Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Jus Beracun



"Nah, Sasha ini kamarmu," ucap Zia setelah berada di depan pintu kamar pembantu.


"Iya, Nyonya," jawab Sasha atau Chika.


"Anj1r ... Kamar pembantu aja sebagus ini. Gimana kamar majikannya?" batin Chika berdecak kagum.


"Duhh ... Makin ga sabar mau jadi istrinya Dev," batin Chika kegirangan.


"Sasha. Kamu bisa bekerja mulai sekarang, nanti pekerjaanmu akan di jelaskan oleh Bi Sari. Apa kau mengerti?" jelas Zia di sertai pertanyaan di akhir kalimatnya.


"Sasha, apa kamu dengar apa yang saya bilang?" Zia melambaikan tangannya di depan wajah Chika saat melihat ia melamun sambil senyam senyum.


"E--eh, i--iya Nyonya saya mengerti." Chika tersentak kaget dan seketika hayalannya terbubarkan oleh suara Zia.


"Baiklah, letakkan barang-barangmu di sana dan mulailah bekerja," titah Zia lagi.


"Baik, Nyonya." Chika mulai masuk ke kamar itu untuk menyimpan barang bawaannya.


"Ga papa, deh. Walaupun gue harus jadi pembantu dirumah ini, yang penting gue bisa selalu liat Devan tercinta," batin Chika lagi seraya meloncat-loncat kegirangan.


Setelah menjelaskan semuanya kepada Sasha, Zia kembali ke dapurnya dan menyiapkan semua makanan untuk di makan oleh keluarganya.


"Wah ... Enak-enak bangat makanannya," ucap Farhan yang baru datang bersama Rangga.


"Ini siapa yang masak, Dek?" tanya Rangga sambil duduk di kursi meja makan.


"Bi Sari, Bang. Soalnya Zia juga kesiangan tadi, jadi gak sempat masak," jelas Zia sambil terus meletakkan semua makanan di atas meja makan.


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya Sasha atau Chika yang baru datang.


"Gak papa, Sasha. Ini udah selesai, kamu bisa bantu Bi Sari yang lagi nyuci di sana," ujar Zia seraya menunjuk ke sebuah ruangan dimana Bi Sari sedang mencuci.


"Baik, Nyonya." Chika mengangguk, kemudian ia segera menuju ke ruangan yang di tunjuk oleh Zia.


Sontak, Farhan dan Rangga langsung melihat ke arahnya dan menatapnya dengan tatapan tak senang.


"Dek, dia siapa?" tanya Rangga kepada Zia.


"Dia Sasha, Bang. Dia ART baru di rumah ini dan baru aja datang tadi pagi," jelas Zia kepada Rangga.


Rangga dan Farhan saling melihat satu sama lain, entah mengapa mereka merasa jika ada yang aneh dengan Sasha.


"Zia, sebaiknya jangan terlalu percaya dengan orang baru dan jangan terlalu dekat juga dengan dia, mungkin saja dia berbahaya," jelas Farhan memperingati Zia.


"Iya, Dek. Sebaiknya kamu berhati-hati dengan dia, entah kenapa Kakak merasa ada yang aneh dengannya. Berhati-hatilah, Sayang. Apalagi kamu sedang hamil saat ini," jelas Rangga ikut meyakinkan Zia bahwa Farhan benar.


"Iya. Bang Rangga, Kak Farhan. Zia akan berhati-hati, kok." Zia mengiyakan ucapan mereka seraya melempar senyum manis kepada mereka berdua.


"Zia, Dev gak jadi ke kantor?" tanya Farhan lagi.


"Gak tau, Kak. Dari tadi belum keluar dari kamarnya, mungkin Kak Dev malu," ujar Zia seraya terkekeh pelan mengingat kejadian tadi.


Rangga dan Farhan juga ikut terkekeh mengingat kejadian yang tadi di alami oleh Dev.


"Dek, cepat panggil si Dev. Kasian juga dia kalo sampek gak makan," titah Rangga kepada Zia.


"Iya, Bang." Zia mengangguk dan segera melangkah pergi menuju ke kamarnya.


"Han, lo merasa ada yang aneh gak sama pembantu baru itu?" tanya Rangga pada Farhan.


"Iya, Ga. Gue juga merasa ada yang aneh sama dia, entah kenapa gue merasa kalo dia itu gak baik," jelas Farhan mengungkapkan ke khawatirannya.


"Ga, lo harus ikut menjaga adek lo, Zia. Jika Dev gak ada di rumah atau lagi kerja, sebaiknya lo bawa Zia keluar agar dia gak tinggal sendirian di rumah," jelas Farhan memberi saran kepada Rangga.


"Iya Han, lo benar." Rangga mengangguk menyetujui saran dari Farhan.


Ternyata. Tanpa mereka sadari, sedari tadi Chika mendengar percakapan mereka berdua.


"Ck! Kenapa sih harus ada mereka? Gue harus hati-hati nih supaya gak ketahuan," gumam Chika kesal.


-------------------------------


Sesampainya di muka pintu kamar Dev, Zia langsung mengetuknya.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk, gak di kunci kok!" teriak Dev dari dalam kamar.


Ceklek!


Dev melihat ke arah pintu yang terbuka, saat melihat Zia yang masuk. Dev langsung berlari ke arah Zia dan memeluknya.


"Sayang ...!" rengek Dev di dalam pelukan Zia.


"Ada apa, Kak?" tanya Zia sambil membalas pelukan Dev.


"Kakak malu," lirih Dev lagi.


"Udah ... Lupa itu hal biasa, Kak," ujar Zia meyakinkan Dev.


"Kak, ayo kita makan!" ajak Zia.


"Gak mau, Kakak malu dan Kakak gak mau turun ke bawah," ucap Dev seraya memayunkan bibirnya.


"Gak papa, Kak. Ayok kita turun, kasian Bang Rangga dan Kak Farhan udah nungguin kita," jelas Zia membujuk Dev.


"Yaudah, tapi c1um dulu," pinta Dev.


Cup!


Zia mengecup sekilas b1b1r Dev.


"Sayang, di si ...." Ucapan Dev di potong oleh Zia.


"Kak, ayok turun dan sarapan jangan banyak bicara lagi!" ucap Zia tegas dan langsung menarik tangan Dev keluar dari kamar, sementara Dev hanya terdiam sambil mengikuti Zia.


Zia terus menarik tangan Dev hingga ke meja makan, sesampainya di meja makan, Zia langsung mendudukkan tubuh Dev di atas kursi dan Zia juga ikut duduk di samping Dev.


"Sayang ... Suapin," pinta Dev manja.


"Ekhem! Ada kami loh di sini," ujar Farhan seraya melihat ke arah lain.


"Dek, Abang juga pengen di suapin!" pinta Rangga.


"Gak boleh, ini istriku bukan istri lo," sinis Dev.


"Pokoknya istri gue."


"Adek gue."


"Istri gue."


"Adek gue."


"Diammm!" teriak Zia menghentikan perdebatan unfaedah itu.


"Cepat makan!" titah Zia tegas sambil menatap tajam ke arah mereka.


Seketika mereka berdua terdiam mematung, sementara Farhan hanya menahan tawanya di saat melihat mereka di marahi.


Kemudian, mereka berempat mulai menyantap sarapan pagi mereka.


Di sisi lain, Chika tengah membuat segelas jus jeruk untuk Zia, akan tetapi dia juga mencampurkan sesuatu ke dalam jus itu.


"Sebentar lagi, Zia pasti akan segera pergi untuk selamanya bersama anak yang di kandungnya," batin Chika seraya tersenyum miring sambil mengaduk jus yang telah di campur dengan racun itu.


Setelah selesai membuat jus itu, Chika tidak langsung memberikannya kepada Zia. Dia akan menunggu ketika Zia sedang sendirian, sebab jika mereka ada di sana. Sudah pasti mereka akan membuang jus itu karena mereka sudah mencurigainya.


"Dev, lo gak jadi ke kantor?" tanya Farhan.


"Gak, karena mitingnya udah di tanganin sama Papa," balas Dev, sedangkan Farhan hanya ber oh saja dan mereka kembali menghabiskan sisa makanannya.


-------------------------------


Setelah menghabiskan makanannya, Rangga dan Farhan berpamitan pulang kepada Zia karena Rangga dan Farhan juga punya urusan masing-masing yang harus mereka urus.


"Dek, kapan kalian akan ke rumah Abang?" tanya Rangga kepada Zia.


"Kapan-kapan ya, Bang," balas Zia seraya tersenyum.


"Yaudah, kalo gitu Abang pamit dulu ya, Sayang," pamit Rangga seraya mengelus kepala Zia dengan sayang.


"Iya, Bang," balas Zia.


Cup!


Rangga mengecup kening Zia di saat ia hendak pergi dari sana dan hal itu sukses membuat Dev cemburu.


"Mau gue tab0k tu bibirnya? Main nyosor-nyosor aja ke istri orang," ucap Dev seraya menatap Rangga sinis.


"Noh, tab0k aja kalo lo berani biar gue smackdown lo sekalian," balas Rangga lagi sambil ikut menatap Dev tajam.


"Astagfirullah, kenapa sih kalian gak pernah akur," ujar Zia yang sudah jengkel dengan sikap mereka.


"Memang kek gitu, Zia. Mereka selalu bertengkar kek Tom and Jerry bahkan dari dulu mereka selalu kek gitu," jelas Farhan pada Zia.


"Yaudah, Ga, ayo kita pulang!" ajak Farhan pada Rangga agar perdebatan itu segera selesai.


"Ingat ya, urusan kita belum kelar," ujar Dev saat melihat Rangga hendak pergi.


"Ok, gue tunggu lo," balas Rangga.


"Abang! Udah, ih!" ujar Zia melerai keduanya.


"Kak Dev lagi, udah kek anak kecil aja," ucap Zia berdecak kesal pada mereka berdua.


"Dev! Zia! Kita pamit dulu, ya," ucap Farhan saat sudah berada di dalam mobilnya.


"Dek, Abang pulang, ya!" ucap Rangga dari dalam mobil sambil melambai ke arah Zia.


"Iya, Bang." Zia tersenyum dan membalas lambaian tangan Dev.


Brum!


Mobil keduanya sudah keluar dari pekarangan rumah Dev dan mulai melaju meninggalkan kedua sijoli itu yang masih diam menatap kepergian mereka.


"Kak," panggil Zia lirih.


"Iya, Sayang. Ada apa?" tanya Dev sambil menoleh ke arah Zia.


"Zia pengen bakso, pizza dan juga mie goreng. Bisa tolong belikan gak?" tanya Zia seraya bergelayut manja di lengan Dev.


"Bisa kok, Sayangku. Mau ikut gak?" tanya Dev sambil mengelus kepala Zia dengan lembut.


"Gak, Kak. Zia di rumah aja," jawab Zia.


"Yaudah, kalo gitu Kakak pergi dulu, ya. Ada yang lain gak pesanannya?" tanya Dev lagi.


"Gak, Kak. Cuman itu aja kok." Zia kembali melempar senyumannya untuk Dev.


"Tunggu ya, Sayang. Kakak carikan dulu." Dev mengecup kening Zia, kemudian ia segera menaiki mobilnya dan mencari makanan yang di minta oleh Zia.


"Yes, Dev udah pergi. Sekarang, gue akan kasih susu itu untuk Zia," batin Chika di sertai senyum jahatnya.


"Permisi, Nyonya. Nyonya mau minum susu? Kalo Nyonya mau, biar saya buatkan," tawar Chika saat melihat Zia masuk.


"Boleh. Keknya enak bangat jam-jam segini minum jus," ujar Zia sambil membayangkan betapa segarnya jus tersebut.


"Baik, Nyonya." Chika segera kembali ke dapur dan mengambil jus yang tadi ia buatkan.


Zia duduk di ruang keluarga selagi jus itu siap, ia duduk sambil menonton tv dan sambil menunggu Dev juga.


Tak lama menunggu, Chika atau Sasha pun datang dengan segelas jus di tangannya.


"Nyonya, ini jusnya." Chika menyodorkan gelas berisi jus itu kepada Zia.


"Terima kasih," ucap Zia seraya mengambil jus yang di berikan oleh Chika.


"Sama-sama, Nyonya. Saya pamit dulu Nyonya, saya mau kembali bekerja," pamit Chika sambil melangkah pergi dari hadapan Zia.


"Minumlah, Zia! Minumlah jus memat1kan itu, agar kau dan bayimu segera l3nyap dari muka bumi ini. Hhhhhaa!" batin Chika tertawa penuh kemenangan.


Bersambung ....


Apakah Zia akan meminum jus itu?


Apakah Zia dan bayinya akan celaka?