, apa kau sedang mempunya masalah sekarang?]
"Iya Tuan. Hans akan kemari, dia sudah mengetahui tempat persembunyian kami dan dia sudah tau tentang penyamaran kami di kota ini. Dia akan datang dan dia mengancam jika dia akan menghabisi semua keturunan kami," jelas Andra panjang lebar, ia mengungkapkan kekhawatirannya kepada Mr.X.
[Kau tidak perlu khawatir, aku akan segera mengirim pasukanku kesana. Lagian Hans itu hanya semut kecil bagiku]
"Tidak, Tuan. Kami akan menghadapinya sendiri, kami hanya ingin menitipkan anak-anak kami di sana. Apa kau tidak keberatan, Tuan?" tanya Andra penuh harap.
[Tentu, aku akan sangat senang jika ada anak-anak disini. Kapan kau akan mengirim mereka kemari?]
"Malam ini, Tuan. Karena kami takut jika Hans akan datang tiba-tiba dan kami tidak mau jika anak-anak kami berada dalam bahaya," ucap Andra sedikit senang karena Mr.X mau menerima anak-anak mereka.
[Baiklah. Bertindaklah dengan cepat sebelum kalian terlambat, aku akan menunggu mereka di Bandara]
"Baik, Tuan. Kami akan segera bersiap-siap sekarang." Andra langsung mematikan panggilannya.
Mereka merasa sedikit lega, karena anak-anak mereka telah di terima oleh Mr.X.
Mereka langsung bergegas dari ruangan itu dan menuju ke rumah masing-masing untuk menyiapkan semua keperluannya anak-anak mereka.
Namun, tanpa mereka ketahui. Ternyata sedari tadi ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka. Siapa lagi kalau bukan Harun, ia lebih memilih menghianati sahabatnya demi uang yang di berikan oleh Hans.
"Akan ku beritahukan semuanya kepada Hans, dan aku pastikan keturunan kalian tidak akan selamat satupun," gumam Harun seraya tersenyum licik sambil memandangi mereka bertiga dari kajauhan.
Setelah itu, Harun segera menghubungi Hans dan memberitahukan semuanya kepada Hans.
[Kerja bagus. Aku akan segera menggagalkan rencana mereka malam ini. Dan untukmu, kau ingin uang berapa dariku?]
"Terserah kau saja, Tuan. Asalkan jumlahnya di atas rata-rata," ucap Harun cengengesan.
[Dasar mata duitan, tapi itu tidak menjadi masalah untukku]
Hans langsung memutuskan panggilannya secara sepihak.
--------------------------------
"Mas, apa kau yakin akan menitipkan anak kita kepada Mr.X?" tanya Sofia khawatir.
Gibran segera berbalik dan mendekat ke arah istrinya yang kini tengah hamil tua, Sofia tengah mengandung anak mereka yang kedua.
"Sofia. Aku juga tidak ingin Rangga pergi dari kita, akan tetapi inilah satu-satunya cara agar Rangga selamat," jelas Gibran mencoba membuat Sofia mengerti.
Sofia terdiam, ia hanya bisa pasrah dan menangis karena akan berpisah dengan putra sulungnya.
"Sofia ... Ini hanya sementara, kita akan kembali bertemu dengan Rangga setelah masalah dengan Hans selesai. Apa kau mau jika Rangga di habisi oleh makhluk sadis bernama Hans itu?" tanya Gibran seraya menatap mata Sofia dalam-dalam.
"Tidak. Aku tidak mau putraku kenapa-napa." Sofia menggeleng cepat saat mendengar pertanyaan dari Gibran. Ia sama sekali tidak bisa membayangkan jika putranya harus tiada di tangan Hans.
"Jika kau tidak mau Rangga kenapa-napa, maka inilah satu-satunya jalan untuk menyelamatkannya. Dan aku harap kau iklas melepaskan Rangga," jelas Gibran seraya mencium tangan istrinya.
"Baiklah, Mas. Aku setuju untuk mengirim Rangga kesana." Sofia menatap suaminya seraya tersenyum, ia mencoba pasrah dengan keadaan meskipun hatinya amat sakit karena harus berpisah dengan putranya.
Di sisi lain, Andra juga tengah membujuk istrinya agar ia rela melepaskan Devan untuk sementara waktu.
"Mas, aku gak mau jauh dari Devan. Aku mohon jangan bawa Devan, Mas." Devi memohon kepada Andra agar tidak membawa putra mereka.
"Devi. Aku tidak punya cara lain, inilah satu-satunya cara agar Devan aman dari cengkraman manusia berhati ibl*s itu," jelas Andra mencoba membujuk Devi.
"Apa kau akan iklas jika putra kita mening ...." Devi langsung menyela ucapan Andra.
"Tidak. Aku tidak mau terjadi apa-apa kepada Devan!" ucap Devi tegas, ia tidak terima jika anaknya harus di habisi oleh Hans.
"Maka dari itu kau harus iklas, Sayang." Andra mengecup kening istrinya untuk menenangkannya.
"Iya, Mas. Aku ikhlas!" ucap Devi tegas, ia berusaha tegar meskipun hatinya tidak iklas. Akan tetapi, ia tidak mau mengorbankan putranya hanya karena keegoisannya.
Setelah Andra, Gibran dan Gavin membujuk istri mereka masing-masing. Mereka langsung berkumpul di rumah Andra, karena mereka akan membawa anak-anak mereka secara bersamaan.
Jam sudah menunjukkan pukul 19:00 malam, mereka langsung membereskan semua keperluan anak-anak mereka yang akan pergi sebentar lagi.
"Bunda, kami akan di bawa kemana?" tanya Rangga seraya mendongak ke arah Sofia.
"Ibu, kami akan di bawa kemana?" Dev ikut bertanya kepada Devi, ibunya.
"Mama. Falhan gak mau jauh dali Mama," ucap Farhan cadel, saat itu umurnya baru lima tahunan. Sedangkan Dev dan Rangga berumur tujuh tahun saat itu.
Sofia, Devi dan Mila tidak bisa menjawab pertanyaan anak-anak mereka, mereka hanya bisa melihat satu sama lain saat mendengar pertanyaan dari anak-anak mereka.
"Nak. Kemarilah!" Gibran hendak menggendong Rangga, akan tetapi Rangga menolak untuk di gendong oleh ayahnya.
"Gak mau! Rangga gak mau jauh dari Bunda." Rangga memeluk Sofia dengan erat.
"Rangga gak mau pisah dari Bunda, karena Rangga pengen liat dede bayinya saat dedenya lahir nanti," jelas Rangga sembil terus memeluk erat perut Sofia yang kini sudah membesar, karena usia kandungannya sudah pas sembilan bulan.
Devan dan Farhan juga ikut menolak saat di ajak oleh ayah mereka masing-masing, akan tetapi mereka tidak bisa mendengar penolakan dari anak-anak mereka. Karena nyawa anak-anak mereka lebih penting sekarang.
Andra, Gavin, dan Gibran mengambil paksa anak-anak mereka dari dalam pelukan ibunya. Devan, Rangga dan Farhan mencoba memeluk ibu mereka sekuat tenaga, tetapi tenaga mereka tidak ada apa-apanya di depan tenaga ayah mereka.
"Bunda. Tolong ... Jangan biarkan Ayah membawaku," pinta Rangga di sertai tangisannya.
"Ma, Falhan gak mau ikut Papa." Farhan juga ikut menangis saat di ambil paksa oleh ayahnya.
"Bunda, Devan juga gak mau ikut dengan Ayah." Devan mulai ikut menangis saat dirinya juga diambil paksa oleh Andra.
Sofia, Devi dan Mila hanya bisa menangis saat melihat putra mereka menangis, mereka hanya bisa menatap putra mereka untuk yang terakhir kalinya.
"Ayah lepaskan!" Rangga dan Devan terus melawan saat di gendong oleh ayah mereka, bahkan mereka memukul-mukul tubuh ayah mereka agar Andra dan Gibran mau melepaskan mereka.
Sementara Farhan hanya bisa menangis keras saat ia di gendong oleh ayahnya, mereka tak henti-hentinya menangis saat mereka semakin di jauhkan dari ibu mereka.
"Bunda!" teriak mereka bersamaan, mereka menangis keras sambil mengulurkan tangan mereka ke arah ibu mereka masing-masing. Mereka berharap bahwa ibu mereka akan menghentikan langkah ayah mereka.
Namun, kenyataannya malah sebaliknya. Devi, Sofia dan Mila membalikkan badan mereka dan membelakangi putra-putra mereka. Mereka sangat tidak sanggup melihat putra mereka menangis, sesak rasanya saat melihat anak-anak mereka memanggil mereka untuk yang terakhir kalinya.
Andra, Gibran dan Gavin terus membawa anak-anak mereka menuju ke dalam mobil, meski dengan berat hati. Mereka tetap terpaksa melakukannya.
"Bagas. Cepatlah kau bawa anak-anak kami ke Bandara!" titah Amdra kepada anak buahnya yang bernama Bagas.
"Baik, Tuan." Andra menyalakan mobilnya dan melajukannya dengan cepat menuju ke Bandara.
Andra, Gibran dan Gavin hanya bisa menangis setelah kepergiaan putra mereka, mereka terus memandangi mobil yang tumpangi oleh anak-anak mereka. Rasanya tangisan anak-anak mereka masih menggema dengan sangat jelas di telinga mereka.
Tak lama kemudian, mereka segera berlari ke dalam rumah karena mendengar suara Sofia yang meringis kesakitan.
"Awh, sakit!" ringis Sofia sambil memegangi perutnya yang besar.
"Ada apa, apa yang terjadi kepada Sofia?" tanya Gibran yang berlari dengan tergesa-gesa ke arah Sofia.
"Sepertinya, Sofia akan segera melahirkan," jelas Devi singkat.
"Gibran. Cepat bawa Sofia ke RS sebelum Hans datang!" titah Andra dan langsung di angguki oleh Gibran.
Gibran langsung menggendong tubuh Sofia dan hendak membawanya keluar. Namun, keberuntungan tidak berpihak kepada mereka, baru saja Gibran akan keluar dari rumah Andra. Tiba-tiba saja suara peluru terdengar begitu jelas di halaman mereka.
"Gibran. Cepat bawa Sofia dan yang lainnya ke ruang bawah tanah, mereka akan aman di sana. Sementara aku dan Gavin akan mengahalangi Hans," jelas Andra seraya berlari dan mengambil posisinya.
Gibran langsung mengikuti arahan dari Andra, sesampainya di sana. Gibran langsung menidurkan istrinya di atas ranjang milik Andra dan Devi. Kemudian ia segera duduk di samping Sofia untuk menemaninya melahirkan, akan tetapi Sofia segera memintanya untuk membantu Andra dan Gavin.
"Ma--Mas, cepat pergi dan ba--bantu Tuan Andra dan Tuan Ga--Gavin," titah Sofia terbata-bata karena menahan rasa sakit yang hebat di sekujur tubuhnya.
"Tapi, Sof ...." Sofia segera menyela ucapan Gibran.
"Tidak, Mas. A--aku akan ku--kuat demi a--anak kita, dan aku a--akan ba--baik baik saja," ucap Sofia berusaha myakinkan suaminya.
Gibran hanya mengangguk, kemudian ia mencium kening istrinya yang sudah basah dengan keringat itu, ia segera pergi setelah berpamitan dengan Sofia.
Dor!
Dor!
Suata tembakan menggema di seluruh rumah Andra, sementara Sofia terus berjuang melahirkan anaknya yang di bantu juga oleh ibunya Dev dan Farhan.
Bersambung ....
Itulah alasanya mengapa Zia dan Rangga terpisahkan dari kecil.