
"Eughh," lenguh Bima seraya mengerjapkan matanya.
"Nyonya! Dimana Nyonya?" Bima segera bangkit dari tidurnya dan hendak turun dari brangkarnya, ia berniat untuk mencari Zia. Namun, suster segara menahannya.
"Tunggu, anda baru saja sadar. Lebih baik anda istirahat dulu dan jangan banyak bergerak," jelas suster itu memperingati Bima, akan tetapi Bima tidak mengindahkan peringatan suster itu. Ia tetap bersikeras untuk melihat Zia.
"Dimana pasien yang bernama Zia?" tanya Bima serius.
"Ada di ruang sebelah. Apa anda ingin ke sana?" tanya suster itu lagi.
"Iya, aku ingin melihat kondisi Nyonya Zia." Bima langsung mencabut selang infus yang ada di tangannya, kemudian ia turun dari brangkarnya.
"Tunggu, anda harus beristirahat. Kondisi anda masih lemah." Suster itu berusaha mencegah Bima, akan tetapi Bima sama sekali tidak peduli.
"Aku tak selemah itu," ucap Bima sambil membuka pintu ruangannya.
Kini, Bima sudah berada di depan pintu ruangan Zia.
Ceklek!
Degh!
Bima begitu ketakutan saat melihat bahwa Dev ada di dalam ruangan itu, ia tahu benar bahwa tidak ada yang selamat dari tangan Dev jika mereka ceroboh. Bima termenung, ia berpikir keras dan melamun di ambang pintu. Ia bingung harus mengatakan apa pada Dev.
Tak lama kemudian, sebuah suara yang amat ia kenali berhasil membuyarkan lamunannya.
"Bima, kemarilah!" titah Dev yang melihat Bima berdiri di pintu.
Bima melangkah mendekat ke arah Dev, ia merasa amat takut kepada Dev dan ia terus berpikir. Apakah Dev akan menghabisinya?
"Hey! Ada apa denganmu?" tanya Dev sembari menatap Bima dengan tatapan bingung.
"Ma--maaf, Tuan. Aku sudah ceroboh dan aku sudah membuat Nyonya seperti ini. Tolong maafkan aku," ujar Bima seraya menundukkan kepalanya karena takut.
"Sudahlah, ini bukan salahmu. Ada yang sengaja memotong kabel rem mobil pribadiku, orang itu ingin mencelakai aku tapi malah Zia dan kamu yang kecelakaan," jelas Dev seraya menepuk pundak Bima.
"Siapa pelakunya, Tuan?" tanya Bima penasaran.
"Rangga," balas Dev singkat. Ia hampir tersulut emosi saat menyebut nama Rangga, tetapi Dev segera menepisnya.
"Bima. Coba ceritakan padaku bagaimana kecelakaannya dan bagaimana kalian bisa selamat, bukankah mobilnya meledak?" tanya Dev sambil menatap Bima dengan tatapan serius.
Bima mulai menceritakan awal mula kejadian itu, sementara Dev hanya mendengarkan apa yang di ceritakan oleh Bima.
"Di saat mobilnya sudah berada di dasar jurang. Saya menyadari bahwa mobil itu bisa meledak kapan saja, saya segera keluar dari mobil dan beralih mengeluarkan Nyonya yang sudah pingsan. Benar saja, tak lama setelah kami keluar, mobil itu meledak dan apinya hampir mengenai kami. Setelah itu saya pingsan dan tak ingat apa-apa lagi," jelas Bima panjang lebar.
"Bagus. Saya bangga dengan kesetiaanmu, terima kasih telah menyelamatkan istriku," ucap Dev tersenyum seraya menepuk bahu kekar milik Bima.
"Tuan, mengapa Nyonya belum sadar?" tanya Bima sedikit khawatir saat melihat Zia masih setia menutup matanya.
"Entahlah. Tapi kita tidak perlu khawatir, kata dokter Zia sudah baik-baik saja," jelas Dev sedikit menenangkan Bima, akan tetapi sebenarnya dia juga sangat khawatir kepada Zia.
--------------------------------
"Sus, apa saya boleh masuk?" tanya Farhan saat sudah berada di ambang pintu ruangan Rangga.
"Tentu, silahkan masuk," ucap suster itu mempersilahkan Farhan untuk masuk.
Farhan pun segera masuk ke dalam ruangan itu, ia sudah sangat penasaran dengan orang itu. Farhan sangat terkejut saat melihat Rangga yang sudah pucat dan terkulai lemas di atas brangkar, ia hampir tidak percaya bahwa pendonor berhati mulia itu adalah Rangga.
"Apa dia pendonor darahnya?" tanya Farhan sembari menunjuk ke arah Rangga.
"Iya, dan sekarang ...." Dokter itu menggantungkan ucapannya, kemudian ia menunduk dan terharu akan pengorbanan Rangga.
"Ada apa, Dok, dia kenapa?" tanya Farhan bingung saat melihat dokter yang tiba-tiba menangis.
"Dia sudah tiada," ujar dokter itu dengan wajah yang masih menunduk menahan tangisnya.
"Tidak ... Tidak mungkin!" Farhan tidak percaya bahwa Rangga sudah tiada.
"Hey, ngapain lo masih tidur, hah. Cepat bangun!" Farhan menggoyangkan tubuh Rangga agar ia bangun. Namun, tetap tidak ada reaksi dari Rangga.
"Hey, cepat bangun! Ini gak lucu tau gak." Farhan masih mencoba membangunkan Rangga.
Mengapa Farhan begitu sedih dengan kepergiaan Rangga, bukankah Rangga adalah musuhnya? Ya, Rangga memang musuhnya, tapi mereka pernah menjadi sahabat dekat dari bangku SD hingga bangku SMA. Mereka bersahabat begitu akrab hingga tak lama kemudian, ada orang yang menghancurkan persahabatan itu.
"Lo gak mau bangun? Ok, gue panggil Dev biar lo bangun dan gue akan menyuruh Dev buat ngehajar lo," ucap Farhan seraya menghapus air matanya dengan kasar.
"Lo tunggu di sini," titah Farhan kepada Rangga, ia sudah terlihat seperti orang yang tidak waras sekarang. Ia terus saja berbicara kepada jenazah Rangga dan ia masih yakin bahwa Rangga akan hidup kembali.
Farhan langsung berlari keluar dari ruangan itu, ia segera menuju ke ruangan Zia.
Brakk!
Ia membuka pintu ruangan Zia dengan kasar hingga membuat Dev dan Bima kaget karena ulahnya, Dev dan Bima semakin bingung saat melihat Farhan yang menangis.
"Far, kenapa lo nangis?" tanya Dev bingung.
"Ra--Rangga, Dev Ra--Rangga." Farhan sangat kesusahan menyelesaikan kalimatnya, ia sekuat tenaga menahan tangisnya.
"Ada apa, kenapa dengan Rangga?" Dev semakin bingung saat Farhan menyebut nama Rangga sambil menangis.
"Rangga tiada." Lepas sudah apa yang di tahan oleh Farhan, kini ia menangis sejadi-jadinya saat mengingat sahabatnya.
Degh!
Entah kenapa, tiba-tiba saja Dev merasakan nyeri di hatinya saat mendengar kabar kepergian Rangga. Matanya mulai memanas dan mengeluarkan air, badannya seketika lemas dan tak berdaya.
Dev pernah mengatakan bahwa ia akan sangat senang jika Rangga mat*. Namun, kenyataannya malah sebaliknya. Ia sangat sedih saat mengetahui mantan sahabatnya telah pergi meninggalkannya, ia tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia masih menyayangi Rangga sebagai sahabatnya.
"A--apa, Rangga ti--tiada?" tanya Dev dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Farhan hanya mengangguk untuk meyakinkan Dev, ia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang.
"Dimana dia?" tanya Dev lagi.
"Ayo, ikutlah bersamaku!" ajak Farhan, akan tetapi Dev tidak langsung menyetujuinya.
Dev melihat ke arah Zia yang masih belum sadar. Bima yang mengerti akan perasaan Dev, ia segera meminta Dev untuk pergi dan ia yang akan menjaga Zia.
"Tuan, pergilah. Biar aku yang akan menjaga Nyonya," pinta Bima meyakinkan Dev.
Dev langsung mengangguk cepat, kemudian ia dan Farhan segera menuju ke ruangan dimana Rangga berada. Dev mendekat ke arah Rangga yang sudah terbujur kaku, perlahan ia membuka kain putih yang menutupi tubuh Rangga.
Tangan Dev bergetar hebat saat akan membuka kain putih tersebut, ia sangat berharap bahwa orang yang ada di balik kain itu bukanlah Rangga. Namun, kenyataannya Rangga memang sudah tiada.
"Dok. Teman saya kenapa, apa yang anda lakukan kepada teman saya?" tanya Dev seraya menatap tajam ke arah dokter yang ada di sana.
"Dia yang mendonorkan darahnya untuk istri anda," jelas dokter itu dengan wajah yang masih menunduk.
"Mengapa kau mengambilnya begitu banyak, hah!" bentak Dev seraya mencengkram kerah baju dokter itu. Sedangkan dokter itu hanya diam dan hanya bisa menangis, ia ikut sedih menyaksikan suasana itu.
"Dasar gak b*cus!" Dev mendorong dokter itu, kemudian ia beralih menatap Rangga dengan sendu.
"Ga, bangunlah! Apa lo gak rindu sama kita, bukankah kita bertiga adalah sahabat? Rangga bangunlah, kita gak marah sama kamu." Dev memeluk tubuh Rangga yang sudah mulai agak dingin, ia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk tubuh yang sudah tak bernyawa itu.
"Rangga, cepat bangun! Lo ga usah pura-pura, ini gak lucu." Dev terus menggoyangkan tubuh Rangga yang sedang ia peluk sekarang.
"Dev, pukul aja kalo dia gak mau bangun," ujar Farhan di tengah-tengah tangisannya.
"Ga. Gue hitung sampek tiga, kalo lo gak mau bangun. Akan ku gue pukul lo," ancam Dev lagi, ia berharap bahwa Rangga akan bangun. Ia belum bisa menerima bahwa sahabatnya sudah meninggal, ia yakin jika Rangga hanya mengerjai mereka.
Devan dan Farhan terus menangis sambil memeluk tubuh Rangga yang sudah tak bernyawa, mereka benar-benar merasa kehilangan.
Mereka menyesal. Andai saja semasa Rangga masih hidup, mereka berbaikan dan kembali bersahabat. Mungkin saja hari ini tidak akan terjadi secepat ini, tetapi apalah daya. Semuanya telah terjadi sekarang.
Bersambung ....
Ingat ya guys ... Mulut bisa berkata apapun. Namun hati tak kan pernah bisa berbohong.
Semoga aja ada keajaiban yang bisa membawa Rangga kembali🥺🥺🥺.