Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Bekerjasama



Zia membawa Aslan hingga ke ruang keluarga, Aslan hendak mendekati j4sad pria itu tetapi Zia mencegahnya.


"Tidak, Nak. D4ging itu tidak enak, ada d4ging yang lebih enak lagi nantinya," ujar Zia seraya tersenyum miring.


Zia kembali menarik tali yang ada di leher Aslan, ia membawa Aslan ke kamarnya. Sementara Aslan hanya mematuhi saja.


Tak lama kemudian, Zia telah siap dengan setelan serba hitam dan kini ia lebih terlihat menakutkan di bandingkan sebelumnya. Zia seratus persen sangat mirip dengan seorang mafia atau psik0pat, di tambah lagi Zia membawa seekor singa jantan besar di sampingnya dan pist0l di tangan kanannya. Itu akan membuat siapa saja bergidik saat melihatnya.


"Ayo, Nak!" Zia langsung keluar dari kamarnya bersama dengan Aslan.


Zia dan Aslan baru saja keluar dari rumah itu, tiba-tiba Zia dan Aslan menghentikan langkah mereka di saat melihat ada beberapa mobil Hartop hitam berhenti tepat di depan rumah Dev. Tak lama setelah itu, orang-orang dengan pakaian serba hitam dan berbadan kekar keluar dari mobil-mobil itu.


Namun, Zia sama sekali tidak takut saat melihat mereka. Zia hanya berdiri sambil terus menatap datar ke arah orang-orang itu karena ia telah menyiapkan mentalnya, strategi pun telah ada di dalam kepalanya.


Setelah bodyguard berbadan kekar itu keluar, terakhir keluarlah seorang pria yang sama persis dengan ciri-ciri yang di katakan oleh Tn. Andra sebelumnya.


"Apa dia Tuan X?" batin Zia bertanya kepada dirinya sendiri.


Ya, itu adalah Tuan X yang baru saja sampai ke Indonesia. Tuan X datang karena di hubungi oleh Tn. Andra, rencananya Andra ingin membebaskan istri dan sahabatnya dengan meminta bantuan Tuan X. Namun, belum sempat Andra menjalankan rencananya, ia beserta tiga cogan itu telah di culik terlebih dahulu.


Tuan X langsung berjalan mendekati Zia yang masih berdiri di pintu rumah bersama seekor singa, dia sedikit kagum saat melihat keberanian Zia yang tidak gemetar sedikitpun saat melihat pasukannya. Biasanya semua orang akan takut saat melihat dirinya dan pasukannya.


"Siapa kau?" tanya Zia saat Tuan X semakin mendekatinya.


"Aku adalah Rajendra Maharaj atau di kenal dengan, Tuan X," jawab Tuan X memperkenalkan dirinya pada Zia.


"Salam Kakek." Zia hendak menyentuh kaki Tuan X, ia memberi salam seperti yang di lakukan oleh kebanyakan orang India sana.


"Tidak, Nak." Tuan X menghentikan aksi Zia.


"Kau mau kemana, Nak?" tanya Tuan X lagi.


"Aku ingin membebaskan seluruh keluargaku yang di sekap oleh Harun." Zia pun menceritakan semuanya kepada Tuan X.


"Tidak, Nak. Biar aku saja yang akan membebaskan mereka, ini sangat berbahaya untukmu. Di tambah lagi ada musuh besar kami di sana, Hans. Sebaiknya kau tetaplah di rumah, Nak," jelas Tuan X mencoba membuat Zia mengerti.


"Tidak bisa, Kakek. Aku telah bersumpah pada diriku sendiri jika aku akan menghabis1 mereka yang telah berani menyakiti keluargaku, aku juga telah berjanji pada singa ini bahwa aku akan memberinya makanan banyak malam ini. Jadi aku mohon, biarkan aku memenuhi sumpah dan janjiku." Zia menyatukan kedua tangannya di depan Tuan X.


"Baiklah, Nak. Tetapi aku juga akan membantumu, aku juga tidak bisa tinggal diam melihat anak-anakku tersakiti. Aku juga tidak bisa tinggal diam melihat cucu-cucuku terluk4 di tangan para b4jingan itu, mari kita akhiri semua ini," ajak Tuan X mengulurkan tangannya di hadapan Zia.


"Iya, Kakek. Kau benar, mari kita h4ncurkan para b4jingan itu sekarang. Sudah cukup mereka menyak1ti keluarga kita." Zia membalas uluran tangan Tuan X, pertanda dia sudah menerima ajakan kerjasama dari Tuan X.


"Kakek, sebelum kita pergi ke tempat itu. Kita harus terlebih dahulu pergi ke markas Kak Dev, aku rasa kita membutuhkan lebih banyak s3njata," ujar Zia dan langsung di setujui oleh Tuan X.


"Iya, Nak. Kau benar," ujar Tuan X setuju.


Tuan X beserta anak buahnya kembali menaiki mobil mereka, sementara Zia dan Aslan memilih untuk menaiki mobil sport milik Dev.


"Hey, Nak! Kau butuh seorang supir?" teriak Tuan X seraya menyembulkan kepalanya melalui kaca jendela mobilnya.


"Tidak, Kakek. Selama masih bisa menggunakan tangan dan kakimu, mengapa kau harus menggunakan tangan dan kaki orang lain?" Zia tersenyum menyeringai.


"Bagus, Nak. Aku suka itu, mari kita bersenang-senang!" teriak Tuan X lagi.


Zia kembali menunjukkan senyum devilnya, setelah itu ia masuk kedalam mobil sport itu dan mulai menyalakan mesinnya. Sementara Aslan duduk dengan tenangnya di kursi yang ada di samping Zia, binatang itu sangat patuh hingga ia tak bergerak sema sekali sebelum di perintahkan oleh Zia.


Mobil sport hitam itu keluar dari pekarangan rumah Dev dan melaju di jalanan lepas, saat ini Zia yang memimpin perjalanan. Setelah melihat Zia yang sudah keluar, Tuan X pun memerintahkan anak buahnya untuk mengikuti mobil yang di kendarai oleh Zia.


Mobil mereka berjalan sangat rapi di jalanan, mereka melajukan mobil itu dengan kecepatan yang lumayan tinggi tetapi tetap mengutamakan keselamatan. Semua para pengguna jalanan memberi jalan di saat melihat mobil mereka, para pengguna jalanan tidak berani menghalangi jalan mereka karena para pengguna jalan tahu jika itu adalah rombongan geng mafia.


Tak membutuhkan waktu yang lama, mereka pun telah sampai di markas milik Dev, semua anak buah Dev melongo keheranan di saat melihat mobil Dev di kawal oleh enam mobil Hartop hitam di belakangnya. Namun, mereka lebih terkejut lagi saat melihat Zia yang keluar dari mobil Dev, selain terkejut mereka juga sangat kagum melihat kecantikan Zia.


Mereka segera membuang rasa kagum itu di saat melihat Zia dan Tuan X beserta anak buahnya mendekati mereka, mereka semua segera menunduk memberi hormat pada Zia dan Tuan X.


"Maaf, Nyonya. Apa kau membutuhkan sesuatu?" Salah satu anggota geng mafia itu memberanikan diri untuk bertanya pada Zia.


"Ya, aku membutuhkan lebih banyak senj4ta," balas Zia serius.


"Baik, Nyonya. Silahkan masuk!"


"Tuan, silakan masuk!"


Mereka mempersilahkan Zia dan Tuan X untuk masuk, Zia dan Tuan X langsung masuk ke dalam markas itu. Sementara anak buah Tuan X menunggu di luar.


"Mari, Tuan, Nyonya. Akan kutunjukan gudang s3njatanya!" ajak anggota geng mafia Dev yang bernama Leon.


Zia dan Tuan X hanya mengangguk dan mengikuti Leon dari belakang, beberapa detik berlalu mereka pun telah sampai di sebuah ruangan yang di penuhi dengan berbagai macam jenis s3njata, mulai dari berbagai macam s3napan, benda tajam, gr4nat hingga berbagai macam jenis bom.


"Kau butuh yang mana, Nyonya?" tanya Leon.


"Akan aku pilih sendiri." Zia pun mulai berjalan mendekati s3nj4ta-s4njata itu dan mengambil apa yang mereka butuhkan nantinya.


"Nyonya, dimana Tuan Dev?" tanya Leon lagi.


"Inilah alasanku kemari, aku ingin memberitahu kalian jika Tuan kalian sedang di sekap oleh musuh," jelas Zia sambil mengambil beberapa butir gran4t.


"Apa?! Tuan di sekap?!" tanya Leon terkejut.


"Kami ikut bersamamu, Nyonya," ucap Leon antusias.


"Ya, itu lebih bagus. Siapkan pasukan kita sekarang!" titah Zia dan Leon langsung melaksanakannya.


"Siapkan diri kalian karena kita akan b3rper4ng sebentar lagi, Tuan kita sedang berada di dalam bahaya!" jelas Leon yang membuat para anggota mafia itu terkejut dan marah.


"Apa yang kita tunggu! Mari kita berper4ng!" Seru seorang anggota yang membuat semangat anggota lainnya memuncak.


"Apa kalian sudah siap?!" teriak Leon lagi.


"Kami sangat siap!" teriak mereka bersamaan.


"Siapkan s3njata kalian!" titah Leon lagi dan mereka segera berhamburan untuk mempersiapkan diri mereka, lalu mereka kembali berbaris setelah mengambil s3njata mereka masing-masing.


"Nyonya! Pasukan kita telah siap!" ujar Leon memberitahu Zia.


"Baiklah, bawa semua ini dan simpan dengan rapi di bagasi mobilku!" titah Zia kepada beberapa anggota geng lainnya dan mereka langsung melaksanakannya.


"Kakek, mari kita susun strateginya!" ajak Zia kepada Tuan X.


"Iya, Nak. Mari," balas Tuan X mengajak Zia keluar dari markas itu.


"Leon! Apa semuanya telah berkumpul?" tanya Zia.


"Sudah, Nyonya. Kami hanya tinggal menunggu aba-aba darimu," ujar Leon lagi.


Setelah Zia dan Tuan X keluar dari markas itu, mereka langsung menyusun strateginya. Tak lama setelah strategi selesai di susun, mereka pun bersiap untuk menyelamatkan Dev beserta yang lainnya. Sebagian anggota di perintahkan oleh Zia untuk tetap berada di markas, agar ada yang menjaga senj4ta mereka.


"Leon. Apa Dev memiliki hewan peliharaan lainnya? Aku rasa Aslan tidak akan sanggup menghabiskan makanannya sendirian," tanya Zia kepada Leon.


"Ada, Nyonya. Tuan Dev memiliki dua ekor harimau putih yang di simpan di belakang markas ini," jelas Leon memberitahu Zia.


"Bawa mereka sekaligus!" titah Zia lagi dan Leon hanya bisa mematuhinya.


Setelah dua harimau putih itu berhasil di naikkan ke dalam mobil, Zia dan Tuan X beserta anggota lainnya pun naik ke dalam mobilnya.


Lagi-lagi Zia yang memimpin perjalanan karena hanya ia yang tau tempat mereka di sekap, sekali lagi mereka membuat para pengguna jalan ketakutan saat melihat rombongan mereka. Jika sebelumnya mobil sport di kawal oleh enam mobil Hartop, maka saat ini satu mobil sport itu di kawal oleh dua puluh lima mobil Hartop serba hitam.


Dua puluh dua mobil yang berisi pasukan, sementara tiga mobil lainnya sengaja di kosongkan untuk keluarga Zia nantinya.


--------------------------------


Pukul 19:00 malam.


Satu jam telah berlalu, Chika beserta keluarganya sudah tidak sabar menantikan kedatangan Zia. Namun sayangnya, ia dan keluarganya tidak tahu jika akhir dari kehidupan mereka semakin dekat.


Chika beserta keluarganya terlalu meremehkan Zia, mereka pikir Zia masih gadis lugu yang dulu berhasil mereka hasut dengan menunjukan video palsu editan.


"Duhhh ... Kemana Zia? Apakah dia akan menipu kita?" tanya Chika kepada keluarganya.


"Tidak, Nak. Aku tahu ia akan lemah jika keluarganya di sak1ti, kau tenanglah! Dia pasti akan datang sebentar lagi," jelas Harun menenangkan putrinya.


"Ayah, bagaimana jika dia datang dengan membawa bodyguard?" tanya Chika lagi.


"Itu tidak mungkin, karena semua bodyguardnya telah kita sembunyikan di ruang bawah tanah yang ada di rumah itu. Dan Ayah rasa, Zia juga tidak berani macam-macam dengan kita," jelas Harun lagi sambil tertawa remeh.


"Ayah, bagaimana jika Zia berhasil m3ngalahkan kita?" tanya Chika lagi.


"Itu tidak mungkin, karena aku telah menambah keamanan di luar. Aku sudah memanggil seluruh anggotaku untuk berjaga-jaga di luar sana, jadi tidak mungkin dia bisa mengal4hkan kita," jelas Hans yang ikut meremehkan Zia.


"Kau m3mang l1cik, Harun!" bentak Andra menatapnya marah.


"Hhhhha! Kau tidak akan menang jika kau tidak lic1k, Andra. Buktinya, sekarang kau kal4h dariku." Harun tertawa puas saat telah berhasil menyekap mereka semua.


"Dev, Rangga. Aku sangat takut jika Zia sampai pergi kemari," ujar Farhan khawatir.


"Iya, Far. Gue takut bangat, apalagi saat ini Zia juga sedang mengandung," jawab Rangga yang juga sangat mengkhawatirkan Zia.


"Rangga, Farhan. Bagaimana pun caranya, kita harus bisa bebas dari ikatan ini agar kita bisa menolong Zia nanti," jelas Dev lagi dan di setujui oleh kedua temannya.


"Nak, apa yang kau katakan tadi? Zia sedang mengandung?" tanya Bu Sofia pada Rangga.


"Iya, Bu. Zia sudah menikah dan dia menikah dengan Dev," ujar Rangga memberitahu kedua orang tuanya.


"Akhirnya kau menang Bu Devi, ternyata


Zia adalah jodoh putramu," ujar Bu Mila ibunya Farhan.


"Hhhha! Mila, kau tidak usah menangis. Aku tahu kau sedih karena kalah dariku," balas Devi ibunya Dev seraya tertawa bahagia.


"Selamat untukmu Devi dan Sofia, sebentar lagi kalian akan punya cucu," ujar Mila lagi yang ikut tertawa bahagia bersama mereka.


"Hey, Andra, Gibran! Kalian berdua sudah jadi besan sekarang," ucap Gavin tersenyum bahagia.


"Kalian juga akan tua sebentar lagi, hhhha!" ucap ayahnya Farhan tertawa gembira, begitu pun dengan ayah Zia dan Dev. Mereka juga ikut bahagia.


Seketika ketiha pemuda itu menjadi terharu saat melihat orang tau mereka yang masih bisa tertawa walaupun dalam keadaan genting, tiba-tiba semangat mereka memuncak saat melihat senyum orang tua mereka. Kemudian mereka bertiga sepakat untuk berjuang agar bisa bebas dan bisa mewujudkan impian orang tua mereka.


Di sisi lain, Harun beserta keluarganya keluarganya tertawa meremehkan mereka. Ia menganggap jika mereka sudah tidak w4ras, karena ia pikir harapan mereka tidak akan terwujud.


Bersambung ....


Apakah Zia akan berhasil?