Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Aku Membencimu



Di sepanjang perjalanan menuju ke rumah gadis-gadis kembar itu, Zia hanya diam membisu hingga menciptakan suasana hening di dalam mobil itu. Kemudian salah satu dari gadis kembar itu memilih untuk membuka suara dan memecahkan keheningan di antara mereka.


"Nyonya, ada apa? Apakah kau ada masalah dengan tuan Dev?" tanya salah satu gadis itu yang bernama Kania.


"Tidak, aku tidak apa-apa," balas Zia seraya menggeleng pelan.


"Dan ya, tidak perlu terlalu formal dengan ku. Kalian bisa memanggil ku dengan sebutan Zia," jelas Zia lagi kepada mereka.


"Baik lah," jawab mereka serempak.


"Zia, jika kau tidak memiliki masalah, mengapa kau pergi dari rumah?" tanya Sania yang duduk di kursi depan, kemudian ia membalik kan tubuhnya untuk melihat Zia.


Zia hanya diam sambil menatap ke luar jendela mobil dan memandang bulan purnama yang terlihat seolah sedang mengikuti mobil mereka, Zia merasa sedikit damai saat memandang bulan itu. Ya, itu adalah kebiasaan nya sedari kecil, ia akan selalu melihat bulan ketika ia sedang ada masalah.


"Zia, cerita lah pada kami. Kami janji akan membantu mu sebisa kami," ujar Tania yang sedang menyetir, ia mencoba membujuk Zia agar Zia mau mencerita kan masalah nya kepada mereka.


Melihat ketulusan di mata mereka, Zia pun luluh dan mulai menceritakan semua nya kepada mereka.


"Zia, sebaiknya kau jangan terlalu percaya pada omongan orang, mungkin saja itu hanya fitnah atau omong kosong belaka. Dan soal video itu, kurasa itu bisa saja editan," jelas Kania mencoba membuat Zia mengerti.


"Entahlah, yang pasti nya aku sangat membenci nya sekarang." Zia menutup matanya di saat mengatakan kata benci untuk Dev, ia memang mengatakan kebencian di mulutnya, akan tetapi hati nya tidak bisa berbohong bahwa ia memang sangat mencintai Dev.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah gadis-gadis kembar itu.


"Eh, tidak usah, biar aku saja yang bawa." Zia mencoba merebut kopernya dari tangan Tania, tapi Tania segera mencegah nya.


"Tidak ada penolakan! Atau aku akan menghubungi tuan Dev," ancam Tania dan terus menyeret koper Zia ke dalam rumahnya.


"Ayo masuk," ajak Sania sambil merangkul bahu Zia.


"Maaf ya, rumah kami tak sebagus rumah tuan Dev." Kania ikut merangkul bahu Zia dan membawa nya ke dalam rumah, sedangkan Zia hanya tersenyum di saat di perlakukan dengan baik oleh mereka.


--------------------------------


Satu minggu sudah berlalu. Dev sudah mencari Zia kemana-mana bahkan ia sudah mencoba melacak keberadaan Zia, akan tetapi ia tak kunjung menemukan keberadaan istrinya.


Sekarang Dev sangat lah hancur bahkan kesehatan nya mulai menurun karena ia tidak menjaga waktu makan nya, tetapi ia tidak pernah peduli dengan kesehatan nya sebab yang terpenting bagi nya adalah Zia.


Poster-poster tentang informasi hilang nya Zia telah tersebar di seluruh penjuru kota, bahkan Dev juga telah mengerah kan seluruh anak buah nya. Namun, tiada satu pun yang mendapat informasi tentang Zia.


"Zia, kau ada dimana?" lirih Dev sambil memeluk bingkai foto Zia.


"Zia, kembali lah! Aku sangat merindukan mu hikks hikks," lirih Dev di sela isak tangis nya.


Namun, tanpa ia sadari sedari tadi ada seorang gadis yang memperhatikan nya. Siapakah dia? Siapa lagi kalo bukan Chika, ia akan kembali menjalan kan rencana licik nya untuk mendapat kan Dev.


Chika mendekati Dev yang tengah duduk di bangku taman sambil bersedih, ia berniat untuk menghasut Dev agar membenci Zia.


"Dev ...," panggil Chika lembut sambil memegang bahu Dev.


"Zia!" Dev segera memalingkan wajah nya karena ia pikir bahwa itu adalah Zia. Namun, di saat ia melihat kalau itu adalah Chika, ia segera membuang mukanya ke segala arah.


"Dev, berhenti lah bersedih." Chika mencoba menghapus air mata Dev, akan tetapi Dev segera menghentikan nya.


"Tidak perlu sok perhatian padaku!" bentak Dev.


Namun, bukan Chika nama nya jika ia menyerah begitu saja.


"Dev, aku rasa Zia telah pergi bersama pria lain yang lebih kaya dari mu," ucap Chika mencoba menghasut Dev.


"JANGAN MENUDUH ISTRIKU, DIA BUKAN WANITA SEPERTI MU," ucap Dev sambil menekan setiap kata-kata nya, Dev juga mencekik leher Chika dengan sangat kuat hingga membuat ia batuk-batuk.


"Uhuukk! Uhhuukk! Le--lepas uhukk! Sa--sakit." Chika sangat kesulitan bernafas karena di cekik oleh Dev. Kemudian Dev melepaskan cengkraman tangan nya dan menghempaskan tubuh Chika ke tanah, setelah itu Dev pun pergi meninggalkan Chika di sana.


"Hah hah hah, huhh untung aku gak mati," ucap Chika lega sambil menetralkan nafas nya.


Beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya Dev berhenti tepat di depan sebuah bar, ia segera masuk ke dalam bar itu dan memesan minuman. Para wanita malam langsung menghampiri Dev dan mencoba menggoda Dev, akan tetapi Dev tidak pernah tergoda dengan mereka semua karena pikirannya sedang kalut sekarang.


"Pergilah! Aku tak butuh kalian!" bentak Dev pada wanita-wanita malam itu, kemudian mereka pun pergi meninggalkan Dev yang sedang meneguk minuman nya.


Dev meminum begitu banyak minuman hingga ia mulai kehilangan setengah kesadaran nya, setelah meminum begitu banyak minuman itu. Dev pun keluar dari bar itu dengan berjalan sempoyongan dan sesekali ia menopang tubuh nya di dinding bar itu, tiba-tiba ada seorang gadis yang datang menghampiri nya yang tak lain adalah Chika.


"Dev, kau mabuk berat." Chika mencoba membantu Dev berjalan, tetapi Dev masih menolak nya.


"Pergilah! Kau tidak usah sok baik!" bentak Dev dengan gaya khas orang mabuk nya.


Chika tidak memperdulikan bentakan dari Dev, ia terus saja membantu Dev berjalan. Dev masih saja mencoba melawan Chika, akan tetapi karena ia hampir kehilangan seluruh kesadaran nya. Ia pun terpaksa ikut bersama Chika.


Melihat Dev yang kehilangan kesadaran nya, ide licik pun muncul di pikiran Chika.


"Bagus, aku akan membuat kalian berpisah untuk selamanya," batin Chika sinis, Chika terus memapah Dev menuju ke kamar yang ada di bar itu.


"Kau mau bawa aku kemana?" Dev berusaha melawan, tetapi ia sudah tak sanggup karena sebentar lagi seluruh kesadaran nya akan menghilang total sehingga ia hanya bisa menurut saja.


--------------------------------


Saat ini Zia tengah duduk di ruang keluarga bersama trio Nia, mereka mengajak Zia untuk duduk bersama mereka karena ada yang ingin di bicarakan.


"Zia, ini semua hanya fitnah dan kau telah salah paham kepada tuan Dev," ucap Kania, kemudian ia menjelaskan semuanya kepada Zia.


"Berarti aku telah salah paham?" tanya Zia dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Iya Zia, kau telah salah paham," balas Sania meyakinkan Zia.


"Zia, kembali lah kepada suami mu. Mungkin saja tuan Dev sangat merindukan mu sekarang dan ia juga sangat menghawatirkan mu. Jadi, pulang lah Zia," jelas Tania membujuk Zia.


"Iya, aku akan pulang besok," balas Zia sambil tersenyum senang.


"Bagus. Sekarang kau istirahat lah!" titah Kania kepada Zia dan Zia hanya mengangguk lalu pergi ke kamarnya.


"Akhirnya, kita berhasil menyatukan mereka kembali," gumam Sania sambil menatap kepergian Zia.


"Iya, aku senang sekali karena mereka akan kembali bersama," balas Tania.


"Sekarang yang harus kita cari adalah, siapa pembunuh ayah Zia yang asli. Setelah kita menemukan bukti nya maka akan kita serahkan kepada tuan Dev," jelas Kania kepada kedua saudari kembar nya.


"Iya Kak, kau benar." Mereka kembali menyusun rencana untuk memecah kan kasus ini.


-----------------------------


Zia sedang berbaring di kasur saat ini, wajah nya tak henti-henti membentuk sebuah senyuman manis. Rasa nya ia sudah tak sabar menunggu hari esok dimana ia akan kembali bertemu dengan suaminya yang sangat ia cintai.


Ting! Ting!


Tiba-tiba saja handphone Zia yang sedang di cas berbunyi pertanda ada pesan yang masuk, Zia segera bangkit dan melihat pesan itu. Lagi-lagi air matanya kembali tumpah saat membaca pesan yang sangat menyakitkan dari Dev.


[Zia, kau tidak perlu kembali lagi ke rumahku, karena aku sudah menikah dengan Chika. Lihatlah! Kami sedang bersenang-senang sekarang, besok aku akan mengirim kan surat cerai kepada mu]


Zia merasa amat sangat sesak setelah membaca dan melihat foto yang ada di dalam pesan itu, dimana foto itu adalah foto Dev bersama dengan Chika yang tengah bermesraan.


"Secepat inikah kak Dev melupakan aku? hikkss hikkss." Zia kembali menangis, ia tidak kuat menahan rasa sakit di hati nya yang seolah-olah di tusuk oleh ribuan belati.


Zia merasa sangat hancur sekarang bahkan ia merasa tak lagi ingin hidup di dunia ini, Zia sempat terpikir kan untuk mengakhiri hidup nya. Namun, ia sadar bahwa ia sedang mengandung sekarang, walaupun yang ia kandung adalah anak Dev. Ia tetap mempertahan kan anak itu, karena bagaimana pun juga anak itu tidak bersalah.


"Aku membenci mu Dev!" lirih Zia dengan nada penuh penekanan.


Bersambung ....