
Pertempuran sengit antara anak buah Hans dan anak buah Andra masih berlangsung, puluhan bahkan ratusan suara tembakan menggema di seluruh sisi rumah mewah itu. Di sisi lain, suara tembakan tersebut juga beriringan dengan suara teriakan Sofia yang tengah berjuang melahirkan anaknya ke dunia.
Setelah hampir dua jam berlalu, akhirnya anak buah Hans berhasil di lumpuhkan oleh anak buah Andra.
"Huhh, akhirnya mereka bisa kita kalahkan." Gavin menghembuskan nafasnya dengan lega.
"Tunggu, mengapa Hans tidak ada?" tanya Andra penasaran karena ia tak melihat Hans bersama anak buahnya.
"Entah. Sedari tadi hanya ada anak buahnya saja," jawab Gibran seraya mengangkat sekilas bahunya.
Kemudian, mereka melihat ada salah satu anak buah Hans yang masih hidup. Merekapun memutuskan untuk bertanya kepada anak buah Hans itu.
"Dimana, Hans?" tanya Andra seraya mengcengkram kerah baju anak buah Hans itu.
"Cepat katakan! Dimana Hans?" tanya Andra yang mulai tersulut emosi.
"Hhhhhh, dasar b*d*h! Kalian bertiga ada di sini, sementara Boss kami sedang mengincar anak-anak kalian," sahut pria itu di sertai tawanya yang keras.
"Si*l*n!" Andra menendang pria itu, kemudian ia menembaknya hingga mat*.
"Andra, bagaimana ini?" tanya Gavin yang sudah sangat cemas.
"Terpaksa kita harus menyusul mereka." Andra segera menyiapkan semua senjata yang ia butuhkan.
"Andra, aku ikut," pinta Gibran.
"Tidak. Kau harus di sini, jagalah Sofia dan yang lainnya. Masalah Hans, biar aku dan Gavin yang akan mengurusnya," titah Andra meyakinkan Gibran.
"Baiklah, Ndra." Gibran hanya bisa mematuhi Andra, karena apa yang di katakan oleh Andra itu benar.
"Semuanya, ikut aku!" titah Andra kepada seluruh anak buahnya.
Merekapun segera memasuki mobil mereka dengan tergesa-gesa, kemudian Andra melajukan mobil itu dengan kecepatan penuh. Kini, yang ada di pikirannya bukanlah kegelisahan. Namun, saat ini yang ada di hatinya adalah kebencian dan dendam kepada orang yang telah menghianatinya, yaitu Harun.
---------------------------------
Bagas terus melajukan mobilnya menuju ke Bandara, ia melajukan mobil itu dengan kecepatan yang sedikit kencang, karena jarak antara rumah Andra dan Bandara memang lumayan jauh. Sementara anak-anak sudah berhenti menangis sekarang dan mereka sudah tertidur pulas, mungkin mereka lelah menangis. Makanya bisa tertidur dengan sangat cepat.
Dorr!
Sebuah suara tembakan mengejutkan Bagas dan anak-anak yang tengah tertidur.
"Huwaaa! Kami takut!" teriak mereka bersamaan sambil menangis keras.
"Anak-anak, kalian tenang ya. Tutup mata kalian dan peluklah satu sama lain agar kalian tenang. Itu hanya suara petasan, jadi jangan takut, ya." Bagas mencoba menenangkan Devan, Rangga dan Farhan yang tengah menangis.
Dan mereka berhasil di bujuk oleh Bagas. Mereka mematuhi perintah bagas dan mulai memeluk satu sama lain.
Dor!
Lagi-lagi suara tembakan menggema di belakang mobil mereka. Bagas tak tinggal diam, ia segera mengeluarkan setengah badannya melalui kaca mobil itu dan mulai membalas tembakan Hans.
"Anak-anak, tutup telinga kalian!" titah Bagas sebelum menembak, sementara anak-anak hanya mematuhinya.
Dorr!
Dorr!
Bagas tersenyum senang saat tembakannya tepat sasaran. Ya, Bagas memang selalu tepat sasaran saat menembak bahkan ia adalah sniper andalan Andra.
Hiittt!
Anak buah Hans terpaksa menghentikan mobilnya karena bannya sudah pecah akibat di tembak oleh Bagas, hal itu membuat Hans sangat marah.
"Ada apa ini?" tanya Hans marah.
"Ban mobil kita pecah, Tuan. Mungkin terkena tembakan yang tadi," jelas anak buah Hans.
"Arrggh, S*al*n! Bagaimanapun juga aku harus mendapatkan anak-anak itu," ucap Hans marah.
Ia terus berpikir bagaimana caranya agar ia bisa mendapatkan anak-anak itu, tak lama kemudian, sebuah ide yang jahat muncul di pikiran Hans.
Brukk!
Pengendara motor yang lewat di samping mobil Hans langsung terjatuh, karena Hans sengaja membuka pintu mobilnya saat pengendara motor itu lewat samping mobilnya.
Setelah pengendara motor itu jatuh, Hans segera mengambil motor pengendara itu dan mengejar mobil yang di tumpangi oleh Bagas dan anak-anak.
"Arrrgg, S*al!" Bagas mengerang marah saat melihat Hans mengikuti mereka dengan motor. Kemudian, Bagas segera menancap mobil itu dengan kecepatan penuh.
Beberapa menit kemudian, Bagas merasa sangat lega karena telah memasuki area Bandara. Apalagi ia melihat ada Tn. X yang sedang menunggu kedatangannya dan anak-anak.
Hans segera menghentikan motor yang ia kendarai, ia terpaksa berputar balik saat melihat ada Tn. X bersama dengan anak buahnya yang lengkap dengan senjata.
"Si*l. Aku harus segera kembali, aku tidak ingin mat* sia-sia di tangan X. Aarrggh!" Hans benar-benar sangat murka, akan tetapi ia tak berani menyerang Tn. X. Seketika nyalinya menciut karena melihat anak buah X.
-----------------------------
Sofia terus berteriak, nafasnya tak beraturan, dahinya di penuhi oleh keringat yang terus mengalir sedari tadi. Ia mengkengram kuat-kuat sprai tempat ia tidur sekarang, ia benar-benar merasakan rasa sakit yang luar biasa.
"Ayo, Sof. Sedikit lagi," ucap Nyonya Devi yang membantu persalinan Sofia.
Tepat di teriakan terakhirnya, Sofia berhasil melahirkan bayinya ke dunia dengan selamat.
"Ooeeekk, Oeeekk!" Suara tangisan bayi terdengar nyaring di ruang bawah tanah itu.
Gibran yang sedari tadi masih berada di ruang keluarga, seketika ia berlari ke ruang bawah tanah saat mendengar suara tangisan bayi.
"Selamat, Sof. Bayinya perempuan," ucap Mila seraya tersenyum bahagia ke arah Sofia yang masih terbaring lemah.
Sofia hanya membalas senyuman Mila seraya mengatur nafasnya dengan benar.
Gibran begitu tergesa-gesa saat menuruni tangga ruang bawah tanah itu, ia merasa bahagia dan khawatir. Ia bahagia karena bayinya telah lahir, akan tetapi ia juga khawatir dengan kondisi istrinya, Sofia.
"Sofi ...." Tiba-tiba sebuah senyuman manis menggembang di bibir Gibran saat melihat anak dan istrinya sehat, barulah ia merasa sangat lega.
"Selamat, Tn. Gibran. Anda mendapatkan seorang putri yang sangat cantik," ucap Devi seraya menggendong bayi Sofia yang baru saja selesai di bersihkan.
Gibran hanya bisa tersenyum bahagia dan menggendong putrinya, ia mengecup kening putrinya. Kemudian, ia beralih mencium kening Sofia yang masih tertidur lemas.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih karena sudah melahirkan anak kita dengan selamat," ucap Gibran di sertai senyum bahagianya.
"Iya, Mas," balas Sofia ikut tersenyum.
Sofia tersenyum, kemudian ia mengambil bayinya dari dalam gendongan suaminya dan menggendongnya sendiri.
"Namanya, Ziana Sofia Andara," jawab Sofia seraya memandang lekat mata indah putrinya.
Bayi mungil itu tersenyum di saat Sofia memberikan nama yang indah untuknya, ia seolah-olah sangat menyukai nama itu.
"Uluh-uluh, gemes bangat bayinya," ucap Devi sambil mencubit pelan pipi gembul Zia.
"Sof. Kalau udah besar nanti, anak kamu untuk putraku aja, ya," ucap Mila sembari tersenyum.
"Gak boleh. Gadis ini hanya milik putraku, Devan!" tegas Devi.
"Mbak Mila, Mbak Devi. Jangan ribut kenapa, Mbak? Kasian Zia gak bisa tidur dari tadi," ucap Sofia melerai perdebatan kecil di antara kedua sahabatnya.
"Hhhhhe," cengir keduanya bersamaan.
"Pokoknya gadis itu untuk putraku," bisik Mila di telinga Devi.
"Untuk putraku," balas Devi.
"Untuk putraku," ucap Mila lagi.
Gibran dan Sofia hanya menggelengkan kepala mereka saat melihat tingkah Devi dan Mila.
-------------------------------
"Gavin, coba kau hubungi Bagas dan tanyakan keadaan mereka!" titah Andra seraya terus menyetir mobilnya dengan kecepatan penuh.
"Baik, Ndra." Gavin mengangguk dan segera menghubungi Bagas.
Bagas segera mengangkat panggilannya saat melihat bahwa Gavin yang menghubunginya, akan tetapi sebelum ia berbicara. Handphonenya sudah di ambil oleh Tn. X.
"Ada apa, Gavin. Apa kalian mengalami masalah?" tanya Tn. X sambil mendekatkan handphone itu ke telinganya.
[Tu--Tuan, apa anak-anak sudah sampai di sana?]
"Iya, anak-anak sudah aman sekarang," balas Tn. X serius.
[Tu--Tuan, apa aku bisa meminta sesuatu darimu?]
"Why not, mintalah!" titah Tn. X.
"Tuan, bolehkah kau menunda sebentar penerbanganmu. Kami ingin melihat anak-anak kami untuk yang terakhir kalinya." Tak terasa, bulir bening mulai turun dari celah-celah mata Gavin.
"Aku mohon, Tuan. Kami sudah di jalan sekarang," pinta Gavin memohon.
[Tentu. Cepatlah kemari, aku akan menunggu kalian]
"Baik, Tuan. Terima kasih banyak." Gavin segera memutuskan percakapannya secara sepihak.
"Andra, lebih cepat lagi. Tuan akan menunggu kita agar kita bisa melihat anak-anak untuk yang terakhir kalinya," jelas Gavin dan langsung di setujui oleh Andra.
Beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya Gavin dan Andra telah sampai di area Bandara. Namun, Andra tidak mau menemui anak-anak secara langsung, ia lebih memilih melihat mereka dari kejauhan.
"Vin, lebih baik kita melihat mereka dari sini saja. Jika kita kesana, maka anak-anak tidak akan mau ikut bersama Tn. X dan kita juga tidak akan bisa melepaskan mereka," jelas Andra dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kau benar, Ndra," balas Gavin setuju.
Drrrttt! Drrtt!
Ponsel Andra berbunyi dan tertera nama Tn. X di sana, ia segera mengangkatnya.
[Apa kalian sudah sampai?]
"Iya, Tuan. Kami sudah berada di area Bandara dan kami berada tidak jauh dari pesawatmu, Tuan," jelas Andra sambil terus melihat ke arah pesawat hitam milik Tn. X.
Tn. X nampak celingak celinguk mencari keberaan Andra, tak lama kemudian ia melihat mobil milik Andra yang terparkir tak jauh dari pesawatnya.
"Mengapa kalian tidak kemari, bukankah kalian mau melihat putra kalian untuk yang terakhir kalinya?" tanya Tn. X yang masih berbicara dengan Andra lewat telepon.
[Tidak, Tuan. Jika kami kesana, maka anak-anak tidak akan mau ikut denganmu]
"Ya, kau benar." Tn. X merasa kasihan dengan nasib anak-anak angkatnya yang harus berpisah jauh dari putra mereka.
Ya, Andra, Gibran dan Gavin adalah anak-anak angkat dari Tn. X. Saat itu, orang tua mereka bertiga telah di b*n*h oleh musuh dari ayah mereka masing-masing. Mereka juga hendak di b*n*h oleh musuh ayah mereka itu, akan tetapi Tn. X datang tepat waktu untuk menyelamatkan mereka dan memb*n*h pria yang telah menghabisi orang tua Andra, Gibran dan Gavin.
Maka, semenjak saat itulah Andra, Gavin dan Gibran di angkat menjadi anak angkat Tn. X yang saat itu masih berstatus lajang. Bahkan hingga kini, Tn. X masih melajang karena ia sama sekali tidak tertarik dengan Cinta. Baginya, uang lebih menarik dari pada waniya.
-------------------------------
Tn. X segera mengajak Devan, Rangga dan Farhan untuk ikut bersamanya ke Mumbai. Awalnya mereka sempat menolak untuk ikut bersama Tn. X, akan tetapi setelah di bujuk oleh Tn. X akhirnya mereka mau ikut juga.
"Ayo, Nak. Ga usah takut, ya. Kakek bukan orang jahat, kok," bujuk Tn. X seraya tersenyum manis ke arah mereka bertiga.
"Benelan Kakek bukan olang dahat?" tanya Farhan cadel.
"Iya, Nak. Kakek janji, kalo kalian mau ikut dengan Kakek. Maka, Kakek akan memberikan kalian apapun yang kalian inginkan," jelas Tuan X membujuk mereka.
"Horeee! Kakek janji?" tanya Devan kegirangan, sementara Tuan X hanya mengangguk sambil tersenyum manis.
"Dev, Farhan. Ayo kita ikut dengan Kakek!" ajak Rangga kegirangan. Mereka segera setuju dan mau ikut bersama Tuan X.
Tuan X segera menggendong mereka bertiga, setelah itu Tuan X membawa mereka masuk ke dalam pesawat pribadinya.
Di sisi lain, Andra dan Gavin menangis pilu saat melihat pesawat pribadi milik Tuan X mulai bergerak dan lepas landas menuju ke tempat tujuan.
Mereka amat sangat terpukul karena kepergiaan putra mereka, akan tetapi mereka tetap menahannya demi keselamatan putra mereka.
"Sabar, Ndra. Ini semua untuk kebaikan anak-anak kita," ucap Gavin sambil menepuk pundak Andra.
"Iya, Vin. Ayo kita pulang dan kita lihat keadaan di rumah," ajak Andra seraya menyeka air matanya.
Kemudian, Andra menyalakan mobilnya dan kembali melajukannya menuju ke kediaman Abraham.
Bersambung ....
Nantikan part selanjutnya ya ....
Di part selanjutnya akan kita liat reaksi dari Rangga dan Zia saat tau kebenaran tentang mereka.