Handsome CEO'S Favorite Cinderella

Handsome CEO'S Favorite Cinderella
Rencana Jahat Rangga



Pagi ini adalah pagi yang cerah bagi siapa saja yang menikmatinya. Selain suara kicauan para burung, suara riak ombak lautan dan angin sepoi-sepoi juga ikut menghiasi suasana hari ini hingga membuat siapapun merasa amat nyaman dengan suasana ini termasuk Dev dan Zia.


Zia tengah berdiri di balkon kamarnya sekarang, ia tengah menikmati udara segar di pagi hari sambil merentangkan kedua tangannya.


"Emm, segar bangat udaranya," gumam Zia sambil menutup matanya dan menghirup udara sekitar.


Di saat Zia tengah asik-asiknya menikmati udara segar itu, tiba-tiba saja ada sepasang tangan yang melingkar di perutnya hingga membuat ia sedikit terperanjat karena terkejut. Siapa itu? Siapa lagi kalo bukan Devan, suaminya.


"Sayang, lagi ngapain disini?" tanya Dev sambil mendekap Zia dari belakang.


"Lagi rileks aja, Kak. Udaranya juga segar bangat," balas Zia tersenyum seraya terus menatap lautan lepas yang terlihat indah akibat sinar matahari.


"Kak Dev gak kerja?" tanya Zia lagi.


"Gak, Sayang. Kakak mau nemenin kamu dirumah, agar gak ada yang bisa nyakitin kamu kek kemarin," jelas Dev kepada Zia.


"Emang gak papa kalo Kakak gak kerja, bukannya hari ini Kakak bilang ada meeting?" tanya Zia sembari berbalik menatap Dev.


"Oh ya, Kakak lupa. Tapi gimana, ya? Kakak gak mau tinggalin kamu sendiri di rumah," balas Dev ragu, ia bingung sekarang.


Zia sangat penting baginya tapi meeting ini juga penting baginya, jika ia tinggalkan Zia. Ia takut kalo Zia kenapa-napa, tapi jika ia tinggalkan meeting ini. Ini juga kesempatan besar baginya agar perusahaannya semakin berkembang.


"Kak, Zia gak papa kok. Zia janji sebelum Kakak pulang, Zia gak akan kemana-mana," jelas Zia meyakinkan Dev.


Sementara Dev terus berpikir tentang solusi dari kebingungannya, hingga kemudian ia menemukan solusi yang jitu menurutnya.


"Gimana, kalo kamu ikut sama Kakak aja," tawar Dev kepada Zia.


"Ga usah, Kak. Zia juga lagi mager sekarang," jelas Zia lagi, Zia terus berusaha membuat Dev mengerti tapi Dev tetap memaksa.


"Sayang, ayolah. Pliss," pinta Dev memelas.


"Yaudah, Zia mau kok," ucap Zia seraya memutar bola matanya dengan malas.


"Yes, gitu dong, Sayang." Dev begitu senang karena istrinya mau ikut bersamanya.


Mereka berdua segera bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Setelah bersiap-siap selama beberapa menit, akhirnya merekapun siap dengan balutan pakaian yang senanda. Yaitu, jas hitam dan dress hitam, membuat mereka semakin elegant.


"Udah, Sayang?" tanya Dev sambil memeriksa semua berkasnya.


"Udah, Kak. Kita berangkat sekarang?" tanya Zia lagi.


"Iya, Ayo kita berangkat," ajak Dev seraya memberikan lengannya agar di rangkul oleh Zia.


Zia pun langsung merangkul tangan Dev dan turun ke bawah untuk sarapan terlebih dahulu, setelah sarapan selesai. Mereka langsung menuju ke kantor Dev karena sebentar lagi akan ada meeting penting bagi Dev.


Mobil pribadi Dev keluar dari pekarangan rumahnya. Namun, tanpa mereka sadari ada yang sedang mengintai mereka dari kejauhan.


"Bagus, aku ku habisi Dev hari ini juga," gumam Rangga menyeringai.


Kemudian, Rangga segera menyuruh anak buahnya untuk mengikuti mobil Dev dari belakang.


"Cepat, ikuti mobil itu!" titah Dev sambil menekan alat komunikasi yang ada di telinganya.


"Baik, Tuan." Anak buahnya segera mengikuti mobil Dev dari belakang.


Ternyata dari tadi Rangga tidak sendirian, ia mengintai Dev bersama anak buahnya yang menaiki mobil yang berbeda dengannya.


"Ingat! jangan sampai kehilangan jejaknya," ucap Rangga tegas.


"Baik, Tuan. Anda tenang saja," balas anak buahnya yang tengah mengikuti Dev sekarang.


"Aku juga akan membantumu menjalankan misi ini. Nanti biar aku yang menjalankan semuanya, kau hanya perlu mengawasi keadaan saja. Apa kau mengerti?" tanya Rangga lagi.


"Mengerti, Tuan. Tapi mengapa anda akan ikut bersamaku?" tanya anak buahnya lagi.


"Karena aku akan sangat puas jika mangsaku lenyap akibat ulahku sendiri," jelas Rangga di sertai senyum jahatnya.


"Baiklah, Tuan. Itu terserah anda," ucap anak buahnya yang masih mengikuti Dev dari belakang.


"Selamat tinggal Devan, hhhaa!" Rangga tertawa puas saat membayangkan kematian Dev.


"Sebentar lagi Zia akan menjadi milikku untuk selamanya, hhhaaa," gumam Rangga yang masih tertawa lepas.


Setelah puas tertawa, Rangga pun ikut mengikuti Dev dari belakang. Ia ingin melihat sendiri bagaimana kematian Dev yang akan terjadi beberapa jam lagi, ia sudah tidak sabar mendengar kabar kematian Dev yang sudah lama ia tunggu-tunggu.


-----------------------------


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, akhirnya mobil Dev telah sampai di kantornya. Dev dan Zia segera turun dari mobil mereka, tak lupa pula Dev menggandeng tangan Zia saat membawanya masuk ke dalam kantornya.


"Selamat pagi, Tuan, Nyonya," ucap para karyawan serentak sambil membungkuk menghormati Dev dan Zia.


Dev hanya membalas mereka dengan senyum tipis, sementara Zia membalas mereka dengan senyuman ramah. Dev terus saja berjalan menuju ke ruangan pribadinya, setelah sampai di ruangan pribadinya. Dev menyuruh Zia untuk menunggu di sana selagi dia meeting.


"Sayang, kamu tunggu di sini, ya," titah Dev seraya mendudukkan bobot tubuh Zia di atas sofa yang ada di ruangan itu.


"Iya, Kak. Tapi meetingnya lama gak?" tanya Zia lagi.


"Gak kok, Sayang. Kakak pergi dulu, ya." Dev mencium kening Zia sebelum ia beranjak pergi dari ruangan itu.


"Iya Kak, semangat ya," ucap Zia tersenyum seraya melambai ke arah Dev.


"Iya, Sayangku." Dev membalas lambaian Zia, setelah itu ia segera bergegas menuju ke ruang meeting.


------------------------------


Di sisi lain, Rangga dan anak buahnya telah sampai di kantor Dev. Mereka berdua segera bersiap-siap untuk menjalankan aksi mereka, Rangga dan anak buahnya langsung mengganti pakaian mereka dengan pakaian montir.


Dan setelah itu mereka berpura-pura datang untuk memperbaiki mobil Dev, mereka sempat di hentikan oleh satpam tapi bukan Rangga namanya jika tidak bisa berbohong dengan baik.


"Siapa kalian, dan mau apa kalian kesini?" tanya satpam itu kepada Rangga dan anak buahnya.


"Kami di suruh kemari oleh Tuan Dev, katanya tadi mobilnya bermasalah. Jadi kami datang hanya untuk memperbaiki mobil Tuan Dev," jelas Rangga berbohong.


"Sebentar, akan ku tanya dulu kepada Tuan Dev," ucap satpam itu dan hendak masuk ke dalam kantor, tapi Rangga segera mencegahnya.


"Yaudah, kalian perbaikilah mobil Tuan Dev!" titah satpam itu.


"Baik, dengan senang hati," balas Rangga seraya berbalik dan menyeringai menyeramkan.


Rangga terus mengotak atik mobil pribadi Dev, alih-alih memperbaiki. Ternyata Rangga dan anak buahnya merusak mobil Dev, mereka memotong kabel rem mobil itu tanpa pengetahuan siapapun.


---------------------------------


Baru saja sepuluh menit di tinggalkan oleh Dev, rasa jenuh langsung menghampiri Zia hingga ia memilih untuk keluar dari ruangan itu.


Zia keluar dari ruangan Dev, ia berpikir akan melihat-lihat isi kantor Dev saja agar rasa jenuhnya sedikit berkurang.


"Eh, Nyonya. Mau kemana?" tanya salah satu karyawan yang melihat Zia baru saja keluar dari ruangan Dev.


"Gak, saya cuma ingin melihat-lihat isi kantor ini aja," ujar Zia tersenyum.


"Mau saya temani, Nyonya?" tawar karyawan itu ramah.


"Boleh. Tapi, apa tugasmu sudah selesai?" tanya Zia serius.


"Sudah, Nyonya. Baru saja selesai," ucap karyawan di sertai senyum ramahnya.


"Mari, Nyonya. Biar saya bawa anda untuk melihat-lihat kantor ini," ajak karyawan itu lagi.


Zia pun mengikuti arahan dari karyawan itu, karyawan itu nampak sangat ramah kepada Zia sehingga membuat rasa bosan Zia menghilang.


"Oh ya, nama kamu siapa?" tanya Zia lagi.


"Nama saya, Karina, Nyonya. Tapi teman-teman disini memanggil saya, Rina," jelas Rina yang tak henti-hentinya tersenyum.


"Oo, Rina. Kenalkan nama saya, Zia." Zia mengulurkan tangannya kepada Rina, sedangkan Rina sedikit ragu untuk membalas uluran tangan dari Zia hingga akhirnya ia membalas uluran tangan Zia setelah sedikit berpikir.


"Apa sekarang kita boleh berteman?" tanya Zia sambil menggenggam tangan Rina.


"Tapi ... Mana mungkin kita berteman, Nyonya. Status kita berbe ...." Perkataan Rina langsung di sela oleh Zia.


"Teman itu tidak di ukur dari status dan uang," jelas Zia singkat, akan tetapi sangat menyejukkan hati siapa saja yang mendengarnya.


Rina mengangguk sambil tersenyum bahagia, ia sama sekali tidak menyangka jika istri seorang CEO bisa seramah itu kepada karyawannya. Ia juga tidak menyangka seseorang yang hidupnya di kelilingi kemewahan, tapi lebih memilih hidup sederhana dan dermawan. Menurut Rina, Zia adalah wanita terbaik yang pantas di jadikan panutan.


"Oh ya, boleh saya tanya sesuatu, Nyonya?" tanya Rina sedikit ragu.


"Boleh. Emang mau nanya apa?" tanya Zia penasaran.


Sebelum bertanya kepada Zia, Rina membawa Zia untuk duduk di sofa yang ada di salah satu ruangan kantor itu. Ia amat yakin bahwa Zia sedang mengandung, makanya ia mengajak Zia untuk duduk agar dia tidak kecapean.


"Hhhe, sebelum itu duduk dulu, Nyonya biar anda tidak kecapean." Rina merangkul bahu Zia dan menuntunnya untuk duduk.


"Tapi Nyonya jangan marah, ya," pinta Rina seraya ikut duduk di samping Zia.


"Iya, saya gak akan marah kok," ucap Zia meyakinkan Rina.


"A--apa Nyonya se--sedang mengandung sekarang?" tanya Rina sedikit gugup.


Zia mengangguk pelan, ia sedikit terkekeh saat melihat Rina yang mulai pucat karena takut kepadanya.


"Iya, saya tengah mengandung dan usia kandungan saya baru memasuki tiga bulan," jelas Zia sambil tersenyum.


"Yang benar, Nyonya?" tanya Rina terkejut + bahagia.


"Iya, saya tidak berbohong," ujar Zia lagi.


"Yaampun, selamat ya, Nyonya," ucap Rina kegirangan, kemudian tanpa ia sadari. Rina langsung memeluk tubuh Zia.


"Nyonya, anda mau makan apa biar saya ambilkan. Kenapa Nyonya tidak bilang dari tadi, jika Nyonya bilang dari tadi pasti sudah saya sediakan camilan yang enak. Tunggu ya, Nyonya biar saya ambilkan dulu," omel Rina seraya melepas pelukannya.


Sementara Zia hanya terkekeh pelan saat melihat tingkah laku Rina.


"Rina, saya tidak mau apa-apa. Saya hanya mau di temani saja selagi Kak Dev meeting, jadi tetaplah bersamaku di sini," jelas Zia lagi.


Kemudian Rina pun kembali duduk bersama Zia dan mereka kembali berbincang-bincang hangat layaknya teman yang sudah lama tak bertemu.


--------------------------------


20 menit kemudian ....


Akhirnya Rangga telah selesai dengan pekerjaannya, ia dan anak buahnya segera pergi dari sana sebelum Dev melihatnya.


"Mari kita pergi dari sini," ajak Dev kepada anak buahnya.


"Baik, Tuan," balas anak buahnya seraya mengangguk.


Rangga langsung pergi ke mobilnya dan anak buahnya menaiki mobil yang berbeda dengannya, ia memilih menunggu Dev di dalam mobilnya. Rangga sangat tidak sabar untuk melihat kematian Dev, ia rela menunggu sampai Dev keluar dari kantornya.


"Kau bisa pulang sekarang!" titah Rangga kepada anak buahnya melalui alat komunikasi yang terpasang di telinga mereka.


"Baik, Tuan." Anak buahnya segera pergi dari sana setelah mendapat perintah dari Rangga.


Rangga terus menunggu di dalam mobilnya. Hinga tak lama kemudian, mobil Dev pun keluar dari area parkiran kontor itu tapi Rangga tidak melihat siapa yang menaiki mobil itu karena ia sedang mengganti pakaiannya saat pemilik dari mobil itu naik.


Namun, Rangga begitu yakin bahwa yang berada di dalam mobil itu adalah Devan karena itu adalah mobil pribadinya. Jadi tidak mungkin ada orang lain yang berani menaiki mobil itu selain Dev, begitulah yang ada di pikiran Rangga.


"Selamat tinggal, Devan. Aku harap kau iklas jika Zia akan menjadi milikku," gumam Rangga sambil melambai ke arah mobil Dev yang semakin menjauh dari area kantor itu.


Di tengah-tengah kesenangannya, tiba-tiba saja Rangga terkejut bukan main di saat melihat ....


Bersambung ....


Kenapa Rangga terkejut ya ?


Dan apakah Dev dan Zia akan mengalami kecelakaan karena ulah Rangga?


Nantikan part selanjutnya biar ga penasaran