Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Kejutan Terindah



Two Month Later ....


Setelah dua bulan penuh berada di Korea dan menikmati masa-masa indah mereka, kini Dev dan Zia telah kembali ke tanah air tercinta yaitu Indonesia.


"Eeuuhh," lenguh Dev sambil menggeliat di atas ranjang nya, ia meraba-raba ke samping nya namun tak juga menemukan apa yang ia cari.


Dev segera membuka mata nya lalu melihat ke samping dan ia tidak menemukan istri nya. Akan tetapi ia tak khawatir karena di rumah nya kemanan sangat lah ketat, Dev segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


15 menit berlalu, Dev telah rapi dengan jas hitam dan celana yang senada. Ia segera turun ke bawah untuk melihat istri nya, namun ia tak melihat istri nya di ruang tamu. Mungkin di dapur, begitulah yang di pikirkan Dev sehingga ia segera menuju ke dapur namun hasil nya tetap sama, tak ada Zia disana.


"Bi, dimana Zia, apakah bibi melihat nya?" tanya Dev kepada bi Rika yang tengah memasak.


"Tidak Tuan, dari tadi saya tidak melihat nyonya," balas bi Rika sambil terus mengaduk masakan nya.


"Mungkin nyonya ada di belakang, Tuan," jawab bi Sari yang baru saja datang.


"Oh ya, saya belum periksa disana. Makasih ya Bi." Dev tersenyum tipis kepada maid-maid nya dan berlalu pergi ke halaman belakang untuk mencari Zia, akan tetapi lagi-lagi Zia tidak di temukan sehingga membuat ia sedikit khawatir.


"Apa Zia di kandang Aslan?" monolog Dev dan segera menuju ke kandang Aslan, lagi-lagi Zia tidak ada disana termasuk juga Aslan tidak ada di kandang nya. Kepanikan Dev semakin menjadi-jadi saat ia tidak menemukan Zia, apalagi sekarang Aslan pun ikut menghilang entah kemana.


"Kemana Aslan dan Zia, apa yang terjadi? Apakah mereka baik-baik saja?" monolog Dev kepada dirinya sendiri, baru saja ia akan memanggil anak buah nya untuk mencari Zia dan Aslan. Tiba-tiba saja ia mendengar suara yang tak asing baginya.


"Aslan, apa mangga nya enak?"


"Arrggg"


"Hihihiii enak ya mangga nya"


Dev segera mencari sumber suara itu dan pandangan tertuju ke atas rumah pohon yang ia buat di atas pohon mangga besar yang ada di belakang rumah nya, ia sangat lah yakin kalau Zia ada di sana. Dev pun segera naik untuk memeriksa nya.


"Zia!" panggil Dev saat sudah melihat Zia dan Aslan.


Zia dan Aslan seketika menoleh ke arah Dev yang baru saja naik, Zia sempat menghentikan aksi makan-makan nya kemudian ia melanjutkan nya kembali.


"Sayang, ngapain kamu makan mangga pagi-pagi gini?" tanya Dev bingung, pasal nya Zia sedang makan mangga muda sekarang.


"Zia kepengen Kak, tadi niat nya cuman mau liat Aslan tapi Zia gak sengaja liat mangga ini lalu Zia kepengen deh sama mangga nya. Yaudah Zia ajak Aslan terus biar ada teman ngerujak," jelas Zia disertai muka tanpa dosa nya.


"Apa! Singa di ajak ngerujak?" tanya Dev tak percaya.


"He em, tapi Aslan nya gak mau jadi Zia aja yang makan," ucap Zia sambil terus melahap mangga muda nya yang membuat Dev merasa ngilu saat melihat Zia.


"Sayang, ayo kita sarapan dulu. Ga baik loh makan mangga muda pagi-pagi dan Aslan juga belum di kasih makan, jadi ayo kita makan dulu kasian Aslan mungkin dia udah lapar," jelas Dev sambil turun dari rumah pohon itu dan di ikuti oleh Zia dan Aslan di belakang nya.


"Bye ... Nak ku, nanti kita main lagi ya." Zia melambai ke arah Aslan dan di balas dengan erangan kecil oleh Aslan. Kemudian Dev membawa Zia ke dapur, sedangkan Aslan di bawa oleh Reza ke kandang nya untuk di beri makan.


Sesampainya di meja makan, Dev menduduk kan Zia diatas kursi dan ia ikut duduk di samping Zia. Dev menyuapi Zia akan tetapi Zia menolak.


"Kak, Zia ga mau makan. Makanan nya bau ihh," ucap Zia seraya menutup hidung nya.


"Sayang, ayolah. Ini enak bangat loh, coba deh kamu makan," bujuk Dev sambil terus berusaha menyuapi Zia.


Zia kemudian membuka mulut nya, baru saja satu sendok nasi masuk ke mulut nya. Zia langsung merasa sangat mual dan ia segera berlari ke arah kamar mandi.


"Huuweek! Huweek! Uueek!" Zia menutup mulut nya dengan tangan nya agar muntahan nya tidak berceceran di lantai.


"Tuh kan, pasti gara-gara kebanyakan makan mangga muda," omel Dev dan segera menyusul istri nya ke kamar mandi, jujur ia kesal dengan Zia namun ia juga sangat khawatir akan kondisi istri nya.


"Huuweek! Uuekk! Hueweek!" Zia memuntahkan semua nya, kemudian setelah rasa mual nya reda. Ia segera mencuci mulut nya dan menyiram muntahan nya yang ada di wastafel.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Dev yang baru masuk ke kamar mandi. Akan tetapi Zia tidak menjawab pertanyaan Dev karena ia merasa sangat pusing sekarang, kemudian pandangan nya seketika buram dan ia pun jatuh pingsan.


Hap!


Beruntung Dev segera menangkap Zia sehingga Zia tidak jatuh ke lantai.


"Sayang, kamu kenapa? Bangun lah Sayang!" Dev sangat panik saat melihat istri nya tidak sadar kan diri.


"Sayang bangun lah!" Dev menepuk pelan pipi istri nya agar ia bangun namun sayang, Zia masih saja setia menutup mata nya. Tanpa menunggu lagi, Dev langsung saja membawa Zia kerumah sakit karena ia tidak bisa bersabar jika harus menunggu dokter pribadi nya datang.


"Cepat! Kita ke rumah sakit sekarang!" titah Dev sambil berlari dengan Zia di gendongan nya.


"Baik, Tuan." Anak buah nya segera berlari mengikuti Dev, kemudian ia membuka pintu untuk Dev dan ia segera melajukan mobil menuju ke rumah sakit.


"Lebih cepat lagi!" titah Dev kepada Bima.


"Baik, Tuan," balas Bima sambil terus fokus menyetir.


"Sayang, bangun lah!" Dev terus menepuk pipi istri nya namun hasil nya tetap sama, Zia masih saja menutup mata nya.


Sesampai nya dirumah sakit, Bima langsung memarkir kan mobil nya dan segera turun lalu membuka kan pintu mobil untuk Dev. Dev langsung keluar dan berlari ke dalam rumah sakit sambil terus menggendong Zia.


"Tuan, silahkan tunggu diluar. Saya akan memeriksa pasien," ucap dokter yang baru saja datang, dan segera masuk ke dalam ruang rawat Zia untuk memeriksa nya.


Dev memilih untuk menunggu Zia sambil terus mondar mandir di depan pintu ruangan Zia, tak lama dokter pun keluar dengan wajah tersenyum bahagia.


"Dok, bagaiman kondisi istri saya, apakah dia baik-baik saja?" tanya Dev khawatir.


"Tenang Tuan, istri anda baik-baik saja hanya saja ...." Dokter itu menggantung kan ucapan nya hingga membuat Dev semakin penasaran.


"Ada apa, Dok?" desak Dev yang semakin penasaran dan khawatir.


"Selamat Tuan, anda akan segera menjadi seorang ayah. Dan kandungan istri anda baru berusia 2 minggu," jelas Dokter itu sambil menjabat tangan Dev, Dev hanya tercengang mendengar perkataan dokter itu.


"Apa Dok, Saya akan menjadi seorang ayah?" tanya Dev lagi karena belum bisa percaya akan perkataan dokter tadi.


"Iya Tuan, ibu dan anak juga sangat sehat." Dokter itu menepuk pundak Dev untuk meyakinkan nya.


"Apa saya boleh bertemu istri saya sekarang?" tanya Dev kepada dokter itu.


"Tentu Tuan, temui lah istri anda dia sudah sadar sekarang," balas dokter itu dengan senyum yang tak pernah luput dari wajah nya.


"Dok, boleh kah saya bawa istri saya pulang hari ini?" tanya Dev lagi.


"Boleh Tuan, tapi jaga istri anda dan jangan biarkan dia lelah sedikit pun. Dan berikan lah makanan sehat kepada nya agar janin nya semakin kuat," jelas dokter itu seraya tersenyum manis.


"Iya Dok, saya akan menjaga istri saya," balas Dev dengan mata yang sudah berkaca-kaca karena terharu.


"Baik Tuan, saya permisi." Dokter itu kembali menepuk pundak Dev dan pergi meninggalkan Dev.


Dev benar-benar sangat senang hari ini bagi nya inilah kejutan yang paling indah, ia segera memasuki ruangan Zia.


Ceklek!


Pintu ruangan Zia terbuka dan terlihat lah sosok Dev, Zia segera menoleh ke arah pintu dan menatap Dev dengan tatapan bingung karena ia melihat Dev sedang tersenyum bahagia namun mata nya berkaca-kaca.


"Ada apa, Kak?" tanya Zia bingung.


"Sayang ... Kita akan segera menjadi ayah dan ibu." Kini tumpah sudah air mata haru Dev, ia tak dapat lagi menahan nya karena ia benar-benar sangat bahagia.


"Apa Kak, Zia hamil?" tanya Zia lagi sambil terus mencari celah kebohongan di mata Dev, namun ia tak menemukan nya.


"Iya Sayang." Dev mengangguk lalu ia duduk ditepi ranjang Zia, kemudian ia meraih kedua tangan Zia dan mencium nya berkali-kali. Kini Zia juga ikut terharu saat mengetahui diri nya tengah mengandung anak dari orang yang sangat ia cintai yaitu Devan.


"Terima kasih Sayang, karena kau telah memberiku seorang pewaris," lirih Dev sambil menarik Zia kedalam pelukan nya dan ia juga mencium pucuk kepala Zia berkali-kali, tak lupa ia juga mengecup seluruh wajah Zia.


"Iya Kak hikss hikks." Zia terisak bahagia.


Dev pun melepas pelukan nya dan menghapus air mata istri nya begitu pula Zia, ia juga menghapus air mata suami nya.


"Sayang, ayo kita pulang!" ajak Dev di sertai senyum manis di wajah nya yang tak pernah pudar.


"Iya Kak, ayo kita pulang," balas Zia tersenyum.


Kemudian Dev menggendong tubuh mungil Zia ala bride style, ia membawa Zia keluar dari ruangan itu. Namun air mata tak berhenti mengalir dari mata nya, karena ia memang benar-benar sangat bahagia hingga ia tak bisa berkata apa-apa lagi selain menangis haru.


"Sayang tolong jaga anak kita ya," ucap Dev sambil mencium kening Zia yang ada di gendongan nya.


"Iya Kak, Zia janji akan menjaga anak kita," balas Zia sambil menghapus air mata Dev dan mengecup singkat pipi suami nya.


Bima segera membuka kan pintu mobil saat melihat Zia dan Dev datang, Dev langsung masuk ke mobil dan meletak kan istrinya di pangkuan nya. Di sepanjang perjalanan ia tak henti-henti nya memeluk dan mencium Zia yang ada di pangkuan nya.


"Tuan, apakah Nyonya baik-baik saja?" tanya Bima memecahkan keheningan.


"Dia baik, bahkan dia sangat baik," jawab Dev sambil memandang Zia.


"Maksudnya, Tuan?" tanya Bima lagi karena ia tak mengerti akan ucapan Dev.


"Kami akan segera menjadi ayah dan ibu," jawab Dev tersenyum.


Mendengar jawaban Dev, seketika senyum bahagia pun terpancar di wajah Bima dan ia segera mengucap kan selamat kepada tuan nya.


"Yaampun, selamat ya Tuan. Semoga saja calon bayi tuan sehat dan baik-baik saja." Bima mengucap kan doa terbaik nya untuk Dev dan Zia.


"Aamiin," jawab kedua nya serempak.


Mobil pun terus melaju membelah jalanan kota dan menuju ke kediaman Abraham. Saking bahagia nya Dev hari ini, ia pun tidak jadi pergi ke kantor nya. Karena menurut nya Zia lebih penting daripada kantor, jadi ia memilih untuk menemani Zia agar Zia tidak kesepian dirumah.


Bersambung ....